Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Lanjutan


__ADS_3

“Mira.” Seseorang memanggil dan melambaikan tangannya, Mira menghampiri dengan senyumnya yang tidak pernah ketinggalan.


“Maaf saya terlambat.” Mira menunduk menunjukkan rasa hormat dan sopan santunnya kepada seorang perempuan yang diajak Herman.


“Tidak apa, kami juga belum lama sampai,” ucapnya berbasa basi untuk mengembalikan sopan santun yang diberikan Mira.


“Mira, kenalkan ini istriku.”


Mira sedikit terkejut tapi ia menyembunyikannya. Bagaimana bisa lelaki bernama Herman ini mempertemukan istrinya dengan perempuan yang biasa menemuinya di sebuah hotel dengan niat awak ingin menidurinya? Walaupun sebenarnya mereka tidak pernah benar-benar saling menjamah.


“Rina.” Perempuan yang bunting besar itu menjulurkan tangannya untuk disalami dan Mira menerimanya dengan lembut.


“Maaf sebelumnya Mira, aku tidak memberitahu maksudku mengajakmu kemari.” Herman memulai pembicaraan setelah minuman yang dipesan Mira datang.


“Tidak apa, bicaralah apa yang ingin kalian bicarakan.”


Rina mulai dengan tersenyum terlebih dahulu “Aku yang memintanya untuk dipertemukan denganmu Mira.”


“Kenapa?”


“Aku ingin berterima kasih padamu Mira.”


Mira semakin bingung dengan arah pertemuan ini, bukannya melabrak pelacur yang tidur dengan suaminya, meski mereka belum sempat tidur, Rina malah berterima kasih? Tapi Mira tidak lekas bertanya untuk apa, ia memberikan kesempatan bagi Rina untuk melanjutkan pembicaraannya.


“Beberapa hari lalu, saat itu Herman bilang ia habis bertemu denganmu, tiba-tiba sikapnya sangat manis Mira,” Sambil memandang wajah suaminya yang mulai kemerah-merahan karena malu.


Mira melihat Herman dengan tatapan yang masih penuh tanda tanya.


“Tiba-tiba ia bilang bahwa ia sangat mencintaiku Mira, ia berterima kasih karena aku sudah mau mengandung anaknya, ia bilang sambil memijat kakiku dengan lembut, aku tanya padanya ada apa, dan kau tahu apa katanya Mira?”


“Apa yang dia katakan?”


“Katanya setelah mendengar ucapanmu ia merubah pandangannya tentang ibu hamil Mira. Sebelum ini ia suami yang biasa saja, tidak romantis apalagi peka, kemudian ditambah dengan bentuk badanku yang berubah drastis membuatnya semakin mengacuhkanku Mira, padahal ia yang bilang ingin punya anak.”


Mira mendengarkan dengan seksama, lagi-lagi untuk menghargai orang di depannya.


“Hari itu ia bilang bahwa ia sadar tidak pernah bertanya padaku apakah aku ingin punya anak atau tidak, ia hanya peduli dengan harapannya sendiri, ia selalu minta aku agar senantiasa cantik tanpa pernah bertanya apakah aku mau ditemani salon atau sekedar membantu membersihkan tempat tidur.”


“Sebentar, lalu hubungannya dengan ku apa Rina? Kau baru memberitahu tentang kulitnya saja, apa yang telah aku lakukan sampai kau mau bertemu denganku?”


“Herman bilang, ia merubah pemikirannya setelah beberapa kali mengobrol denganmu Mira, ia baru tahu kalau ternyata ada perempuan yang tidak ingin punya anak dan ia merasa beruntung menikahiku.”


“Oh begitu rupanya, kau merasa sangat disayangi akhir-akhir ini Rina?”


“Tentu saja, bahkan ia mencoba untuk menyisipkan rambutku sehabis keramas setiap hari, itu sangat romantis Mira.”


“Aku senang mendengarnya.”


“Terimakasih banyak Mira, kalau kau tidak pernah bercerita tentang pandanganmu mengenai perempuan yang sulitnya menentukan pilihan, mungkin Herman sekarang tidak lagi mau meski hanya sekedar memegang tanganku.” Rina memperlihatkan tangannya yang dipegang erat oleh Herman.


“Ya sama-sama, aku juga senang melihatnya.”

__ADS_1


Mereka banyak bercerita malam itu, tentunya dengan topik yang sama, tentang perempuan dan keluarga. Sepertinya selain handal dalam menemani lelaki hidung belang tidur, Mira juga handal dalam urusan melekatkan hubungan suami istri. Fenomena yang langka untuk seorang pelacur yang mampu melekatkan hubungan keluarga, hanya sekali dan mungkin akan sulit terjadi untuk kedua kalinya. Barangkali ini yang dinamakan beruntung.


