Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Perbincangan dengan Herman


__ADS_3

Aroma mawar masih mengusik indra penciuman penghuni rumah, kali ini bukan berasal dari semprotan minyak wangi, tapi dari beberapa kelopak bunga yang sengaja di gugurkan, kemudian di cuci bersih dan terakhir diberikan air untuk direbus bersama. Panci tempat merebus air bunga mawar tidak di tutup, membiarkan uapnya beterbangan liar di udara, aromanya sungguh nikmat saat pagi hari seperti ini. Tidak butuh waktu yang lama, teh bunga mawar berwarna merah muda sudah siap untuk disajikan.


Teh pagi hari yang tidak pernah Mira lewatkan, kecuali saat ia tidur di hotel, tidak ada menu teh mawar di sana, hanya ada kopi pahit yang nikmat.


Mira menyilangkan kakinya, duduk menghadap keramaian Jakarta pada pagi hari dengan teh mawar di tangannya. Ia hanya mengenakan pakaian tidur yang transparan, menampilkan apa yang banyak dikhayalkan laki-laki mesum. Rambutnya terurai hingga di atas pantat, ia suka rambut panjang, karena laki-laki juga menyukainya, diberinya warna sedikit jingga pada bagian dalam, supaya Mira bisa terlihat lebih muda dari usia aslinya.


Saat tehnya telah tandas, ia beralih dengan pekerjaan lain yang sangat sulit dilakukan sebagian orang, mencabut bulu ketek. Biarpun teknologi semakin maju, perawatan tubuh banyak ditemukan disetiap sudut kota, Mira selalu mencabut bulu keteknya sendiri. Rasanya beda sekali, kepuasan yang didapatkan sama seperti saat melihat tumpukan komedo keluar dari dalam hidung, jijik tapi menyenangkan. Itulah satu rahasia kecantikan yang dilakukan Mira. Beberapa kali terasa sakit, namun melihat rambut-rambut kecil yang keriting sangat menyenangkan.


Rambut-rambut kecil itu diletakkan di atas secarik kertas yang ditulis bacotan mahal, mereka menyebutnya puisi. Mira suka puisi tapi lebih suka cerpen, dua tulisan yang sama-sama singkat dan bermakna, Mira suka yang jelas maknanya, tidak menipu seperti puisi. Itu karena Mira selalu salah mengartikan puisi bapak Sapardi yang sudah lama mati.


Lupakan tentang bulu ketek, di ponselnya Mira menerima beberapa panggilan. Pertama dari Joko, kekasih simpanan yang mengurangi jatah bulanannya, kedua Arman, lelaki baru yang tampan, sisanya orang baru. Beberapa nama ia kenal, seperti yang dibaca dalam sebuah koran pagi ini, nama itu disebut-sebut telah menyumbangkan sebagian hartanya untuk kegiatan amal di pelosok negeri yang gelap, tidak ada listrik di sana dan tidak lupa pula dengan gambar wajahnya yang sedang diwawancarai reporter berita memberikan penjelasan.


Mungkin lelaki ini sudah lelah dengan uang yang sangat banyak, makanya ia memberikan pada yang membutuhkan seperti Mira. Mira tertarik dengan namanya, juga dengan wajah yang sudah masuk koran itu, ia menerima panggilannya dan menentukan di hotel mana mereka akan eksekusi.


“Mira apa kau mau punya anak?” Pertanyaan yang menyambar seperti petir di siang hari, pesan pelacur tapi malah diajak diskusi.


Namanya Herman Setiawan, itu hanya nama tidak berhubungan dengan kepribadian atau pilihan hidup seseorang, pun begitu dengan pemilik nama seperti Bagus dan Ayu.


“Kenapa bertanya?”


“Ingin tahu saja, banyak berita tentang childfree akhir-akhir ini.”


“Kau terlalu mengikuti dunia maya.”


“Jawablah Mira aku menunggunya.”


“Kalau ingin punya anak maka aku akan menikah, bukan datang ke hotel dengan pakaian menggoda.”


“Tapi kau kan perempuan Mira.”


“Lalu?”


“Rahimmu menganggur.”


“Jadi maksudmu, seharusnya aku mempergunakannya?”


“Ya bukankah harus begitu?” Lelaki itu menawarkan rokoknya pada Mira, mengobrol sebentar sebelum eksekusi.


“Apa tujuanmu memesanku untuk punya anak?”


“Tentu tidak Mira, aku tidak mau anakku tidak bisa daftar SD.”


“Nah begitu juga denganku dan beberapa orang. *** bukan hanya sekedar peleburan semesta antara yang dicintai dan yang mencintai, tapi juga yang saling membutuhkan. *** bukan hanya soal buat anak, buat nikmat tapi juga buat bahagia dan buat hidup.” Lelaki itu menatap Mira minta penjelasan lebih panjang.


“Entah kenapa mereka menuntut supaya *** harus menghasilkan janin.”


“Ya supaya tuamu ada yang mengurusi Mira.”


“Mungkin anakku akan mati duluan sebelum sempat mengurus masa tuaku.”


“Tinggal buat lagi.”


“Malas bertaruh nyawa, disambungnya saja dengan keringat susah payah mau mati.”


“Lalu tuamu bagaimana?”


“Memakai jasa panti jompo.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Supaya panti jompo nya tidak sia-sia seperti rahim beberapa wanita.”


Lelaki itu tidak lekas membuka pakaiannya, ia masih membakar rokoknya untuk ketiga kalinya. Sudah hampir sejam mereka berdua duduk dan bicara, sesekali saling tatap tapi tidak bersentuhan.


