
“Kenapa Mira?”
“Apanya?”
“Kenapa kau mau jadi seorang ******?”
“Karena aku menyukainya.”
“Menyukainya? Maksudku kau suka dijamah banyak laki-laki? Ditiduri lalu di tinggal pergi? Apakah itu kesenangan?”
“Memangnya kau tidak merasakan kesenangan dari hal itu?”
“Aku menyukainya juga, tapi hanya untuk selingan, bukan untuk pekerjaan, apalagi bergantung dengan itu semua.”
Sore itu di belakang pekarangan rumah desa yang masih asri, menampilkan beberapa tumbuhan dengan buah berwarna ungu yang bergantung panjang seperti senjata pusaka milik pria berjejer rapi sudah merengek minta dipetik karena waktunya telah tiba. Mira dan Arman banyak berbincang tanpa saling bertatap apalagi saling bersentuhan, mereka hanya menyentuh teh hangat yang tersaji di atas meja bulat kecil di antara mereka.
“Kalau kau suka bercinta kenapa tidak nikah saja?”
“Bahkan nikah lebih rendah daripada menjadi pelacur.”
Arman melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kalau kau perempuan kau hanya diberi seperangkat alat sholat lalu dijadikan budak di rumah suamimu, dipakai sampai bertahun-tahun sampai suamimu bosan, atau dijadikan sebagai mesin beranak tanpa perlu perizinanmu, kalau tidak mau langsung minta kawin lagi dan yang lebih parahnya lagi kau akan dibuat bergantung dengannya.”
“Pikiranmu terlalu jauh Mira, ini sudah jaman modern.”
“Ah itu kau saja yang terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan lupa kalau Indonesia dari dulu masih saja begini, masih memperbudak perempuan.”
__ADS_1
“Kau terlalu berlebihan Mira.”
“Terserah, tapi aku wanita yang tidak mau dijadikan budak laki-laki, aku mau punya kuasa lebih atas tubuhku sendiri dan mau bebas tanpa memikirkan harga diri yang dibuat oleh masyarakat kita yang kolot.”
“Masyarakat itu mencakup dirimu juga Mira.”
“Kau sebenarnya bertanya untuk mendengarkanku atau hanya ingin menyerang argumentasi ku? Begitulah ketika perempuan bicara, tidak banyak yang tertarik untuk mendengar suaranya, hanya memperhatikan kemudian mencari argumen untuk kembali menyerang, karena katanya perempuan tidak sepintar laki-laki.”
“Kau mau kesetaraan ya Mira?”
“Tentu saja, kalian laki-laki bebas memilih dan pilihan luas, sedangkan perempuan hanya dikasih ranah untuk di salahkan. Kalau aku jadi seorang istri yang suaminya selingkuh pasti aku akan disalahkan karena tidak becus mengurus suami, lalu kalau aku jadi pelacur yang menerima tamu laki-laki dianggap penggoda, lihatlah laki-laki lah sebenarnya yang tidak pernah salah.”
“Mira aku ingin bertanya padamu.”
“Apa?”
“Maksudmu?”
“Kenapa kesetaraan itu tidak digencarkan saat pencarian kehidupan masih ketika melawan hewan buas? Kalian perempuan memang selalu ingin mudahnya saja.”
“Semua itu tentunya karena kami perempuan sejak dulu selalu mendapatkan informasi yang lebih sedikit dari pria karena biologis kami yang menyusui dan melahirkan. Kami perempuan jadi lebih mudah tersingkir karena kalian sudah belajar tentang politik serta kekuasaan saat kami masih sibuk menceboki benih ****** kalian.”
“Nah itulah, biologis kita yang memaksa kita untuk tidak setara Mira.”
“Sejak tadi aku tidak bicara tentang biologis Arman. Aku bicara stigma, kalau biologis memang semuanya dibuat laki-laki yang lebih hebat, itu sudah menjadi takdir Tuhan, itulah alasan para Nabi laki-laki, para pemimpin perang laki-laki, Yesus laki-laki, lebih banyak cerita bidadari yang untuk kaum adam daripada bidadara yang kami dengar, mungkin Tuhan juga laki-laki.”
Arman kembali melongo setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mira, beraninya ia bicara tentang Tuhan, apa ia tidak takut azab? Pikir Arman.
