
Gege dan Yani sudah mendapatkan beberapa tanda tangan dari beberapa senior. Yani sangat senang, berkat mengikuti Gege, dia menjadi beruntung. Apalagi para senior hanya mengusilin Gege saja, sehingga Yani terhindar dari usilan para senior.
Setelah mereka menjauh dari rombongan para senior, Yani senyum - senyum melihat Gege. Bukannya membela Gege, sekarang giliran Yani yang menggoda Gege.
"Cieee... CLBK ni yeee...!!! Cinta Lama Bersemi Kembali...Uhuiii..." Yani tertawa lepas melihat wajah kesal Gege.
"Apaan sih Yan...!!! Bukannya bantuin, sekarang malah kamu yang ketawain aku." Gege langsung pergi meninggalkan Yani dengan langkah kaki yang cepat.
"Eh eh... Kok malah ngambek sih. Ge... Woiii... Tungguin aku dong...!!!" Yani berlari kecil mengejar Gege yang langsung buru - buru menghindari Yani.
Sedangkan ditempat para senior yang mengusili Gege, mereka sedang asik memojokkan Agra.
"Loe belum jawab pertanyaan gue Ga, beneran junior barusan pacar loe?!!"
"Kepo banget sih loe...!!!"
"Halaaah... Sok rahasia - rahasiaan segala. Gue serius nih...!!! Beneran pacar loe atau gak...?!!"
"Memangnya kenapa gue harus jawab?!!"
"Yah...Kalau bukan pacar loe, boleh dong gue deketin..." Rafka, itulah nama senior yang selalu mengusili Gege barusan. Rafka tersenyum sambil melihat kepergian Gege.
"Wah... wah... Loe serius Ka, mau deketin Gege?!!" Senior yang lain bernama Adi ikut nimbrung ingin tahu.
"Yah gak masalah dong gue deketin, kalau Arga bukan pacarnya Gege. Secara, Gege itu manis banget. Apalagi kalau udah senyum dan malu - malu kayak tadi. Duh... manis banget uiii...!!!" Rafka lagi - lagi tersenyum sambil membayangkan wajah Gege kembali.
Arga langsung pergi dari sana, dia tidak menjawab atau menjelaskan apapun. Dia hanya pergi tanpa kata dengan wajah yang kesal.
"Mampus loe Ka. Kayaknya Arga marah noh..."
"Haaa... Dasar pengecut loe Ka. Kalau suka bilang, kalau gak suka ngomong dong. Main pergi - pergi aja." Rafka menjadi kesal melihat tanggapan Arga yang tidak mengeluarkan kata - kata apapun dan hanya memperlihatkan wajah kesalnya.
"Tapi seriusan loe mau deketin Gege Ka?!!"
"Memang kenapa Jon?!! Arga aja gak ngasih komentar."
"Tapi kayaknya Gege dan Arga memang punya hubungan deh. Soalnya kemaren...Pas anak baru masuk, Arga selalu melihat ke arah Gege. Dia kayak tersenyum - senyum gitu melihatnya."
"Mungkin aja cuman Arga yang suka. Gege belum tentu suka kan?!!"
"Tapi mereka satu kampung loh dan mereka juga ikutan silat bareng gitu."
"Udahlah. Pokoknya kalau Arga tidak ngomong apapun, gue akan deketin Gege. Mana tau Gege jodoh gue." Rafka tidak memperdulikan ucapan Adi, dia hanya tersenyum kembali, membayangkan bagaimana ketika Gege menerima cintanya.
"Yah yah... terserah loe aja deh, tapi jangan terlalu berharap dulu. Ntar kalo ditolak Gege nyesek sendiri loe...!!!"
"Yah loe suport gue dong..."
"Hahaha..." Semua senior yang ada disana tertawa.
Setelah Arga pergi dari teman - temannya, dia malah melihat Gege lagi yang tengah sibuk meminta tanda tangan kepada para senior yang lain.
Dalam hati Arga merasa cemburu, namun dia tidak berbuat apa - apa. Apalagi ketika salah satu temannya secara terang - terangan ingin mendekati Gege. Arga tidak bisa melakukan apa - apa. Dia hanya bisa memandang Gege dari kejauhan.