“Kenapa kau tidak mau punya anak Mira?”


“Kau masih saja penasaran.”


“Jawablah saja.”


“Apakah perempuan sepertiku pantas punya anak?”


“Kenapa tidak? Kau bukan transpuan kan?”


“Tentu saja aku original,” Mira melotot, seperti nya ia tersinggung diragukan kewanitaannya “Dunia ini kejam, kasihan nanti kalau anakku tidak kuat.”


“Ah kalau dibiasakan kejam sejak dini, mereka akan terbiasa.”


Seketika Mira ingat bagaimana Lastri memperlakukan janinnya, katanya janin itu sudah keluar dua hari yang lalu, lebih cepat dari perkiraan. Keluarnya dua tapi meninggal satu, mungkin yang mati tahu, lebih baik sekarang daripada merasakan dunia yang sangat kejam.


“Kalau kau, kenapa mau punya anak?”


“Hartaku banyak, bingung mau kasih kesiapa.”


“Bagikan saja ke ujung negeri yang masih gelap.”


Herman, nama lelaki yang memesan Mira untuk bercerita soal anak itu tidak pernah jadi melepaskan pakaiannya, ia malu katanya.


“Orang tua selalu punya harapan untuk anaknya, aku tidak mau.”


“Harapan mengangkat derajat yang tidak bisa mereka bangun sendiri, harapan menggapai cita-cita yang gagal mereka raih dan juga pelayanan yang tidak pernah mereka dapatkan di masa lalu.”


“Itu namanya balas budi Mira, bukan pelayanan.”


“Mereka tidak minta dilahirkan, kenapa harus bertanggung jawab atas nama baik keluarga?”


Herman berpikir sejenak “Mereka merawatnya Mira, wajar saja jika harus berbakti.”


“Mereka tidak minta dilahirkan Herman.”


“Tapi punya anak lucu Mira.”


“Kau tidak melihat tai nya Herman.”


“Aku bisa pakaikan popoknya.”


“Tetap saja tidak lihat tai nya.”


“Mira bisakah kita bertemu lagi lain waktu?” Sepertinya pertemuan mereka akan segera usai meski tanpa bersentuhan.


“Kau belum membayarku.”


“Aku tidak bawa uang cash.”


“Kau belum menyentuhku.”

__ADS_1


“Aku punya istri Mira.”


“Lalu kenapa memesanku?”


“Dia sedang bunting besar.”


“Lalu bertemu untuk apa? Aku bekerja untuk disentuh.”


“Menjawab pertanyaanku.”


Herman akhirnya pergi dengan mencium kening Mira, seperti sepasang kekasih, Mira merasa aneh dengan pelanggannya yang satu ini. Entah apa yang membuatnya ingin curhat dengan seorang wanita panggilan seperti Mira. Biarlah saja, yang terpenting jumlah saldo Mira bertambah angka nol nya.


Mira pulang dengan mendapatkan seorang lelaki di dalam apartemennya, lelaki itu sedang menciumi bulu ketek keriting milik Mira yang diletakkannya di atas meja sebelah tempat tidur Mira.


“Kau gila Joko.”


“Aromanya wangi Mira, boleh aku merebusnya?”


“Kau tidak akan jadi kaya dengan itu Joko.”


“Kalau tampan bisa?”


Mira menggeleng.


“Setidaknya seperti laki-laki di dalam koran ini Mira.”


“Lelaki itu kaya.”


“Apa karena uang kau berpaling dariku Mira?”


“Aku hanya bekerja Joko.”


“Sudah kukatakan semuanya akan aku tanggung Mira, kau tunggu di sini dan berias.”


“Kau marah Joko?”


“Jelas aku marah, kau wanitaku Mira, bagaimana mungkin di belakangku kau masih menjajakan tubuhmu? Kalau kurang bulananmu, katakan Mira, aku tidak suka dikhianati!”


“Bicaramu seperti seorang setia saja Joko.”


“Tapi kau sudah janji akan jadi simpananku Mira, aku tidak sudi tubuhmu diciumi laki-laki lain Mira!”


“Kau Joko, sudah punya istri, tapi marah dengan pekerjaanku.”


“Tapi kau sudah janji Mira, kau tahu aku dengan Astuti tidak saling mencintai, kami bersama karena saling butuh saja. Dia butuh uangku aku butuh supaya tahtaku tidak diusik Mira. Kita sudah bicara ini Mira.”


“Lalu aku tidak bisa saling menguntungkan dengan orang lain?”


“Mira,” Joko memeluknya dari belakang, menciumi bahu Mira. Joko sudah jatuh hati dengan aroma mawar Mira yang menggoda “Aku mencintaimu Mira, jangan tidur dengan laki-laki lain, ku mohon.”


“Kau curang Joko.”


“Aku tidak mungkin cerai, bisa hancur karirku Mira.”


Mira hanya diam, ia tidak peduli dengan perasaan yang harus dibalas itu. Hati punya pemiliknya sendiri, seharusnya tidak menuntut orang lain untuk bertanggungjawab atas perasaan yang timbul.


Mira benar, dalam posisi perselingkuhan bukan hanya wanita yang salah, bagaimana bisa menahan rasa cemburu pada laki-laki yang katanya akan setia? Dan perasaan itu masih harus ditemani dengan label pelakor. Tapi siapa peduli? Mira tidak pernah datang pada lelaki manapun, ia selalu dicari.

__ADS_1


Mira tidak peduli dengan omongan Joko, ia akan tetap menemui laki-laki yang menghubunginya.


__ADS_2