Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Lanjutan


__ADS_3

“Mira, mari ku perlihatkan surga dunia yang sesungguhnya.” Pagi hari setelah mereka sarapan, Arman menuntun Mira melihat perkebunan di desa.


“Surga itu tidak ada Arman.”


“Lalu kalimat apa yang bisa kau ucapkan saat menemukan tempat yang sangat indah?”


“Ya semua tempat kan ada namanya Arman. Kau bisa menyebutnya air terjun, taman bunga, pepohonan rindang. Surga yang katanya paling indah juga isinya seperti itu, paling-paling ditambah dengan pohon kurma dan anggur.”


Arman menaikkan alisnya sebelah melihat Mira yang dengan mudahnya mengucapkan semua kalimatnya barusan.


“Ah lupa satu lagi, kata dongeng itu surga juga diisi dengan keindahan kami para wanita yang mereka sebut dengan bidadari, dan kau bisa melihatku tanpa harus mati dan masuk surga.”


“Ada juga bidadara Mira.”


“Sudah berapa kali kubilang Arman, semua kenikmatan itu hanya untuk laki-laki, kau bahkan bisa menghitung berapa kali mendengar kata bidadara itu daripada bidadari kan? Sama aku juga.”


“Ah sudahlah kau suka sekali berdebat tentang feminis denganku, ayo jalan saja, nanti keburu panas.”


“Kau harus terbiasa dengan panas dunia karena kau akan masuk neraka Arman.”


Arman terus berjalan memimpin perjalanan mereka tanpa menghiraukan Mira yang terus berceloteh tentang hidupnya.


Jalanan yang masih pagi itu membuat mata mereka melebar sampai ke ujung, menatap jauh ke sekitar mereka, pandangan mereka kuas tak seperti saat di kota yang terhadang polusi dan gedung-gedung tinggi yang katanya ingin mencakar langit, entah apa salahnya, padahal hanya menurunkan hujan dan panas saja, tapi bukan manusia namanya jika tidak menyalahkan yang lain, Tuhan saja mereka salahkan.


“Pagi tuan.” Seorang nenek tua membungkukkan tubuhnya menghormati Arman yang berjalan melewatinya.


“Pagi buk.” Kemudian tersenyum ramah.


“Siapa itu? Kenapa hormat sekali padamu?”


“Tidak perlu tahu Mira, ayo jalan saja, nanti kau tertinggal.”


“Kau pasti menjemputku.”


“Tidak mau.”


“Kenapa?”


“Lelah.”


Perjalanan setengah jam yang mereka lalui selanjutnya tanpa kalimat tanya dan juga pernyataan yang berarti, Arman enggan menjelaskan apapun karena Mira selalu membantahnya dengan argumen ngawur menurut Arman.


Petak-petak sawah telah mereka lewati, beberapa penduduk desa yang selalu menunduk dan memanggil tuanpun sudah jauh melewati mereka, kini pohon-pohon pinus harus mereka lalui dengan susah payah.

__ADS_1


“Kenapa setiap ingin mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan selalu dengan susah payah? Mau lihat pemandangan indah saja harus baik-baik begini, mau masuk surga aja harus banting tulang sampai mau mati, nahan senyum sampai mau sobek. Kenapa sih Tuhan selalu saja menguji manusia? Kalau Dia tidak mau memberikan ya sudah tidak perlu menyiksa orang, katanya kita harus menjadi manusia yang dermawan, kenapa ada tidak mencontohkan nya terlebih dahulu?”


“Berhenti lah berceloteh dan lihat ini Mira.”


Mereka sampai pada tujuan akhirnya, berada di atas puncak bukit yang tidak terlalu tinggi namun memperlihatkan yang katanya kuasa Tuhan dengan hamparan padi yang menguning tanda sudah berakhir masa penantian masyarakat desa, air-air yang mengalir beberapa jatuh dari tempat yang lebih tinggi dengan jernihnya dan suara gemericik yang tidak mau ketinggalan dan beberapa rumah penduduk.


“Apanya yang indah?”


“Apakah matamu tidak bisa melihat Mira? Kau terlalu sering melihat daging diantara paha, makanya tidak tahu mana yang bisa menyejukkan matamu.”


“Hei.” Ucap Mira tidak terima.


“Mira, sejak kapan kau jauh dari Tuhan?”


Mira tidak langsung menjawab, ia menatap heran pada Arman yang tiba-tiba saja peduli dengan pemikiran kacaunya.


“Aku lelah semalam, dan sejujurnya aku sangat tertarik dengan hidupmu.”


“Kenapa?”


“Kau berbeda dengan orang lain Mira, kau pelacur yang bangga akan pekerjaan mu, kau terang-terangan menghilangkan Tuhan di hidupmu yang mana menurut kami masyarakat biasa sangat aneh.”


“Kalau rasa penasaran mu sudah tertuntaskan lalu apa?”


“Seperti kau menuntaskan setiap lelaki di atas ranjangmu Mira.”


“Cerita lah Mira, aku bisa saja mendorongmu dari sini jika kau terlalu banyak mengulur waktu.”


Mira terkekeh lalu menghadapkan pandangannya lurus ke depan seolah memperhatikan pemandangan yang kata Arman sangat indah, mungkin juga Mira sebenarnya sedang membuka portal menuju masa lalunya yang kelam.


