Waktu Berharga

Waktu Berharga
Kenyataan


__ADS_3

"Bundaaa... Gege pamit kesekolah dulu yah...!!!" Gege berlari kecil menyalami Bunda dan Abah. Karena dia takut terlambat dan ditinggalkan oleh jemputannya MAS (Mobil Angkutan Sekolah).


"Kamu gak sarapan dulu Ge?!! Bunda udah buat nasi goreng."


"Gak sempat bun, nanti aja sarapan disekolah." Tanpa menunggu jawaban bunda Renata, Gege langsung menghambur keluar pintu.


Tidak lama Gege berada didepan rumahnya, mobil angkutannya langsung berhenti didepannya. Gege langsung naik dan mengobrol dengan temannya Yani, yang kebetulan juga naik mobil angkutan.


"Ge, nanti sore kita ada kelas olahraga kan?!!"


"Iya, kamu langsung bawa baju atau pulang dulu?!!"


"Aku pulang dulu, kan lama kalau nunggu disekolah."


"Iya juga yah, aku juga nanti pulang dulu. Lumayan dapat tidur siang sejaman."


"Aku dengar Reva makin sering main kerumah Ela, kayaknya sekalian caper ke Morgan deh." Yani berbisik - bisik ketelinga Gege, agar yang lain tidak mendengar.


"Wah... Kamu memang ahlinya bikin gosip yah. Terus apa lagi yang kamu tau?!! Apa mereka udah jadian?!!"


"Duh... yang lagi cemburu...!!! Tenang aja Ge, kayaknya Morgan gak suka deh sama Reva."


"Masa sih, cewek secantik Reva ditolak. Apa tu cowok buta atau gimana sih?!!"


"Yah elaaaah Ge... Kamu gak ngerti yah?!! Orang udah cinta sama kamu, mana mungkin suka ma yang lain."


"Kamu ngomong apa sih Yan?!! Gak jelas banget deh...!!!" Gege langsung membuang muka, untuk menutupi wajahnya yang tengah merasa malu.


"Udah deh Ge... Setiap hari loh Morgan datengin kamu, godain kamu. Bahkan nyatain semua perasaannya sama kamu dengan berbagai cara secara terang - terangan gitu. Masa kamu masih gak percaya atau nyadar agak sedikit gitu sih...?!!" Yani merasa kesal melihat sikap lemot temannya ini.


"Hahaha... Dia kan cuman bercanda, masa kamu percaya sama playboy kayak gitu. Mana mungkin orang serius dengan semua gombalan receh kayak gitu. Garing tau gak sih...!!!"


"Tapi kamu suka kan sama dia?!! Gak usah bohong, aku bisa lihat sendiri kalau kamu juga suka sama dia."


"Entahlah Yan, aku cuman belum ada aja niat untuk pacar - pacaran kek gitu. Kita lihat nanti aja yah...!!!"


"Serah kamu deh. Ntar kalau dia udah jadian sama Reva, kamu jangan sampe nyesel yah...!!!"


"Apaan sih Yan, kamu teman aku atau gimana sih?!! Seharusnya kamu dukung aku, kasih aku support dan kasih saran yang bermanfaat gitu."


"Tau ah..."


Setelah itu Yani langsung turun dari mobil, yang kebetulan mereka sudah sampai disekolah. Gege langsung menyusul Yani dan berlari kecil mengejarnya.


"Yah elaaa Yan, gitu aja kok ngambek sih..." Gege menoel - noel pipi Yani, sambil melanjutkan langkah kaki mereka kedalam kelas.


"Ih... Lihat noh, pangeran kamu udah nungguin kamu didepan pintu kelas. Apa itu namanya kalau bukan suka sama kamu?!!" Yani menunjuk kearah pintu kelas mereka, dan ternyata Morgan memang sudah berdiri disana bersama temannya.

