
Mona baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah makan malam yang mengerikan bersama sebuah keluarga yang tak harmonis, "Hidup biasa itu membosankan, gue kangen dugem."
"Kalau begitu ayo pergi," Zidav berdiri bersender di ambang pintu yang terbuka.
Seketika Mona bangun, " Benaran? Lo nggak bohong?"
Mona melihat wajah Zidav berubah. Dia tau pria itu tak menyukai bahasa yang keluar dari bibirnya. "Hei, ayolah. Kita disini cuma berdua. Kenapa harus berkata sopan, setidaknya jangan menahan sifat asli gue saat hanya kita berdua."
Zidav menghela nafas, "Baiklah, nanti ke kamarku, kita pergi ke club. Pilihkan satu set pakaian untukku, aku juga akan memilihkan untukmu." Zidav berjalan ke lemari Mona, memilih-milih pakaian sexy yang masih pantas untuk dilihat. Dia menemukan celana panjang ketat berwarna hitam, lalu mengambil baju atasan yang hanya terbuka di bagian punggung tapi tertutup di bagian depan berwarna merah maroon, dia juga menarik jaket kulit hitam. Zidav menaruh di atas ranjang, "Pakai ini semua, tak ada penolakan."
"Jaketnya boleh dibuka pas di dalem?"
"Boleh, dan juga ada hadiah kalau kamu nurut sama aku. Aku akan mengajarimu naik mobil sport? Kata Dendra kamu sudah lama ingin mengendarainya tapi Lisa melarang. Aku akan mengajarimu dan menjagamu dengan aman. Bagaimana?"
"Hoeeree! Ayo pergi!" Mona seketika berdiri berjingkrak-jingkrak di atas ranjang seperti anak kecil yang mendapatkan sekaleng permen.
__ADS_1
Zidav ikut merasakan antusiasme Mona, ia tersenyum senang. Aku akan menjadi Ayahmu, kakak laki-lakimu, sahabatmu, apapun yang kau inginkan Mona.
"Ganti pakaianmu lalu datanglah ke kamarku. Aku hanya akan memakai baju pilihan darimu, kini kau harus mulai bekerja sebagai assistenku."
Mona menatap kepergian Zidav dari kamarnya, dia tersenyum senang. Dengan cepat mengganti pakaiannya, kemudian mengikat rambutnya menjadi kuncir ekor kuda menyesuaikan dengan jaket kulit hitam nya yang berkerah lebar. Memoles make up tebal di wajahnya, lalu memakai lipstik warna merah terang di bibirnya. "Yeah! Lets party tonight!" dia menghentak-hentakkan tubuhnya di depan cermin.
Tok... Tok... Tok...
Mona menghentikan kegiatannya, menengok ke pintu, "Siapa?" teriaknya.
"Ardo? Mau apa tuh cowok?" Mona menyimpan lipstik ke dalam tas kecilnya lalu berjalan untuk membuka pintu.
Ceklek.
Saat membuka pintu Mona dihadapkan dengan pandangan mata Ardo yang terkejut, mungkin melihat wajahnya yang dirias tebal. Tatapan mata Ardo bahkan menatap penampilan tubuhnya dari atas sampai bawah. "Mau terus menatapku, apa mau ngomong."
__ADS_1
"Kenapa kamu banyak berubah Mona? Dari lugu, sexy, cantik menawan dan sekarang seperti wanita anggota geng. Sebenarnya yang mana penampilanmu yang sebenarnya?"
Mona bersender di pintu, bersedekap. "Kamu hanya ingin aku yan lugu, baik, lemah lembut. Iya, kan? Tapi apa kamu tidak pernah memikirkan, mungkin saja semua orang mempunyai sisi pribadi yang lain. Aku bahkan tau kamu juga bukan pria baik, sopan, lemah lembut seperti yang terlihat. Ardo... ada sisi lain dalam dirimu, kamu punya sifat pemarah, egois, kau juga ingin semuanya harus selalu sesuai keinginanmu. Tapi tempo hari kamu kebobolan, kamu tak sengaja mengeluarkan emosimu. Kamu berkelahi dengan Pamanmu, ingat? Kau hanya tidak ingin menerima jati dirimu sendiri! Jadi, apa kau pikir aku juga hanya pribadi yang baik? Tidak, Ardo! Kita sebenarnya sama, hanya saja aku mengakui diriku sendiri sedangkan kau tidak. "
Aldelardo merasa telah dipukul telak oleh ucapan Mona padanya, memang benar selama ini dia selalu menahan diri agar tidak menjadi pria brengsek seperti Ayahnya yang tidak bertanggung jawab pada Ibunya. Dia hanya ingin terlihat menjadi pria baik dan lembut, tapi terkadang dia juga ingin mengeluarkan semua emosinya. Apa benar seperti yang dibilang Mona, dia tidak mau menerima jati dirinya sendiri apa adanya?
"Mau ikut dugem bersamaku? Ardo, jangan menjalani hidupmu dengan datar, bersenang-senanglah sedikit. Lepaskan semua hasrat dan gairah hidupmu... jangan menahannya." Mona lalu menutup pintu kamar dan berjalan pergi menuju kamar Zidav.
"Mona."
Mona berhenti tapi dia tak berbalik.
"Apa wanita yang pertama kali aku kenal di Restoran yang bersikap sangat lembut bukan kamu yang sebenarnya?"
Akhirnya Mona berbalik dia menatap berani mata penasaran Ardo. "Bukan, itu adalah pribadiku yang lain. Namanya Lisa, dia adalah alter ego-ku. Pribadiku yang sebenarnya seperti yang kau lihat sekarang, nakal, suka bersenang-senang dan menikmati hidup."
__ADS_1
Setelah mengatakannya Mona berbalik pergi meninggalkan Ardo dengan mata terbelalaknya.