
Perihal orang yang dicintai kadang buat gila, melakukan banyak cara supaya mendapatkan apa yang telah pikirannya katakan, padahal dengan mundur dan membuatnya tenang adalah yang terbaik, siapa tahu? Tidak ada.
Tapi cinta juga kadang menjadi sebaliknya, memberi kekuatan hingga melampaui batas yang biasa dilakukan seseorang.
“Kamu mau ke mana?”
“Ada urusan.”
“Aku ikut.”
“Aku mau ketemu Mira, Tuti. Mana mungkin kamu mau ikut.”
“Mira kan sedang bersenang-senang dengan banyak pria, untuk apa kamu datang? Lagian uang yang kamu berikan juga tidak ada apa-apa nya dengan uang lelaki di sana.”
“Kamu kan tau aku mencintainya Tuti.”
“Aku juga.”
“Maksud kamu?”
“Aku juga mencintaimu Joko.”
“Kau ini bicara apa Tuti? Akhir-akhir ini sering sekali bicara aneh.”
“Loh, istri bilang cinta kok dibilang aneh?” Astuti bergelayut di lengan kekar Joko, memainkan aksi manjanya seperti seekor kucing pada tuannya.
Joko menepisnya dengan wajah jijik dan heran. “Kamu kenapa sih? Gak jelas banget.”
Lalu pergi meninggalkan istrinya yang jujur. Ungkapan witing trisno jalaran suko kulino tampaknya sedang bertengger dibenak Astuti, ia mencabut sumpahnya yang tidak akan pernah mencintai Joko suaminya, entah karena pengkhianatan kekasih atau memang begitu cara cinta bekerja dalam rumah tangga.
Joko akhirnya sampai di rumah Mira untuk sekedar mencium aroma yang selama ini ia rindukan, mengelilingi setiap sudut tempat mereka biasa bercinta dan tertawa, kemudian menjatuhkan tubuhnya dalam kasur yang begitu banyak menyimpan aroma mawar khas Mira.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, pun begitu dengan mata Joko, apakah Mira sudah kembali? Pikirnya begitu bahagia saat itu sebelum batang hidung yang tidak asing menunjukkan siapa yang telah masuk.
Tatapan mereka bertemu, seperti tidak asing, Joko mengenali lelaki yang berdiri di depannya saat ini.
“Herman?”
“Joko, kenapa kamu di sini?”
“Seharusnya aku yang bertanya.”
“Ini apartemen kekasihku, apa yang kau lakukan?”
“Mira kekasihmu?”
“Ya tentu saja, memangnya kenapa?”
“Kau berkencan dengan pelacur?”
__ADS_1
“Dia bukan pelacur!”
“Tapi aku pernah memesannya.” Joko marah, menarik paksa kerah baju Herman dengan sangat kuat hampir membuat kancingnya lepas.
“Hei tenang Joko, aku bahkan hanya mencium keningnya,” ucap Herman sambil gemetar karena ia tahu tidak bisa berantam.
“Lalu untuk apa kau kemari?”
“Mengantarkan makanan yang dibuat istriku.” Herman mengangkat rantang yang dibawanya, berharap Joko percaya.
“Maksudmu apa? Kau bilang tadi pernah memesannya, sekarang kau bilang mengantar makanan dari istrimu?” Joko semakin menguatkan genggamannya pada baju Herman.
“Lepaskan tanganmu dan aku akan menceritakan hal yang terjadi diantara kami.” Joko menatap Herman dengan tajam dan mengintimidasi, namun tetap menuruti apa yang dikatakan Herman.
Dua lelaki yang pernah menempuh pendidikan yang sama di sebuah kota itu akhirnya bercerita banyak hal, tentang istri masing-masing, kekonyolan semasa kuliah dan tidak lupa kekaguman mereka akan wanita bernama Mira.
“Keripiknya sangat enak, favorit ku.”
“Aku suka semuanya tapi paling suka buah dadanya,” Joko menimpali.
“Kau tidak pernah berubah.”
“Yang wajib dirubah itu nasib bukan kebiasaan.”
“Kebiasaanmu akan menuntun bagaimana nasibmu Joko.”
“Kenapa harus kalah kalau bisa menang?”
“Baiklah terserah.”
“Lalu di mana Mira?” Pertanyaan yang membuat Joko sadar alasannya berada di sana.
Joko termangu, menatap kosong ke depan, entah apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk membantu Mira keluar dari nerakanya.
Herman menangkap tatapan khawatir Joko dan menawarkan bantuan, mereka banyak bicara setelah itu dan menjabat tangan setelah obrolan selesai. Tampaknya ada sebuah rencana yang datang di waktu yang tepat. Sejak dulu Herman memang tidak pernah kehilangan kecerdasan, pandai menganalisis kondisi dan situasi darurat seperti seorang sosiolog atau apalah orang menyebutnya, yang pasti bukan orang pintar karena tidak ada sangkut pautnya dengan kemenyan.