__ADS_1


"Selamat pagi bidadari Cantik, semakin hari makin cantik aja." Tanpa rasa malu, Morgan langsung memuji Gege ketika mereka berada tepat dihadapannya. Tak lupa dengan senyuman khasnya.


"Cieee... Gak nyangka aku punya teman seorang bidadari. Bidadari cantik lagi, ehem ehem...!!!" Yani tidak membuang kesempatan untuk menggoda Gege.


"Memangnya kamu ngomong sama aku Mo?!!" Gege masih berpura - pura tidak tahu.


"Mo...?!! Udah ada panggilan sayang ni kayaknya. Manis banget manggil Mo..." Dan Lagi - lagi Yani mengambil kesempatan.


"Iya dong sayang, siapa lagi kalau bukan kamu. Karena hanya kamu seorang bidadari yang paling cantik disekolah ini."


Gege malah cuek dan tidak peduli, dia langsung meninggalkan mereka masuk kedalam kelas dan duduk dibangkunya. Yanipun terpaksa mengikuti Gege dan duduk disebelahnya.


"Masih gak mau ngaku dan mengakuinya?!! Hmmm..." Yani menyenggol bahu Gege dan meminta jawabannya.


Sedangkan Gege hanya diam dan pura - pura sibuk dengan buku dan pulpen miliknya. Diluar sana Morgan masih memperhatikan Gege yang sedang salah tingkah dibuatnya.


Melihat Morgan berdiri didepan kelas Gege, Reva buru - buru melangkah ke arah kelas Gege dan masuk kedalam menyapa Gege dan duduk didepan Gege.


"Ge apa kabar?!! Kamu lagi ngapain?!!" Reva bertanya pada Gege, namun matanya melirik ke arah Morgan yang masih memperhatikan Gege. Namun Reva berpikir jika Morgan sedang melihat ke arahnya.


"Eh Rev, gak ada. Aku cuma lagi ngecek PR yang dikasih buk guru minggu kemaren. Kelas kalian ada dikasih tugas ini gak?!!" Gege bertanya sambil memperlihatkan tugasnya.


"Oh... Yang ini kita udah kerjain, minggu kemarin. Punya aku udah selesai diperiksa guru. Kamu mau lihat gak? biar aku ambilin ke kelas dulu, soalny tas aku udah ku tarok dalam kelas." Reva ingin bersiap - siap beranjak dari tempat duduknya.


"Gak usah Rev, lagian aku udah selesai ngerjainnya dan bentar lagi lonceng masuk kelas akan bunyi."


"Kamu gak masuk ke kelas Morgan?!! Bentar lagi lonceng masuk akan bunyi."


Tanpa menjawab Reva, Morgan langsung berjalan ke arah kelasnya. Dan tidak lupa dia akan mengedipkan sebelah matanya ke arah Gege. Dan kebetulan waktu Gege juga melihat ke arah mereka.


"Waaah... Bahkan dia tidak menjawab ucapan Reva, namun dia berani menggoda kamu didepan Reva Ge. Kurang bukti apalagi cobaaa..."


Gege tidak menanggapi Yani, dia hanya diam dan kembali fokus pada buku - bukunya.


Beberapa jam kemudian, waktu pelajaran olahragapun datang. Gege dan rombongannya datang lebih awal. Sedangkan rombongan Reva belum sampai, mengingat jam pelajaran belum masuk.


Morgan menghampiri Gege dan mengajaknya masuk kedalam kelas Gege. Sesampainya dalam kelas, Morgan mengajak Gege untuk berbicara serius.


"Ge udah lama aku ngejar kamu, tapi kamu masih saja belum menanggapi perasaan aku. Kamu mau kan jadi pacar aku?!!" Morgan menatap Gege serius.


Gege tidak menyangka, bahwa Morgan akan memintanya untuk berbicara berdua seperti saat ini. Sepertinya Morgan juga serius dengan ucapannya, tidak ada gombalan receh lagi. Kali ini Morgan langsung bertanya pada intinya.


