
"Hallo Hallo Hallo... Tes... Tes...Tes 123 Tes... " Salah satu Anggota Osis sedang mencoba sebuah mikrofon (mik).
"Gimana Lex, udah bisa mik nya?!!"
"Udah Rey, kamu udah bisa menyampaikan pengumumannya."
"Ok."
"Hallo... Bagi adik - adik yang baru datang, silahkan langsung masuk barisan."
"Mungkin adik - adik sudah tau, saya adalah Rey. Saya disini sebagai ketua Osis ingin menyampaikan sebuah pengumuman."
Semua murid baru langsung berbaris dilapangan dan mendengarkan Rey menyampaikan pengumumannya.
"Ok, semuanya sudah berbariskan?!! Setelah ini tidak ada lagi yang boleh berbicara ataupun berisik."
Ketika Rey menyampaikan kalimat tersebut, dia masih saja melihat beberapa murid asik mengobrol dan bercanda.
"Yang dibelakang, kalau kalian gak bisa diam silahkan keluar dari barisan." Rey menatap tajam ke arah mereka. Membuat mereka langsung terdiam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini adalah hari terakhir kita Mos atau masa Orientasi Sekolah. Dan hari ini kita akan melakukan pemilihan King dan Queen. Jadi, tujuan adik - adik kemaren meminta tanda tangan adalah... Selain lebih mengenal senior - senior kalian. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan gelar King dan Queen. Bagi yang mendapatkan tanda tangan yang paling banyak, itulah pemenangnya."
Semua mulai heboh kembali, ada yang menyesal karena tidak mengumpulkan lebih banyak. Ada juga yang biasa - biasa saja, karena memang tidak mau pusing.
"Jadi, ada yang tau siapa yang mendapatkan tanda tangan yang paling banyak?!!"
"Gak kak...!!!" Semua menjawab hampir bersamaan.
"Pemenang King dan Queen adalah...!!!" Rey sengaja menggantung ucapannya, agar membuat murid baru berdebar - debar karena penasaran.
"Dan pemenangnya adalah Reva dan Morgan...!!! Selamat untuk kalian dan silahkan maju kedepan."
"Wah...Reva menang. Selamat yah Rev...!!!" Gege mengucapkan selamat kepada Reva, yang merupakan teman satu kelompok dengannya.
"Duh... Makasih yah Ge, jadi malu nih." Reva tersenyum sambil menutupi wajahnya.
"Gaya mu Rev, padahal seneng tuh..."
"Hehehe" Akhirnya Reva maju kedepan, sedangkan Morgan sudah lebih dulu berdiri didepan.
"Eh Ge, bukannya itu cowok tampan yang tes bareng kita?!! Dan juga cowok yang melihat kamu dari kemaren kan?!!"
Gege melihat ke arah cowok tersebut, benar saja apa yang dibilang Yani. Dan lagi - lagi dia tersenyum manis ke arah Gege.
"Yah ampun Ge, padahal Queen adalah disebelahnya. Tapi dia malah cengengesan ke arah kamu. Kayaknya dia memang suka kamu deh Ge."
"Apaan sih Yan, palingan itu cowok playboy yang lagi nyari mangsa."
"Kalau dia nembak kamu, kamu terima gak?!!"
"Mati dong... Kalau aku ditembak." Gege langsung tertawa setelah mengucapkannya.
Morgan masih saja memperhatikan Gege, sehingga salah satu senior melihat ke arah pandangan Morgan.
__ADS_1
"Yah ampun King...!!! Queennya disini, kok lihatnya malah kemana - mana." Senior tersebut langsung menggoda Morgan.
"Apa mau diganti Queennya sama yang disana?!!" Morgan yang ditanya hanya menjawab dengan tersenyum dan melihat ke arah Gege.
Sedangkan Reva juga melihat ke arah pandangan Morgan. Dia melihat Gege yang sedang asik mengobrol dengan Yani dan Dania.
"Gimana Queen?!! Apa kamu bersedia memberikan posisi kamu ke orang lain?!!"
"Gak mau dong kak, aku kan udah susah payah dapetin tanda tangannya. Masa mau dikasih ke orang gitu aja."
"Aduh...Gimana dong Morgan, Queennya gak mau."
"Iya gak apa - apa kak, kan ini cuma gelar sementara aja." Lagi - lagi Morgan tersenyum dan menatap Reva dengan santai.
