Waktu Berharga

Waktu Berharga
Musim Dagu Belah Dua


__ADS_3

Akhirnya kericuhan berlalu, sekarang Gege dan keluarga tidak jadi bahan gosipan warga lagi. Karena pada kenyataannya Gege memang tidak melakukan perbuatan buruk tersebut.


Teng... teng...!!!


Waktunya masuk kelas, semua murid pada berhamburan masuk ke kelas masing - masing.


"Gege... Tania... maju kedepan...!!!" tiba - tiba buk Ndut memanggil Gege dan temannya kedepan kelas.


"Kenapa dagu kalian berdua?!!"


Gege dan Tania hanya diam tanpa suara, mereka menundukkan kepala kebawah karena tidak berani menatap mata tajam buk ndut.


"Karena koin buk...!!!" jawab beberapa siswa dan siswi yang berada dikelas yang sama.


"Karena ingin dagu belah dua buk, jadi pake koin biar dagunya belah dua...!!!"


"Hahahaha..."


"Owh... benar seperti itu?!! supaya apa kalian buat seperti ini? Supaya jadi cantik, makanya dibuat - buat kayak gini?"


"Gak buk... "


"Apanya yang gak?!! Bukannya cantik yang ada kulit kalian jadi rusak. Lihat, apa bagus kelihatannya seperti ini?!!"


"Gak buk..."


"Kalian mau jadi preman?!!" Lagi - lagi buk ndut teriak pada mereka.


"Gak buk...!!!" jawab Gege dan Tania bersamaan. Masih dengan posisi menunduk kebawah.


"Orang tua kalau ngomong yah dilihat, kalian mau membangkang?!!"


"Gak buk...!!! ini kena getah bacang buk." Sekarang Gege memberanikan angkat suara.


"Gak buk, namanya juga gak sengaja. kan lagi musimnya modelan kayak gini." Tania ikut menimpali.


"Gak sengaja kok ikutan musiman?!! Itu namanya disengaja. Dibuat - buat, supaya cantik dagunya?!! yang ada kalian jadi buruk. Udah dagunya lecek, koreng, benar - benar belah dua itu. Bahkan belah banyak... "


"Ha... ha... ha..." semua murid tertawa mendengar ucapan buk ndut.


Gege dan Tania hanya menunduk malu.


"Sana duduk dibangku masing - masing... Lain kali jangan dibuat lagi yah?!!"


"Iya buk... " merekapun kembali duduk di bangku masing - masing.


Saat ini kebanyakan murid pada umumnya ingin punya dagu belah dua. Sehingga mereka menggunakan koin untuk membentuk belahan di dagu masing - masing. Hanya saja Gege dan Tania kulitnya memburuk dan membuat dagu mereka korengan.


"Ini gara - gara kamu Tan, ngajak aku buat beginian... Kan jadi malu karena dipanggil ke depan. Diketawain lagi sama yang lain." sungut Gege kesal pada Tania.

__ADS_1


"Yah kan supaya kita keren kayak yang lain. Lihat aja nanti, kalau udah sembuh pasti jadi belah dua." Ucap Tania membela diri.


"Iya belah banyak malahan. Duh... mana sakit lagi karena memburuk."


"Kalian sih ada - ada saja, mau belah dua dagunya kok di gosok pake koin. Yah jelas lukalah. Masih mending sedikit, kalau nyebar hancur muka kalian."


"Ih... Amit - amit lah...!!! jangan sampe makin parah, gak mau aku korengan."


"Iuuuh... Aku juga gak mau Ge. Palingan nanti juga bakalan sembuh kok. Kan kita menggosoknya dikit aja, gak lama - lama."


"Yah semoga aja gitu, aku ngeriii juga ngebayanginnya."


"Yang dibelakang mau belajar atau mau keluar?!! Gege, Tania... udah buat masalah mau nambahin lagi?!! Kalian mau ibuk usir keluar?!!"


"Gak buk..." Gege dan Tania langsung terdiam.


Kegiatan belajarpun berlanjut dengan tenang, setelah Gege dan teman - teman fokus pada pelajarannya.


"Teng... teng... teng... " Waktunya pulang sekolah.


Beberapa jam kemudian, Gigi kembali kerumah setalah jam pelajarannya selesai dan melakukan tugasnya seperti biasa.


Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Gigi tak kunjung melihat Gege adiknya. Beda dengan biasanya Gege selalu membantu pekerjaan rumah, namun hari ini sang adik tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Yah ampun... ni bocah kemana lagi sih?!! Ini udah jam empat sore, tapi belum pulang - pulang juga." Gigi sudah mulai kesal mengingat kelakuan adiknya yang satu itu.


"Dari mana aja kamu?!!"


"Astagfirullah hal'adzim...Kakak kok bikin kaget aja?!!"


"Yang ada kamu, ngapain masuk ngendap - ngendap gitu?!! Mau kemana lagi kamu?!!"


