
Di tempat yang berbeda, Joko sedang uring-uringan melihat kelakuan Herman yang katanya lebih pintar darinya malah membawa Mira entah kemana bersama rencananya.
“Gara-gara kau Herman, kita jadi kehilangan Mira!”
“Aku juga gak tau kalau kejadiannya bakal begini.”
Herman berdecak pinggang kesana kemari memikirkan kemana kemungkinan Mira dibawa oleh temannya yang bangsat itu. Joko juga sedari tadi tidak melepaskan jari telunjuk dan jempolnya dari keningnya dan terus dipijat supaya bisa berpikir jernih untuk menemukan tambatan hatinya itu.
Pintu yang sudah di ketuk berkali-kali tidak digubris oleh dua lelaki yang tengah sibuk memikirkan ke mana perginya Mira bersama dokter abal-abal itu, hingga pintunya rusak akibat tendangan pria kekar dengan nenek tua di belakangnya.
“Sudah kuduga, kalian berdua pastilah sedang di sini menyembunyikan bidadariku. Di mana Mira!”
“Dasar wanita tua gila! Bicara sesuka hatimu, kau pikir aku tau di mana Mira? Aku tidak bodoh menyembunyikan Mira di sini.” Herman pun tak kalah hebat mengamuk memperlihatkan bahwa ia tidak selemah yang mereka pikirkan, meskipun ia memang tidak bisa berkelahi.
Mak Cik menatap dua pemuda itu dengan tatapan tajam yang mengintimidasi, ia tidak bisa percaya begitu saja dengan musuh dalam selimut yang baru ia ketahui pagi tadi.
“Periksa semua ruangan!” Perintahnya pada semua pengawalnya.
“Cari saja sampai mati, kalian tidak akan menemukannya di sini.” Joko angkat bicara.
“Bedebah, kau bawa ke mana Mira hah? Katakan atau nyawamu cuma sampai hari ini saja.”
“Kau sudah mencari berbagai cara untuk menemukannya bukan? Sampai akhirnya kau di sini, dan apa yang kau temukan? Aku juga mencarinya!”
“Awas saja kalau kau berbohong! mati kau dan juga kau, tak kan kuberi ampun!” sambil menunjuk-nunjuk Joko dan Herman bergantian menampilkan kuasa dan juga amarahnya.
Mak Cik akhirnya meninggalkan dua lelaki yang sudah buntu itu, mereka benar-benar tidak menemukan sedikit pun jejak Mira di sana, Mak Cik frustasi esok adalah hari yang paling ditunggu nya, ia sudah menantikan mandi di dalam bak berisi uang-uang berwarna merah yang harum mawar keringat dari jerih payahnya dan juga Mira. Tapi semua itu hanyalah mimpi, esok ia akan bangun dan merasakan makian dan kehinaan yang sangat dalam karena Mira tidak bisa ditemukan. Mungkin Mak Cik tidak akan bisa tidur sebelum Mira ditemukan.
Joko dan Herman kembali dengan kepusingannya dalam menyusun rencana untuk menemukan Mira sebelum Mak Cik yang akan mendapatkannya. Joko beradu mulut dengan Herman, ia tak lagi percaya rencananya yang malah semakin memperkeruh permasalahan yang ada. Kali ini Herman yang menurut, mengakui kesalahan dan kecerobohannya sehingga Mira dibawa kabur oleh teman yang ternyata punya maksud lain dengan Mira.
Mobil yang terparkir akhirnya berjalan meninggalkan apartemen, menelusuri jalanan ibukota dengan dua lelaki di dalamnya, tanpa suara tanya dan juga basa basi.
__ADS_1
Mobil terus melaju, entah benar atau tidak arahnya mereka akan selalu mencoba setiap kemungkinan yang melintas di pemikiran mereka, barangkali Mira lewat jalan ini, melihat kampung halaman Arman yang jauh dari ibukota sangat cocok dijadikan sebagai tempat persembunyian, semoga benar demikian Mira ada di tempat yang mereka perkirakan.
Joko yang duduk di samping supir sudah menghabiskan beberapa putung rokok akibat frustasinya karena lama tak bercinta, maksudnya lama yang bertemu sang kekasih yang banyak diminati orang itu.
Joko hendak memejamkan matanya tak kuat menahan kantuk akibat suasana yang sepi tanpa suara radio atau playlist lagu kesukaan yang biasa diputar Mira saat mereka tengah jalan berdua, lebih baik tidur daripada terlalu banyak mengenang pikirnya. Sebelum akhirnya suara telfon mengurung niatnya untuk memejamkan mata.
“Ada apa?”
“Riska sakit.”
“Bagaimana bisa? Kau kan tahu harus bagaimana kalau anakmu sakit, kenapa malah memberitahu ku?”
“Kurasa kau yang sakit Joko! Anakmu sakit bukannya lekas pulang malah bertanya yang tidak-tidak. Dia ini rindu kamu bapaknya!”
“Kau sepertinya sedang berasalan ya Tuti supaya aku tidak mencari Mira.”
“Persetan dengan pelacur itu! aku bahkan berdoa kalau dia sudah mati ditabrak truk jalanan. Pulang sekarang atau kau akan kehilangan putrimu!” Telfon pun ditutup sebelah pihak oleh istri Joko tanpa sopan maupun santun.
“Umpatanmu jelek sekali Joko,” Herman tertawa pelan, lalu menutup mulutnya setelah disambut dengan tatapan membunuh dari Joko.
