Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Sulastri yang Bunting


__ADS_3

Sepuluh lembar berwarna merah muda diletakkannya di atas kasur, kebiasaan setelah bersenang-senang semalaman, tapi Mira tahu itu hanya untuk seminggu ke depan, sisanya bisa ditransfer kapan saja.


Selain lembaran yang diburu milyaran manusia di bumi itu, Joko juga meninggalkan putung rokok yang tak habis ia hisap, mungkin sudah tak kuasa menahan nafsu melihat Mira dengan lingiere berwarna merah menyala seperti ingin segera menyantap makan malamnya itu.


Joko pulang ke rumah setelah Riska, putrinya yang belum bisa mengelap ingus dari hidungnya sendiri itu merengek minta digendong. Bocah itu menangis dan memeluknya saat batang hidung belang itu muncul dibalik pintu masuk.


“Papa bawa apa?” tanyanya.


“Papa bawa boneka Barbie kesukaan putri Riska.”


“Hore, Angel punya teman baru.” Bocah itu berjingkrak kesenangan di depan papanya. Lupa kalau dua jam yang lalu ia merengek minta dibelikan roti bakar rasa special kesukaannya.


Joko melempar tasnya sembarang, merasa tidak punya kewajiban untuk meletakkan benda ditempatnya. Merebahkan tubuhnya seolah telah menguras keringat begitu keras seharian, berteriak minta dibawakan kopi ke dalam kamar pada istrinya.


“Ini tuan kopinya.” Seorang pembantu datang membawakan perintah tuannya.


“Kemana nyonya?”


“Pergi tuan.”


Joko mengusir pembantu itu dengan tangan kirinya, bodo amat dengan sopan santun, toh dia hanya seorang babu yang menerima uangnya.


“Perempuan itu tidak pernah di rumah, bahkan saat suaminya pulang dari mencari nafkah!” Nada bicara Joko seolah memperlihatkan bahwa ia adalah lelaki setia yang dipermainkan istrinya.


Di rumah yang berbeda, Astuti, istri Joko mengadu pada ibu mertuanya bahwa suaminya sering tidak pulang ke rumah.


“Makanya kamu jadi perempuan harus bisa dandan, suamimu kan juga butuh hiburan.” Mama mertuanya bicara seperti ia bukan wanita karir saja. Rentetan figura di ruang tamu menunjukkan siapa sebenarnya yang berkuasa di rumah gedong tiga tingkat itu.


“Tapi Tuti sudah melakukannya ma.” Tuti masih berusaha membela diri, berharap mendapat simpati dari mertuanya itu.

__ADS_1


“Pakai cara yang lain kalau satu cara tidak mempan, dipakai ininya dong.” Wanita tua yang sengaja menyemir rambutnya menjadi kemerah-merahan itu menunjukkan kepalanya, seolah ada isinya.


Astuti pulang tanpa solusi apapun, menurutnya. Tiada ibu yang tidak membela anaknya, begitu rasanya percuma mendapatkan ibu baru kalau masih ada yang membedakannya dengan suami.


“Mas, aku mau ke salon nih,” satu pesan masuk memberikan garis senyum pada Joko saat membukanya.


“Dandan yang cantik, lusa aku datang lagi.” Joko membalas dengan perasaan yang sedikit gusar. Joko paham maksud pesan itu, perempuan yang kata banyak orang adalah perempuan murahan sudah mengeruk kantong Joko ber puluhan juta. Apakah itu masih dikatakan murah? Padahal hubungannya masih menginjak seumur jagung.


“Iya sayang, pasti kok.” Tidak perlu ada balasan lagi, bukan pesan yang diminta perempuan yang sedang bersantai dengan lintingan rokok disela jarinya itu.


Joko telah mengirimkan beberapa nominal untuk simpanannya, berharap bisa kembali dipuaskan secara birahi. Saat satu klik terakhir disentuhnya, pintu kamar yang ia kira sudah dikunci terbuka dan mengejutkan Joko yang masih tersenyum melihat kegagahan nya dengan mengirimkan berapa saja angka nol kepada para perempuannya.


“Ngapain pulang?”


“Seharusnya bukan kalimat itu yang kamu keluarkan saat melihat suamimu pulang dari mencari penghidupan sayang.”


Rayuan Joko sama sekali tidak mempan oleh perempuan yang masih sakit hati dengan ibu mertua yang banyak janji saat melamarnya itu. Sentuhan-sentuhan kecil pun tidak mampu membuatnya luluh dalam pelukan laki-laki yang sudah banyak menjatuhkan perempuan dalam pangkuannya itu.


“Aku kan sudah bilang tidak butuh uangmu!”


“Kalau tidak butuh uangku, kamu tidak akan bisa merias bibirmu dengan gincu merah yang menggodaku ini sayang.” Joko menyentuh bibir itu dengan pandangan yang lapar, mungkin ia belum puas dengan yang semalam, atau sudah bosan karena rasanya masih saja sama? Entahlah laki-laki tidak bisa ditebak semudah itu.


“Aku bisa menghidupi diriku sendiri.”


Joko menatap perempuan itu dengan tatapan tidak percaya, tatapannya seolah berkata masa iya?


