Wanita Alter Ego Penakluk Casanova

Wanita Alter Ego Penakluk Casanova
WAEPC-33


__ADS_3

Mona membuka pintu kamar Zidav, mencarinya di dalam. "Zidav?"


"Aku di dalam sini," teriak Pria itu dari dalam kamar mandi. "Pilihkan saja baju untukku, yang kece."


Mona tersenyum jahil, "Dia bilang akan memakai apa yang aku pilihkan, baiklah." Mona berjalan ke lemari pakaian mencari satu-persatu baju yang menurutnya akan lucu. Tapi sial! Semua pakaian di dalam sana sangat modis, gagal sudah ia ingin mengerjai pria itu. Akhirnya pilihan nya terjatuh pada kaos pendek putih jaket kulit coklat dengan celana jins sobek di bagian lututnya. Saat mencari kacamata tak sengaja matanya melihat ada topi koboi dan pecut kuda, bibirnya tersenyum nakal.


"Mon, mana bajuku?" Zidav berjalan keluar bathroom hanya dengan melilitkan handuk di pinggang.


"Tuh, di ranjang. Woahhh... lo lagi pamerin dada berotot lo sama gue?"


"Emang aku keluar kamar mandi harus pake apa? Yahhh... tapi karena kamu mengatakan aku pamer tubuh, mau sekalian lihat benda pusaka milikku?" ucap Zidav jahil.


"Cih! Di club ku dulu banyak pria gila membuka celana mereka di depanku, dengan percaya diri memerkan benda kecil mereka. Gue yakin, punya lo gak beda jauh dari para lelaki itu." Mona menahan senyumnya sangat senang mengerjai Zidav.


"Sialan! Bawa mereka semua padaku, berani-beraninya melakukan itu padamu!"


"Hei, kenapa harus marah? Gue bilang mereka orang gila. Barusan kau juga akan memarkan benda milikmu seperti pria-pria gila itu," Mona menaikkan sebelah alisnya.


"Cuma bercanda, mana bajuku," Zidav cemberut.


"Aku bilang di ranjang, pakai semua beserta atributnya."


Zidav berjalan melewati mona menuju ranjang, celana dan baju atasan serta jaket ia menyukainya. Tapi saat melihat topi koboi dan pecutan kuda di paling bawah, seketika ia menautkan kedua alisnya. "Kamu ingin pergi dugem atau bermain kuda-kudaan?"


"Pakai, Zidav. Lo sendiri yang bilang mau nurut sama gue, pake!"


Zidav ragu tapi dengan cepat membawa semuanya ke kamar ganti, setelah selesai ia keluar dengan memegang pecut di tangannya serta memakai topi koboi besar di kepalanya.


"Bhuahahahaha... hahaha..." Mona tak kuasa menahan tawanya. "Ayo, pergi. Koboi."


Mona berjalan keluar kamar Zidav masih dengan tawa kencangnya, Zidav mengekor di belakangnya dengan menggeleng pasrah.

__ADS_1


Di ambang pintu kamarnya, Aldelardo berdiri memperhatikan Mona yang baru keluar dari kamar sang Paman, ia mendengar gelak tawa wanita itu. Ia semakin penasaran pada Mona, Akhirnya ia memutuskan untuk membuntuti Pamannya dan Mona.


Setelah sampai di depan club, Aldelardo mengikuti Mona dan Pamannya masuk ke dalam. Hingar bingar suara teriakan orang-orang dipadukan dengan suara musik dari sang DJ membuatnya mengerutkan kening.


Banyak perempuan memakai dress mini bahkan banyak yang hanya menutupi bagian pribadi saja, seorang wanita mendekatinya. "Hai, tampan. Mau bermain bersamaku?"


"Pergi," Aldelardo menggertakkan giginya. Wanita itu tak ingin memaksa ia berlalu pergi. Tapi wanita-wanita lain mendatanginya lagi.


Mona melihat kehadiran Ardo, ia hanya mengamati dari jauh. Tangan Zidav berada di pinggangnya, Mona duduk di sebelah paha pria itu di kursi tinggi di bar club. "Keponakanmu sepertinya mengikuti kita, dia ada di ujung kanan."


