Waktu Berharga

Waktu Berharga
Arga dan Gege


__ADS_3

"Kak, ada titipan dari abangku. Jangan lupa dibalas yah kak."


Gege mendapat sebuah buku baru, yang diberikan teman sekelasnya yang bernama Pedra. Setelah Pedra memberikan buku tersebut ketangan Gege, dia langsung pergi.


"Apanya yang dibalas, ini buku kosong." Gege bingung sendiri, karena ketika dia membuka buku tersebut. Buku itu benar - benar buku baru dan tidak ada tulisan apapun pada lembaran pertama.


"Cieee yang dapat surat cinta...!!!" Ketika Titik melihat semua kejadian, dia menggoda Gege.


"Surat cinta apaan?!! Ini buku kosong kok. Nih coba lihat, kosong kan?!!" Gege memperlihatkan halaman pertamanya, yang benar - benar kosong.


"Mungkin aja ditulis di bagian tengah Ge..." Umi ikut menimbrung obrolan mereka.


Ketika Gege ingin membuka lembar dibagian tengah, tiba - tiba Pedra datang lagi.


"Kak jangan dibaca sekarang, nanti aja bacanya dirumah." Lalu ia pergi lagi.


"Apaan sih tu si Pedra, panggil kakak segala. Jelas - jelas seumuran, satu kelas lagi. Dasar aneh..." Gege membatalkan niatnya membuka halaman tengah tersebut.


"Ge...Ayo dong dibukak, kita kan juga penasaran...!!!" Sekarang giliran Iris yang mulai kepo.


"Ih... Kepo banget sih, kamu gak dengar Pedra bilang apa...?!! Gak boleh baca disini." Gege pun tertawa puas melihat wajah kesal Iris.


"Tapi nanti kasih tau kita yah Ge, apa isinya..." Umi yang biasanya kalem, hari inipun mulai aktif.


"Aduh duh...Umi jangan ketularan mereka deh, cukup mereka aja yang kepo. Kamu fokus belajar aja, jangan mengenal cinta - cintaan."


"Apaan sih Ge, emangnya aku gak boleh tau?!! Kita juga seumuran kok." Umi langsung mencibir mereka semua.


"Hahaha..." Semua tertawa melihat tingkah Umi yang tidak seperti biasanya.


Sedangkan ditempat lain, Arga tengah berada disekolah. Dia sedang berkumpul bersama teman - temannya. Arga terlihat tidak fokus, karena dia memikirkan surat yang dititipkan kepada Pedra.


"Ga, buku semalam jadi kamu titipkan ke Pedra yah?!!" Rahendra, teman satu sekolah, sekalian satu geng dengan Arga dikampung mulai kepo.


"Kepo banget sih loe...!!!" Arga tidak menjawab pertanyaan Rahendra, dia hanya tersenyum malu.

__ADS_1


Arga memiliki saudara yang tidak jauh beda usia. Sehingga mereka sering disebut anak kembar. Karena mereka apa - apa selalu bersama, bahkan sekolah pun sama - sama. Padahal Abang Arga yang bernama Arya satu tahun lebih tua di atasnya. Namun Arya ingin satu kelas dengan Arga, hingga sekarang.


"Pastinya jadi dong...!!! Kalau gak gimana Arga menyampaikan isi hatinya." Arya memang suka memojokkan saudaranya tersebut, namun dibalik sikapnya itu. Dia adalah seorang kakak yang sangat penyayang.


"Berisik kalian." Arga pun pergi dari kelompok tersebut dan langsung masuk kedalam kelasnya.


Begitulah sikap Arga yang selalu malu - malu, jika sudah ditanya masalah Gege.


Beberapa jam kemudian, tiba saatnya Arga pulang sekolah. Sesampainya dirumah, ternyata Pedra sudah menunggu didepan rumahnya.


Arga langsung tersenyum manis, melihat Pedra yang berdiri didepannya. Tanpa Arga tanya, Pedra langsung memberitahu Arga mengenai suratnya.


"Bang, suratnya sudah saya berikan kepada Gege. Dan dia langsung terima buku tersebut." Tanpa basa basi Pedra langsung berbicara pada Arga yang sudah berada tepat didepannya.


"Terus apa katanya?!!" Bukannya Arga yang bertanya, namun Arya yang jadi penasaran.


"Dia gak ngomong apa - apa sih...Karena sesuai permintaan bang Arga, saya nyuruh dia baca dirumah."


