
Mira masih di atas tempat tidurnya, berbaring lemas tanpa tenaga, wajahnya pucat karena kekurangan darah dan HB, dokter sudah memeriksanya, ia butuh istirahat. Mak Cik akhirnya mengeluarkan sejumlah uang untuk berobat Mira karena tamu istimewa yang akan datang minggu depan dan Mira harus bisa memberikan pelayanan terbaiknya.
“Dia belum bangun?” ucap seseorang dalam percakapan telefon.
“Belum, ia sepertinya sangat kelelahan.”
“Apa tidak bisa di bawa ke rumah sakit saja?”
“Nona gendut itu tidak mengizinkannya.”
“Tapi kan kau dokternya, katakan saja ada perlatan yang hanya bisa di dapat di rumah sakit.”
“Akan aku usahakan.”
Telfon itu ditutup dan dokter yang menangani Mira menatapnya dengan penuh perasaan iba, sayang sekali perempuan yang cantik dan elegan harus berada di tempat yang sangat menyedihkan.
“Mira, apa kau bisa membuka matamu sebentar?”
Mira tidak merespon apapun, ia masih memejamkan matanya.
“Mira waktuku tidak banyak, jika kau bisa mendengarku, bukalah matamu sebentar saja.”
Dengan rasa penasaran, Mira akhirnya membuka matanya dan melihat seseorang dengan alis yang tebal dan hidung yang mancung, tampan sekali, terlebih pakaian putihnya yang ia kenakan menambah aura kehangatannya semakin terpancar dari wajahnya.
“Aku temannya Herman, kau tau maksudku, ia berusaha membebaskanmu, maka kau harus bisa lakukan apa yang aku minta saat Mak Cik datang, ia akan datang 15 menit lagi dan kau harus bisa memuntahkan benda ini, ingat aktingmu akan sangat dibutuhkan sekarang. Aku akan membantumu dan mengurus sisanya, lakukan perintahku dan sekarang berpura-pura lah tidur, aku sudah mendengar langkah kaki seseorang, cepat makan ini.”
Mira dengan setengah kesadarannya berusaha melakukan perintah dokter yang katanya akan membantunya keluar, entah benar atau tidak seperti nya Mira masih punya harapan.
Ceklek, suara pintu di buka dan benar saja, wanita tua yang sudah mengganti warna rambutnya itu datang untuk memastikan pelayan terbaiknya.
“Bagaimana keadaan nya?”
“Sangat buruk, apakah ia punya penyakit sebelum ini?”
“Setahuku tidak, ia selalu hidup sehat.”
“Tapi tubuhnya benar-benar tidak menunjukkan hal itu.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau dalam satu jam ini Mira tidak muntah darah, maka ia akan segera sembuh dan dugaanku akan salah, tapi jika hal itu terjadi kita harus membawanya ke rumah sakit, aku tidak memiliki alat yang dibutuhkan, dan di sanalah kita dapat menyelamatkannya.”
“Bagaimana mungkin? Ia hanya kelelahan.”
“Sepertinya ia menurunkan penyakit dari orang tuanya.”
“Bangsat, bisa rugi banyak kalau begini, aku akan membuangnya kalau terlalu merugikan.”
Dokter muda itu tersenyum dan berusaha menahan tawanya akibat warna rambut baru Mak Cik, ia tiba-tiba saja teringat neneknya di kampung, tapi yang ini sungguh norak sekali, mencoba memakai pakaian seksi dengan tumpukan lemak yang tidak bisa ditoleransi.
__ADS_1
Sungguh Arman, nama dokter itu ingin sekali tertawa dan membawanya segera masuk ke panti jompo untuk memberikan gambaran bagaimana seharusnya Mak Cik ini berpakaian.
Arman terus khawatir, Mira tidak kunjung memuntahkan apa yang ia berikan, sedangkan Mak Cik tidak mungkin menunggunya di sini hingga satu jam ke depan.
“Kau anaknya Sugeng? Aku memintanya datang malah kau yang kemari.”
“Bukan Nona, saya hanya muridnya.”
“Murid kesayangan sepertinya ya.”
“Semoga demikian.”
“Aku akan kembali lagi nanti, kau boleh pergi, ia tidak akan muntah percayalah padaku tampan.”
Arman hanya tersenyum geli mendengar wanita tua dengan lipstik merah cabe itu menggodanya, rasanya ia yang ingin muntah saat itu. Tapi ia lebih berharap Miralah yang mengeluarkan muntahannya.
Mak Cik sudah berjalan menuju pintu keluar, dan Mira belum ada tanda-tanda akan muntah, Arman semakin khawatir, hanya inilah satu-satunya harapan yang bisa ia lakukan untuk membawa Mira pergi.
Tepat sebelum langkah terakhir Mak Cik meninggalkan kamar itu, Mira mengeluarkan muntahan yang terlihat sangat nyata. Arman hampir saja mengucapkan alhamdulillah, namun bisa ia kendalikan dengan mengucapkan astagfirullah dan raut wajah berpura-pura kaget dan khawatir. Akhirnya yang ditunggu keluar juga.
Mak Cik tidak jadi keluar dan kembali masuk untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, wajahnya panik dan takut semua perbuatannya akan diketahui pihak berwajib dan ia akan masuk jeruji besok penjara yang dingin tanpa ada lagi makanan lezat dan juga lelaki tampan di sana.
“Bagaimana ini dokter?” tanyanya cemas.
“Seperti yang kubilang tadi, kita harus membawanya ke rumah sakit.”
“Itu tidak mungkin, biarkan ia dirawat di sini aku akan membayarnya lebih, lakukan apapun asal jangan bawa Mira pergi dari sini.”