Merasa ada yang memperhatikan, Gege melihat ke arah samping. Dan ternyata ada Arga disana, yang sedang melihat ke arahnya. Pada saat itu mata mereka saling menatap, untuk menghapus rasa canggung. Gege melempar senyum ke arah Arga, melihat Gege sedang tersenyum. Barulah Arga sadar dan membalas senyum balik.
"Yah ampun... Senyumannya memang tidak pernah berubah. Manis sekali...!!!" Tanpa disengaja Arga malah melontarkan kata - kata tersebut. Dan ketika Arga sadar dia merasa malu sendiri. Untungnya disana tidak ada siapa - siapa, sehingga tidak ada yang mendengar ucapannya.
"Cieee... Yang diperhatikan Om Arga."
"Sekali lagi kamu ketawa, aku tinggalin." Gege langsung mengancam Yani, membuat Yani langsung terdiam.
"Ge, kamu udah dapat berapa?!!"
Tiba - tiba Gege didatangi oleh Dania, teman baru disekolah Gege. Meskipun mereka tidak satu sekolah, tapi mereka satu kampung.
"Lumayan sih Dan. Kamu sendiri gimana?!!"
"Aku masih dikit nih, bantuin aku dong." Dania memang tipikal yang pemalu dengan orang baru. Namun jika sudah mengenalnya, dia termasuk orang yang cerewet dan paling ribet.
"Ya udah, ikut kita aja." Gege menawarkan Dania untuk ikut bersamanya.
"Ok, yuk kita lanjut minta lagi."
Mereka bertiga mulai melangkahkan kaki mereka ke arah beberapa senior yang tengah asik ngobrol didepan kelas mereka.
__ADS_1
"Ge, kamu yang minta yah. Kamu kan paling berani di antara kita."
"Yaelah Yan...Perasaan dari tadi aku mulu deh yang minta duluan. Kamunya ngikut - ngikut aja... Ujung - ujungnya aku yang diusilin, aku yang dikerjain." Gege mulai kesel mendengar ucapan Yani.
"Yah gimana dong, kalau aku juga gak berani." Dania ikut menimpali.
"Kamu mah memang penakut. Ya udah, biar aku yang minta." Gege pun pasrah dengan kelakuan teman - temannya itu.
Dengan sedikit grogi, Gege memberanikan diri memberikan buku tanda tangan miliknya kesalah satu senior laki - laki yang merupakan anggota OSIS.
"Maaf kak mengganggu waktunya sebentar, boleh minta tanda tangannya gak kak?!!" Tidak lupa Gege tersenyum manis ke arah senior untuk menutupi rasa gugupnya.
Rafa, itulah nama anggota OSIS tersebut. Dia merupakan salah satu senior yang paling tampan dalam anggota OSIS.
"Mau tanda tangan berapa dek?!!" Rafa tidak lupa melemparkan senyum mautnya, yang merupakan andalannya yang membuat anak - anak cewek pada kelepek - kelepek.
Tak bisa dipungkiri, Gege pun terkesima melihat senyuman senior tersebut. Namun dia segera sadar dan langsung menjawab pertanyaan Rafa, agar dirinya tidak malu - maluin.
"Satu aja cukup kak, sekalian teman - teman kakak yang disebelah juga yah kak."
"Eh...Kita - kita juga?!!" Senior yang lain ikut menimpali, melihat Gege menunjuk mereka.
"Iya dong kak, biar tanda tangannya penuh. Boleh kan kak?!!" Gege merusaha untuk tetap sopan, agar dia tidak dikerjai oleh para senior tersebut yang kini sudah mulai tertawa - tawa.
"hahaha... Boleh boleh... Apa sih yang gak buat kalian. Tapi kakak boleh minta tolong gak?!!"
Gege, Yani dan Dania saling memandang. Mereka sudah mulai kawatir dan mikir jika mereka pasti akan dikerjain.
"Hmmm...Minta tolong apa kak?!!" Gege berusaha untuk tetap tenang.
"Tolong sampaikan salam kak Rafa ke kakak yang paling cantik disana. Kakak cantik itu bernama Caca, nanti tanya siapa yang nama Caca disana." Senior tersebut langsung menunjuk ke arah gerombrolan senior cewek yang sedang berbincang - bincang sambil bercanda di pojokan taman yang berada tepat didepan mereka.
