
“Eh tuan sudah pulang?” Ternyata dugaan Lastri tentang tuan yang ingin bercinta dengan Mira adalah hal yang keliru meski sempat benar.
“Ya Lastri, kau mau pulang?”
Lastri mengangguk.
Joko mengajaknya pulang bersama, walau tidak benar-benar pulang. Ia bilang akan membawa Lastri pada tempat Mira bekerja.
Joko benar-benar lapar, ingin melahap Lastri, bodo amat jika ia hanya seorang pembantu, toh orang gila di luar sana juga bisa hamil.
Tapi penampilan alim Lastri membuat Joko ragu, ia akhirnya membawa Lastri pada sebuah taman kota yang tidak jauh dari minimarket tempat mereka bertemu. Mereka duduk sambil mengunyah cemilan yang dibeli Lastri.
“Kau juga dari Pontianak Lastri?”
“Ya tuan.”
“Jangan panggil aku tuan, namaku Joko bukan tuan.”
Lastri terdiam, merasa sedikit canggung berbicara dengan pria botak yang menurutnya masih cukup tampan meski tanpa mahkota. Apakah laki-laki juga menyebutnya mahkota? Entahlah, tapi bagian atas berwarna hitam itu selalu menjadi penunjang penampilan, namun Joko yang tidak memilikinya masih terlihat tampan, Lastri memutuskan bahwa itu adalah mitos.
Sejak pertemuan itu, mereka sering menghabiskan waktu bersama, melupakan Mira sejenak, ternyata Lastri sangat asik diajak bicara.
“Penampilanmu terlalu kaku untuk masyarakat Jakarta Lastri.”
Lastri menatapnya bingung.
“Kau seharusnya berpakaian seperti Mira, menyesuaikan sekitar, supaya lebih mudah diterima dan tidak jadi pandangan orang banyak.”
“Orang Jakarta tidak suka mengurusi urusan orang lain Joko.”
“Tapi mereka tetap takut ******* Lastri.”
“Aku hanya menutup aurtaku Joko.”
“Lalu kenapa bisa hamil? Kau membuka kain bawahnya?”
Lastri terdiam, merasa pertanyaan itu tidak sopan dilontarkan padanya yang terlihat alim. Katanya penampilan menunjukkan bagaimana orang akan menghormati pemakainya.
“Katamu kau belum menikah, tapi perutmu semakin buncit, seperti akan keluar bayi dari situ. Aku tanya pada Mira katanya kau sedang mengandung.”
“Mira bilang seperti itu?”
“Tidak dia katakan aku juga sudah tahu Lastri, sepertinya bulan depan kau akan jadi ibu.”
“Aku tidak bisa merawatnya, aku tidak bekerja dan tidak punya rumah.”
“Lalu kenapa tidak kau gugurkan saja dulu?”
“Membunuh itu dosa Joko.”
“Bercinta tanpa menikah, menelantarkan anak, pergi tanpa pamit, menyusahkan orang lain atau sekedar bicara dengan lawan jenis tanpa orang ketiga seperti yang sudah kita lakukan beberapa hari juga dosa Lastri. Kenapa kau memilih dalam berdosa? Apakah karena dalam agamamu banyak sekali larangan dan dosanya? Jadi jika tidak bisa menghindari semuanya, akan lebih bijak jika memilih dosa tertentunya?”
“Kau bicara apa Joko? Kau juga berdosa, aku tahu apa yang kau lakukan bersama Mira selama ini Joko.”
“Aku dan Mira tidak seagama denganmu Lastri.”
“Bohong! KTP mu dan Mira menunjukkan hal yang sama denganku.”
“Itu formalitas Lastri, agama ada di dalam hati manusia, dan kami tidak bisa menulisnya di KTP karena agama kami tidak diakui.”