Herman harus pulang dengan segera, secepat pertemuan dan perbincangan mereka siang itu, karena harus mempersiapkan segala perlengkapan untuk rencana nanti malam bersama Joko.
Semua terjadi begitu cepat, waktu dan kehidupan berputar seperti detik pada jarum jam. Joko bersiap dengan pakaian yang ia tinggalkan di rumah Mira. Kaos hitam lengan pendek yang sangat disukai banyak wanita di luar sana, menampilkan lengan kekar dan bentuk dada yang cukup menonjol, membuat siapapun wanita ingin mengelusnya dan tidur di atasnya, ah Joko sangat percaya diri dengan ketampanannya. Ia memang tidak secerdas Herman tapi panasnya memang luar biasa.
Kulit eksotis Joko selalu jadi incaran, Mira juga pernah bilang ia menyukainya dengan sangat, tapi Mira juga tidak menyukai brewok Joko yang dianggap kotor dan tidak nyaman saat melakukan pertemuan bibir, sangat mengganggu seperti duri yang tidak tahu diri.
Berbeda dengan Mira, Astuti sangat suka brewok Joko, makanya ia tidak pernah bersih saat menyapu, membenarkan mitos itu supaya terjadi padanya meskipun hasilnya tetap saja nihil. Joko lebih sering nurut dengan Mira daripada Astuti. Semua dilakukan ya karena Astuti baru mencintainya seminggu ini, padahal Mira bahkan belum sepenuhnya mencintai Joko seperti yang dirasakan Joko padanya.
Sehabis isya, meski tidak sholat Joko berangkat ke tempat yang sudah dijanjikannya dengan Herman, melaju dengan motor trail berwarna hijaunya senada dengan rambut Mak Cik Pok namun 180 derajat lebih keren. Melewati sejuknya angin malam dan lalu lintas yang ramai tapi tidak macet.
Joko sampai dengan sambutan wajah Herman yang terlihat cerah, pakaiannya seperti CEO dari perusahaan ternama, tampangnya layak diacungi jempol karena sangat jauh berbeda dengan kerjaan aslinya yang tidak banyak menghasilkan uang apalagi dolar. Joko masuk ke dalam mobil menyusun rencana bersama Herman.
“Kau tidak boleh menyentuhnya.”
__ADS_1
“Tergantung situasi.”
“Maksudmu apa?” aura Joko tidak main-main.
“Loh, kalau ada yang curiga atau mengintip nanti bagaimana? Aku kan terpaksa harus membuatnya mendesah supaya meyakinkan,” ucap Herman mantab.
“Kau jangan mempermainkanku Herman.”
“Tenang saja aku juga menyayangkan Mira berada di sana karena paksaan.”
“Aku percaya padamu.”
“Sudah seharusnya.”
Herman keluar dari mobil dengan gaya seorang milyarder, berjalan dengan sombong padahal uang yang akan dibayarkan adalah uang Joko hasil menjual tanah di Bogor warisan orang tuanya.
“Permisi Nona, saya butuh pelayan untuk malam ini.”
“Kami punya banyak di sini Tuan, pukul sepuluh masih terlalu dini untuk memesan gadis.”
“Memangnya masih ada gadis di sini?” ucap Herman sambil menggoda nona di depan mejanya.
“Kalau gadis secara KTP semuanya gadis Tuan.”
“Kalau yang masih rapat?”
“Kami selalu memberikan pelayanan terbaik Tuan, setiap seminggu sekali para pelayan akan melakukan treatment peremajaan, dan setiap bulan ada pemeriksaan atau tes kesehatan seksual Tuan, tidak perlu khawatir.”
Omong kosong apa ini? Di Indonesia ada tempat hiburan malam dengan dagangan para wanita dengan fasilitas seperti yang disebutkan? **** itu hanyalah mitos! Tidak akan pernah ada pelayanan seperti di Jerman untuk pekerja **** di Indonesia. Kalaupun benar ada, mana mungkin anak usia di bawah umur dan wanita yang dipaksa seperti Mira bekerja di sini. Itu hanyalah mulut manis pekerja yang ingin naik gajinya.
“Baiklah saya ingin ditemani dengan yang namanya Mira.”
“Pilihan yang sangat tepat, ia primadona di sini Tuan. Tapi maaf ia sudah dipesan oleh seseorang.”
“Siapa?”
“Maaf kami tidak bisa memberi tahu Tuan.”
“Baiklah. Jadi kapan ia kosong?”
“Pagi nanti sekitar jam 3”
“Hei kalian hampir tutup.”
“Carilah pelayan lainnya Tuan, semuanya tak kalah cantik dengan Mira.”
“Saya hanya mau Mira.”
“Kalau begitu silahkan datang lagi besok."
__ADS_1