
Lisa sedang membuang botol obat kosong di dapur, pagi tadi semua orang sudah berangkat ke Perusahaan suasana rumah menjadi sepi kembali. Setelah selesai dia beranjak keluar dari dapur akan kembali ke kamar sang Nyonya besar tapi tiba-tiba lengannya ditarik.
Kepala Lisa berbalik melihat orang yang menariknya, "Tuan, sakit."
Aldelardo tak ingin mendengar rintihan kesakitan Mona, dia membawanya masuk ke dalam lift.
"Tuan ada apa? Lepaskan," Lisa memberontak.
Pintu lift terbuka, Aldelardo masih menarik lengan Mona keluar dari dalam lift lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Dia menjatuhkan tubuh Mona ke atas ranjang. Dengan cepat dia menindih tubuh Mona menahan kedua tangan Mona diatas kepala wanita itu.
"Tuan! Apa yang kau lakukan!" Lisa berusaha melepaskan diri.
Mona tolong!
Tenanglah Lisa! Gue mau lihat, apa yang akan dilakukan pria ini!
"Apa semalam kamu pergi dengan Paman Zidav ke club malam, Mona?"
Lisa melihat mata Aldelardo merah menakutkan, dia menggeleng berbohong. "Tidak!"
"Jangan berbohong! Aku sudah melihat fotomu dengan pakaian sexy, bahkan tadi aku mendengar Paman Zidav berbicara dengan Jhon dan itu benar kamu!"
Lisa terus memberontak, tangan yang dicekal Aldelardo terasa sakit. Mona!
Mona mengambil alih tubuhnya sendiri, "Kalau iya itu gue, kenapa? Mau apa Lo pake kekerasan kayak gini? Lo cowok apa banci, beraninya sama perempuan! Lepasin!"
Saat Mona melihat mata Aldelardo terkejut, dia mencuri kesempatan mendendang tubuh besar pria itu hingga terjengkang ke lantai, dia kemudian meloncat turun dari atas ranjang.
Aldelardo bangun dari lantai, dengan tak percaya dia menatap wanita di depannya, "Mona?"
"Ya, ini gue. Mona."
Aldelardo menggelengkan kepalanya, mengucek matanya, "Bukan, kamu bukan Mona. Siapa kamu?" ujarnya seraya mendekati wanita di depannya.
Mona membuka kacamatanya, menarik ikatan rambutnya lalu mengacaknya asal. "Gue Mona, tapi gue memang bukan Mona yang selama ini lo kenal."
__ADS_1
Tubuh Aldelardo tersentak mundur, "A-apa maksudmu?"
"Gue gak ada waktu ngejelasin, Nenekmu pasti sedang menunggu." Ujar Mona seraya memakai kembali kacamata dan merapikan rambutnya.
Wanita itu kabur keluar kamar meninggalkan Aldelardo yang masih berdiri membeku menatap kepergiannya dari dalam kamar.
"Pria sialan! Gue pikir dia pria sopan, baik, lembut. Busyet main tarik paksa dan kasar. Lo pikirin lagi deh kalo lo suka sama dia, Lisa!" cerocos Mona.
"Lisa?!" tapi alter ego-nya tak menjawab.
"Sial! Dia pasti ketakutan!"
"Mona, sedang apa? Nyonya dengan siapa?" suara Bu Wemi mengagetkannya.
"Um, dari atas. Gue eh saya mengantar minum untuk Tuan Aldelardo, dia baru saja pulang. Kalau begitu saya mau menemui Nyonya besar, Bu."
Sialan kau Lisa! Balik ngga?! Gue ogah jadi luh!
Tapi tetap tak ada jawaban dari si alter-egonya, Mona menghela nafas pasrah. Dia memutuskan mencari nomer telepon Zidav untuk meminta bantuan pria itu, bagaimanapun dia tak bisa hidup untuk menirukan Lisa.
Bu Wemi menatapnya heran, tapi mengangguk, "Sini ponsel kamu."
Setelah mendapatkan nomer ponsel Zidav, Mona dengan cepat meneleponnya.
***
Zidav baru saja selesai bertemu klien dari Amsterdam, dia baru saja keluar ruang pertemuan di Perusahaan. "Ya, siapa?"
"Ini gue, Mona."
Zidav melebarkan kedua matanya, tak menyangka Mona akan menghubunginya. "Ada apa, apa terjadi sesuatu padamu?"
"Bukan gue tapi Lisa. Keponakan lo si Ardo bikin ulah dia main kasar sama Lisa, gue tadi udah lawan tapi Lisa ngilang dia gak mau keluar. Tolong gue, Dav. Gue gak bisa jadi Lisa!"
"Ok, aku pulang sekarang. Tunggu, 10 menit." Zidav berlari tanpa menghiraukan para karyawan yang melihatnya. Dia mengemudi mobilnya dengan kecepatan penuh, tak menghiraukan jika dia akan terkena tilang.
__ADS_1
Brakk!
Pria yang sedang khawatir itu menutup pintu mobil dengan keras, membuka pintu segera mencari keberaan Mona di kamar Ibu tirinya.
Nyonya besar menatap aneh padanya, mungkin karena dia tak pernah sekalipun masuk ke kamar wanita itu. "Mana Mona?" tanyanya langsung.
"Sedang mencabut rumput diluar, katanya itu sangat menganggu pemandangan. Dia bertingkah sedikit aneh, logat bicaranya tak seperti biasa. Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa kau terlihat panik?" tanya Nyonya besar yang akhirnya penasaran.
"Maaf Ibu, ah maksudku Nyonya besar. Adik Mona tiba-tiba masuk rumah sakit, tadi Mona meneleponku memintaku agar menjemputnya kesini dan mengantarnya ke rumah sakit. Aku harus membawanya pergi, aku akan memanggil Bu Wemi agar mengurus Anda."
Mulut Nyonya besar menganga tak percaya, sejak anak tirinya itu dibawa ke rumah oleh suaminya tak pernah sekalipun anak itu bicara padanya dan selalu menatapnya dengan tatapan tak suka tapi hari ini bahkan Zidav bicara panjang padanya. "A-ah ya, bawa saja dia pergi. Nanti kabari aku tentang adiknya."
"Terimakasih."
Zidav berjalan ke arah taman, berbicara sebentar dengan Mona lalu membawanya keluar dari kamar Ibu tirinya.
"Kau akan membawanya kemana?" tanya Aldelardo menghadang mereka.
"Minggir! Ini semua ulahmu, Ardo! Beraninya kau berbuat kasar pada Lisa!" amarah Zidav tak terbendung.
"Lisa?! Siapa maksudmu?"
"Sudahlah Zidav, ayo pergi." Mona menarik pergi lengan Zidav.
"Mona! Kau adalah kekasihku, kenapa harus pergi dengannya?!" Aldelardo maju mendekati Mona, menarik lengan wanita itu.
Zidav semakin emosi, dia mendorong tubuh Ardo, "Sekali lagi kau berani kasar padanya, aku tak akan segan memukulmu, Ardo!"
"Aku yang akan memukulmu, brengsek!" Ardelardo maju langsung meninju wajah Zidav.
Tubuh Zidav terjengkang, dia menahan tubuhnya agar tak jatuh. Dengan geram dia berbalik meninju wajah keponakannya.
Dugh!
Dugh!
__ADS_1
Mereka berdua saling memukul tak ada yang mau mengalah, sampai keributan mereka terdengar para penghuni rumah. Para staff rumah keluar menonton mereka, bahkan Nyonya besar membawa kursi rodanya sendiri keluar kamar.