
Saat Zidav dan Dokter Psikolog masuk ke dalam ruang rawat, Mona sudah membuka matanya. Mata wanita itu terlihat tenang, dia sedang bicara dengan Dendra.
"Selimat siang, Nona Mona. Saya Dokter Andri, seorang psikolog. Anda keberatan jika saya bicara dengan Anda?"
Mona mengangguk, tatapannya lalu beralih ke wajah Zidav yang sepertinya menghindari menatapnya.
"Ok." Dokter lalu duduk di kursi samping tempat tidur akan memulai pengobatan terapisnya.
"Bagaimana kondisi Anda, Nona?"
"Baik."
"Apa ada rasa sakit?"
"Tidak."
"Apa Anda ingat yang terjadi padamu tadi?"
Mona diam.
"Apa Anda tidak ingin sembuh dan terlepas dari alter ego Anda?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
Mona terdiam kembali.
"Apa Anda membenci seseorang? Apa kesalahan orang itu?"
__ADS_1
"Aku lebih membenci diriku sendiri, karena percaya pada orang itu."
Dokter terdiam, dia mencoret-coret dalam sebuah notes-nya. "Ok."
"Jadi saya bisa menyimpulkan Anda sebenarnya tidak terlalu membenci orang itu dan menyalahkan nya tapi Anda lebih menyalahkan diri Anda sendiri?"
Mona terdiam.
"Hm, ok." Dokter terus menulis dalam notesnya.
"Saya akan akhiri untuk hari ini, bisakah Anda menerima perawatan dari saya untuk selanjutnya?" tanya sang Dokter.
"Apa Lisa akan menghilang jika saya menerima perawatan?"
"Tidak ada yang bisa dipastikan, tapi satu hal yang pasti. Lisa sebenarnya adalah bentukan dari jati diri Anda sendiri, hanya saja Anda membaginya menjadi 2 kepribadian. Jika Anda bersedia menerima perawatan dari saya, kepribadian Lisa tidak akan menghilang tapi akan menyatu pada 1 kepribadian yaitu Anda, Nona Mona. Anda mengerti?"
Mona menggeleng.
"Kak, Dendra mohon. Demi Dendra... ya?"
Mona menatap wajah adiknya, akhirnya dia mengangguk. "Ok, ayo lakukan."
"Kak, Dendra sayang kakak. Hiks..."
"Cowok kok nangis, payah..." canda Mona, entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa lapang.
"Baiklah, 2x dalam seminggu Anda harus bertemu saya. Jika Anda tidak nyaman dengan pertemuan di rumah sakit, kita lakukan di rumah juga tidak apa-apa." Ucap sang Dokter, "Kalau begitu saya permisi."
Dokter bangun dari kursi mengangguk pada Zidav, lalu pergi dari ruangan.
__ADS_1
Setelah itu hening, Dendra menatap bolak-balik ke arah kakaknya dan Zidav merasa harus memberikan waktu untuk mereka berdua. "Aku ingin beli kopi diluar, kak Zidav ingin apa?"
"Kopi juga, yang pahit. Belikan juga bubur untuk kakakmu, dia belum makan apa-apa."
"Ok," Dendra kabur secepatnya dari ruangan.
Zidav berjalan mendekat ke arah ranjang dengan ragu, "Ekhmm..."
Mona menatap Zidav dengan mata tenangnya, "Apa kamu ketakutan tadi? Perawat bilang kamu ikut masuk ke dalam ruang IGD."
"Sangat ketakutan, apa sekarang kita bisa bicara?"
"Duduklah."
Zidav segera duduk, dia mengaitkan kedua tangannya merasa salah tingkah. "Apa yang Dokter bilang tadi kalau kamu tidak terlalu menyalahkan aku itu benar? Apa kamu tak benar-benar membenciku selama ini?"
Bukannya menjawab tapi Mona malah menatap lama Zidav.
Zidav semakin salah tingkah ditatap seperti itu oleh Mona, apalagi suasana hening di ruangan membuat jantung Zidav semakin tak karuan.
"Ada apa dengan Lisa? Kamu apakan dia?" ternyata Mona malah menjawab lain, bukan jawaban yang ingin di dengar Zidav.
Zidav menghela nafasnya, "Aku ingin kamu lebih mendominasi dan melakukan kehidupanmu sehari-hari. Kami sudah merencanakan Lisa akan sementara menghilang sampai kamu bisa terbiasa dengan hidupmu."
Mona terdiam tapi akhinya dia mengangguk, "Pergilah, aku ingin sendiri. Biarkan Dendra nanti menemaniku disini."
"Baiklah, tapi kamu nanti makan buburnya. Aku akan menunggu diluar."
Zidav berjalan keluar ruangan dengan menunduk lemah. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu, kenapa cara bicara Mona lembut? Mona bicara sopan padanya, apa itu Lisa?
__ADS_1
Zidav berbalik menatap kembali Mona, dia tidak yakin tapi akhirnya melanjutkan berjalan kembali keluar ruangan.