“Sebelum sama kamu aku kan menghidupi diriku sendiri.” Astuti berusaha meyakinkan pandangan yang ragu itu.


“Itu karena ayahmu masih hidup Astuti, kamu lupa? Biar aku jelaskan secara rinci. Pertama aku yang memberikanmu makan selama ini, ibumu miskin dan bapakmu sudah mati. Kau ingat Astuti, ibumu saja makan dari keringatku yang tidak pernah kau lap ini. Kedua, kalau kau ingin menjual tubuhmu, kau masih menggunakan perawatan dan nasehat dari ibuku Tuti. Bukankah kejam jika kau menggunakannya untuk dijual pada laki-laki selain aku? Terakhir Astuti kamu kira Riska akan bisa menerima keputusanmu untuk meninggalkanku? Berpikirlah sebelum bicara wanita bodoh!”

__ADS_1


Astuti hanya diam, ia paham posisinya saat ini masih sangat sulit untuk memerdekakan keinginannya yang menggebu-gebu.


Perlahan tapi pasti air matanya jatuh membasahi lantai.


“Tidak perlu menangis! Kau tidak dibeli dengan mahar yang tinggi untuk menangis dibawah kakiku! Mahar yang mahal dan mewah untuk gadis desa sepertimu itu adalah untuk memuaskan ku.”


Astuti beranjak dan ingin keluar dari neraka itu secepat mungkin, tapi tangan kekar Joko menahannya, meminta perkataannya segera dikabulkan.


Seperti kerbau yang dicucuk lubang hidungnya, Astuti melakukan apa yang diperintahkan sang raja dalam rumah tangganya itu.


Keringat yang jatuh di dahinya membuatnya merasa hina karena tidak mengiyakan perasaannya yang menolak untuk disentuh.


***


Hari ini Mira sudah mempersiapkan dirinya untuk bekerja, ruangan beraroma mawar kesukaan Joko, sprei baru yang ia beli karena ada diskon besar-besaran di Mall dekat apartemennya. Tidak lupa ************ dan bulu-bulu tubuhnya dicukur habis, seperti kepala Joko kekasihnya.


Mira yang duduk di dekat jendela kamar sambil menyilangkan kakinya itu bukan wanita murahan yang banyak orang bilang, ia tidak miskin dan juga tidak sedang membutuhkan uang untuk berobat orang tua atau menyekolahkan anaknya di Universitas seperti kebanyakan orang mengambil pekerjaan ini.


Ia adalah putri tunggal dari pengusaha tambang emas di Kalimantan. Bapaknya jago memainkan banyak permainan, sehingga apapun kesalahannya mau besar ataupun kecil, itu tidak akan pernah terekspos dan menjatuhkan martabatnya.


Namun begitu, Mira menyukai permainan yang berbeda dengan bapaknya, ia lebih senang bermain-main dengan sebongkah daging yang diberi nyawa. Merasakan kenikmatan di dalamnya, meski sama-sama daging, Mira punya pandangan yang berbeda dengan Joko. Kalau Joko anggap semua daging yang masuk ke tubuhnya adalah sama saja, Mira menikmati daging itu dengan cara yang berbeda, gayanya, waktunya, dan siapa jiwa yang ada di dalam daging itu akan mempengaruhi kenikmatannya.


Itu mengapa Joko bukan satu-satunya yang ia terima masuk ke dalam tubuhnya yang punya aroma mawar itu.


Joko datang dengan jas dongker kesukaannya, Astuti yang menyetrikanya hingga rapi dan membuatnya terlihat tampan meski tanpa rambut sekalipun, tapi laki-laki yang tidak tahu cara berterimakasih itu mempersiapkan segalanya untuk bertemu Mira kekasih gelapnya. Dengan gagah ia membuka pintu seolah dialah raja yang lihai mempermainkan wanita dengan uangnya.


Di atas kasur, Mira yang masih dengan rokok disela jarinya memandang laki-laki itu dengan pandangan yang menggoda. Sama seperti Joko, Mira juga merasa bahwa ia telah mempermainkan Joko, mengeruk hartanya untuk bersenang-senang dan merusak rumah tangganya seperti seorang lacur yang merusak bapak mamaknya dulu.


Di rumah perempuan yang dianggap beruntung karena menikah dengan pengusaha kaya, mendapatkan mahar di atas rata-rata gadis kampung lainnya sedang meratapi nasib sambil meninabobokan Riska, anaknya.

__ADS_1


Orang-orang mengira hidup Astuti bahagia karena menemukan laki-laki yang membelinya dengan harga mahal, tapi semua yang dibeli akan selalu berakhir dengan dibuang. Pun sama dengan Joko, orang lain mengira memiliki jabatan bagus, istri cantik dan anak yang cerdas membuatnya bahagia, tapi siapa yang tahu ia adalah laki-laki yang tidak pernah bisa dipuaskan. Namun berbeda dengan Mira, tidak ada orang yang memujanya karena pekerjaan yang ia pilih, tapi tidak ada yang menyangka ia adalah yang paling bahagia dari siapapun bahkan bahagianya melebihi Riska yang mendapatkan mainan baru dari Joko papanya.


__ADS_2