Waktu Berharga

Waktu Berharga
Kepergian Abah


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, tiba - tiba Gege mendapat telphone dari bunda Ratna.


"Ge, bisakah kamu pulang sekarang nak?!! Ambillah cuti beberapa hari, bunda ingin kamu pulang sekarang juga."


"Ada apa bun?!! Dari semalam perasaan Gege tidak enak, apa semua baik - baik saja?!!"


"Iya nak, bunda hanya ingin kamu pulang sekarang. Abah kamu sakit Ge, beliau ingin bertemu dengan kamu."


"Baik bun, Gege akan ambil penerbangan hari ini juga."


Sepanjang perjalanan pulang, Gege tidak bisa membendung air matanya. Dia menangis sepanjang perjalanannya. Bahkan dia tidak peduli dengan orang lain, dia tetap menangis terisak - isak. Ada rasa sakit didadanya, rasa sesak yang tidak bisa ditahannya. Dia sangat yakin, bahwa terjadi sesuatu yang buruk pada abah. Namun dia tetap meyakinkan hatinya, bahwa abah akan baik - baik saja ketika dia sampai dirumah nanti. Bahkan dia membeli banyak makanan kesukaan abah.


Beberapa jam berlalu, Gege sampai dirumahnya. Dirumah terdapat bendera hitam, banyak warga yang berdatangan. Sesampainya didepan pintu rumah, Gege melihat sang ayah sedang membujur disebuah tempat tidur yang sudah dipasang kain serbah putih.


"Gege...!!! Hikhikhik..." sang bunda memeluk anaknya dan menangis pilu.


Gege hanya diam, dia terduduk disudut rumah sambil memandang sang ayah. Tiada kata yang dikeluarkan, tiada suara ataupun isak tangis. Dia hanya diam menatap abah, namun air mata mengalir tiada henti.


Dia sangat terpukul, perasaannya bercampur aduk dan penyesalan menyelimuti hatinya yang hancur saat ini. Sakit, sesak... itulah yang dirasakannya. Perasaan yang tidak rela dan rasanya dia ingin membalikkan waktu, saat abah memintanya pulang. Seandainya waktu itu dia langsung pulang, mungkin dia masih bisa bertemu dengan abah.


"Ge... Kamu yang sabar yah nak, Allah lebih sayang abah. Kita tidak bisa menghentikan takdir yang sudah tertulis." Gigi sang kakak mencoba untuk menenangkan adiknya, dia tau jika sang adik sangat terpukul akan kepergian abahnya.


"Ge... Ayo kita siap - siap memandikan jenazah abah. Kamu mau kan ikut memandikan abah?!!"


Mendengar ucapan Gigi, barulah Gege tersadar. Dia menangis histeris dan mendekati sang ayah. Dipeluknya abah, dilihatnya sang bunda yang duduk lemas didepan abah.


"Abah... Kenapa, kenapa abah tidak menunggu Gege. Apa abah marah sama Gege?!! Apa abah tidak mau bicara lagi sama Gege?!! Abah... Kenapa bisa seperti ini, maafkan Gege abah. Maafkan Gege karena udah menjadi anak yang durhaka. Andaikan Gege pulang lebih cepat, apakah abah akan baik - baik saja sekarang?!! Gege sudah membawa makanan kesukaan abah, ayo kita makan bersama abah. Abah... maafkan Gege... Maafkan Gege abah... Hikhikhik..." Gege menangis tanpa henti, dia merasa semua ini terjadi karena dia. Abah meninggalkannya karena marah padanya.

__ADS_1


"Ge... Ayo kita bersiap - siap untuk memandikan abah. Kamu harus mengikhlaskan kepergian abah, biarkan abah pergi dengan tenang."


"Tidak bun, Gege tidak mau kehilangan abah sekarang. Gege belum bisa membahagiakan abah, kenapa abah harus pergi sekarang."


"Abah... Lihatlah, Gege sudah pulang abah. Gege sudah dirumah, apa abah tidak mau bicara sama Gege?!! Abah...!!!"


"Ge...Ayo berdirilah, ganti pakaianmu dulu. Biarkan abah beristirahat dengan tenang. Apa kamu lebih suka abah menahan rasa sakit."


"Abah... Semua ini salah Gege, seharusnya Gege pulang lebih cepat. Maafkan Gege abah... Abah..."


"Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, ini adalah kehendak Allah. Kita harus ikhlas Ge... Ayo kita bersiap - siap untuk memandikan abah. Kamu ingin melihat abah lebih menderita lagi?!!"


"Gak kak, Gege gak mau..."


"Ayo cepat ganti baju kamu, abang kita juga udah mempersiapkan semuanya."


Akhirnya Gege mempersiapkan dirinya, dia ikut serta memandikan sang ayah. Gege dan Gigi memberikan sampo ke rambut abah, membersihkan wajah beliau dengan sabun. Sedangkan dua kakak laki - laki memeluk abah dan menyabuni tubuh beliau.


Proses pemakamanpun selesai, semua kembali kerumah. Gege tetap menangis disudut ruangan, bunda menangis didepan tempat tidur abah sambil meratapi kepergian beliau yang begitu mendadak. Sampai sekarang semua keluarga masih belum percaya atas apa yang terjadi, karena sebelumnya beliau memang tidak sakit keras ataupun ada tanda - tanda ingin pergi.


