
Zidav menarik lembut tubuh tertidur Mona ke dalam pelukannya, dia mengelus rambut tergerai wanita cantik itu dengan jari-jari besarnya. Mengusap kedua alis wanita itu bergantian, turun ke kelopak mata yang tertutup lalu ke hidung mancung berakhir di bibir kenyal Mona.
"Lo ingin mati?" seketika mata Lisa terbuka, dia sengaja menirukan ucapan kasar Mona.
Tapi Zidav bisa langsung menyadari jika itu Lisa, mata teduh wanita itu yang membedakan. Dia tidak mengerti apa yang di inginkan Lisa tapi dia akan mengikuti kemauan wanita lugu itu.
"Hm, di dapur banyak pisau. Di laci ada gunting, obeng. Tunggu apa ada racun juga? Mau membunuhku memakai apa?"
"Zidav! Lo pikir gue bercanda! lepasin tubuh gue!"
"Nggak! Lisa... kamu nggak pantes bicara kayak Mona. Tapi gapapa, aku akan meladenimu kali ini saja. Jadi, mau bermain apa?"
Blush!
Wajah Lisa memerah karena ketahuan.
"Hahaha..." Zidav akhirnya tak kuat menahan tawanya lagi.
"Tuan, lepasin ya." Ucap Lisa memberontak.
"Nggak, nanti kamu ngilang lagi kayak tadi. Kamu ngilang karena takut?"
Lisa mengangguk.
"Sekarang masih takut?"
Lisa menggeleng, "Entahlah, saat aku bangun dipelukanmu itu terasa nyaman. Apa kamu dan Mona berbuat sesuatu saat aku hilang?"
"Tentu saja berbuat sesuatu, Mona dan kamu sekarang adalah milikku. Kau tau kenapa? Ardo mengatakan tak ingin berhubungan denganmu lagi, apa kamu kecewa?"
Lisa menggeleng lagi, "Aku rasa aku nggak cocok sama dia, sejak awal hubungan kami memang dipaksakan oleh Mona. Kamu tau Tuan? Sebenarnya Mona sangat menyukaimu."
"Benarkah, kalau kamu?" pancing Zidav.
Degh!
Jantung Lisa seketika berdegup hebat, apa aku menyukainya juga seperti Mona?
"Lisa, jawab pertanyaanku?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjawab, aku tidak fana Tuan. Suatu hari aku harus pergi, bukankah kamu menyukai Mona dan ingin dia sembuh?"
"Aku ingin Mona sembuh tapi aku juga tak ingin kehilanganmu, aku sudah bilang aku menyukai kalian berdua."
Lisa terdiam, "Aku tidak pasti dengan perasaanku, Tuan."
Zidav menghela nafas, "Untuk sekarang aku tak akan mendesakmu, Lisa. Tapi aku sudah berkonsultasi dengan Dokter Psikolog terbaik di Amrik. Maukah kamu membantu Mona terlepas dari rasa sakitnya?"
"Tentu saja, aku sangat ingin membantu Mona."
"Tapi bisakah kamu berjanji bagaimana pun ke depannya, kamu tak akan menghilang?"
Lisa tersenyum, dia merasakan ketulusan pria di depannya. "Kamu sangat baik, Tuan. Mona akan sangat beruntung bisa mendapatkan pria seperti kamu yang akan menjaganya di sampingnya. Bukankah dengan ada kamu di sampingnya sudah cukup, aku bisa pergi dengan tenang."
Zidav menatap sedih Lisa, "Kamu juga adalah wanita luar biasa Lisa, kamu selalu kuat menemani Mona dan tak pernah menyerah." Zidav mendekatkan wajahnya.
Lisa menatap mata Zidav, dia menutup matanya saat bibir pria itu mendekati bibirnya.
Zidav mencium Lisa dengan lembut, dia ingin memperdalam ciuman mereka tapi segera melepaskan pagutan bibirnya dari bibir lembut wanita itu, dia tak ingin membuat Lisa terkejut dengan hasrat besarnya. "Lisa..."
"Hm..."
Wanita itu tak menjawabnya dan hanya mengangguk menunduk malu, Zidav tersenyum bahagia, "Kamu dan Mona adalah milikku."
"Lisa?"
"Ya?" Kepala menunduk Lisa terangkat.
"Aku bukannya ingin merubah penampilanmu, tapi aku juga sedang berusaha membantu Mona ingin sedikit merubah sifat liarnya. Maukah kamu membantuku merubah sedikit demi sedikit sikap Mona?"
"Tentu, bagaimana aku bisa membantumu?"
"Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan, panggil aku Zidav seperti Mona memanggilku. Kecuali jika kamu pikir itu perlu, maka panggil aku Tuan. Bisa?"
Wanita itu mengangguk.
"Lalu apa kamu keberatan jika sedikit merubah penampilanmu, tidak harus sexy seperti Mona karena aku juga ingin merubahnya. Mungkin matamu bisa memakai soflens melepas kacamata dan memakai pakaian lebih modis misalnya dress dibawah lutut masih aman. Bagaimana?"
"Aku tidak perlu memakai soflens, mataku tidak apa-apa. Hanya saja sudah terbiasa sejak aku dibuat oleh Mona, mengenai pakaianku aku juga gapapa."
__ADS_1
"Bener? Kamu nggak tersinggung atau marah?"
"Nggak, jika ini demi kebaikan Mona."
"Terimakasih, ayo pergi berbelanja pakaianmu." Zidav melepaskan pelukannya pada Lisa, dia turun dari ranjang. Mengulurkan kedua tangannya ke arah Lisa, "Ayo, aku angkat."
Lisa menerima uluran tangan Zidav, tapi seketika dia berteriak tubuhnya malah terangkat digendong. "Tuan!"
"Panggil Zidav."
"Zidav, turunkan aku."
"Baiklah, Nona." Tapi Zidav mencuri ciuman dari wanita itu mengecup singkat bibir Lisa baru menurunkan tubuh wanita itu.
"A-aku akan pergi melihat Nyonya besar dulu," Lisa ingin kabur.
Zidav menarik tubuhnya kembali ke dalam pelukan, "Nggak! Hari ini aku sudah ijin pada Nyonya besar, ayo pergi. Ganti dulu pakaianmu, kamu ingin berpakaian seperti itu keluar?"
Lisa menatap terkejut penampilannya, Mona pasti mengganti bajunya. "Mana bajuku?"
"Di sofa."
Lisa mengambilnya lalu berlari kecil ke kamar mandi dan menutupnya keras. Setelah selesai dia keluar dengan rapi lengkap dengan kacamatanya.
"Ayo pergi."
Lisa mengangguk tersenyum, "Kamu lebih dulu keluar, aku tidak ingin staff lain membicarakan kita."
"Ok, aku tunggu di luar rumah."
"Ya."
Setelah mereka berdua berada diluar, mereka segera naik ke dalam mobil dengan wajah keduanya yang berbinar bahagia.
Aldelardo memperhatikan interaksi keduanya yang mesra, merasa panas di dalam dadanya.
.
.
__ADS_1
NOTE : Karena karya ini agak sepi, Novel ini nggak bakal panjang ya. Mungkin versi jodoh untuk Aldelardo akan terpisah di Novel berikutnya. ♡♡♡