“Namaku Mawar Ifa Rahayu Arghiandra, putri tunggal Bapak Anwar Arghiandra dan Ibu Sumilah... “


“Lalu dipanggil Mira?”


“Kalau di singkat namaku Mira.” Arman termenung sejenak lalu tersenyum setelah mengerti maksudnya.


“Bapak dan ibuku tidak sempat bikin anak lagi, karena bapakku sudah lebih dulu punya anak dengan wanita lain yang disebut wanita bayaran, tapi tetap saja ibuku yang disalahkan. Arman, apa yang kukatakan memang benar sudah kurasai, bukan cuma terka sana terka sini saja, ibuku yang sudah menunduk bak babu dengan semua perintah bapakku tetap saja diselingkuhi, pada dasarnya bapakku saja yang suka jajan. Harusnya ibuku yang minta cerai, tapi malah bapakku yang menceraikannya. Aku anak brokenhome Arman, aku selalu boleh merasa paling disakiti kan?”


“Tapi kenapa kau sekarang seperti ****** yang merebut bapakmu Mira?”


“Lihatlah bahasamu Arman, siapa yang merebut bapakku? Ku bilang bapakku memang suka jajan, lagian perempuan itu yang kau sebut ******, memang itu pekerjaannya, melayani laki-laki dapat uang dan hidup. Hanya saja salahnya punya anak, atau salah bapakku tidak mau pakai ******? Entahlah tapi seharusnya jika sudah komitmen juga bisa bertanggung jawab.”


“Di mana ibumu sekarang?”

__ADS_1


“Dia pindah ke Aceh, ikut suami barunya, sekarang suaminya sudah punya 3 istri, mengikuti sunnah katanya. Ibuku sok sok an tidak mau diselingkuhin, tapi malah mau ditigain.”


“Beda Mira, dipoligami kan melalui izin, sedangkan selingkuh itu sembunyi-sembunyi.”


“Ah sama saja tetap diduakan. Lagian kalau ibuku tidak setuju ia tetap akan disalahkan dan persetujuan itu formalitas saja Arman. Kau bayangkan ibuku memberi hatinya satu genggaman penuh, tapi hanya di balas secuil cinta dari suaminya dan katanya ia mengejar surganya Tuhan. Surga apa yang didapat dengan bersakit-sakit seperti itu? Tuhan ibuku memang kejam. Lalu kalau benar surga itu ada kalau tidak? Habis sudah penderitaan yang ia tahan selama ini.”


“Namanya cobaan Mira.”


“Ah Tuhan suka sekali mencoba-coba makhluk-Nya, memangnya ia tidak punya kerjaan lain apa selain mencoba-coba manusia?”


“Pekerjaan apa? Manager? Tuhan gak butuh uang Mira.”


“Kau mau ku lanjutkan tidak dongeng hidupku?”


“Silahkan tuan putri yang sudah kalah debat.”


“Terserah, ibuku marah sekali saat ia tahu bahwa aku yang katanya suka menjajakan tubuhku, padahal aku sedang bekerja sesuai passion ku.”


“Ha? Passion mu bercinta Mira?”


“Bukannya Passion itu berarti kesukaan ya?”


“Bukan begitu Mira, lebih kompleks lagi.”


“Ah terserah, aku pokoknya senang ketika bercinta, karena laki-laki yang biasanya berkuasa dan suka memerintah, kalau sudah diselangkanganku mereka akan tunduk dan melakukan apa yang aku mau dan aku suka itu.”


“Lalu kenapa tidak jadi pelatih senam saja? Mereka juga akan selalu menuruti perintahmu.”


“Tidak bisa dilakukan berdua, bayarannya tidak banyak dan berkali-kali latihan juga belum tentu pesertanya bakal berlangganan. Beda saat kerja dikasur tidur-tidur saja, sesekali mendesah dan bagun pagi saldo atau dompetku akan terisi, ah itu baru namanya hidup.”


“Lanjutkan ceritamu Mira, kau sudah terlalu jauh berbelok.”


“Baiklah, kau duduklah dengan tenang Arman, mataku sakit melihatmu terlalu banyak bergerak.”


“Baiklah Nyonya Mira.”


“Aku tidak bisa serta merta menerima teguran ibuku, dia saja tidak pernah mendengarkanku, lagian aku hidup tidak lagi minta uangnya.”


“Lalu bapakmu?”


“Bapak ku menikah dengan selingkuhannya dan tinggal di Kalimantan, mengurus tambanh emas di sana. Dia masih mau mengirimi aku uang kalau aku minta, dan tidak seperti ibuku. Ia bilang selagi aku tidak labil dalam berperasaan, menjaga keamanan saat berhubungan sisanya terserah pada ku.”


“Bapakmu bilang begitu? Gila.”

__ADS_1


“Loh dia yang waras memberikan kebebasan untukku bertanggung jawab pada tubuh dan hidupku. Begitulah seharusnya laki-laki, bukan menyuruh sesuka hatinya.”


Matahari yang sudah di atas kepala membuat semua cerita Mira menguap begitu saja, Arman sudah mengantuk dengan ceritanya dan merengek minta pulang seperti anak kecil yang ingin menyusu pada ibunya.


__ADS_2