“Palingan anakku hanya demam, kenapa Tuti hadis repot sekali menyuruhku pulang.”
“Barangkali ia merindukanmu Joko, kau sudah beberapa hari tidak pulang.”
“Lalu istrimu? Kok tidak mencarimu? Tidak rindu? Tidak cinta?”
“Dia wanita karir Joko, ia tahu kesibukan ku yang kurang lebih sama dengan kesibukannya.”
“Ah andai aku bisa cerai, pusing sekali punya istri cerewet.”
“Lebih pusing tidak punya istri Joko, jadi sering main sendiri.” Hahaha Herman tertawa keras, seolah-olah ucapannya sangat lucu dan pantas ditertawakan di depan Joko yang sedang semringut memikirkan hidupnya yang kian tak tentu arah.
__ADS_1
“Pulang sana Joko, aku bisa berhenti jika kau mau, kasihan putrimu kalau benar ia sakit dan rindu padamu bagaimana? Nanti kau menyesal.”
“Tapi ini sudah jauh, mana ada taksi lewat.”
“Kau ini memang bodoh Joko, gunakan ponsel pintar mu, jadilah pintar sepertinya.”
“Bacot mulutmu lama-lama seperti perempuan.”
“Seksis terus, kuadukan Mira baru tahu rasa kau Joko.”
Joko diam, pun dengan Herman, mereka menepi setelah Joko mendapatkan apa yang ia butuhkan, hingga setengah jam mereka menunggu, akhirnya uang menjemput datang juga.
“Kau jalan lah duluan, nanti share lokasinya, aku akan segera menyusul.”
“Oke bos, salam buat Astuti ya, semoga putrimu lekas sembuh.”
Joko tidak menjawab dan hanya mengacungkan jari tengahnya, jengah dengan ocehan Herman yang sok manis membuatnya jijik lama-lama berdekatan dengan teman lamanya itu.
Joko berpindah mobil, merebahkan tubuhnya di kursi belakang, kemudian melanjutkan menutup matanya yang sempat tertunda, ia tertidur sangat lelap, sampai terjatuh dari duduknya yang baru lima belas menit. Ia merindukan punggung Mira dan memimpikan kebersamaan mereka di tempat yang sangat indah bak surga yang selalu diinginkan orang-orang beragama.
Herman yang juga merasakan lelah, melihat kanan dan kirinya untuk mencari SPBU, bukan ingin mengisi bahan bakar, tapi ia ingin numpang istirahat, seperti magnet Herman juga tak lama ikut tertidur pulas dan memimpikan Mira, seperti yang Joko mimpikan. Mimpi berada dalam sebuah tempat yang nyaman, lalu mereka bercinta hingga lelah.
Aroma tubuh Mira tercium hingga ruangan sebelah, Mira yang selesai mandi selalu mengeluarkan aroma yang sangat nikmat untuk dicicipi dengan birahi, ia seharusnya bisa mengontrol aromanya itu, supaya para lelaki juga tahu waktu untuk bercinta.
Sejak pertama tiba di rumah sederhana itu, Arman belum pernah mencicipi tubuh Mira lebih jauh lagi dari hanya sekedar bibir, ia ingin tapi enggan memintanya langsung, ia selalu menahan birahinya karena tahu Mira sedang datang bulan. Tamu yang paling di benci laki-laki di seluruh dunia tanpa terkecuali, barangkali penyuka sesama jenis dari jenis pria yang tidak akan merasa terganggu dengan tamu tiap bulan itu.
Tamu yang tidak pernah absen dari bulanan wanita kecuali saat rahim mereka ada penghuninya itu selain dibenci pria juga dibenci malaikat dan Tuhan, mereka akan melarang wanita masuk ke dalam tempat ibadah, takut kotor katanya padahal jaman sudah banyak yang menjual diterjemahkan ataupun sabun untuk membersihkannya, tapi para petinggi agama masih takut mempersilahkan wanita datang bulan memasuki area suci itu.
Entah bagaimana caranya Tuhan mencintai makhluk yang katanya terbuat dari tulang rusuk bengkok ini, memberikan jeda untuk tidak menyembahnya, padahal Tuhan sangat suka disembah dan dipuji-puji, tapi para wanita dikecualikan setiap bulannya, apakah ini rasa benci atau cinta, tidak ada yang tahu kecuali Tuhan. Wanita-wanita yang berdarah tidak boleh disentuh laki-laki, padahal kalaupun boleh mereka juga tidak akan senang dengan benda cair berwarna merah berada di tengah-tengah percintaan gila dua anak manusia.
Mira yang mengatakannya pada Arman saat Arman sedang berada pada puncak keinginannya pada Mira, ia juga sepertinya merasa jijik dengan darah kental berbau amis itu, ia ingin sekali membuat darahnya berhenti dalam jangka waktu sembilan bulan, tapi Mira tidak mau, katanya anak itu hanya bikin repot saja, Mira sampai saat ini masih dalam prinsipnya untuk hidup tua di panti jompo, seperti yang dikatakannya pada Herman beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Arman mati-matian menahan miliknya yang tidak tahu diri itu, kadang-kadang Arman sengaja pergi menjauh dari Mira untuk menghindari keinginan bodohnya itu, melupakan sejenak tentang kenikmatan dunia dengan menyibukkan diri bersama para tetangga di pos ronda yang tidak jauh dari rumah yang mereka tempati.