“Kalau begitu kita beli saja.”
“Tidak semudah itu Nona.”
“Lalu bagaimana? Aku tidak mungkin membiarkan perempuan ini pergi hanya denganmu.”
“Namaku Arman Nona, aku murid kepercayaan dokter yang selama ini membantumu tanpa pamrih, bukankah itu bisa kau jadikan pegangan?”
Mak Cik masih ragu dan belum mengiyakan permintaan dokter muda nan tampan itu.
“Kalau kau biarkan wanita ini di sini dengan kondisi seperti yang kau lihat, ia tidak akan lagi menguntungkanmu, biayanya memang mahal, tapi kesembuhannya dijamin akan membuatmu berkali lipat lebih kaya Mak Cik. Aku mohon aku tidak butuh waktu lama. Aku seorang dokter, tidak mungkin hanya melihat pasienku seperti ini, ayolah percaya padaku Nona.”
“Apa jaminannya aku bisa percaya kau akan membantuku bukan membawa lari ****** ini?”
Arman menyerahkan sesuatu dari dompetnya dan menyerahkannya pada Mak Cik “Ini KTP dan kartu nama ku, kau bisa mencariku jika aku berbohong, kau bisa menyadap handphone ku? Lakukanlah jika kau mau, itu akan membuatmu lebih tenang, apapun itu aku tidak mengerti cara supaya kau percaya, tapi tolong nya waktu kita tidak akan lama, Mira bisa saja tidak terselamatkan.”
Mak Cik menatap tajam pada Mira yang masih mengeluarkan darah sejahtera tadi, wajahnya seperti manusia yang akan mati sebentar lagi, sungguh Mak Cik sebelumnya tidak pernah melihat yang demikian pada berlian berharganya itu.
Mak Cik mengangguk dan memberikan kuasa pada Arman untuk membawa Mira pergi dari tempat itu menuju tempat lain yang tidak siapapun mengetahuinya.
Namun ternyata mereka tidak benar-benar sendiri, ada dua mobil yang ikut serta membuntuti mereka menuju rumah sakit, arahan Mak Cik dan ia tidak akan pernah benar-benar percaya pada seseorang apalagi orang baru meskipun ia memiliki raut wajah yang tampan dan juga alis yang tebal.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam sebuah mobil yang di perintahkan Mak Cik, namun orang-orang yang berada di dalamnya sudah Arman kenali, semuanya adalah anak buah mereka termasuk seisi dua mobil lainnya, Herman sudah menjalankan rencananya dengan rapi tanpa diketahui Mak Cik untuk beberapa jam kemudian sebelum anak buahnya yang dikira pergi bersama Mira dan dokter Arman menghampirinya dan menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya.
Jalanan mulai sunyi, Mira yang masih lemas terus berharap bahwa ia benar-benar selamat dan bukan sedang menuju ke neraka yang lebih kejam dari yang sebelumnya, Arman memintanya turun dan Mira mengikuti arahannya.
“Kau bisa mengganti pakaianmu sendiri? Anak buahku tidak ada yang perempuan.”
Mira mengangguk, menyanggupi bahwa ia bisa berganti pakaian sendiri, tapi sudah sepuluh menit ia belum juga keluar dan Arman mengetuk pintu toilet tempat nya berganti pakaian.
“Mira, apa kau baik-baik saja?”
“Bisakah kau masuk Arman?”
Matanya membulat maksudnya bagaimana? Apakah ia akan diminta untuk membukakan bajunya?
“Ada apa?”
“Aku tidak bisa menarik resleting nya.”
“Baiklah ini tidak terlalu buruk,” ucap Arman pelan.
Ia pun masuk dan melihat Mira yang memang kesulitan menarik resleting belakang bajunya itu, Mira berbalik memperlihatkan punggungnya yang mulus dan bergores merah akibat cambukan tiga pria minggu lalu. Arman merasa geli melihat garis-garis merah yang membelah punggungnya. Menyentuh nya perlahan, meyakinkan apakah ini masih sakit atau tidak.
“Aauu.” Mira meringis pelan, ternyata luka itu masih menyakitinya.
“Maaf Mira aku tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa.”
Wanita itu meski sedang sekarat, aura kecantikannya masih saja keluar, tubuh belakangnya yang dilihat Arman memang luka tapi tetap menawan, terlebih ruangan sempit itu membuat jaraknya dengan Mira sangat dekat hingga ia bisa mencium aroma mawar dari tubuh Mira.
“Kau tidak pakai bra?” tanya Arman yang sudah lupa kalau wanita di depannya ini sedang sakit.
“Kenapa?”
“Tidak susah?”
“Tidak.”
Mata mereka bertemu, saling tatap dan memperhatikan satu sama lain “Terimakasih Arman.”
“Kau memang pantas diselamatkan. Ayo kita keluar.” Sambil menarik gagang pintu yang tertutup.
Mira mencegahnya, memegang lembut lengan pria itu “Jangan, masih ada perempuan di sana, nanti kita dikira sedang macam-macam.”
Arman menurut, tidak melanjutkan tindakannya membuka pintu, tapi tetap memegang tangan Mira.
“Kau cantik Mira.”
“Aku tahu.”
__ADS_1
“Bolehkah aku.. “
“Boleh.” Mata Mira langsung terpejam dan membiarkan tangannya memeluk Arman yang sudah menjatuhkanmu bibirnya pada bibir Mira. Mereka saling ******* dengan nikmat tanpa merasa malu karena baru kenal dan tanpa merasa segan meski sebagai dokter dan pasien, apalagi merasa aneh karena melakukan nya di toilet umum.