
Zidav sudah memborong pakaian untuk dipakai Lisa, "Ini buat Dendra cocok kayaknya, ambil ya?"
Pria itu menyodorkan kemeja garis-garis hitam ke arah Lisa.
"Lumayan, Dendra anak nya kalem gak mau rame kalo pake baju. Ini buat Mona cocok gak?" tanya Lisa.
"Nggak cocok," jawab tegas Zidav.
"Jadi hari ini lo cuma mau manjain Lisa, gitu? Terus apa kata lo tadi Dav, mau gue sembuh juga?" Mona akhirnya bosan dan keluar tapi dia keluar karena merasa cemburu melihat perhatian Zidav pada Lisa.
"Jadi, Nona Mona mau baju juga?" Zidav memeluk tubuh wanita itu yang terlihat kesal.
"Rese ah, lepasin. Ini di umum, Dav. Nggak sadar diri banget lo! Inget yang lo cium tadi Lisa, bukan gue!"
Zidav menghela nafas, "Ok."
"Zidav..." seorang perempuan menghampiri mereka, dengan berjalan menggoyangkan pinggulnya menatap Zidav dengan penuh nafsu.
"Aku merindukanmu, baby. Sudah lama kita nggak ketemuan. Kenapa akhir-akhir ini kamu jarang chat di grup clubbing, profilmu juga gelap. Kamu menyebalkan, sayang." Wanita itu mengecup pipi Zidav, menyenderkan tubuh montoknya ke tubuh Zidav.
"Oeeekkk, pengen muntah gue. Gue pergi!" Dengan wajah masam Mona ingin berbalik pergi dari sana.
__ADS_1
Zidav mendorong tubuh wanita yang menyenderkan tubuh padanya dengan kasar, lalu menarik tubuh Mona ke dalam pelukannya, "Dia hanya masa lalu kelam yang ingin ku ubah, Mona. Bantu aku... aku juga ingin berubah, jangan marah ya." Rayunya.
"Zidav, lalat itu sukanya sama yang berbau busuk. Wanita ini kayak lalat, namplok dimana aja. Berarti tubuhmu ini bau busuk, gue meskipun nakal masih bisa jaga kehormatan gue. Tapi lo, udah busuk banget karena sering bergaul dengan lalat-lalat seperti wanita ini! Lepasin!"
"Nggak mau lepasin, baik aku terima perkataanmu. Ya, aku bukan lelaki baik. Tapi itu sebelum bertemu denganmu.. aku sudah mulai berubah."
"Cih! Omongan pria seperti mu tak akan bisa dipercaya!"
"Zidav, siapa wanita ini? Sudah jelek, songong lagi!"
"Diam, jaga bicaramu! Jika kau melihatku dimana pun, mulai sekarang jangan mendatangiku! Paham! Pergi!"
Si wanita itu tidak terima tapi mengingat Zidav dulu sudah membelikan nya mobil, akhirnya ia pergi dari sana dengan masa bodo.
"Z-zidav, ini aku Lisa."
Saat mendengarnya Zidav tak berhenti, menyatukan bibir mereka lalu memperdalam ciuman nya. Tangan besarnya masuk ke dalam baju belakang Lisa, mengelus punggung polos wanita itu.
Lisa menjauh, "Sudah cukup, siapa yang tadi kamu cium?"
"Kamu, Lisa. Aku memang ingin mencium Mona, tapi saat kamu bilang itu kamu, aku masih ingin mencium mu meskipun itu kamu. Kamu cemburu pada Mona?" Zidav terkekeh geli.
__ADS_1
Lisa tak menjawab, dia membuka pintu ruang ganti. "Ayo pulang, kita terlalu lama disini."
Zidav merangkul Lisa berjalan ke arah kasir, memberikan card untuk membayar. Sang kasir wanita terlonjak kaget melihat seorang pria good looking dengan sebuah black card tapi merangkul wanita berpenampilan cupu.
"Ayo, sayang. Sekarang kita beli mobil dan rumah untukmu," ucap pria itu. Mengambil card dari tangan si kasir, Zidav sengaja menekankan kata sayang agar si kasir wanita itu mendengarnya. Benar saja mata si kasir membelalak mendengar ucapannya.
Diluar toko pakaian branded, Lisa mencubit pinggang Zidav. "Kamu senang banget ngerjain orang, dia sampai melotot melihatku."
"Kasir itu merasa kamu nggak cantik, cupu. Tapi kamu selalu cantik di mataku, aku hanya kesal melihat pandangan orang-orang menatapmu." Jawah Zidav cuek. "Mona ada?"
Lisa terdiam sebentar, "Nggak, kayaknya dia ngilang."
"Dia denger kita nggak, sekarang?"
"Nggak, kenapa?"
"Di mobil kita VC dulu sama Dokter di Amerika, ya? Biar kamu bisa berkonsultasi secepatnya."
"Iya."
Zidav membuka pintu mobil, menahan kepala bagian atas Lisa saat akan masuk ke dalam mobil agar tak terbentur.
__ADS_1
"Ok, aku akan menghubungi Dokter Gerg."
Selama 1 jam penuh Lisa mengobrol dengan Dokter Gerg, intinya tetap Mona harus bisa memaafkan dirinya sendiri dan juga melepaskan semua kemarahan nya pada dunia. Jika Lisa ingin membantu, wanita itu harus membuat Mona sering keluar dan menjadi dirinya sendiri tanpa Lisa.