
Nyonya besar membawa kursi rodanya mendekat, "Kalian sedang apa? Ardo! Kenapa denganmu?!" bentak sang Nenek.
Tinju Aledelardo yang mengarah ke wajah Zidav terhenti, dia seketika tersadar. Matanya berkeliling menatap para asisten rumah tangga sedang menatapnya tak percaya, dia merasa malu karena biasanya dia adalah pria yang selalu lembut. Dia melepaskan tubuh Zidav, berdiri merapikan pakaiannya.
"Maaf, Nek. Ayo Ardo antar kembali ke kamar." Aldelardo mendekati sang Nenek. Dia membiarkan Mona dan Zidav, tak ingin menghiraukan mereka berdua lagi.
Zidav menatap punggung sang keponakan, dia membersihkan darah yang keluar dari bibirnya.
"Sakit?" Mona bersedekap menatap Zidav sinis.
Zidav tak menjawab, dia sadar semua para staff masih berada disana. Dia tak ingin sikap berbeda Mona digunjingkan oleh mereka, "Kalian masih ingin menonton apa? Apa perlu aku berikan uang pesangon untuk kalian lalu memecat kalian semua?!"
Seketika semua orang bubar dengan panik, meninggalkan pria itu berdua dengan Mona.
"Mau pergi keluar atau mau ke kamarku? Atau ruang kerjaku?" tawar Zidav.
__ADS_1
Mona tak menjawab, dia berjalan masuk ke dalam lift menuju kamar Zidav di lantai 3.
Zidav mengikutinya masuk, mereka berdua hanya terdiam. Zidav meringis kesakitan, dadanya terasa sakit mungkin terkena kepalan tangan keponakannya tadi.
Mona menyadarinya, sebenarnya dia merasa sedikit kasihan tapi dia tak ingin memperlihatkannya. Setelah keluar dari lift, Zidav berjalan di depan Mona kemudian membuka pintu kamarnya. Setelah Mona melangkah masuk, baru dia ikut masuk dan menutup pintu serta menguncinya.
Mona segera membuka kacamata dan ikat rambutnya. Kemudian dia membuka kemeja yang menutupi pakaian dalamnya, dia juga membuka celana panjang yang dipakainya. Kini tubuh polos indahnya hanya tertutup lingeri dan braa, "Gue pinjam kemeja lo," wanita itu mengambil kemeja putih besar Zidav yang tergantung di lemari lalu memakainya. Setelah selesai dia berjalan ke arah ranjang lalu naik ke atas tempat tidur membaringkan tubuhnya disana.
"Kau membuatku gila, Mona! Astaga!" Zidav berusaha menahan hasratnya sejak kelakuan Mona yang cuek begitu saja membuka bajunya. Dia sendiri sudah terbiasa melihat tubuh telanjang seorang wanita, tapi dengan Mona dia tak bisa berbuat semaunya karena dia mencintai wanita itu. "Apa kau ingin menyiksaku?!"
Zidav tersenyum mendengarnya, nada keras dari suara Mona tapi dia bisa merasakan ada rasa keperdulian di dalamnya.
Tak lama Wanita itu benar-benar tertidur, Zidav mendekati Mona menarik selimut menyelimutinya. Dia memberanikan diri mengecup keningnya, "Selamat tidur, kesayanganku."
Zidav lalu keluar kamar membiarkan Mona tidur dengan tenang, dia akan bicara lagi dengan wanita itu nanti. Sekarang dia harus bicara dengan serius pada Ardo.
__ADS_1
"Ardo," panggilnya di lorong depan kamar Nyonya besar.
Aldelardo masih berwajah masam, "Ada apa lagi? Kemana mona?"
"Dia sedang tidur di kamarku, apa? Kau ingin marah-marah lagi?" tantang Zidav.
"Aku sekarang nggak perduli! Sudah jelas wanita itu lebih memilihmu, aku tak akan mempertahankan wanita seperti dia."
"Kau serius dengan ucapan mu?" tanya Zidav.
"Ya, ambil saja. Aku akan mengakhiri hubunganku dengannya, untuk apa mempertahankan wanita nakal sepertinya. Apalagi dia sudah menurunkan martabatku di depan para staff rumah, aku bahkan merasa malu harus berkelahi denganmu karena dia." Ucap Aldelardo tegas.
"Jangan menjilat omonganmu sendiri nanti, Ardo! Saat kau tau kebenarannya, jangan pernah mendekati Mona lagi. Mulai saat ini dia tidak ada hubungan apapun lagi denganmu, kini dia adalah wanitaku!" Zidav berbalik pergi.
Aldelardo mengepalkan kedua tangannya, merasa tak rela harus kehilangan wanita yang pertama kali sudah berhasil mengetuk hatinya, tapi dia juga tak bisa menerima wanita yang sudah menghina ego-nya dengan selalu bergaul dengan Pamannya dan berperilaku sangat memalukan.
__ADS_1