"Baiklah kak, kami akan sampaikan."
"Ok bagus, yah udah pergi sana. Ntar kesini lagi ambil bukunya."
Akhirnya Gege dan dua temannya yang lain berjalan ke arah senior cewek yang ditunjuk tadi.
"Kak, boleh tau namanya gak?!!" Gege langsung bertanya pada senior cewek yang paling cantik disana.
"Itu kak, Kak Rafa nitip salam buat kak Caca." Gege langsung menyampaikan niatnya.
"Tapi gak ada nama kak Caca disini dek..."
Gege dan teman - temannya jadi bingung. Apa benar yang dikatakan kakak ini, atau mereka dikerjai oleh senior laki - laki tersebut.
"Iya yah kak, tapi kakak itu bilang. Kalau disini ada nama kak Caca."
"Coba tanya lagi deh, Caca mana yang dimaksud. Disini gak ada nama Caca."
Gege dan teman - temannya kembali ke Rafa dan rombongannya.
"Kak, kata kakak - kakak cantik itu gak ada yang namanya Caca disana." Gege dengan wajah polosnya menyampaikan apa yang dikatakan oleh senior cewek tersebut.
"Hahahaha..." Semua pada tertawa melihat keluguan Gege. Sedangkan Yani dan Dania hanya diam saja.
"Jadi tadi kamu nanya ke siapa?!!" Masih setengah tertawa, senior tersebut kembali bertanya pada Gege.
"Itu kak, yang duduk ditengah - tengah. Kan kakak itu yang paling cantik dan dia juga kan yang kakak maksud?!!" Gege menunjuk ke arah senior cewek tersebut.
"Iya iya... Kakak itu yang bernama Caca dek."
"Tapi kakak itu gak ngaku kak, mungkin kakak boleh sebut nama lengkapnya. Mungkin saja nama panggilan beda." Gege berusaha untuk tetap tenang, meski dalam hatinya sudah mulai kesal.
"Nama lengkapnya siapa yah?!! Kakak juga gak hafal nama lengkapnya." Senior tersebut seakan - akan sedang mengingat - ingat nama panjangnya.
"Jadi gimana dong kak, kami sudah sampaikan salam kak Rafa ke kakak itu."
"Yah sudah, makasih yah udah nyampaiin salam kakak. Tapi bukan kakak sebenarnya yang ngirim salam. Tapi kakak yang ngomong ini, namanya kak Adam."
Adam hanya tersenyum malu mendengar ucapan Rafa. Sedangkan Gege dan dua temannya hanya diam mendengarkan.
"Jadi Gimana Adam, mau disampein lagi atau gak?!!"
"Hmmm... Kalian mau gak tanyain lagi ke kakak itu." Adam melihat ke arah Gege dan teman - temannya.
__ADS_1
"Yah udah kak, kita bilang ke kakaknya lagi."
Gegepun dengan berat hati langsung beranjak pergi, tidak lupa dengan kedua temannya yang mengekor dibelakang Gege.
"Maaf kak ganggu lagi, sebenarnya yang titip salam ke kakak yang ditengah itu kak Adam. Kakak mau gak terima salam dari kak Adam?!!"
"Adam...?!!" Senior tersenyum memperlihatkan wajah tanda tanya.
"Jangan bilang kalau kakak ini gak kenal sama kak Adam itu." Gege mulai kesal dan menggumam dalam hatinya.
"Ituloh kak, yang duduk disebelah kak Rafa." Gege langsung menunjuk ke arah Adam.
"Owh...Cowok playboy itu...!!! Bilang ke dia, salamnya kakak tolak. Soalnya dia udah banyak pacar."
"Baik kak, kalau begitu kami pamit." Gege pun langsung pergi dari sana, tanpa menunggu lama Gege menyampaikan apa yang didengarnya kepada kak Adam.
"Salam kakak udah kami sampaikan, kata kakak itu kakak palyboy. Jadi salamnya ditolak, kalau kakak mau sama kakak itu. Putusin dulu semua pacar kakak yang sekarang."
"Hahaha..." Sekarang giliran Rafa yang tertawa, sedangkan Adam langsung terdiam.
"Kak, kita kan udah lakuin yang kakak bilang. Jadi udah boleh dong kita minta bukunya."