__ADS_1
“Semua manusia itu pendosa Joko, jangan pandang aku dengan pandangan menghina seperti itu!” Lastri tersinggung, merasa direndahkan, ia bangkit dari kursi taman dan pergi meninggalkan Joko.
Bicara soal agama memang sangat sensitif, ditambah bicara pada ibu hamil, sensitif pangkat dua jadilah monster bernama Lastri.
***
“Aku suka aromamu Mira. Bisakah kita bertemu lain waktu?”
“Tentu saja, aku juga suka rambutmu yang panjang. Kita bisa ke salon bersama.”
“Aku tidak sabar untuk itu Mira.”
“Aku juga.”
Mira menghabiskan waktu dengan Arman, pelanggan baru yang badannya lebih kekar dari Joko, dagingnya lebih panjang dari punya Joko pun dengan bayarannya.
Mira adalah pelayan kelas atas, ia tidak diatur oleh mami tua yang hanya memberikan sedikit harga, ia bekerja sendiri, tidak terikat instansi. Mira mencari pelanggan dari pengalaman pelanggan yang sudah mencobanya, aroma mawar dari tubuhnya membuatnya tidak sulit mencari pelanggan.
“Dasar pelakor!”
Plak.
Seorang wanita yang datang entah dari mana menghampiri Lastri dan langsung menampar wajahnya.
Seperti kemasukan setan, wanita yang ternyata adalah Astuti itu memukul habis-habisan Lastri yang sedang duduk asik dengan Joko.
“Bajingan kamu! Kenapa kamu membela dia hah? Karena dia sudah mengandung anakmu? Bangsat!”
Astuti kembali memaki suaminya yang berusaha memisahkannya dengan Lastri.
“Kamu salah paham Tuti.”
Lastri bingung, mau menjelaskan tapi tidak ada celah ia bicara, Astuti sudah benar-benar kemasukan setan.
Joko tidak membalas makian Astuti, hanya menariknya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Lastri yang jadi pusat perhatian di taman kota.
“Dia hanya temanku Tuti.” Joko mulai menjelaskan setibanya di rumah.
Astuti hanya menangis, tidak mendengar sepatah katapun yang diucapkan suaminya.
“Ceraikan saja aku!” Astuti masuk ke dalam kamar untuk mengemasi pakaiannya. Ia sudah sakit hati melihat suaminya menghamili perempuan lain, padahal ia juga masih bisa hamil.
“Kau jangan seperti anak kecil Tuti. Kita bisa bicara baik-baik. Semua yang kau pikirkan itu tidak sama dengan kenyataan yang sebenarnya.”
“Kalian berpegangan tangan di taman tadi, saling tatap penuh cinta, kau kira aku tidak bisa melihat itu semua? Kau pernah menatapku seperti itu Joko, aku tahu!”
“Aku hanya menenangkannya Tuti. Baiklah begini saja, kita akan buat janji dan bicara pada Lastri tentang ini. Tentu saja dia akan menjelaskannya.”
Astuti berhenti dari memasukkan pakaiannya ke dalam tas dan menatap suaminya yang suka berbohong itu.
“Malam ini, bawa perempuan itu ke rumah. Suruh naik taksi, tidak perlu kau jemput.”
“Iya sayang, apapun demi kita.”
Joko segera memberitahu Lastri dan kemudian memeluk istrinya supaya lebih tenang. Lebih tepatnya supaya karirnya tidak segera diberhentikan oleh bapaknya.
Lastri pikir, hubungannya dengan Joko akan selesai jika diketahui Mira, ternyata Joko punya banyak wanita. Lastri kira ia termasuk dalam deretan wanita Joko, lagi-lagi Lastri terlalu cepat menyimpulkan.
Malam itu, Lastri datang ke alamat rumah yang diberitahu oleh Joko, ingin menyelesaikan kesalah pahaman yang sedang terjadi. Ia duduk sambil mengelus perutnya yang kian membesar, seperti balon yang akan meledak.