"Yah...Jadi besok dong balasan suratnya." Lagi - lagi Arya yang bicara.


Kembali kepada Gege yang sudah sampai dirumahnya. Gege langsung mengganti pakaiannya dan lanjut makan siang. Sedangkan dia melupakan buku titipan Pedra disekolah tadi.


Hingga malam harinya, Gege benar - benar melupakan buku tersebut. Apalagi Gege tidak menyentuh bukunya malam ini seperti biasanya. Karena besok hari libur, jadi Gege tidak menyiapkan jadwal untuk esok.


Malam ini Gege punya jadwal latihan silat. Setelah makan malam, dia langsung berangkat ketempat pelatihannya.


"Bang, Gege datang tuh." Pedra langsung menunjuk ke arah Gege yang baru saja masuk keruangan.


Arga hanya diam saja, seolah - olah tidak peduli atas kedatangan Gege. Namun matanya tidak bisa berbohong, dia selalu memperhatikan gerak gerik Gege.


"Bang, apa mau saya tanya sekarang aja?!!" Lagi - lagi Pedra berbisik ketelinga Arga.


"Gak usah, besok aja tanya disekolah. Sekarang fokus latihan dulu." Argapun langsung berdiri menuju arah Gege, namun dia berhenti setelah berada tidak jauh dari Gege.


Semua teman - teman Arga berpikir jika Arga akan menemui Gege secara langsung. Nyatanya Arga tidak berani, dia hanya melirik Gege dari kejauhan.

__ADS_1


"Aaah... Dasar si Arga pengecut, udah didepan mata malah langsung berhenti. Kenapa gak lanjut dekatin sih." Arya yang melihat kelakuan adiknya jadi kesal sendiri.


"Hahaha... Arga kan memang gitu orangnya, sok jaim segala. Padahal dalam hatinya pengen dekat - dekat itu." Rahendra ikut menambahkan.


Gege yang merasa jadi omongan, langsung melihat ke arah Arya dan teman - temannya. Ketika Arya melihat Gege menatapnya, dia langsung melambaikan tangan ke arah Gege. Sekedar say hello dan tersenyum sumringah ke arahnya. Melihat reaksi Arya, Gege pun kembali fokus pada latihannya.


Beberapa menit kemudian, Arga melihat Gege yang berjalan menghampirinya. Dia mulai grogi dan menundukkan wajahnya. Dalam hati Arga merasa jika Gege ingin memberikan jawaban atas suratnya. Dia mulai gugup, apa yang akan dia lakukan nanti.


"Kak Arga..." Gege menyebut nama Arga setelah dia berada tepat didepan Arga.


Sedangkan Arya dan yang lain pada fokus memperhatikan gerak gerik mereka berdua. Mereka mulai senyum - senyum, seakan - akan sedang menonton adegan romantis.


"I.. iya Ge, ada apa?!!" Saking groginya, Arga menjawab dengan terbata - bata.


"Itu kak, Gege mau nanya. Apa kakak bisa bantu untuk mempraktekkan gerakan silat yang kemaren. Soalnya Gege lupa kak."


Arga hanya melongo mendengar ucapan Gege. Dia sudah salah tingkah dan ternyata Gege hanya minta bantuannya mengenai latihan.


"Yah ampun...aku sudah mikir kemana - mana, tapi yang ditanya lain." Arga masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehingga membuat Gege heran.


"Kalau kakak gak mau sih juga gak apa - apa. Kalau gitu Gege permisi kak." Ketika Gege ingin berbalik arah, barulah Arga sadar dari pikiran - pikirannya yang sudah melantur kemana - mana.


"Ge tunggu dulu." Tanpa sengaja Arga langsung meraih tangan Gege. Sehingga membuat wajahnya merah merona.


"Jadi kakak mau bantuin Gege?!!" Gege kembali senang, ketika Arga memanggilnya kembali.


"Ii.. iya Ge, kakak akan tunjukin gimana gerakannya. Kamu bisa memperhatikan ataupun langsung mengikuti gerakannya. " Rasanya cukup canggung, namun Arga tidak mau menyia - nyiakan kesempatan ini.


"Oalah... Arga ada - ada saja, baru juga megang tangan Gege udah kayak gitu. Gimana kalau mereka pacaran yah?!!"


"Hahaha..." Semuanya tertawa melihat tingkah Arga yang seperti ABG yang lagi kasmaran.


Ceritanya berlanjut pada bab berikutnya.


Terima Kasih... 😘

__ADS_1


__ADS_2