__ADS_1
“Aku tidak mau pusing dengan yang tidak bisa dirubah seperti hormon dan lainnya, aku dari tadi bicara stigma! Laki-laki yang banyak menjajah wanita, dikatakan keren, berkelas bahkan diabadikan dalam banyak cerita novel, tapi perempuan? Berganti pacar 5 kali saja sudah dianggap lacur.”
“Mira, kau seharusnya mengenal dikotomi kendali, aku heran kenapa perempuan banyak sekali keinginannya untuk mengatur masyarakat.”
“Bukan mengatur, tapi mengedukasi. Tapi siapa yang akan mendengar pelacur bicara? Mungkin kami harus berkumpul dengan para setan supaya mendapatkan dukungan.”
“Ya, jumpailah mereka di neraka Mira.”
“Kau percaya surga neraka Arman? Itu hanya cerita fiktif belaka..” Mira menggantungkan ucapannya karena Arman sudah melambaikan tangan tanda menyerah jika harus berdiskusi yang tidak jelas dengan Mira.
“Dasar laki-laki, seharusnya kita juga mendengar versi setan berbicara, supaya kesaksiannya benar-benar seimbang antara cerita Tuhan dan juga para setan!”
Ya Mira selalu mengucapkan kalimat yang ia dapat dari salah satu novel yang awalnya sangat menamparnya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang meminta izin kepada Tuhan untuk menjadi pelacur? Bukankah semua Tuhan itu tidak akan pernah mengizinkannya? Lalu untuk apa? Lagi pun ia tetap bisa jadi pelacur tanpa harus dapat izin dari Tuhan.
Lalu untuk apa? Pengalaman yang ditulis dalam novel itu benar-benar meyakinkan Mira bahwa yang dianggap paling kuasa memang tidak pernah ada, semuanya hanya cerita masa lalu dan dongeng-dongeng nenek moyang yang ditujukan untuk mengatur anak cucunya supaya mencapai tujuan hidupnya sendiri.
Perempuan yang menghabiskan 3 jam saja untuk menghabiskan novel itu memang sudah benar-benar meyakini keputusannya. Kalau dulu ia hanya mengaku sebagai semi atheis atau agnostik, kini ia benar-benar percaya bawah dirinya adalah atheis baru yang mungkin bisa jadi menetap atau juga bisa jadi berubah, karena Mira selalu membuka perubahan dalam hidupnya.
Malam itu tidak ada *******, Mira tidak selera dengan laki-laki meski tampan tapi sangat patriarki, juga di malam itu tidak ada teriakan seperti malam-malam sebelum ini, tidak ada rasa sakit dan juga air mata penyesalan mengutuki nasib yang menyedihkan.
Suara jangkrik malam itu lebih mendominasi, tidak ada percakapan yang berarti setelah sore itu Mira kehilangan gaya elegannya yang ia pertahankan dengan susah payah beberapa tahun terakhir.
Mak Cik berhasil mengambil satu karakter Mira yang jual mahal dan elegannya yang tertinggal dalam kamar neraka yang ia tempati beberapa hari itu. Saat ia keluar dari markas Mak Cik, Mira telah berubah menjadi Mira yang berbeda dari Mira sebelumnya. Mira yang lebih agresif, lebih grusah grusuh, dan perlahan aromanyapun kian berubah.
Pukul 3 pagi, Mira tak kunjung bisa memejamkan matanya, pun memejamkan harapannya, entah apa yang mengganggu pikirannya saat ini, ia hanya mampu memperhatikan sinar rembulan desa di balik jendela kamarnya yang sempit dan sendirian.
Hidupnya dalam sekejap kini telah berubah, Mira jauh dari kota yang terus mengagungkan nama dan aroma tubuhnya, saldo rekening dulu yang selalu membuncit entah di mana sekarang, pun pujian-pujian yang memekakkan telinganya tak lagi mampu ia temukan. Ia jauh dari semua itu, jaraknya membentang ribuan kilo meter memisahkan Mira dan kesenangan dunianya. Ia tak percaya jika ini adalah teguran Tuhan, toh Tuhan memang tidak ada, bahkan saat ia menyebutnya dengan sangat tulus memintanya mengeluarkan tubuhnya dari siksa dunia waktu itu, Tuhan tidak mendengar rintihannya, Tuhan tidak memberikan kekuatan baginya untuk berjuang sendiri, Tuhan sudah menghilang, barangkali takut kalau Mira menuntut kembalian dari kebaikannya yang tak pernah tampak pada manusia suci di bumi ini.
__ADS_1