"Sebelumnya abah demam Ge, beliau bilang ke bunda untuk dibawa kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, beliau diperiksa oleh dokter. Kata dokter beliau asam lambung, tidak lama kemudian beliau menghembuskan nafas terakhir."


"Bagaimana bisa seperti itu kak, masa cuma karena asam lambung abah bisa pergi. Kenapa tidak ada yang memberi tahukan aku?!! Aku seorang dokter kak, aku memeriksa banyak pasien dan aku mengobati banyak orang. Lalu kenapa, saat abah sakit tidak ada yang memberitahukan aku?!!"


"Semua terjadi begitu saja Ge, kita semua juga tidak menyangka akan seperti ini. Abah hanya sehari dirumah sakit, beliau memang selalu menyebut nama kamu. Tapi beliau tidak ingin kamu tahu kalau beliau sedang sakit." Gigi menangis menceritakan semua kejadian tersebut.


"Kak, aku memilih jurusan ini karena abah ada penyakit gula dan beliau sering terluka karena bekerja. Aku ingin jadi dokter agar bisa mengobati beliau dan juga bunda. Tapi kenapa disaat seperti ini, kalian malah tidak memberitahukan semuanya pada aku."

__ADS_1


"Sudahlah Ge, kita tidak bisa menyesali apa yang sudah terjadi. Lihatlah bunda, beliau lebih terpuruk dari pada kita. Beliau lebih kehilangan dari pada kita. Apa kamu mau melihat beliau sakit karena menangis terus seperti itu. Ayo bujuk bunda, ajak bunda makan dan istirahat."


Gege melihat kearah bunda yang masih menangis terseduh - seduh didepan tempat tidur abah.


"Bun, ayo kita makan dulu. Kami tidak ingin bunda sakit, ayo bun kita makan dulu. Gege juga sudah sangat lapar bun..." Gege memeluk bundanya dan meneteskan air matanya, sakit... sakit rasanya melihat semua ini, Gege juga tidak ingin hal buruk terjadi lagi.


"Bunda nanti saja makannya, kamu makan duluan sama kakak kamu yah."


"Gak bun, Gege maunya sama bunda. Bunda juga belum makan dari kemaren, Gege gak mau bunda sakit. Ayo bun, kita makan dulu."


"Bunda belum lapar Ge, pergilah makan duluan. Jangan membantah, bunda baik - baik saja. Sudah pergi sana..." Bunda kembali memeluk tempat tidur abah dan menangis disana.


Pilu... Sakit rasanya melihat bunda yang sangat terpuruk seperti sekarang. Gege sangat mengerti dengan perasaan bunda, karena selama ini bunda selalu bersama abah. Kemanapun bunda selalu bersama abah, apalagi beliau hanya berdua dirumah. Sekarang, setelah abah pergi... maka bunda akan sendirian dirumah. Kedua kakak laki - laki Gege sudah menikah dan tinggal dirumah istrinya. Sedangkan Gigi bekerja dikota C dan Gege bekerja dikota B, adiknya yang paling kecil sekolah dikota G yang jaraknya satu jam dari rumah. Sehingga dia harus tinggal dirumah kos - kosan dan jauh dari bunda.


Beberapa hari berlalu, Bunda masih saja larut dalam kesedihan beliau. Meski sudah mau di ajak makan, beliau masih sulit untuk menelan makanannya. Sehingga bunda terlihat sangat kurus, semua sangat sedih melihat kondisi bunda. Terutama Gege, Gege selalu memberikan vitamin pada bunda agar bunda tetap sehat dalam keadaan sulit ini.


"Bun... Gege akan mengurus perpindahan Gege. Gege akan mencoba untuk pindah kerumah sakit dikampung. Sebenarnya Gege mau membuka praktek dirumah saja, namun itu perlu biaya yang cukup banyak bun. Bunda, Gege tinggal sebentar gak apa - apa kan?!! Adek kebetulan lagi libur sekolah, jadi adek akan dirumah menemani bunda."


"Iya... Pergilah nak, jangan sampai kamu nanti dipecat dari pekerjaan kamu. Kamu sudah susah payah mendapatkan pekerjaan tersebut."


"Besok Gege akan berangkat bun, kak Gigi juga minggu depan kembali. Jadi bunda harus baik - baik dirumah, jaga kesehatan dan jangan lupa makan bun. Meski cuma sedikit, tetaplah makan bun..."


"Iya..." Gege masih sangat berat meninggalkan bundanya, namun dia harus kembali ketempat kerjanya. Apalagi Gege masih terbilang baru ditempat kerjanya, makanya tidak bisa cuti terlalu lama.


"Dek, kamu jagain bunda dengan baik yah. Jangan biarkan bunda sendirian dan ingatkan bunda untuk tetap makan. Kamu juga jangan malas - malasan untuk makan, lihat tuh badanmu kecil sekali."


"Iya kak."

__ADS_1


"Abah... baru beberapa hari Gege sudah rindu... Gege rindu abah..." Gege meneteskan air matanya dan menatap pilu foto abah dan dirinya serta Gigi dan Geji. Itu adalah foto terakhir mereka jalan - jalan sekeluarga, disaat Gege masih duduk dibangku sekolah dasar. Satu - satunya kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan.


"Abah... Semoga Abah tenang dialam sana dan ditempatkan disurganya Allah SWT." Gege kembali berdo'a dalam hatinya sambil memeluk foto tersebut.


__ADS_2