
Disuatu sore, Gege seperti biasa tengah asik mandi disungai.
"Kalung aku mana yah?!!" salah seorang yang juga sedang mandi disungai kehilangan kalung emasnya.
Waktu itu Gege berada tepat disamping orang tersebut. Gege hanya diam, lantaran dia memang tidak melihat kalung tersebut.
"Ge kamu lihat kalung aku gak?!!" tanya Yuni, perempuan yang kehilangan kalung tersebut.
"Gak, dari tadi aku disini gak lihat ada kalung."
Namun sepertinya Yuni tidak percaya dengan ucapan Gege. Karena sudah selesai mandi, Gege pun beranjak pergi dan pulang kerumah.
Beberapa saat kemudian, semua warga pada heboh. Banyak yang bilang jika Gege mencuri kalung milik Yuni.
"Ge, apa benar kamu yang ngambil kalung Yuni?!!" bunda renata langsung bertanya pada Yuni ketika beliau mendengar kabar tersebut dari salah satu tetangga.
"Gak bun, tadi Gege juga udah bilang Yuni kalo Gege gak lihat kalungnya."
"Terus kenapa semua orang pada bilang kalau kamu yang ngambil?!!" bunda sudah mulai marah.
"Sumpah bun, Gege gak ambil." Gege hampir menangis karena sang bunda pun tidak mempercayai nya.
"Bapaknya itu seorang dukun, katanya memang kamu yang ngambil. Sekarang kamu mau bilang apa?!!"
Gege hanya diam dan meneteskan air matanya. Dia tidak tau harus menjawab apalagi. Mendengar debatan antara Gege dan bunda, abah mulai emosi.
"Katakan yang sebenarnya, kamu ngambil kalung itu atau gak?!!" ucap abah dengan nada tinggi sambil ngambil Golok didapur.
Melihat hal tersebut, bunda langsung nyuruh Gege kabur lewat jendela kamar Gege. Sehingga terjadilah aksi kejar-kejaran dengan abah membawa golok.
Gege benar-benar ketakutan, namun dia bisa apa. Tidak mungkin mengakui hal yang tidak dilakukannya.
"Cepat lari kesini Ge...!!!" semua tetangga histeris dan menarik tangan Gege untuk melindunginya. Mengingat anak itu masih kecil, larinya juga tidak kencang. Dan wargapun menyembunyikan Gege dirumah tante Santi.
"Kamu beneran gak ngambil kalungnya?!!" lagi-lagi Gege diberikan pertanyaan yang sama oleh tante Santi dan beberapa tetangga yang berada disana, mereka semua melihat ke arah Gege menunggu jawaban dari Gege.
karena ketakutan, akhirnya air mata yang ditahan dari tadi jatuh. Gege menangis ketakutan, "Gege gak ambil...Hiks hiks hiks..."
"Yah udah, kalau kamu gak ambil jangan nangis lagi."
"Tapi Gege memang tidak ambil...Hiks hiks hiks..." Gege benar-benar tidak terima kalau dirinya dituduh mencuri.
Setelah keadaan mulai tenang, bunda Renata pergi kerumah Yuni bersama Gege untuk memastikan kejadian yang sebenarnya dan menanyakan hal tersebut.
"Yun, beneran kalung kamu hilang?!" tanya bunda ketika sudah sampai dirumah yuni.
"Iya tante dan Gege ada disamping aku waktu itu."
"Kamu lihat Gege yang ambil?!" tanya bunda lagi memastikan. Namun Yuni hanya diam.
"Gege udah bilang kalau dia tidak ngambil, saya tau bagaimana anak saya. Jika dia yang ngambil pasti akan ngaku, apalagi kalau abahnya sudah marah. Coba diingat - ingat dulu nak yuni, mana tau masih ada orang lain disana waktu itu. "
__ADS_1
"Disana memang gak ada yang lain, hanya ada Gege dan saya."
"Jadi gimana ini pak Roso, anak saya tidak salah. Tapi malah disalahin kayak gini, apalagi usianya masih kecil. Tidak bagus juga jika semua warga menghujat dan memarahi dia, apalagi ini atas tuduhan mencuri."
"Yah mau gimana lagi, gak ada yang ngaku kita juga gak bisa membuktikannya. Kalau memang bukan Gege yang ngambil, yah sudah. Kita lupakan saja, kami akan anggap hal tersebut memang sudah takdirnya."
Bunda tidak terima akan ucapan pak Roso. Karena beliau lah yang menyebarkan berita tersebut pada para warga, sehingga Gege disangka maling oleh warga sekitar.
Sedangkan ditempat lain beberapa warga tengah asik berkumpul dan bergosip ria.
"Kasihan Gege yah...!!! sampai dikejar - kejar oleh abahnya. Bahkan sambil memegang Golok." ucap mbak Tutik warga tukang gosip.
"Memangnya kenapa, kok bisa begitu?!!" tanya mbak Teti penasaran.
"Gege dituduh nyuri kalung Yuni oleh pak Roso, karena sore kemarin mereka mandi disungai. Dan kebetulan waktu itu Yuni dan Gege bersebelahan."
"Kalung? Saya tadi pagi dari sungai juga dapat kalung. Apa mungkin ini kalungnya?!!" Mbak Teti memperlihatkan kalung tersebut kepada para ibu-ibu biang gosip.
"Iya benar, kamaren saya lihat Yuni pakai kalung tersebut."
"Yah ampun...!!! anak orang udah hampir mati dibunuh abahnya, ternyata dia asal nuduh anak orang bahkan disebut - sebut udah diterawang pula..."
