
Mira dan Dokter Arman melaju dengan kecepatan yang luar biasa menjauh dari neraka itu, sangat jauh hampir mendekati surga. Sebuah pedesaan yang asri, dengan bermacam-macam kebun masyarakat yang menyejukkan mata dan aman bagi setiap telinga yang mendengarnya.
Mereka tidak lagi menggunakan mobil yang sama dengan sebelumnya, meninggalkan ponsel dan segala atribut yang menempel pada tubuh mereka, dan mengatur rencana ke depan yang lebih gemilang, menurut Arman.
“Di mana Herman? Kita akan ke rumahnya?”
“Untuk apa Mira?”
Mira bingung dengan ucapan yang baru saja ia dengar, maksudnya mereka akan pergi ke mana? Bukankah Dokter Arman adalah suruhan Herman untuk menyelamatkannya?
“Mira, ternyata kau lebih cantik dari rumor yang beredar selama ini.”
Mira melipat dahinya berusaha mencerna arah pembicaraan Dokter Arman.
“Aku sudah lama mencarimu Mira, kau selalu saja menolak ajakanku, lima kali. Kau bayangkan saja bagaimana rasanya ditolak lima kali dan tiba-tiba tanpa rencana kita sudah saling mencium satu sama lain.”
“Aku menolakmu? Mana mungkin, jangan mengarang,” elak Mira.
“Sungguh Mira, aku sering memintamu untuk menemaniku tapi tidak pernah satupun aku mendapatkan persetujuan, tadinya setelah aku tau kau di tempat Mak Cik aku ingin memesan mu, tapi urung saat kutau kondisimu dari Herman.”
“Lalu mana satu yang menjadi alasanmu menolongku?”
“Kenapa harus memilih salah satu? Karena hasratku dan juga kondisimu menambah keyakinanku untuk membantu Herman, padahal aku sudah cukup sering membantunya saat kalah judi.”
“Terimakasih untuk itu Arman. Lalu kemana kita akan menuju sekarang?”
“Ke tempat yang tidak seorang pun tahu.”
“Termasuk Herman?”
Arman mengangguk. Mira curiga, apakah setelah keluar dari lubang buaya ia akan masuk lagi ke lubang singa? Mira hanya menarik nafasnya dalam, berharap ke depannya lebih baik.
“Kau lapar Mira? Kalau kau mau kita bisa makan di depan, ada warung pecel lele langgananku di sana. Kau pasti suka.”
“Tentu saja.”
Tak lama setelah memarkirkan mobil dan memesan makanan yang cukup banyak, mereka kembali bercakap-cakap dan sesekali menatap. Arman benar-benar terpukau dengan Mira, meski beberapa lebam masih belum lenyap dari tubuhnya, ia tetap elegan dan seksi.
“Mira kau tahu? Aku sampai harus mencukur brewokku untuk menolongmu.”
“Apa hubungannya?”
“Ya aku harus terlihat mirip dengan almarhum saudaraku.”
Mira menatap Arman tidak mengerti.
“Aku bukan dokter Mira, saudara kembarku yang dokter, tapi ia sudah meninggal dua hari yang lalu akibat kecelakaan, lalu aku dan Herman menyusun rencana untuk berpura-pura menjadi dia karena kematian saudaraku belum banyak diketahui oleh orang lain.”
Mira menyimak dengan antusias penjelasan dari Arman yang tidak lagi menjadi dokter, mungkin lebih tepatnya tidak pernah menjadi dokter.
__ADS_1
“Lalu mengapa kau? Bukannya Mak Cik punya dokter pribadi sendiri ya?”
“Entahlah aku juga tidak tahu, malam itu saat aku dan Herman masih menyusun rencana untuk membebaskanmu, paman menelfonku ia seperti ketakutan, kurasa bipolar nya sedang kambuh, dia bilang malaikat Malik akan menjemput nya untuk meminta pertolongan.”
“Bukankah malaikat itu bukan penjabut nyawa? Kenapa harus takut? Lagian siapa yang ia maksud sebenarnya?”
“Penjaga neraka lebih mengerikan daripada pencabut nyawa Mira. Malaikat itu adalah Mak Cik.”
“Lalu kenapa harus takut?” Mira memasukkan kepala lele untuk digerogoti olehnya, seperti kelaparan karena tidak diberi makan sebulan.
“Ya namanya dunia hitam Mira, tidak semua manusia menikmatinya, meskipun banyak kepuasan dan materi aku melihat paman sepertinya memiliki sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Barangkali sepertimu Mira, kau itu suka bercinta tapi tidak ingin ada keterikatan dengan yang namanya mucikari, padahal dua-duanya sama saja gelap.”
“Memangnya kau tidak melihat perbedaannya?” Mira menunjukkan wajahnya yang sedikit lebam akibat siksa kubur yang dirasakannya sebelum meninggal.
“Itu karena kau memberontak padanya kan? Bukankah sebenarnya ia sudah menawarkanmu dengan baik sebelum ini?”
“Sekarang aku yakin kau bukan dokter Arman, kau bodoh.”
Arman membulatkan matanya, terkaget dengan ucapan dari lawan bicaranya yang tak habis-habis menggerogoti kepala ikan lele itu.
