
Zidav tak habis akal, anak bungsu dari Tuan besar Cazim itu mengikuti mobil keponakan tirinya dengan jarak aman agar Aldelardo tak menyadarinya.
Mobil Aldelardo masuk ke sebuah gang besar yang bisa muat untuk satu kendaraan roda empat dan roda dua. Setelah masuk ke dalam gang sekitar 5 menit mobil keponakannya itu berhenti. Dia melihat Mona keluar dari pintu penumpang, pintu pengumudi ikut terbuka ternyata keponakannya itu ikut turun.
Ia melihat keponakannya berbicara pada Mona dan mereka berdua masuk ke dalam sebuah rumah berukuran kecil, "Damn! Kenapa Mona mengajaknya masuk!"
Dugh! Dugh!
Zidav sangat kesal berulang kali lelaki itu memukul - mukul stir mobil. Ia dengan sabar menunggu, ia melihat jam di pergelangan tangannya Aldelardo sudah 1 jam di dalam sana.
"Tendang dia keluar, Mona! Apa yang kalian lakukan di dalam sana!"
Akhirnya keponakannya itu keluar, Aldelardo menarik tangan Mona lalu mengecup punggung tangannya.
"Arghht! Brengsek! Pria itu ternyata gerak cepat! Sial! Tapi aku tak akan melepaskan Mona pada siapapun termasuk kamu Ardo!"
***
Aldelardo masuk ke dalam mobil, ia membuka kaca mobil dan melambaikan tangan dari dalam mobil, "Mona, aku pergi."
__ADS_1
"Ya, hati - hati Tuan."
"Mona, kita sudah sepakat saat berdua kamu akan memanggil namaku. Aku adalah kekasihmu sekarang," Aldelardo berwajah masam.
"Xixi, maaf Mas Ardo. Hati - hati di jalan," wanita itu tersenyum melambaikan tangan.
Aldelardo pergi dengan senyuman lebar, ia akhirnya berhasil mendapatkan hati Mona. "Aku akan menjagamu, Mona."
Sepanjang jalan dia terus tersenyum, Aldelardo mengingat kembali percakapan dengan Mona di dalam rumah tadi.
Saat memasuki rumah Mona, dia menatap sekeliling isi dalam rumah. Dia menatap wajah - wajah dalam foto berbingkai di dinding. "Apa ini kedua orang tuamu dan adikmu Dendra?" tanyanya.
Dia menautkan kedua alisnya, dia merasa heran dengan penampilan modis Mona saat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Bahkan penampilannya tidak seperti sekarang, di dalam foto Mona mengurai rambut indahnya, wajah di dalam foto tanpa kacamata dan ada polesan make up tipis menambah kecantikan Mona. Sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penampilan Mona saat ini.
"Apa aku di dalam foto itu cantik? Anda bahkan tidak berkedip."
Dia menggeleng, "Jujur aku lebih suka kamu sekarang, aku tidak terlalu suka wanita modis. Wanita yang merebut Ayahku dari Ibuku dulu sangat sexy, aku tidak suka."
"Hm."
__ADS_1
Dia lalu memandang intens Mona, menarik tangan wanita berkacamata di depannya. " Mona, aku benar-benar menyukaimu. Aku tau kita baru saja saling mengenal tapi aku bisa dengan jelas melihat sifat baikmu. Saat pertama kali melihatmu di dalam Restoran, kamu begitu lembut pada seorang Nenek. Saat itu lah sepertinya aku langsung menyukaimu, apa kamu percaya jika aku mengatakan aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu."
Wanita itu memandangnya tak percaya, " Kenapa kamu menyukaiku, wajahku jelek, penampilanku tak ada bagus-bagusnya untuk dilihat."
"Aku bisa melihat kebaikan di dalam hatimu, aku tak pernah melihat dari wajah dan penampilanmu Mona. Beri aku kesempatan, ya?"
Seketika dia terkejut melihat raut wajah Mona tiba - tiba berubah dari lembut menjadi tegas, sorot matanya yang teduh menjadi tajam.
"Ya, aku menerimamu!"
Dia tak percaya dengan pendengarannya, "Mona, katakan sekali lagi..."
"Aku juga menyukaimu, ayo berpacaran."
Dia memeluk Mona, memutar - mutar tubuh tinggi wanita itu dengan gembira, "Aku akan setia padamu, Mona."
Wanita dalam pelukannya mengangguk.
Aldelardo menarik kembali ingatan tentang mereka berdua di dalam rumah tadi, kini jantungnya berdetak terus menerus serasa akan pecah karena sangat bahagia.
__ADS_1