"Siapa nama kamu dek?!!" Rafa melihat ke arah Gege dan memegang buku Gege.
"Bukannya dia bisa baca tulisan dibuku itu yah?!! Duh... mau apa lagi sih?!!" Gege mulai kesal dan bergumam dalam hatinya.
"Gege kak, dibuku itu juga ada nama saya." Gege menunjuk buku yang berada ditangan Rafa.
"Owh iya yah... Georgina Geraldin, disingkat Gege. Keren juga yah nama kamu." Rafa manggut - manggut seakan - akan mengerti.
"Terima kasih kak, mohon maaf kak. Kami harus meminta tanda tangan senior yang lain. Jadi bolehkah kami mengambil buku kami kembali... ?!!"
Akhirnya Rafa dan teman - temannya memberi tanda tangan kepada Gege dan teman - temannya. Meski terkadang mereka banyak tanya, seakan - akan ingin menahan mereka lebih lama lagi.
Setelah Rafa mengembalikan buku mereka, tanpa menunggu lebih lama lagi Gege langsung pergi dari sana. Tentunya setelah mengucapkan terima kasih.
"Kalian tau gak sih, kalau Gege itu pacarnya Arga loh...!!!"
"Loe serius Dan?!!" Adam mulai kepo.
"Iya...Sebelum kesini aku tadi dari sana. Adi bilang kalau Gege pacarnya Arga. Tapi kayaknta Rafka juga suka Gege deh. " Dani menjelaskan kepada yang lainnya, karena Dani juga dari sana, lalu gabung bersama mereka setelah Gege pergi.
"Kalau benar pacar Arga, kok Rafka pengen dekat Gege juga sih?!!" Sekarang giliran Rafa yang bertanya.
"Soalnya pas Rafka nanya ke Arga, Arga justru tidak menjawab dan langsung pergi gitu. Wajahnya sih kesal, tapi dia tidak mengatakan apapun."
"Wah...!!! Parah ini, kayaknya bakal ada cerita seru nih..." Adam mulai semangat lagi.
Sedangkan Gege dan teman - temannya sudah berhasil mengumpulkan banyak tanda tangan. Termasuk tanda tangan ketua OSIS dan para anggotanya.
"Yeee... Akhirnya kita terlepas dari jeratan tanda tangan ini. Kayaknya ini sudah cukup deh. Buat apa ngumpulin terlalu banyak tanda tangan, yang penting persyaratannya sudah kita penuhi." Gege merasa lega karena tugasnya sudah selesai.
"Memangnya kamu gak mau jadi Ratu ge?!! Kan kalau kita ngumpulin banyak tanda tangan kita bakalan jadi Ratu besok." Ucap Dania sambil melihat buku tanda tangannya.
"Buat apa...?!! Cuman jadi bahan tertawaan saja, mending udah kayak gini aja. Gak ribet dan gak perlu tampil didepan semua orang."
"Iya Ge, aku juga gak mau jadi Ratu. Meskipun nanti kalau kita jadi Ratu dapat beberapa keistimewaan." Yani ikut menimpali ucapan Gege dan Dania.
"Memangnya keistimewaan apaan?!!" Gege memang tidak mendengar hal ini, karena dia terlambat datang.
"Kamu bakalan bisa menyuruh - nyuruh siapa aja yang ingin kamu suruh. Kamu juga bisa ikut menjadi anggota OSIS, bahkan bisa mencalonkan diri sebagai Ketua."
"Dih...Penting amat...Kalau mau masuk OSIS gak perlu jadi Ratu juga bisa masuk. Nyuruh - nyuruh orang buat apa juga coba. Tapi buat balas perbuatan senior kayaknya seru juga sih...!!!"
"Hahaha..." Merekapun tertawa lepas.
Cerita OSPEK hari keduapun berakhir. Setelah mengumpulkan buku tanda tangan, semua murid dipersilahkan untuk pulang kerumah masing - masing.
Cerita tentang Arga dan Gege pun masih jadi tanda tanya bagi sebagian yang mengetahuinya.
Yuk... Baca lanjutan ceritanya...
Bakal makin seru dan menarik...
Jangan lupa di LIKE, KOMEN dan SUBCRIBE yah bestiii... Terima Kasih... 😘😘
__ADS_1