
Dengan senyum mengembang Aldelardo sudah menunggu di depan pintu menyambut Mona. "Ayo masuk, kamu sudah sarapan? Besok lagi jangan sarapan dirumah, sarapan disini denganku. Aku akan menyiapkan meja hanya untuk kita berdua," ucap pria itu dengan semangat.
"Aku sudah sarapan, Mas. Adikkku nanti tidak ada teman sarapan, jadi Mas tidak usah repot," Lisa menolak dengan halus dia masih canggung dengan hubungan barunya.
Wajah semangat Aldelardo seketika muram, "Baiklah, gapapa."
"Aku harus melihat keadaan Nyonya, bagaimana keadaannya pagi ini?" ucap Lisa seraya berjalan menuju kamar sang Nyonya.
"Nanti panggil Nenek juga sepertiku, ok."
Lisa hanya tersenyum, saat melewati tangga matanya bertatapan dengan mata Zidav yang sedang berdiri di anak tangga bawah. Seketika wajahnya menegang, semalam saat akan tidur dia baru teringat sudah mengatakan pada pria itu jika dia mempunyai saudari kembar tapi kemarin saat pria itu ada dirumahnya dia yakin pria itu sudah melihat foto-foto keluarga yang hanya ada satu wanita muda di dalam foto. Dia harus menyelesaikan rasa penasarannya, dia mendekati Zidav. "Tuan, bisakah kita bicara sebentar?"
"Mona?" Aldelardo menarik lengan wanita itu.
Zidav melihat keposesifan Aldelardo pada Lisa, "Ardo, apa kamu tidak percaya pada kekasihmu? Dia bilang ingin bicara denganku, kami hanya akan bicara. Lepaskan dia..."
Aldelardo melepas cekalannya, "Jangan lama Mona, aku akan menunggu di kamar Nenek."
__ADS_1
"Hanya sebentar, Mas." Lisa mengganguk.
Zidav lalu berjalan menuju ruang kerjanya sendiri, Lisa mengikutinya di belakang.
Aldelardo hanya menatap kesal, dia lalu berjalan ke arah kamar Neneknya.
"Duduklah, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Zidav saat sudah masuk ke dalam ruangan.
"Kemarin saat dirumahku, apa Anda melihat foto - foto disana?" tanya langsung Lisa.
"Kenapa Anda tak bertanya, di dalam foto hanya ada 1 wanita kembar bukan 2."
"Apa kamu ingin jawaban jujurku atau kamu ingin menjelaskan lebih dulu padaku?" Zidav memberi kesempatan tadinya dia ingin berpura - pura tidak tau tapi tak menyangka wanita itu lebih dulu menyadarinya.
"Saya menunggu jawaban jujur Anda."
Zidav mengangguk, "Aku tak bertanya padamu karena aku sudah tau semuanya, kamu adalah Lisa. Alter ego Mona yang diciptakan Mona."
__ADS_1
Lisa menarik nafas terkejut, "Jadi Anda benar-benar sudah tau..."
"Meskipun aku sudah mengetahuinya, aku tak akan memandangmu berbeda. Bagiku kalian adalah satu, Lisa adalah Mona dan kamu nyata Lisa. Mona adalah Lisa, bagiku keduanya adalah ekspresi sebenarnya dari 1 kepribadian. Bagiku, kalian berdua sama-sama berharga."
Degh!
Lisa menatap tak percaya pada pria di depannya, tak pernah terpikirkan jika akan ada yang mengatakan jika dirinya adalah nyata bahkan dirinya sendiri. "A-aku..." lidah Lisa terasa kelu tak bisa bicara.
Zidav berdiri dari duduknya, dia berpindah duduk di samping Lisa menarik tangan mulus wanita itu. " Ada sesuatu yang memang harus aku katakan padamu dan juga Mona, jika aku sudah siap aku akan mengatakannya. Tapi Lisa-"
Ceklek.
Pintu terbuka, Aldelardo masuk ke dalam. Tatapan matanya jatuh pada tangan besar Pamannya yang sedang menggenggam tangan Mona, "Lepaskan tangannya!" dia melangkah cepat dengan kaki panjangnya, lalu menarik kasar berdiri kekasihnya.
"Aku mencoba ingin memberikan kepercayaan pada kalian, tapi lihatlah firasatku. Benar saja kau tidak bisa menjaga kelakuaanmu Paman, ayo Mona." Dengan wajah kesal Aldelardo menarik wanitanya keluar.
Zidav menatap tajam kekasaran Aldelardo pada Lisa, ini lah yang dia khwatirkan. Keponakan tirinya itu memang sangat terlihat lembut dan sopan diluar tapi dalam diri Aldelardo banyak sekali rasa sakit yang membuatnya trauma akan perselingkuhan. Itu akan membuat Aldelardo terlalu posesif pada Mona Lisa, dia khawatir akhirnya keponakannya itu akan menyakiti Mona Lisa bahkan Aldelardo sendiri akan berakhir dengan rasa sakit.
__ADS_1