“Kau bodoh, bisakah kau lihat penampilanku saat bersama Mak Cik dan sebelum ini? Ya aku memang masih sama saja menjadi pelacur, tapi aku menjadi pelacur yang kaya, bebas dan kuasa, bukan menjadi budak ****. Kau bisa melihat bahwa aku yang bekerja sebagai pelacur bahkan tidak menikmati kegiatan bercinta selama ini.”
“Aku paham Mira.”
“Ya karena seharusnya hubungan **** itu dilakukan oleh dua manusia, adam dan Hawa bukan ditambah dengan Siti atau Jubaedah.”
“Tapi kan jaringan mu akan semakin luas Mira, ada yang mengurus mu juga kalau-kalau ada harus diurus.”
“Baiklah aku mengerti.”
“Kau tahu Arman kenapa aku tidak pernah menerima pesananmu? Padahal kau cukup tampan.”
“Karena Dewi Fortuna tidak pernah berpihak padaku.”
“Bukan itu, karena kau brewokan. Aku tidak suka.”
“Padahal wanita lain mengejarku karena itu, bagaimana mungkin kau malah tidak suka?”
“Jijik Arman, menusuk-nusuk saat bercumbu. Aku tidak nyaman.”
“Berarti meskipun di toilet umum tadi kau tetap merasa nyaman?”
“Anggap saja begitu.”
“Baiklah karena kita sudah selesai makan, kau mau akhirnya antarkan ke mana dulu? Rumah sakit? Atau belanja?”
“Tidak perlu ke rumah sakit, aku sudah cukup baik, Mak Cik sudah mengobatiku dengan baik kemarin, dan kita juga tidak perlu belanja, aku tidak punya uang.”
“Jangan risaukan biayanya, aku akan mengurus itu semua, meski bukan dokter sungguhan aku tetap kaya Mira.”
__ADS_1
“Baiklah terserah mu saja.”
Mereka pun akhirnya membeli beberapa pakaian, peralatan mandi dan kebutuhan lainnya yang dikira perlu.
“Kenapa wajahmu murung Mira?”
“Kupikir kita akan belanja di Mall.”
“Ini juga Mall Mira.”
“Ini namanya pasar bukan Mall,” bantah Mira.
“Ini Mall nya orang kampung Mira, sesekali kau harus merasakan nikmatnya belanja murah dengan bisa menawar.”
“Katanya kau kaya, tapi kenapa harus pakai menawar? Tawaran mu juga gila Arman.”
“Kita harus bisa mencoba banyak hal dan memposisikan diri Mira. Kalau kita berbelanja di tempat biasanya, kemungkinan besar keberadaan kita akan segera diketahui Mak Cik, kau lupa? Dan tempat kita sekarang kau tidak lihat? Ini jauh dari kota Mira.”
“Ya aku tahu, tapi setidaknya kau tidak perlu pamer akan membelanjakanku dan bilang kau itu kaya.”
“Sudahlah Mira, jangan banyak protes, yang terpenting sekarang kita aman. Aman diperut, di dompet dan juga aman dari Mak Cik gila itu.”
Setelah berbelanja mereka melanjutkan perjalanan, hari sudah tidak lagi menampakkan mentari, jalanan mulai gelap dan sepi, lebih sepi dari kuburan hanya mendengar suara jangkrik dan kodok besar tidak ada suara hantu yang menakutkan, mungkin sebenarnya mereka memang tidak ada.
Arman menepikan mobilnya, ia letih seharian menyetir dan Mira sudah memejamkan matanya sejam yang lalu.
Arman menepiskan anak rambut ke belakang telinga Mira, menatapnya intens dari atas hingga bawah.
Meskipun tidak ada yang terbuka, aroma mawar dari tubuh Mira ini terus mengganggu pikiran Arman untuk tetap jernih dan fokus menyetir.
Ia menurunkan tangannya menuju pipi Mira yang kemerah-merahan, menyentuh hidungnya dan terakhir pada bibirnya yang merah ranum. Sudah sejak tadi ia menginginkan bibir ini dan...
Cup
Arman menciumnya dengan perlahan, tidak ingin Mira terbangun atas tindakan jahilnya itu.
Tapi tidak berhasil, Mira yang mulai merasakan benda kenyal di bibirnya itu mulai membuka matanya, memperhatikan wajah yang penuh nafsu di hadapannya. Mira hanya diam membiarkan lelaki ini terus menjamah tubuhnya, ya saat ini tangan kekar itu sudah berada di dada Mira, tidak meremasnya tapi cukup membuat Mira terangsang.
Mira membalas ciuman itu dan membuat Arman terkejut dan kembali pada tempat duduk nya.
“Kenapa berhenti?”
“Maaf aku mengganggu tidurmu.”
Mira tidak menjawab, melepaskan sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya.
“Maaf Mira, aku tidak bermaksud untuk itu, kau jangan pergi,” ucap Arman sambil menarik tangan Mira supaya tidak keluar dari mobil.
“Di belakang saja, lebih luas.”
__ADS_1
Dengan tatapan sedikit tidak percaya, Arman mengerti maksud Mira dan segera menyusulnya ke bangku belakang untuk membuat mobil mereka bergoyang di pinggir jalan.