Zidav mengedarkan pandangannya pada arah yang disebutkan Mona, benar saja Ardo ada disana dikepung para wanita sexy. Ia melihat wajah keponakannya itu sudah menyeramkan, seperti ingin membunuh para wanita itu. "Aku akan membawanya kesini," ucapnya.


"Gue aja, tunggu disini."


"Mona..."


"Stttt... hanya membawa keponakan mu kesini." Mona tak ingin berdebat dengan Zidav ia membuka jaket nya melemparkan nya pada Zidav lalu berjalan sexy ke arah Aldelardo yang dikepung para wanita.


"Halo, teman-teman. Bisakah kalian bubar? Pria ini adalah milikku," Mona menyelusup masuk diantara para wanita, lengannya menggandeng lengan Ardo, "Iya kan, sayang?" ia mendekatkan bibirnya di telinga Ardo, berbisik. "Ikuti saja sandiwaraku jika ingin terlepas dari mereka."


"Nah, benar bukan. Jadi awas! Minggir!" Mona melotot pada semua wanita disana. Setelah jalan terbuka, Mona menggandeng Ardo pergi menuju tempat Zidav yang sedang menatap kesal padanya.


Zidav bangkit dari kursi di bar, "Ayo pergi ke sofa disana." Ucapnya seraya menarik tubuh Mona ke dalam pelukannya, Aldelardo hanya bisa mengikuti mereka berdua di belakang.


Mona duduk di tengah-tengah, kedua lelaki di samping kiri dan kanannya hanya berwajah cemberut. "Kalian sebenarnya sedang apa? Kenapa diam? Ardo, apa kau menguntit kami?" kepala Mona berbalik ke arah Ardo.


"Hm, tadi kau yang mengajakku. Aku hanya merasa penasaran." Jawab Aldelardo.


"Kau mengajaknya?" Zidav semakin menatap kesal pada Mona.


"Ya, memangnya kenapa? Kalian Paman dan keponakan, bukankah bagus jika pergi dugem bareng?"

__ADS_1


Zidav membuka mulutnya ingin membalas ucapan Mona, tapi sebuah suara wanita menghentikannya.


"Ardo? Wahhhh... kejutan yang tidak pernah aku bayangkan!" wanita itu menghampiri Aldelardo.


"Siapa?" tanya Aldelardo.


"Ini aku, Melisa. Teman SMA kamu, si cupu."


Aldelardo menatap wajah familiar tapi berbeda. "Melisa, si kutu buku? Tapi wajah dan penampilanmu sekarang, aku tak bisa mengenalinya."


"Ah, aku sedang bekerja paruh waktu. Menjadi teman minum para tamu, ini pekerjaan paruh waktu ketigaku dalam sehari."


"Ahh..." jawab Aldelardo datar.


Zidav menatap Ardo lalu menatap pada wanita yang baru saja datang, ide dalam kepalanya seketika muncul. "Melisa, aku adalah paman Ardo. Namaku Zidav, ini adalah Mona kekasihku. Kalau kau sedang bekerja, temani kami minum."


"Tapi aku sudah dipesan meja no 13."


"Aku akan menelepon manajermu, jangan khawatir. Kau ingin minum apa, Mona? Kau Ardo?" tanya Zidav.


"Gue bir aja." Jawab Mona.


"Aku nggak mau minuman beralkohol," jawab Aldelardo.


"Bawakan kami 1 botol bir, 1 botol wiski dan soft drink."


"Baik, Tuan. Tapi tolong telepon manajer, saya tidak ingin dimarahi."


Zidav membuka ponselnya memijit nomer manajer di club itu, "Halo, ya ini aku. Waitress bernama Melisa, aku ingin dia menemaniku minum. Aku bayar minumanku 5x lipat malam ini, ok." Ia menutup panggilannya.


"Manajermu sudah mengijinkan, pergilah ambil pesanan kami."

__ADS_1


"Baik, Tuan." Melisa pergi menuju bar bartender.


Kenapa aku merasa Melisa mirip Lisa? Pikir Zidav.


__ADS_2