
Melisa datang membawa pesanan minuman mereka, Zidav terus memegang pinggang Mona, membuat Ardo duduk menjauh dipojok karena risih dengan interaksi antara keduanya. "Mau campur Bir dan Wiski?"
"Kau akan mabuk malam ini, Dav. Tapi Gue masih bisa menoleransi meskipun minuman campuran. Sedangkan kau! Saat mabuk, kau akan mengingkari janjimu mengajariku menyetir mobil sport."
Zidav benar-benar melupakan janjinya pada Mona, "Kalau begitu aku tidak akan minum, kamu saja." Lalu ia berbalik pada Melisa. "Melisa, kau bisa minum? Temani kekasihku mabuk."
Zidav melihat keraguan dari wajah perempuan itu, "Aku akan memberikan tips bonus 1 juta/jam, aku membeli keberanianmu. Bagaimana?"
Perempuan itu mengangguk, "Baik."
"Duduklah di samping kekasihku, di dekat keponakanku, situ." Zidav menarik tubuh Mona agar memberikan ruang lebih banyak di pinggir Ardo.
Melisa duduk disana, ia mengangguk-ngangguk kepalanya dengan sopan pada Ardo. "Maaf, aku jadi ikut duduk denganmu."
"Santai aja, aku nggak keberatan," ia mengambil soft drink di meja lalu mulai meminumnya.
"Kamu kuliah, Melisa?" tanya Zidav.
"Nggak, gak ada biaya Tuan."
"Kenapa?"
"Adik saya tiga, mereka masih sekolah. Ayah saya hanya sopir angkot, Ibu saya hanya Ibu rumah tangga. Jadi setelah lulus SMA saya bekerja serabutan. Pagi sampai siang, di toko kelontong. Siang sampai sore, mengajar les. Malam disini karena gajinya besar."
Mona melirik wajah Melisa, wanita itu berkata dengan jujur. "Kamu lelah bukan menjalani hidupmu seperti itu? Sebenarnya kamu juga terkadang ingin menjadi dirimu sendiri, seperti orang lain bisa bersenang-senang. Benar bukan?"
Melisa menatap Mona sebentar, ia mengangguk. "Benar, terkadang aku lelah. Tapi saat aku melihat adik-adikku bisa bersekolah, bisa makan dengan layak. Saat Ayah dan Ibuku sakit, aku bisa membawa berobat, itu sudah cukup membuatku kehilangan rasa lelahku." Wanita itu tersenyum.
Aldelardo tiba-tiba tertarik mendengar kisah teman satu sekolahnya dulu itu, kenapa hidup wanita itu terdengar tidak asing sedikit mirip seperti hidup Mona eh Lisa. "Bukankah hidupnya mirip Lisa, Mona?" ucap Ardo mengeluarkan isi dalam pikirannya.
Degh! Zidav mengerutkan kening saat mendengar nama Lisa dari mulut Ardo.
__ADS_1
"Kau memberitahu tentang Lisa pada Ardo, Mona?"
Mona hanya mengangkat bahunya.
Zidav menarik nafas dalam, ingin marah tapi menahannya. Dia tidak ingin emosi pada Mona, sekali dua kali dia menarik nafas dan menghembuskan nya. "Mona, bisa kita bicara berdua?" ia menahan kesabarannya. Zidav bangun dari sofa, mengulurkan tangan pada Mona. "Ayo."
Mona melihat wajah kesal Zidav, ia menerima uluran tangan pria itu lalu berdiri.
"Melisa, tolong temani keponakanku sebentar. Aku ada urusan mendadak." ucap Zidav seraya menarik tangan Mona pergi dari sana menuju kamar kecil.
Zidav membawa Mona ke dalam bilik toilet pria, ia mendorong pintu satu-persatu mencari bilik kosong. Saat menemukannya, ia masuk masih menggenggam tangan Mona.
Brak! Pintu bilik toilet tertutup dikunci.
Zidav mendorong pelan tubuh Mona ke dinding bilik, "Kenapa kamu bercerita pada Ardo tentang Lisa? Kenapa juga kamu tadi mengajaknya kesini?"
"Lo marah?"
"Aku tidak marah, aku hanya ingin penjelasan darimu. Apa kamu mempunyai perasaan pada Ardo? Atau itu adalah perasaan Lisa?"
Zidav menatap intens mata Mona, "Aku cemburu, aku takut kehilanganmu dan Lisa. Maaf, ayo keluar."
Zidav ingin membuka kunci toilet, tapi Mona meraih tangannya. "Dav... lo kangen sama Lisa?"
"Kamu dan Lisa sama saja, aku akan merindukan kalian berdua jika tidak ada. Besok kita bertemu Dokter Andri, ok. Aku ingin kamu secepatnya bisa menangani masa lalumu, aku ingin kita secepatnya bisa bersama."
Mona tak menjawab, ia hanya membuka kunci pintu toilet lalu melangkah keluar dari dalam sana.
Di sofa Melisa yang ditinggalkan berdua dengan Ardo merasa canggung, pria itu hanya terdiam. "Ardo, apa kamu belum menikah?" akhirnya perempuan itu memecah keheningan diantara mereka.
"Apa katamu? Musiknya sangat keras, aku tak mendengarnya!"
__ADS_1
"Apaaa kamuu sudah menikahh???" teriak Melisa.
Ardo menggeleng, "Belum."
"Apa kamu ingat saat kita terkunci di perpustakaan karena ketiduran?" tanya Melisa.
Ardo akhirnya tersenyum, "Ya, aku ingat. Waktu itu kau memecahkan kaca perpustakaan agar bisa keluar, tapi aku yang harus menggantinya. Kamu sejak dulu adalah perempuan berani. Saat itu kamu memang kutu buku, tapi kau tak merasa malu dengan memintaku mengganti kaca itu. Haha..."
"Kau juga terjebak disana, bukankah aku membantumu juga?" Melisa mendelik kesal.
"Sebenarnya saat itu aku sudah menghubungi orang dirumah agar datang menolong, tak disangka kau sudah bertindak lebih dulu, "Ardo tersenyum saat mengingatnya.
"Hehe, benarkah? Kalau begitu aku yang bego waktu itu."
"Bukan hanya bego tapi terlalu brutal, hehe." Ardo nyengir.
Zidav melihat keponakannya itu sedang tertawa dengan Melisa, "Mereka cepat juga akrab."
"Siapa?"
"Ardo dan Melisa. Menurutmu mereka berdua cocok? Haruskah aku membuat mereka menjadi pasangan?"
"Lo atur aja, yok balik kesana." Mona berjalan lebih dulu di depan menuju tempat meja mereka.
Mona tos dengan Melisa, mereka berdua meminum bir dicampur wiski. Saat gelas ketiga, Melisa akhirnya tumbang.
"Ardo, cari alamatnya. Temanmu sudah mabuk, bawa dia pulang." Ucap Zidav.
"Kenapa aku? Kau yang menyuruhnya minum." Tolak Ardo.
"Aku harus pergi, aku ada janji pada Mona. Mon, ayok."
__ADS_1
Mona meneguk habis sisa bir di gelas, ia berdiri menunduk menatap Melisa yang mabuk terbaring di sofa. "Jaga dia, Ardo. Hati-hati dengan tanganmu, jangan nakal." Mona mengedipkan sebelah matanya. "Bye!"
Setelah Zidav dan Mona pergi, Ardo menatap tubuh Melisa yang memakai baju tipis. Dia membuka jaketnya, menaruh jaketnya mengelilingi tubuh Melisa. Ia lalu santai sejenak, menikmati suasana club yang ternyata tak sejelek pikirannya.