Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Lanjutan


__ADS_3

Herman kembali ke mobil dengan raut wajah seperti kalah judi, ia membuka pintu mobil dan melihat Joko masih dengan putung rokoknya yang sudah habis tapi tidak mau di buang, barangkali Joko adalah manusia pelit yang sok dermawan.


“Kenapa cepat sekali? Mana Mira?”


“Tidak bisa, kita sudah keduluan, tapi besok bisa, aku sudah booking.”


“Sial.”


“Tak masalah bung, kita juga masih punya banyak waktu untuk menyusun rencana yang lebih matang.”


“Memangnya kurang matang apalagi rencana kita? Aku pikir rencana itu juga hampir busuk sangking matangnya.”


“Kita tidak mungkin membawa Mira keluar, kalau di sana ada jendela, kalau tidak bagaimana?”


“Kau pikir aku sebodoh itu? Aku sudah cek semua ruangan, dan semuanya ada jendelanya. Kau saja yang bodoh baru bertanya itu sekarang.”


“Dan kau yakin di sana tidak ada penjaganya?”


“Kan apa kubilang kau tidak secerdas itu Herman, semuanya cuma omong kosong, seperti otakmu. Kau masih saja bertanya, kan aku bilang kalau kau sudah masuk bersama Mira, urusan penjaga jadi urusanku.”


“Bagaimana kalau kita ajak Mira jalan-jalan?”


“Apa bisa? Bukannya pelacur hanya melayani di kasur? Bukan di jalan.”


“Ini hanya meminimalisir keributan Joko. Aku akan minta besok dengan persediaan uangmu dan juga uangku. Aku tidak semiskin yang kau kira Joko.”


“Kau baru menang judi?”


“Kau pikir kita sama ha?”


“Lalu darimana uang itu? Ngepet atau pesugihan?”

__ADS_1


“Bacot, lama-lama mulutmu seperti perempuan ya?”


“Kau misoginis sekali Herman.”


“Bukan begitu maksudku, sudahlah pergi saja dari mobilku, kita bertemu lagi besok.”


“Hei tunggu dulu, aku pikir tempat ini agak berbeda atau kita sebut saja aneh, baru kali ini ada tempat yang saat kita ingin wanita hanya ditunjukkan foto dan namanya, biasanya kan mereka memperlihatkan langsung barangnya, dengan gaya yang menggoda, aneh sekali.”


“Aku juga merasakannya Joko, tapi lebih baik kamu pulang sekarang karena aku sudah malas berbicara denganmu.”


“Kampret.”


Mereka berpisah saat itu, Herman bertemu keluarga kecilnya dan Joko kembali ke apartemen Mira.


Malam itu hujan turun, entah rindu pada bumi seperti rindu Joko pada Mira atau Tuhan sedang ikut sedih karena melihat salah satu manusia sedang disiksa dengan begitu keji tanpa ada rasa kemanusiaannya sama sekali.


Ah kalaupun begitu, Tuhan hanya melihat, tidak memberikan mukjizat seperti para Nabi, tidak juga memberikan kebaikan lain seperti kisah orang terpilih dalam sebuah sinetron. Ya Tuhan hanya menonton, itu kenapa para agnostik dan atheis semakin banyak bahkan di negara yang mewajibkan berketuhanan yang Maha Esa ini.


Mira dengan wajah memarnya masih dengan lantang menyerukan keinginannya untuk keluar dari neraka itu.


“Aku tidak peduli Mira, hinaanmu dulu sungguh membuatku ingin membuatmu seperti orang sakaratul maut!” Tawanya menggelegar di dalam ruangan yang dibalut dengan cat berwarna senada dengan pakaian Mira, warna toska yang membalut kulit bersihnya kini sudah tidak begitu indah dipandang akibat darah kian banyak keluar dari tempatnya.


“Aku pernah mengatakan apa Mak Cik? Aku bahkan sudah melupakan semua kejadian masa lampau.”


“Itulah manusia, bahkan saat lisannya melukai hati orang, ia masih menganggap dirinya suci bak kain mori.”


“Aku minta maaf Mak Cik, apapun yang pernah kukatakan dulu padamu, tolong lepaskan aku.”


“Akhirnya pelacur paling lacur di kota ini bersujud padaku, itulah kenapa aku pantas di panggil orang hebat.”


Mira tanpa sadar mengucapkan maafnya pada iblis yang membuatnya menderita beberapa hari ini. Ia sudah tidak kuat, pelanggan yang datang bukan orang sembarangan yang hanya ingin cari ************ tapi juga pelanggan yang mencari apa yang tidak bisa ditemui di tempat lainnya, hanya di markas Mak Cik Pokemah.

__ADS_1


Orang-orang yang lapar nafsunya tidak hanya membawa kartu ATM atau uang cash, tapi juga membawa serta peralatan membunuh, ya anggap saja memang demikian, karena yang dibunuh adalah kebebasan seorang yang akan melayaninya.


