
Tiga hari berlalu, sudah saatnya Gege memberi jawaban kepada Pedra atas balasan surat yang diberikan Arga.
Baru saja sampai disekolah, Gege langsung ditagih oleh Pedra mengenai surat balasannya. Dia tidak sabar menunggu pulang sekolah, se akan - akan surat tersebut untuk dirinya.
"Kak mana surat balasannya?!!"
Gege kaget melihat Pedra yang berdiri tepat didepan pintu kelasnya. Dan menghalangi langkahnya untuk masuk kedalam kelas.
"Yah ampun Ped, gak sabaran banget sih. Baru juga sampai udah loe tagih. Kayak minta hutang aja loe..." Lama - lama Gege kesal melihat perbuatan Pedra yang tidak sabaran.
"Kan janjinya tiga hari, ini udah tiga hari. Berarti udah ada dong balasannya?!!"
"Nanti aja, pulang sekolah gue kasih."
"Kenapa gak sekarang aja? Mau menghindar lagi yah?!!"
"Kalau sekarang, ntar loe baca lagi." Gege pun langsung pergi meninggalkan Pedra yang hanya melongo mendengar jawaban Gege.
"Haaa...Dasar perempuan, nanti gue juga bakalan tau apa isinya." Pedra pun kembali kedalam kelasnya. Karena Gege dan Pedra memang beda kelas.
Surat balasan dari Gege untuk Arya, setelah pulang sekolah diberikan kepada Pedra dan langsung disampaikan kepada Arga oleh Pedra.
Dear Kak Arga...
Terima kasih kak, karena sudah mengirim surat buat saya. Ini pertama kalinya saya mendapatkan surat seperti ini.
Sebelumnya saya minta maaf kak, saya tidak bermaksud membuat kakak menunggu lama. Hanya saja, saya tidak tau bagaimana cara membalas isi surat kakak.
Saya akan terima jika kakak ingin mengenal saya lebih. Karena kita bisa bertemu setiap kali latihan. Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan. Terima Kasih.
from Gege.
Akhirnya Arga membaca surat balasan dari Gege. Dan dia membaca sambil tersenyum - senyum sendiri. Sehingga teman - teman yang berada disana jadi penasaran.
"Apa jawaban Gege Ga?!!" Arya orang pertama yang ingin tahu.
Arga tidak menjawab pertanyaan kakaknya, dia langsung pergi dan meninggalkan mereka semua.
"Yah ampun, Arga pelit banget sih. Mau lihat suratnya aja pelit gitu."
Hingga akhirnya kirim berkirim suratpun berlanjut. Mereka tidak pernah bicara secara langsung meskipun sering bertemu. Ketika mereka bertemu, mereka hanya tersenyum dari kejauhan. Seakan - akan mata mereka yang berbicara menyampaikan semua isi hati mereka.
Cinta mereka bersemi begitu saja, tanpa harus berbicara langsung. Namun mereka sangat senang dan bahagia ketika berbalas surat. Seakan itu saja sudah cukup untuk menyampaikan semua isi hati mereka.
__ADS_1
Malam itu, Gege dan Arga disandingkan berdua oleh guru mereka. Menjadi perwakilan untuk ikut lomba silat. Semua pada tertawa, melihat mereka berdua berdiri berdampingan.
"Cieeee, berdampingan nie yeee...!!!" Salah satu teman Arga menggoda mereka berdua.
"Diam." Arga langsung menyuruh temannya untuk diam.
Sedangkan Gege hanya tersenyum malu, digoda oleh teman - teman Arga.
Setelah kembali dari perlombaan, Brian menemui Gege. Brian adalah salah satu teman dekat Arga, yang merupakan sepupunya juga.
"Ge, kakak boleh ngobrol bentar gak?!!" Brian langsung menghentikan langkah Gege dan mengajaknya untuk berbicara ketempat lain, agar tidak ada yang melihat mereka.
"Ada apa kak?!!"
"Kakak mau ngasih tau kamu, surat yang selama ini kamu terima bukanlah surat buatan Arga. Namun surat itu kakak yang buat."
Gege terkejut mendengar penjelasan Brian.
"Kok kakak ngomong kayak gitu?!! Memangnya benar, surat itu kakak yang buat?!!" Gege maaih tidak percaya.
"Beneran Ge, selama ini Arga memang suka sama kamu. Tapi dia gak pernah berani ngungkapin perasaannya sama kamu. Makanya kakak berinisiatif buat surat itu untuk kamu."
"Maksud kakak apa ngomong kayak gini?!!"
"Terus, setelah saya tau. Kakak mau apa?!!" Gege mulai kesal, dia merasa dikhianati dan dibohongi selama ini.
"Maaf yah Ge, sebenarnya semua isi surat itu adalah curahan hati kakak yang sebenarnya. Bukan curahan hati Arga."
"Apaaa...?!!" Gege makin tidak percaya dan mulai bingung. Apa dia harus percaya dengan semua ucapan Brian.
"Lihatlah... Ini adalah buku catatan kakak, kamu bisa membandingkan tulisannya." Brian memberikan sebuah buku catatan pada Gege.
