
Dendra mencoba sekali lagi bertanya pada Kakaknya Mona, "Kak Mona, beneran gak mau apa-apa?"
"Gak! Kalian berdua jangan ganggu gue. Gue mau tidur!" bisik Mona kesal.
"Ok, ok... gak usah sewot jawabnya," bisik Dendra.
Darrr!
Otak Zidav serasa pecah, ia melongo seperti orang bodoh karena menyadari semuanya.
"Mas... Mas... mau pesan apa?" tanya salah seorang staff kafe yang menghampirinya.
Seketika Zidav tersadar, "Apa?" tanyanya menatap staff.
"Anda mau pesan apa?"
"Ah, ini dan ini," Zidav memelankan suaranya seraya menunjuk asal ke daftar menu di atas meja.
"Baik," staff itu mencatat di buku kecil lalu pergi dari meja itu.
__ADS_1
Zidav fokus kembali mendengarkan perbincangan di meja di belakangnya.
"Kak Lisa, apa pekerjaanmu di tempat baru nyaman?" Dendra sebenarnya ingin bekerja tapi kakaknya Lisa melarang.
"Nyaman gak nyaman, tapi aku membutuhkan uang untuk kuliahmu dan juga berobat Mona. Mau sampai kapan kakakmu Mona ingin seperti ini terus, Dra?" lirih Lisa.
Berobat? Kuliah pemuda ini, apa dia adiknya?
"Jika memberatkan, sebaiknya aku tidak usah kuliah kak. Aku merasa terus-menerus menjadi beban bagi kalian berdua, aku juga bukannya tidak ingin kak Mona berobat tapi jika kak Mona berhasil sembuh, aku harus kehilangan kak Lisa. Aku belum siap..." suara Dendra bergetar.
"Dendra, aku bersamamu sejak usiamu 5 tahun. Kini kamu sudah besar, sekarang kamu yang harus menjaga kakakmu Mona. Maka dari itu kakak bekerja dengan gaji besar, kakak ingin mengumpulkan uang yang banyak untuk bekalmu nanti jika kakak harus pergi."
"Kak," tangis Dendra pecah.
"Kak Mona? Benarkah?"
"Lo udah banyak bicara Lisa! Gue bilang gak mau berobat ya gak mau! Makanya gue gak pernah mau kasih uang banyak sama lo, karena lo pasti bakal bawa gue berobat! Daripada gue berobat, lebih baik gue menghilang! Lo mau gue menghilang?!" Mona emosi tak sadar menaikkan volume suaranya.
Semua mata pengunjung menatap ke arah meja mereka, Dendra berdiri. " Maaf, silahkan lanjutkan lagi." Ia kemudian duduk kembali.
__ADS_1
"Mona, kamu harus membuka diri dan menghadapi luka 13 tahun lalu! Sampai kapan aku harus melindungimu dari rasa sakit itu." ucap Lisa.
"Arhhghhtt, kepala gue sakit!" Tiba-tiba Mona memegang kepalanya.
"Kak!" Dendra memeluk tubuh Kakaknya yang lemas lalu tak sadarkan diri itu.
Zidav berdiri dia mendekati Dendra, "Aku akan membawanya ke rumah sakit, apa dia sering seperti ini?"
"Siapa kamu?" tatap Dendra heran.
"Aku Majikan di tempat dia bekerja, jadi mau dibawa ke rumah sakit?" tanya Zidav lagi.
"Tidak, jangan. Kakakku akan marah jika dia terbangun di rumah sakit, aku akan membawanya pulang," Geleng Dendra.
"Aku membawa mobil, biar aku memangkunya ke mobil. Ini dompetku, bayar tagihan pesanku dan juga pesanan kalian," tanpa menunggu ijin Zidav mengambil tubuh tak sadarkan diri Mona dari pelukan Dendra.
Zidav berlari kecil menuju mobilnya seraya memangku Mona dalam pelukan, dia menyalakan mobil lalu memasukkan dengan perlahan Mona ke dalam mobil di jok depan.
Setelah membayar pesanan, Dendra membawa dompet lelaki yang tidak dikenalnya itu. Dia berlari menyusul ke mobil di pelataran parkir. "Ini dompetnya, kamu tau rumah kami?"
__ADS_1
"Tau, kamu sebaiknya bawa motormu. Kakakmu aman bersamaku," Zidav lalu mulai menyalakan starter mobil.
"Baiklah, titip kakakku." Dendra lalu berlari ke tempat motornya diparkir.