"Bukannya Reva suka sama kamu Mo, kenapa kamu malah nembak aku?!!"


"Kenapa kamu malah nyebut nama dia, aku tidak menyukai dia. Yang aku suka itu kamu Ge, bukan si Reva Reva itu. Kalau kamu bilang dia suka sama aku, itu terserah dia. Yang jelas aku cuman suka sama kamu."


"Cewek secantik Reva aja kamu tolak Mo, apalagi aku yang biasa aja kayak gini. Kamu pasti bercandakan?!!"

__ADS_1


"Ge... Aku harus gimana ngomongnya sama kamu, aku tidak peduli dia cantik atau apapun itu. Tapi dimata aku, kamulah yang paling cantik. Ge, aku serius dengan ucapanku..." Morgan meyakinkan Gege lagi dan menatap Gege dengan penuh harapan.


"Ge, kamu maukan jadi pacar aku?!! Atau kamu udah punya pacar?!! Atau kamu benar - benar punya hubungan dengan senior yang bernama Arga itu?!!"


"Apaan sih Mo, kok kamu malah nyebut senior itu. Aku gak ada hubungan apapun sama dia."


"Kalau kamu gak ada hubungan sama dia, lalu kenapa kamu nolak aku?!!"


"Aku...Aku bukannya nolak kamu Mo, tapi aku merasa aku bukan pilihan yang baik untuk kamu. Maafkan aku Mo, Reva adalah pilihan yang lebih baik dari pada aku. Lebih baik kamu terima cinta Reva."


"Apa dia yang nyuruh kamu untuk nolak aku dan menyuruh aku untuk menerima dia?!! Katakan Ge...!!! Aku tau kamu berteman baik dengan dia, pasti dia kan yang nyuruh kamu bicara seperti ini?!!"


"Gak Mo, Reva gak sperti itu. Dia gadis yang baik dan juga cantik. Dia hanya bersikap jujur dan berani mengatakan kalau dia suka sama kamu. Jika kamu menolak dia, dia pasti akan hancur."


"Aku sudah menolak dia Ge, bahkan aku sudah sering mengatakan kalau aku tidak memiliki perasaan apapun ke dia. Kenapa kamu tidak mengerti itu?!! Aku tidak peduli dengan orang lain, yang aku pedulikan itu hanya kamu. Aku berharap kamu mengerti akan perasaan aku Ge, bukan malah menyuruh aku untuk nerima dia." Morgan mulai kesal melihat sikap Gege, namun dia tetap bicara dengan tenang dan lembut kepada Gege.


"Maafkan aku Mo, aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Tapi sekarang aku masih belum bisa nerima perasaan kamu. Maafkan aku..." Gege menundukkan wajahnya, rasanya sangat sulit baginya saat ini.


"Apa karena aku orang biasa, sehingga kamu nolak aku Ge?!! Aku memang bukan orang kaya dan aku juga tidak memiliki wajah yang tampan. Sedangkan kamu, disukai banyak orang. Sekarang aku baru mengerti, kenapa kamu selalu menghindari aku. Apa kamu malu dekat - dekat sama aku?!!"


"Morgan... Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu?!! Dalam hidupku, aku tidak pernah memandang rendah orang lain. Karena aku juga bukan dari keluarga kaya. Aku juga cuman orang biasa Mo. Aku tidak pernah membandingkan kamu dengan orang lain."


"Lalu apa Ge?!! Aku tau Rafael dan Ajun menyukai kamu, bahkan beberapa senior juga sering deketin kamu. Aku tidak tahan melihat mereka yang selalu gangguin kamu. Aku cemburu Ge, aku ingin kamu jadi pacar aku, agar mereka gak gangguin kamu lagi." Morgan meluapkan semua isi hatinya, tidak ada yang bisa ditutupinya lagi. Semua yang dia rasakan disampaikan langsung ke Gege.