Tatapan Morgan membuat jantung Reva langsung berdebar. Dia langsung menunduk malu, menutupi wajahnya yang sudah memerah.
Pemilihan King dan Queen pun berakhir. Selama satu minggu King dan Queen boleh melakukan apapun yang di inginkannya.
Setelah semua bubar, Reva langsung menemui Ela. Ela adalah sepupu Morgan dan tinggal bersebelahan dengannya.
"La..." Reva langsung duduk disebelah Ela.
"Kenapa Queen?!!" Ela langsung tertawa, karena dia harus memanggil temannya itu dengan sebutan Queen.
"Apaan sih La, gak usah manggil Queen kali. Oh ya, aku mau nanya sama kamu. Morgan itu sepupu kamu kan?!!"
"Iya sayang... Memangnya kenapa?!! Kamu suka ma dia yah?!! Hahaha..."
"Memangnya dia belum punya pacar?!!" Reva langsung bertanya pada Ela, seakan - akan dia tidak menunda waktu lagi.
"Wah... Luar biasa banget yah, masih ada anak zaman sekarang mau bantuin orang tuanya. Apalagi diusianya sekarang, kalau yang lain pasti sibuk dengan dunianya sendiri atau main sama teman."
"Iya Rev, makanya. Kadang aku kasihan sama dia. Tapi mau gimana lagi, kami orang yang kurang mampu. Dan lagi, dia harus membiayai adiknya yang banyak. Kalau dia gak bantuin orang tuanya kerja, maka mereka gak bisa makan."
Reva merasa terenyuh mendengar cerita Ela. Apalagi Reva termasuk keluarga yang berada, meski abahnya seorang petani dan umi ibu sebagai ibu rumah tangga. Reva masih tergolong keluarga yang lebih dari berkecukupan.
Sedangkan ditempat lain Morga tengah asik mengganggu Gege yang tengah duduk dibangku kelas.
"Boleh pinjam pulpennya gak?!!" Morgan duduk dibangku depan meja Gege, namun menghadap ke arah Gege.
Gege yang tenga asik menyalin jadwal sekolah, langsung melihat ke arah Morgan.
"Memangnya kamu gak ada Pulpen?!!" Gege lanjut menulis catatannya.
"Tadi sih ada... Gak tau tu siapa yang ngambil, karena tiba - tiba aja hilang. Lagian Pulpen kamu kan banyak, boleh dong pinjamin satu. Nanti aku balikin lagi pas mau pulang sekolah. Boleh gak?!!" Morgan bertanya sambil memandang wajah Gege intens.
"Yah udah, ambil satu. Tapi jangan lupa nanti dibalikin dan gak boleh hilang."
"Oke siap manis... Aku akan jaga baik - baik, seperti aku menjaga hati aku buat kamu." Morgan langsung berdiri dan pergi dari hadapan Gege setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Apaan sih cowok, gak jelas banget. Dasar playboy..." Gege menggerutu setelah Morgan pergi, meskipun ketika dia berjalan menjauh dari Gege tetap saja melihat kebelakang dan tidak lupa mengedipkan satu matanya ke arah Gege.
Bukannya berdebar - debar, Gege malah kesal melihat tingkah Morgan yang di anggapnya playboy.
__ADS_1
"Ge, kamu udah selesai nyalinnya?!!" Dania menghampiri Gege yang sudah selesai menyalin daftar pelajaran.
"Udah Nia, yang lain mana?!!" Sejak Gege masuk sekolah dia sudah berkenalan dengan beberapa teman dekat. Bahkan satu kelas dengannya sudah dihafalin setiap namanya. Karena Gege termasuk anak yang kuat dalam ingatannya.
"Reva lagi ngobrol sama Ela, kayaknya Reva suka deh sama Morgan. Oh ya, bukannya barusan Morgan yang nyamperin kamu?!!"
"Hmmm...Dia minjam pulpen. Katanya sih pulpennya hilang, gak tau siapa yang ambil. Jadi, Reva mau deketin Morgan melalu Ela?!!"
"Kayaknya gitu Ge, bakal ada saingannya loh kamu nanti." Dania tertawa melihat Gege.
"Saingan apaan?!! Orang dia yang selalu deketin aku dan jailin aku. Kalau Reva suka ma dia bagus dong...!!! Gak ada lagi yang bakal gangguin aku."