Persiapan dimulai dari tali bermacam ukuran, borgol, dan beberapa alat yang tidak diketahui namanya. Setiap pelanggan yang datang membawa sendiri alatnya yang tentunya cukup bervariasi, mulai dengan yang terobsesi dengan bagian bawah dan juga yang menginginkan jeritan-jeritan yang membuatnya semakin bahagia.


****** Mira saksinya, awalnya berwarna pink kemerah-merahan, kini ia tidak lagi menunjukkan hal serupa, ada luka dibagian yang mengelilingi nya, seperti dijepit terlalu lama, tidak terbilang sakitnya, tapi Mira merasakannya.


“Mak Cik, aku sudah tidak kuat, maafkan aku, aku mohon keluarkan aku dari ini, aku mohon Mak Cik.” Mira masih dalam sujudnya untuk memohon pertolongan pada yang tidak akan pernah menolongnya.


“Jangan harap Mira!” Tendangannya tepat mengenai ujung bibirnya yang kini telah berdarah. “Itulah akibat dari manusia sombong sepertimu Mira. Lihat sekarang primadona Jakarta bahkan tidak lagi beraroma mawar.” Mak Cik kembali tertawa dan meninggalkan Mira di dalam ruangan yang menyimpan rahasia pilu seorang wanita penghibur


3 orang lelaki melaporkan Mira yang dianggap tidak berenergi memberikan kepuasan pada mereka, padahal 3 lelaki itu sudah memborbardir atas maupun bawah Mira. Pelanggan yang tidak tahu diri, semuanya punya otak dan wajah yang tidak ada bedanya, tiga pria kembar yang gila.


Area bawah Mira masih berkedut merasakan sakitnya diobok-obok dengan alat yang tidak ia ketahuinya, pergelangannya mengenaskan, seperti memakai gelang berwarna merah, beberapa tubuhnya memerah akibat cambukan dari tiga lelaki gila itu.


Mau telungkup atau telentang, tubuh Mira tetap saja sakit, linu bahkan untuk beberapa area seperti ingin retak dan lepas dari asalnya.


Hanya air mata yang masih setia menemani malam Mira, ia berharap Joko yang menganggapnya kekasih akan datang lalu menolongpun rasanya seperti sudah sirna.


Bertahun-tahun Mira melayani hidung belang, tapi tidak pernah merasakan sakit berlebihan pada batin dan juga fisiknya saat ini, itulah mengapa ia memilih untuk sendiri dalam bekerja, karena ia punya kuasa bahkan pada setiap pelanggannya yang datang.


Jika jelek atau brewokan, Mira akan menolaknya, semudah mengembalikkan telapak tangan, tidak ada yang perlu ditakuti, uangnya banyak dan tubuh yang tetap bisa merasakan sehat.


Mira juga bisa memeriksakan kesehatannya kapanpun ia mau, bukan hanya ikut arahan mucikari yang tidak tahu diri. Memerasnya, lalu menganggapnya lebih suci seperti kain mori.


Menjadi wanita penghibur yang bebas ternyata tidak semudah itu, apalagi ditambah dengan aroma tubuh yang menjadi incaran banyak lelaki dan kini Mira juga mendapatkan pelanggan perempuan yang biasanya ia tolak mentah-mentah.


Meski Mira menghargai dan memiliki banyak teman dari komunitas berlambang pelangi itu, namun ia tidak pernah tertarik dengan yang sejenis, atau jenis yang mengubah jenisnya dalam bercinta. Baginya kenikmatan tertinggi datang dari dua insan yang berbeda.


Tapi apalah daya sudah masuk dalam lubang buaya yang sangat dalam, Mira yang menjadi tranding topik saat orang-orang bicara tentang pelacur kini hanya diam apalagi disuguhi pelanggan yang membawa koper dengan isi alat-alat neraka, para perempuan yang sama-sama punya payudara dan juga beberapa pelanggan gila yang memintanya untuk bermain di depannya, membiarkan pelanggannya bermain dengan jarinya sedangkan ia bermain dengan temannya sendiri. Hidup yang benar-benar brengsek.


Seminggu rasa seabad, Mira benar-benar ingin mati saat itu juga, pelacur yang dikotori dengan mucikari tidak tahu diri, ditelanjangi tapi tidak dieksekusi, malah dipelototi seperti seorang pencuri. Seumur hidup baru kali ini Mira merasakan malu menjadi pelacur.

__ADS_1


“Tuhan jika kau tak izinkan aku menjadi pelacur, bunuh saja aku, karena aku akan membencimu seumur hidupku jika kau hanya diam dan menatapku seperti orang gila!” Teriak Mira frustasi pada hidup yang tidak seperti hidup.


__ADS_2