Wanita Alter Ego Penakluk Casanova

Wanita Alter Ego Penakluk Casanova
WAEPC-28


__ADS_3

"Uhh..." wanita itu menggeliat seraya membuka mata, sinar terang dari jendela kamar menyakiti matanya. Siang? Mona terperanjat bangun.


Perempuan itu mencari ponsel di atas nakas samping, sekali lagi terperanjat, "Pukul 11 siang? Lisa! Kamu nggak kerja?!"


"Lisa!"


Dendra membuka pintu, melihat kakak nya sedang kebingungan. Itu memang rencana kak Zidav, kak Lisa dan juga dia. Mereka sepakat, kak Lisa akan bersembunyi. "Ada apa?"


"Dendra, kakakmu Lisa kenapa? Kenapa dia nggak bangun untuk kerja? Ini sudah siang!"


"Aku nggak tau apa-apa, coba panggil terus. Tapi kak Zidav ada diluar, kak Mona mau keluar?"


Mona menyipitkan mata, kemarin karena menghindar dari Zidav yang akan menciumnya dengan cepat dia menghilang, bahkan baru bisa muncul lagi sekarang. Kenapa, apa Lisa menguncinya lagi seperti dulu? Sebenarnya apa yang terjadi?


"Kakak mandi dulu, bilang pada pria itu Lisa ngilang."


"Ok." Dendra keluar dengan santai.


Pemuda itu berjalan ke arah dapur, menggeleng melihat Zidav sedang asyik memasak. "Kak Mona baru bangun, dia bilang kak Lisa ilang."


"Seperti rencana kita, sekarang apa lagi makanan kesukaan kakakmu Mona? Makanan saat kecil dia dulu, yang dimasak Mama kalian. Kamu masih ingat?" Tanya Zidav semangat.


"Telur orak-arik diatasnya saos tomat, lalu... kaki ayam. Ceker... ya! Itu kata bibi di rumah kami dulu. Kak Mona suka sop ceker."


"Apa itu ceker?" Zidav baru mendengar ada nama masakan seperti itu.

__ADS_1


"Hmppp..." Dendra menahan tawanya.


"Come on, aku sampai usia 12 tahun tinggal di Jerman. Di Indonesia hanya diberikan makanan kalangan atas, aku benar-benar baru mendengarnya."


"Coba cari di internet, kak."


Zidav membuka ponsel dan mencari kata makanan ceker di google. "Hm, seblak ceker, ceker karbitan, ceker pedas maknyus... Astaga, kenapa kaki ayam bisa dimakan dan banyak olahan nya?"


Wajah keheranan Zidav membuat Dendra tak kuat lagi menahan tawanya, "Hahaha... jadi bisa masaknya?"


"Hobiku dulu selain bermain anggota tubuh perempuan juga bermain pisau di dapur, cuma segini? So easy."


"Wow... Keren." Dendra mengacungkan jempol.


Zidav tersenyum lebar mendengar pujian dari Dendra, "Ini kartu kredit, pakai sesukamu. Buat biaya kuliah, beli buku. Tapi ingat, biarkan kakakmu Mona berpikir kamu kehabisan uang untuk kuliah. Ok."


"No, Lisa udah ngerti dan kami udah sepakat tentang semuanya. Ambil, anggap aku sedang membayar hutang pada kakakmu Mona. Hutang dulu..."


Dendra mengangguk.


Zidav menyuruh Dendra pergi berbelanja bahan makanan ceker dan juga semua bumbu. Masakan lain sudah selesai sejak tadi, sambil menunggu Dendra dia membuat jus alpukat kesukaan Mona.


Mona memperhatikan Zidav yang sibuk di dapur kecilnya, "Lo sejak tadi berisik banget, ngapain sih di rumah orang?"


Zidav berbalik ke arah Mona, "Apa perutmu udah lapar? Kamu belum sarapan, jadi kalau nggak ada Lisa kamu bangun siang?"

__ADS_1


"Bukan urusan lo, kemana Lisa? Lo apain dia?" Mona sekali lagi menyipitkan mata curiga.


"Kenapa bertanya padaku? Semalam aku mengantarnya pulang dengan aman, mungkin kamu membuatnya marah coba pikirkan lagi." Zidav mengendikkan bahunya.


"Apa Ibu tiri lo nggak cari Lisa?"


"Nggak, mungkin dia masih berpikir Lisa masih mengurus Dendra di rumah sakit."


"Hm, kemarin lo mau cium gue tapi gue ngilang, Apa lo jadi ciuman sama Lisa?" tanya Mona dengan wajah cuek.


"Iya, abisnya Lisa menggemaskan. Dia tuh imut, nggak galak, lembut... juga ciuman nya asik." Ucap Zidav sengaja.


Degh!


Sialan! Apa dia sengaja membuat gue cemburu?


"Awas minggir! Gue mau minum."


Zidav malah sengaja menghalangi jalan dengan tubuh tinggi besarnya, dia memegang gelas berisi jus alpukat. Mendekatkan tubuhnya dengan Mona, merangkul pinggang wanita itu dengan sebelah tangan. Dengan cepat dia meminum jus lalu memindahkan jus dari dalam mulutnya ke dalam mulut Mona.


"Ummm..." Mona memberontak tapi jus itu sudah mengalir ke tenggorokan nya.


Zidav melepas bibirnya dari bibir Mona, " Katamu kamu haus, aku hanya membantumu minum."


"Itu-"

__ADS_1


Bibir Mona kembali dicium Zidav, pria itu meletakan gelas di meja semakin menempelkan tubuh mereka berdua. Melihat Mona tak memberontak, Zidav mendorong tubuh Mona ke belakang membaringkan di atas meja menciumi perempuan itu penuh gairah.


__ADS_2