Gege terdiam mendengarkan kata - kata Morgan, dia tidak menyangka bahwa Morgan sangat menyukainya. Dia hanya mengira Morgan bermain - main, apalagi Morgan memiliki wajah yang sangat tampan dan senyuman begitu manis. Tidak bisa dipungkiri, jika Gege juga menyukai Morgan. Dia sangat menyukai semua tingkah Morgan selama ini terhadapnya. Dia juga menyukai senyuman Morgan yang tersimpan didalam hatinya dan tertanam didalam pikirannya. Namun Gege juga tidak bisa langsung menerima perasaan Morgan, karena dia juga memikirkan perasaan Reva temannya itu. Walau bagaimanapun, Reva adalah teman baiknya. Gege benar - benar dilema, bagaimana dia harus mengambil keputusan.


"Baiklah, aku akan menganggap diam kamu adalah sebagai penolakan untukku." Tanpa menunggu jawaban Gege, Morgan langsung keluar dari kelas dan meninggalkan Gege begitu saja.


Sejak saat itu, Gege dan Morgan tidak saling sapa lagi. Bahkan Morgan selalu menghindari Gege, dia juga cuek dan selalu memasang wajah dingin kepada Gege jika pertemuan mereka tidak bisa dihindari.


Gege merasa bersalah dan juga kehilangan atas sikap Morgan padanya sekarang. Karena selama ini, hanya Morgan yang selalu gangguin dia, jahilin dia bahkan yang selalu bisa membuat dia tertawa dengan aksi dan gombalan - gombalan recehnya.


Apalagi beberapa minggu setelah itu, Morgan tidak pernah kembali lagi kesekolah. Ela mengatakan, bahwa Morgan harus putus sekolah dan bekerja membantu ekonomi keluarganya untuk menyambung hidup mereka.


Sungguh, hati Gege benar - benar hancur, dia benar - benar merasa bersalah. Apalagi dia juga belum sempat menjelaskan semuanya pada Morgan tentang perasaannya.


Gege tidak bisa tinggal diam, dia meminta bantuan Ela. Agar dia bisa bertemu dengan Morgan dirumahnya dan Ela pun membantu Gege, karena Ela tau jika Morgan sangat menyukai Gege.


"Hai Ge, tumben kamu main kesini?!!" Morgan langsung menyapa Gege, ketika dia melihat Gege sedang duduk didalam rumah Ela.


"Mo... Apa kabar?!! Aku main kesini karena aku juga ingin bertemu sama kamu." Gegepun langsung menyampaikan niat hatinya berkunjung kerumah Ela.


"Maafkan aku Mo, karena aku tidak menjawab semua kata - kata kamu waktu itu. Aku tidak bermaksud seperti itu Mo. Aku sangat sedih, karena setelah kejadian itu kamu malah menghidari aku dan bahkan tidak kembali lagi kesekolah." Gege hampir meneteskan air matanya, namun dia malu jika dia menangis saat ini.


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku memang tidak akan kembali lagi kesekolah. Mungkin Ela sudah bilang sama kamu alasannya, jadi kalaupun kita punya hubungan. Kita juga tidak akan bisa bertemu lagi setiap hari seperti dulu." Morgan merasa sedih, karena jauh didalam lubuk hatinya dia juga tidak ingin berada dalam situasi seperti sekarang. Dia juga berharap bisa kembali kesekolah dan bertemu sama Gege setiap hari. Meski Gege menolaknya, namun dia selalu ingin melihat Gege setiap hari.


"Mo...Kamu laki - laki yang luar biasa, bahkan kamu rela berkorban demi adik - adik kamu. Kamu yang sabar ya Mo, semua pasti akan baik - baik saja." Gege memeluk Morgan, sehingga Morgan tidak bisa menahan air matanya lagi dan mereka berduapun menangis dalam diam.

__ADS_1


Ela tidak bisa berkata apa - apa dan hanya bisa menyaksikan mereka berdua, hingga tanpa sadar juga ikut meneteskan air mata. Betapa mengharukannya kisah mereka berdua.


__ADS_2