
Zidav masih menahan pinggang Mona agar duduk di pangkuannya, dia ingin memanjakan wanita itu, "Mau minum?" tawarnya.
Mona hanya diam, dia masih menahan amarahnya. Bahkan tak ingin menatap wajah Zidav.
"Mona... dengar. Aku menerimamu apa adanya. Kamu yang seperti ini, suka ke club malam, berpakaian minim dan sexy, berpoles cantik, minum alkohol. Aku masih suka, tapi mulai hari ini jika ingin melakukannya lakukan bersamaku. Sisi liar dirimu ini, sisi baik Lisa... aku menyukai semuanya, karena itu semua tentang dirimu. Jangan marah lagi padaku, apa kamu ingin tau alasan kenapa aku tidak datang hari itu?"
Saat Zidav membahas tentang hari itu, seketika kepala Mona berbalik padanya. "Jangan katakan alasannya! Jangan membuat pembelaan untukmu! Itu adalah kesalahanku juga kesalahanmu!" Mona berubah histeris lagi.
Zidav tak ingin Mona kembali pingsan, "Baik, aku takkan membahasnya. Ayo minum, ayo malam ini kita bersenang-senang. Mau Vodka?" ucapnya seraya menenangkan tubuh Mona yang sudah bergetar, dengan lembut dia mengelus punggung wanita itu.
"Bawa kesini Vodka termahal!" teriaknya.
Seorang waiter membawa pesanan Zidav, saat minuman datang dan waiter membuka tutup botol dengan cepat Mona mengambilnya dan meminumnya langsung dari bibir botol.
Zidav merebutnya, "Menikmati minuman bukan seperti itu, Mona. Kau masukan minuman ke gelas," menyodorkan botol Vodka yang dia rebut dari tangan Mona ke waiter. Zidav melihat bibir Mona cemberut tapi wanita itu tidak mengatakan apapun. Bertahap Mona, aku akan memperbaikimu dengan perlahan. Bukan ingin merubahmu tapi kamu harus bisa menyesuaikan dengan Lisa, kalian harus saling melengkapi dengan nyaman.
Sang waiter memberikan gelas berisi Vodka dicampur es batu di tangannya pada Zidav, sebelah tangan Zidav masih menahan pinggang Mona di pangkuannya, sebelah lagi memegang gelas itu lalu mulai meminumkan Vodka itu ke bibir Mona, "Minumlah, sedikit demi sedikit."
Mona menurutinya, dia menyeruput Vodka sekali lalu kedua kalinya. Zidav menjauhkan minuman itu, "Zidav, gue masih mau!"
"Katakan, Zidav aku mau lagi... dengan suara sedikit pelan," pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Zidav, a-aku mau lagi..." Mona menggigit bibirnya. Kenapa gue harus nurut sih!
"Ini, minumlah sepuasmu tapi dengan perlahan." Akhirnya Zidav memberikan gelas itu pada Mona sepenuhnya.
Mona langsung meminumnya lagi, kini dengan perlahan dia menikmati minuman itu.
__ADS_1
"Enak? Kamu gak mabuk?" tanya Zidav.
"Emang gue kuat minum, lo aja yang gak tau,"
"Mona, aku... kamu."
Mona pura - pura tak mendengar ucapan Zidav.
Zidav menarik nafas sabar, "Apa kamu suka menghilang kalau aku lagi sama Lisa?"
"Sering, gue males kalau kalian lagi ngobrol. Lo nyoba goda dia buat apaan? Udah tau dia suka sama Aldelardo."
"Kamu suka Ardo juga?"
"Gak penting, gue gak mau suka sama siapapun."
"Ngga!"
"Bener?"
Mona diam menutup mulutnya, Zidav mengakhiri pertanyaannya. Dia lalu ikut minum dengan Mona, mereka berdua menikmati suasana ramai di club itu dengan tangan Zidav sesekali mengelus punggung Mona lembut.
Zidav merasakan tubuh Mona dalam pangkuannya semakin berat, dia menatap wajah wanita itu ternyata Mona tertidur. "Hah? Apa dia kecapean, hehe... ok sayang, mari pulang." Dia mengangkat tubuh tertidur Mona dalam pelukannya.
"Jhon! Ambil black card dari dompetku, bayar semua minuman mereka."
Jhon segera mengambi kartu dari dompet Paman kecilnya, "Besok aku balikin, Paman mau bawa Mona kemana? Apa dia mabuk?" dia melihat Mona sudah terlelap.
__ADS_1
"Bukan urusanmu, mana kunci mobilmu? Tadi aku datang dengan motor, tukeran!"
Jhon merogoh kunci mobilnya lalu menukarnya dengan kunci motor sang Paman.
"Aku pergi," ucap Zidav lalu dengan langkah cepat dia berjalan keluar dari dalam club menuju mobil yang diparkir.
Saat sudah sampai di rumah Mona, dia mengetuk pintu dan segera berjalan masuk saat Dendra membuka pintu.
"Apa kak Mona?"
"Iya, tadi aku sengaja membawa Lisa ke club ternyata Mona juga keluar. Kakakmu tertidur, aku akan pulang sekarang," seraya membaringkan Mona di tempat tidurnya.
"Hati-hati, Kak Zidav."
"Kakak? Bukan Tuan lagi?"
"Itu lebih nyaman, lagipula aku senang Kak Zidav mengetahui keadaan kak Mona. Aku yakin kak Zidav bisa menjaganya."
Zidav tersenyum, dia mengeluarkan uang 1 juta dari dompetnya, " Uang ini untuk pegangan, aku tidak membawa banyak uang di dompet tapi jika kamu butuh lebih banyak jangan sungkan minta padaku."
Dendra ingin menolak.
"Jangan menolak, ini antara kita saja. Jangan biarkan kakak-kakakmu tau, ok. Kalau begitu aku pamit..."
Zidav mengendari mobilnya pergi dari rumah Mona, dia menghela nafas panjang beberapa kali. Setelah siang tadi dia menelepon seorang psikolog di Amerika dan menanyakan tentang alter ego dan DID, psikolog itu mengatakan keadaan Mona selain trauma juga karena rasa marahnya pada dunia.
Ketika orang tuanya meninggal wanita itu harus dihadapkan dengan kehidupan tanpa orang dewasa di sekelilingnya, sebenarnya Mona masih ingin menikmati masa kecilnya jadi wanita itu akan selalu bersikap abnormal atau sering memancing perhatian orang-orang padanya. Mona sangat kekurangan kasih sayang dan harus ada yang membatunya atau jika terlambat Mona akan berubah lebih berbahaya untuk dirinya sendiri juga orang lain.
__ADS_1
Zidav sudah merasakan sendiri hal berbahaya seperti yang dikatakan Dokter Psikolog, tadi saat Mona mengarahkan gunting padanya, dia tidak merasa takut sama sekali tapi dia merasa sedih. Kini dia berjanji akan memberikan pada Mona dan Lisa apa pun yang mereka inginkan, termasuk perhatian dan kasih sayang.