Wanita Alter Ego Penakluk Casanova

Wanita Alter Ego Penakluk Casanova
WAEPC-20


__ADS_3

Aldelardo membawa masuk Lisa ke dalam ruang kerjanya, dia melonggarkan dasi yang sudah terikat rapi di kemeja kerjanya. Dia berjalan ke jendela besar, membuka jendela menghirup udara yang menyerbu masuk. Dia menarik nafas beberapa kali, mencoba menenangkan dirinya.


"Mas Ardo..." Lisa berjalan di belakang tubuh lelaki yang sedang marah itu, tangannya ingin mengelus punggung lelaki itu tapi dia mengurungkannya.


"Mona, tak bisakah kamu menjauhi Pamanku? Aku cemburu melihatmu bersamanya, dadaku sangat sesak...." lirih pria itu tanpa berbalik.


"Maaf, aku... aku hanya-"


Ucapan Lisa terhenti, tubuhnya tiba - tiba ditarik ke dalam sebuah pelukan hangat. Dia bisa merasakan tubuh lelaki yang memeluknya bergetar, "Maaf."


"Jangan tinggalkan aku, sepertinya aku sudah tak bisa lagi hidup tanpamu. Mungkin kamu tidak percaya, tapi aku sudah mencintaimu... Mona."


Mona! Lisa seketika merenung, yang Aldelardo sebut adalah Mona. Tetapi pria itu Zidav memanggil dengan namanya, Lisa.


Lisa menggigit bibirnya, dia melepaskan diri lalu mundur sedikit menjauh. "Baiklah, aku mengerti. Tuan, aku harus ke kamar Nyonya besar, Anda juga harus pergi bekerja."


"Kenapa kamu memanggilku formal lagi?" ucap Aldelardo tak suka.


"Saat ini saya adalah pegawai di rumah ini, saya harus profesional. Saya permisi, Tuan." Lisa tak ingin tinggal lebih lama lagi, dengan langkah cepat dia pergi keluar.


Entah kenapa Aldelardo merasa gelisah, apalagi sejak mendengar perkataan Pamannya semalam padanya. Dia masih memikirkan perkataan Pamannya tentang Mona jika kekasihnya itu tidak terlihat seperti yang dia kira.


Lisa juga merasa gelisah seharian itu, dia tidak nyaman dengan hubungannya.


"Ada apa, Nak. Sejak pagi kamu terlihat mengerutkan keningmu?" tanya sang Nyonya.

__ADS_1


Lisa menggeleng, "Hanya memikirkan tentang diriku sendiri, Nyonya. Apa menurut Nyonya jika ada seorang pria mengatakan jika dia menerimaku apa adanya dan aku berharga untuknya, apa pria itu serius?"


"Mungkin, tapi menurutku terlepas dari perkataannya serius atau tidak, bukankah makna dari itu yang lebih penting?"


"Makna?" tanya Lisa bingung.


"Ya, berarti pria itu ingin mengatakan jika kamu harus menjadi dirimu sendiri. Menurutku pria itu baik."


Lisa mengangguk, dia teringat akan ucapan Tuan Zidav padanya. Lalu dia juga teringat ucapan Aldelardo yang mengatakan jika lelaki itu menyukai wanita lugu, baik, lembut dan tidak menyukai wanita nakal.


"Lalu jika pria ada yang mengatakan dia hanya menyukai wanita baik, lembut, lugu dan tidak menyukai wanita nakal padahal wanita itu sebenarnya tidak seperti yang terlihat pria itu. Apa dia akan menerima wanita itu apa adanya?"


"Tidak," Nyonya besar menggeleng. " Berarti Pria itu hanya ingin si wanita sesuai keinginannya, nantinya saat mereka bersama jika tiba - tiba si wanita berubah tidak seperti dirinya yang baik, si pria tidak akan bisa menerimanya. Tinggalkan lelaki seperti itu. Jangan sampai sepertiku, dulu aku juga adalah gadis bersemangat tapi setelah menikah aku sering manja karena ingin dicintai suamiku, tapi akhirnya aku salah besar. Suamiku ternyata tak menyukai wanita dengan sifat manja, kamu bisa lihat apa yang terjadi padaku sekarang."


Setelah pekerjaannya selesai, dia sengaja berjalan lewat pintu belakang tempat para pegawai lain keluar masuk. Dia ingin menghindari kedua Tuan muda di rumah itu yang meresahkan hatinya, tapi tak disangka Tuan Zidav sedang tersenyum menunggunya disana.


"Ayo masuk, aku antar pulang."


"Tidak, Tuan. Anda harus menghormati keponakanmu, aku adalah kekasihnya. Aku akan pulang sendiri..." Lisa tak menghiraukannya lagi, dia berjalan terus ke arah gerbang belakang.


Tit.... Tit... Tit...


Terdengar suara klakson motor di belakangnya, dia tau itu siapa. Lisa tetap berjalan ke depan, dengan setengah berlari ke arah gerbang.


"Mona Lisa... Mona Lisa... kau begitu cantik, maukah pulang bersama Abang ganteng ini?" Zidav malah bernyanyi seraya mengendarai motor mevahnya dengan perlahan.

__ADS_1


Lisa malah geram, kenapa lelaki itu mencari penyakit. Sudah tau bagaimana sikap keponakannya jika melihat mereka berdua. Dia semakin mempercepat langkahnya, "Kenapa gerbang jauh sekali!" kesalnya.


Zidav terkekeh mendengar gumaman dari mulut wanita lucu itu. "Lisaaaaaaaaa!!!"


Seketika langkah Lisa terhenti, dia melotot pada pria yang sengaja meneriakkan namanya, "Apa kau gila! Kenapa mengikutiku terus?" wanita berwajah lugu itu seketika berubah emosi.


"Ya! Aku sudah gila karenamu! Kau mesti tanggung jawab! Seorang Casanova sepertiku bertekuk lutut padamu!" Jawab lelaki itu.


"Aku adalah kekasih keponakanmu! Jangan ganggu aku lagi!" Lisa masih emosi.


Zidav malah terkekeh, "Kau lucu sekali, menggemaskan. Kalau kau tidak mau aku antar pulang, aku akan meneriakkan namamu lagi. Lis... ump!"


Lisa menutup mulut lelaki itu dengan tangannya, "Baik, jangan bertingkah seperti anak kecil lagi. Aku akan naik, naik.... ya, ayo." Kesalnya, dia lalu berjalan ke belakang motor lalu menginjak footstep motor tinggi itu dan bertengger manis di jok motor belakang.


"Peluk!" ucap Zidav menahan senyumnya.


"Tidak!" tolak Lisa.


"Peluk aku, kalau tidak aku akan-"


Seketika ucapannya terhenti, Lisa memeluk pinggangnya dari belakang.


"Pakai helmet-nya, ini." Zidav memberikan helm wanita.


Lisa dengan cepat mengambilnya, sudah sangat kesal dan tak ingin beradu agumen dengan seorang pria gila lagi.

__ADS_1


__ADS_2