"Ge ge ge...(Sambil nepuk - nepuk bahu Gege) Morgan senyum - senyum lagi noh kearah kamu." Dania menunjuk Morgan yang lagi - lagi sedang memperhatikan Gege dari dalam kelasnya.
"Biarkan saja, gak usah pedulikan dia. Mungkin dia kelebihan vitamin senyum, makanya dia senyum - senyum mulu."
"Mungkin saja dia lagi tebar pesona ke kamu Ge." Dania menyenggol bahu Gege.
Gege tidak bergeming, dia malah cuek dan tidak mempedulikan Morgan. Sehingga membuat Morga kesal.
Morgan melempar secarik Kertas yang sudah digulung - gulung ke arah Gege. Gege terkejut ketika kertas tersebut tepat berada didepan wajahnya. Dia melihat kearah Morgan.
"Baca kertasnya." Morgan berbicara dengan pelan tanpa mengeluarkan suara, sambil memberikan gerak isyarat. Namun Gege mengerti dari mimik bibirnya.
Gege membaca kertas tersebut, yang isinya kalimat - kalimat gombalan. Gege menatap tajam ke arah Morgan setelah membaca kertasnya. Morgan heran dengan tatapan Gege, lagi - lagi dia mengedipkan matanya ke arah Gege.
Yani meminta Gege untuk menemaninya ke toilet, melihat Gege dan Yani akan keluar. Morgan juga ikutan keluar bersama dengan temannya.
Setelah Gege dan Yani keluar dari Toilet, Morgan dan temannya menahan langkah mereka.
"Hai... Ketemu lagi kita. Kayaknya kita berjodoh deh." Morgan langsung tersenyum manis ke arah Gege.
"Ge, teman aku mau kenalan sama kamu. Kamu mau gak kenalan sama dia?!" Rokan adalah teman satu kampung dengan Gege yang kebetulan rumah mereka dekat.
"Masa kamu yang menyampaikannya Kan, suruh temanmu bertanya langsung dong ke Gege. Kan dia disini dan Gege juga disini, tinggal langsung kenalan aja masa pakai perantara segala." Yani yang menjawab pertanyaan Rokan.
"Kalau gitu boleh kenalan gak manis, aku Morgan. Nama kamu siapa?!!" Morgan mengulurkan tangannya kearah Gege.
"Bukannya kamu sudah kenal aku?!! Pulpennya masih ada kan?!!"
"Pulpennya masih ada kok manis, gak akan hilang. Kan ini barang yang sangat berharga dan harus aku jaga dengan baik."
"Nama aku Gege, bukan manis. Emangnya simanis jembatan ancol?!!" Gege langsung pergi dan meninggalkan mereka disana.
"Yah ampun, bidadariku yang manis kalau galak makin manis aja." Sepertinya Morgan benar - benar sudah jatuh cinta sama Gege, membuat dia tidak malu - malu lagi ngungkapin apa yang dia rasakan.
"Semangat bro, kamu pasti bisa deketin dia." Rokan memberi semangat kepada temannya tersebut, agar tetap semangat mengejar cintanya.
"Ge, udah jelas banget tuh kalau Morgan memang suka sama kamu."
"Apaan sih Yan, Reva kan suka sama dia. Kamu gak lihat, secantik apa Reva?!! Mana mungkin ada cowok yang akan nolak dirinya. Dibandingkan dengan aku, Reva jauh lebih cantik, kaya dan sempurna lagi."
"Cinta ma gak mandang semua itu Ge, kalau dianya malah milih kamu bukan Reva gimana?!!"
__ADS_1
"Jangan aneh - aneh deh Yan, gak mungkinlah. Kita lihat aja nanti, siapa yang akan dia pilih. Aku atau si Reva, aku aja yang cewek ni yah. Kalau sampe jadi cowok dan disukai sama cewek secantik Reva ma aku gak bakalan nolak Yan."
Obrolan merekapun berakhir sampai disitu. Gege memang pesimis jika dibangdingkan dengan Reva. Karena dari sekian banyak temannya, Reva memang termasuk yang paling cantik, tinggi, putih dan pintar juga. Reva juga memiliki tulisan tangan yang sangat bagus, penampilannya juga modis. Sedangkan Gege, dia memang manis dan memiliki pesonanya sendiri. Namun tetap saja dia tidak percaya diri jika dibandingkan dengan Reva yang kini menjadi teman dekat Gege.