__ADS_1
“Bicaralah apa yang ingin kau katakan padaku.” Astuti membuka pembicaraan.
“Ini anak Joko.”
Satu kalimat yang tidak pernah diduga akan keluar dari mulut Lastri.
“Apa maksudmu Lastri? Kita bahkan tidak pernah seranjang!” Joko marah besar, hampir saja menampar Lastri.
Lastri hanya menunduk dan terdiam, Astuti lebih diam dan memutuskan untuk melanjutkan mengemasi barang-barangnya. Ia tidak bisa dicegah, saat Joko menyusul Astuti, Lastri pulang tanpa permisi. Kebiasaannya sejak dulu.
Entah apa yang ada dipikiran Lastri, mungkin ia butuh calon bapak, tapi bukan yang darahnya mengalir pada janinnya, mungkin ia menginginkan pria botak yang kaya raya dan menolongnya seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Tidak bisa menghentikan Astuti, Joko menyetir ingin membunuh Lastri. Karirnya akan hancur dan tidak bisa membayar perempuan yang akan memuaskannya. Sungguh sial hidupnya, tidur dan bercinta dengan siapa, malah tertangkap basah dengan wanita berbadan dua, yang bahkan tidak ia kenal bapaknya.
“Lastri!” Joko mengetok pintu Mira dengan keras, berteriak hingga masuk telinga tetangga.
“Kenapa kau datang ke sini mencari Lastri?” Mira yang membuka pintu kebingungan.
“Mana anjing itu Mira?”
“Aku tidak memelihara anjing Joko.”
Joko masuk dan mencari Lastri di dalam kamar Mira.
Plak.
Joko menampar wajah Lastri yang sudah ketakutan sejak tadi.
“Apa maksudmu Lastri? Kita tidak pernah ada hubungan apapun, apa yang telah kau katakan pada istriku akan mengakhiri hidupmu Lastri!” Joko marah besar, tapi untung saja ada Mira yang menenangkan.
“Duduklah Joko! Bicarakan baik-baik atau aku panggilkan satpam untuk mengusirmu!”
“Aku tidak takut Mira! Biarkan saja kubunuh perempuan tidak tahu diri ini.”
“Joko!” Teriakan Mira memadamkan api amarah Joko, ia akhirnya mau duduk untuk bicara lebih pelan.
“Jadi kau menyukai laki-laki ku Lastri?”
“Dia bukan milikmu Mira.”
“Apalagi milikmu Lastri, kau datang buat kami tidak bisa bercinta dengan damai di sini, aku terima dan kau tahu itu. Kau tahu hubunganku dengan Joko tapi kau malah menyukainya? Tidakkah kau punya hati untukku yang memberimu makan dan atap untuk berteduh?” Mira bicara dengan elegan, menghisap rokok dan membuang asapnya pada wajah perempuan bunting di depannya.”
“Aku hanya terbawa suasana Mira, Joko sangat perhatian denganku, bahkan ia memikirkan bayiku, mencoba membantuku dan aku tahu dia menyukaiku juga.”
“Omong kosong apa yang kau ucapkan Lastri? Aku hanya kasihan padamu!”
“Sabarlah sayang, aku tahu kau hidung belang, bahkan dengan wanita bunting?”
“Demi Tuhan Mira, aku hanya kasihan jika ia membuang bayinya.”
“Kau tidak punya Tuhan Joko, kau menyukainya?”
“Najis!”
“Kau menyukainya Joko?”
“Sebelum aku tahu kalau dia bunting, aku memang suka *********** yang besar, meski tertutup tudung aku bisa menebak ukuran bra nya.”
“Sama-sama bangsatnya.” Mira menghembuskan lagi asap rokok nya ke udara.
__ADS_1
Malam itu Joko tidak jadi membunuh Lastri, Mira memintanya menyusul Astuti sebelum ia menghancurkan karirnya. Lastri juga tidak jadi diusir.