"Duku ecek ecek dia itu... "
"Hahaha... " Semua ibu - ibu pada tertawa.
"Kasihan Gege sampe dipaksa untuk mengakui hal yang tidak dia lakukan."
"Iya-iya...kasihan kali Gege..."
Mbak Teti pun mengangguk dan langsung pergi kerumah Yuni.
"Assalamualaikum... " Ucap mbak Teti ketika sampai dirumah Yuni.
"Waalaikumsalam... "
"Mana Yuni buk Ida?!!"
"Yuni ada didalam, Yun... Yuni... !!! ada yang nyari kamu. Ini mbak Teti." Teriak Buk Ida, mama Yuni.
Yuni pun keluar dari kamarnya, "Iya ada apa mbak Teti?!!" ucap Yuni ketika melihat mbak Teti didepan pintu.
"Katanya kamu ada kehilangan Kalung yah?!! "
"Iya mbak, sampai sekarang belum ketemu."
"Udah kamu cari - cari dekat tempat kamu mandi?!! "
"Gak ketemu mbak... "
"Pagi tadi mbak nyuci disungai, jadi mbak lihat kalung ini di atas batu.. "
__ADS_1
"iya mbak...??!!!"
"Iya mbak, mbak nemu dimana?!!" jawab Yuni ketika melihat kalungnya ditangan mbak Teti.
"Tadi pagi pas nyunci disungai aku nemu di atas bebatuan."
"Kok bisa?!! padahal kemaren gak ada loh...!!! Kok mbak bisa ketemu yah?!!"
"Paling juga udah di antar ke sungai."
"Yah gak mungkin lah pak, soalnya saya ke sungai saat subuh hampir terang. Apalagi Yuni kan sekolah, kapan dia ngantar?!!"
Yuni dan keluarganya hanya diam tanpa menjawab ucapan mbak Teti dan mbak Teti pun kembali kerumahnya.
Bukannya meminta maaf pada keluarga Gege, keluarga Yuni malah menyebar gosip baru. Mereka beranggapan, jika kalung tersebut dikembalikan oleh Gege kesungai agar tidak dicurigai lagi.
Cerita tersebut sampai ke telinga keluarga Gege. Abah mendengar hal tersebut sangat kesal, beliau yakin dan percaya jika anak-anaknya tidak akan berbuat hal tersebut.
"Sudahlah, jangan dengarkan hal tersebut lagi."
"Abah, Gege bersumpah jika Gege beneran tidak melihat kalung tersebut. Tadi pagi Gege hanya disekolah, tidak main kesungai."
"Iya abah tau. Biarlah kita kelaparan nak dari pada kita kenyang, namun dari hasil mencuri. Hal tersebut tidak akan berkah dalam hidup kita. Kita memang bukan orang kaya, namun kita tidak pernah kelaparan. Jadi jangan pernah berpikir untuk mengambil hal yang bukan hak milik kita." abah lagi-lagi mengingatkan anak-anaknya.
"Iya abah..." semua menjawab hampir bersamaan.
Dua hari kemudian, Gege baru kembali dari toilet umum yang berada dibelakang rumah. Waktu itu hampir semua warga buang air besar disana.
"Ge kamu ngambil uang saya yah?!!" mbak Yuyut langsung menuding Gege yang tengah asik main dirumah.
"Uang apa buk?!!" tanya Gege bingung.
"Kan kamu tadi yang habis dari toilet umum setelah saya."
"Memang saya, tapi saya tidak melihat ada uang disana."
"Alah...kamu gak usah bohong, ayo kembalikan uang saya." mbak Yuyut tidak percaya ucapan Gege.
"Sumpah demi Allah dan Rasul_Nya buk, jika saya tidak lihat uang ibu. Mungkin aja masih ada orang lain setelah saya yang nemua uang ibu." jawab Gege tidak mau kalah, lantaran memang dirinya tidak bersalah.
Mbak Teti pun pergi dengan kesal, dia sangat yakin jika uangnya Gege yang ambil.
Untung saja abah tidak dirumah, jika tidak entah apa lagi yang akan di alami Gege.
Beberapa jam kemudian mbak Teti kembali lagi kerumah Gege.
"Ge maaf yah, ternyata memang bukan kamu yang ngambil uang saya. Tadi Robert mengembalikan uang yang dia temukan dekat rumah saya." ucap mbak Yuyut tersenyum kekih ke arah Gege.
"Syukurlah buk, jika uangnya sudah ketemu." Gege hanya mensyukuri hal tersebut, sekarang dia tidak perlu cemas lagi lantaran dituduh maling untuk kedua kalinya.
Ini kedua kalinya Gege dituduh maling dalam minggu ini. Hanya karena mulut berbisa seseorang, seorang anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar hampir saja dibunuh ayahnya. Meninggalkan bekas yang mendalam untuk anak tersebut. Untung saja Gege bisa bersikap dewasa, sehingga tidak membuatnya trauma akan hal tersebut. Karena berkat sang ayah yang selalu menasehati dan memberikan wejangan yang baik-baik untuk anak-anaknya.
__ADS_1
Abah memang keras terhadap anak-anaknya, namun beliau melakukan hal tersebut untuk kebaikan mereka. Semua anak abah memahami hal tersebut, sehingga ketika abah marah mereka tidak akan pernah melawan.
Kita harus lebih bijak dalam bertindak dan lebih berhati-hati dalam berucap. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi ketika kita mengeluarkan suara yang salah.