"Hehehe... Izin mandi ke sungai yah kak?!!" Gege berusaha menjawab dengan tenang, karena dia tau bahwa Gigi sangat marah.


"Mandi aja dirumah, sana ambil air kerumah tante Santi."


"Tapi kak, teman - teman aku udah nungguin...!!! Boleh yah kak, Ge janji deh gak bakalan lama."


"Gak ada, yang ada nanti kamu pulang Maghrib. Mana pernah kamu mandi kesungai sebentar?!!"


"Yah kak, bentaran doank kak. Aku pergi yah kak...!!!" Gege pun berlari ngambil pakaian ganti dan keluar dari rumah.


"Gege....!!! Awas kamu pulang nanti yah... " Gigi benar - benar kesal melihat kelakuan adiknya tersebut.


Ketika dirumah Gigi masih kesal dengan sikap Gege, sedangkan di tempat lain Gege tengah asik berenang disungai bersama teman - temannya.


"Ge gue juga pengen gosok dagu gue pake koin. Tapi katanya kamu dimarahi buk Ndut yah?!!"


"Iya Mai, gue sama Tania dipanggil ke depan dan dimarahi habis - habisan sama buk ndut."

__ADS_1


"Tapi kok yang lain pada berhasil dagunya belah dua sih?!!"


"Namanya juga beda orang maisaroooo... Kulit gue sensitif. Dikit aja di gigit nyamuk langsung berbekas, apalagi luka yang di buat - buat kayak gini."


"Makanya jangan sok ikut - ikutan musim. Orang gosok dagu dengan koin, loe juga ikutan gosok. Gak nyadar diri sendiri punya kulit sensitif."


"Iya... dan sekarang gue jadi nyesal banget...!!! Tau gini gue gak bakalan ikutan musim dagu belah dua tau...!!! Apalagi gak terbukti dagu berbelah, yang ada koreng berbelah."


"Hahaha... ada - ada aja lu ge... "


Karena terlalu asik mandi disungai, Gege jadi lupa bahwa dia akan pulang cepat. Sehingga maghrib pun menjelang.


"Bagus yah... Udah Adzan Maghrib kamu baru pulang?! Ini yang kamu bilang pulang cepat...?!!"


"Maaf kak, lain kali Gege gak ulangi lagi...!!!"


"Udah sana sholat dulu, habis itu langsung makan."


"Iya kak... " Gege pun berlari ke dapur dan mengambil Wudhu'. Setelah itu menyelesaikan sholat Maghrib.


Diruang tamu Abah, Mamak dan keluarga lain sedang duduk santai sambil bercerita.


"Gi, tadi sore kamu ribut lagi sama adekmu yah?!!"


"Gak abah, Gigi cuman ngasih tau Gege kalo mandi disungai gak boleh terlalu lama. Tadi aja dia pulang udah Adzan Maghrib."


"Iya, kamu sebagai kakak ingatin adek mu baik - baik. Jangan marahi dia atau pun langsung main mukul. Abah gak mau dengar anak - anak abah selalu ribut dirumah. Abah sama bunda pergi pagi pulang malam kan kerja nyari uang buat kalian. Jadi abah mau minta tolong sama anak - anak abah yang rukun kalau dirumah."


Selesai Sholat Gege ikutan duduk diruang tamu bersama keluarganya yang lain.


"Kamu juga Ge, itu dagu di apain sampe koreng gitu?!!"


"Dia ikut - ikutan temannya abah, biar dagunya belah dua... " Imbuh Gigi menjawab pertanyaan abah.


"Bentuk tubuh kita, wajah kita dan semua yang kita miliki itu adalah kehendak Allah SWT. Jadi kita sebagai makhluk ciptaan_Nya harus bersyukur masih diberi kelengkapan dan kesempurnaan dalam bentuk."


"Iya abah, Gege minta maaf."


"Gege anak abah sudah cantik, kenapa masih ingin dagu seperti itu?!! Apa Gege gak puas dengan apa yang Gege miliki sekarang?!!"


"Namanya juga anak - anak bah, suka ikut - ikutan. Apalagi teman - temannya yang lain juga melakukan hal yang sama." Bunda ikut membela sang anak yang sekarang menunduk lemas didepan mereka.


"Iya abah tidak marah, hanya saja... Lain kali jangan melakukan hal yang bisa membuat kita celaka. Seharusnya Gege tau mana yang baik dan mana yang buruk. Karena akibatnya juga Gege sendiri yang menanggungnya."


"Iya abah... Gege juga menyesal sudah melakukan ini. Lain kali Gege gak ulangi lagi."


"Baiklah jika Gege sudah mengerti."


Semua terdiam sejenak, Bunda merasa tenang karena anak - anak tidak pernah membantah kata - kata abah. Abah memang keras dalam mendidik anak - anaknya. Sehingga mereka tidak berani sedikit pun untuk membantah. Namun dibalik ketegasan beliau, beliau selalu bisa mencair kan suasana dan bercanda bersama mereka.

__ADS_1


__ADS_2