Seperti yang dikatakan oleh Brian, tulisannya memang sama dan sangat persis. Meski Gege tidak membawa surat tersebut, namun dia sangat mengingat seperti apa tulisannya.
"Ge...Kamu percayakan sama kakak?!!" Brian menundukkan wajahnya, dia menatap lekat ke wajah Gege yang sudah berlinangan air mata. Satu kata lagi, maka air mata itu akan jatuh.
Melihat wajah Brian yang mendekat ke wajahnya, Gege langsung menghindar dan memalingkan wajahny. Akhirnya air mata itupun terjatuh, Gege tidak bisa menahannya lagi.
"Maaf kak, saya bingung dan saya butuh waktu untuk berpikir." Gegepun langsung berlari menjauh dari Brian.
Brian hanya diam dan membiarkan Gege pergi. Dia merasa bersalah, namun dia juga tidak bisa menahan perasaannya. Apalagi melihat Gege yang semakin dekat dengan Arga.
Keesokan harinya, Gege tidak menerima surat apapun lagi. Ini membuat dia semakin yakin akan kata - kata Brian.
__ADS_1
Setelah semalaman dia berpikir, dia memutuskan untuk berbicara langsung kepada Arga.
"Kak, saya mau bicara boleh?!!"
Melihat Gege yang mengajak Arga bicara langsung, tentu saja Arga senang. Dia langsung mengangguk dan duduk dikursi yang ada didekat mereka.
Setelah Gege duduk disampingnya, jantung Arga berdetak kencang. Dia hanya diam, seperti yang dikatakan didalam surat. Bahwa Tiba - tiba saja lidahnya keluh dan tidak satupun kalimat keluar dari mulutnya. Gege masih diam dan menenangkan hatinya.
"Kak, saya ingin menanyakan soal surat yang selama ini saya terima. Apakah surat tersebut dari kakak atau bukan?!!"
"Kenapa kamu tiba - tiba nanya itu Ge?!!"
"Soalnya, ada yang mengatakan ke saya. Kalau surat - surat itu bukan buatan kakak atau kakak yang menulisnya."
Arga hanya diam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Gege. Sehingga membuat Gege makin yakin akan ucapan Brian.
Beberapa menit berlalu, Arga masih tetap diam. Dia memandang Gege dalam kegelapan dan masih bungkam tanpa mengeluarkan satu katapun. Karena malam hari, jadi tempat mereka duduk memang hanya ada sedikit penerangannya. Namun disana sangat ramai. Yang lain pada sibuk dengan kegiatannya masih - masing, seakan - akan memberi waktu bagi mereka untuk menjalin kasih.
Gega sangat kecewa, karena Arga tidak memberi jawaban apapun. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan tidak mengatakan ataupun bertanya apa - apa lagi.
Ketika Gege pergi, Arga tidak menahannya. Bahkan dia tetap diam ditempatnya dan membiarkan Gege pergi begitu saja.
Disisi lain, Brian memperhatikan setiap gerak gerik mereka. Ketika Gege pergi, dia tersenyum puas, karena dia tidak perlu melihat mereka duduk berduaan terlalu lama.
"Kok Gege langsung pergi Ga?!! Bukannya kalian baru saja duduk?!!" Arya menghampiri Arga yang tinggal duduk sendirian.
"Hm. Sepertinya kita sudah berakhir." Arga meneteskan air matanya, untung saja disana gelap. Jadi Arya ataupun yang lain tidak bisa melihat air matanya yang menetes begitu saja.
"Maksud loe apa bro?!! Gege mutusin loe?!!" Arya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Arga.
Arga langsung pergi dan kembali kerumahnya. Tanpa memperdulikan pertanyaan Arya sang kakak.
"Arga kenapa bro?!!" Brian menghampiri Arya setelah melihat Arya pergi begitu saja.
"Gak tau Bri, kayaknya dia diputusin sama Gege."
"Mungkin mereka gak jodoh. Lagian sih Arga jadi laki - laki kok pengecut. Masa jadian, tapi gak pernah bicara langsung. Memang zaman apaan sekarang, masih kirim - kirim surat." Brian mencibir Arga, menurutnya Arga laki - laki yang penakut.
"Sudahlah, nanti gue tanyain lagi kedia." Arya pun pergi menyusul Arga yang pulang kerumah mereka.
Brian hanya diam melihat kepergian Arya. Tidak bisa dipungkiri, dia merasa senang mendengar Arga dan Gege putus. Karena ini adalah kesempatan baginya untuk mendekati Gege. Karena dia sangat percaya diri, jika Gege akan menerima dia. Apalagi selama ini dia dan Gege cukup dekat.
Kisah antara Arga dan Gegepun berakhir, cinta yang begitu manis dan sangat dalam. Seakan - akan begitu rapuh, karena satu ucapan. Andai saja Arga mau meluruskan segalanya, mungkin Gege masih bisa menerima alasannya. Hanya saja, Arga malah memilih untuk diam. Tanpa memberi penjelasan apapun pada Gege, sehingga membuat Gege sangat kecewa dan merasa dibohongi selama ini.
__ADS_1