***


Entah karena global warming atau amaran Tuhan, hari ini cuaca sangat panas, seolah ingin memperkenalkan neraka pada penduduk bumi yang sering melanggar perintah Tuhan, bagi mereka yang berTuhan. Cuaca yang sangat bagus untuk jemuran orang-orang kampung yang tidak punya mesin cuci yang ada pengeringnya.


Mira berjalan di tengah pusat perbelanjaan dengan pakaian layaknya anak muda yang baru dapat kiriman orang tua atau baru gajian setelah beberapa hari makan mie instan. Mira ingin membeli beberapa dalaman yang menurutnya sudah tidak kencang menopang daging yang banyak didambakan pria, pun ia sudah bosan dengan warna yang menurutnya sudah ketinggalan zaman.


Sedang asik berjalan sambil melihat toko yang kiranya menarik perhatiannya, Mira merasa ada yang memanggil namanya.


“Joko, apa yang kau lakukan di sini?”


“Tentu saja liburan akhir pekan bersama keluargaku.” Joko tanpa segan memperkenalkan teman tidurnya dengan anaknya. “Riska, kenalkan ini tante Mira, teman papa.”


“Halo cantik, wah kamu mirip sekali dengan papamu ya.” Mira mencolek dagunya lalu melirik pada Joko sambil tersenyum.


Joko tahu maksud ucapan Mira, Joko beberapa hari lalu baru mengatakan bahwa ia tidak pernah benar-benar mencintai istrinya, tapi wajah anaknya menunjukkan sebaliknya. Orang dulu percaya bahwa anak yang dilahirkan jika mirip dengan ayahnya, maka bisa dipastikan ayahnyalah yang memiliki cinta lebih besar dari ibunya, atau beberapa kelompok lain mengatakan bahwa ayahnya yang sangat bernafsu saat bercinta dibandingkan dengan ibunya.


Hal ini juga barangkali yang menjadikan beberapa orang ingin mengaborsi anak yang dikandung akibat tindakan pemerkosaan, takut kalau anaknya mirip dengan yang menodainya, lalu menghantui setiap harinya dan menjadi gila akibat harus tinggal dan hidup bersama dengan wajah pria bangsat yang merusak kehidupannya.


“Di mana ibunya?”


“Wanita kalau sudah belanja suka lupa keluarga.”


“Itu karena kalian laki-laki terlalu sering meninggalkan mereka hanya untuk mengurus dapur sumur dan kasur Joko.”


“Ah itu tidak benar Mira, eh apa yang kau lakukan di sini? Tumben sekali berbelanja, biasanya kau hanya tekan-tekan di ponsel dan paket datang di apartemen?”


“Apa kau bilang Mira?” Joko membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasih gelapnya itu dan hanya dibalas dengan cengiran oleh Mira.


“Jangan macam-macam Mira, aku tidak suka.”


“Bisa-bisanya kau mengancam ku saat tanganmu menggandeng putrimu.”


“Ia tidak akan tahu, dan istriku kau tahu dia tidak akan peduli meski ku kenalkan kau dengannya.”


“Aku butuh pembuktian.”


“Baiklah, ayo kita lakukan saat bertemu istriku nanti.”


Mira menganggukkan kepalanya betanya setuju dengan usulan yang tidak akan pernah dilakukan oleh laki-laki selain Joko.


Tidak lama mereka berjalan bersama, Joko akhirnya benar-benar memperkenalkan Mira sebagai kekasihnya kepada Astuti istrinya. Astuti tersenyum ramah dan memuji kecantikan Mira.


“Mbak juga cantik kok.”


“Terima kasih Mira.”


Mereka duduk dalam sebuah restoran karena Riska merengek kelaparan, duduk bersama dan kembali khayalan Joko seperti beberapa bulan lalu. Merasa memiliki dua istri yang akur dan membuatnya disegani Bapak-bapak komplek perumahannya.


“Aku tadi mencari lingiere juga, tapi belum ketemu.”

__ADS_1


“Astuti, Mira bisa membantu soal itu, ia sangat pandai memilih benda itu. Mira beri tahu istriku ini di mana biasanya kau membelinya.”


“Baiklah kalau kau memaksa aku tahu tempatnya.”


“Wah, kau harus menambah saldo rekeningku Joko, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”


“Kita ini sangat aneh.”


“Kenapa Mira?”


“Kenapa kita begitu akrab? Padahal status kita seharusnya membuat kita saling membenci satu sama lain?”


“Ah itukan kalau orang lain yang memiliki cinta dengan pasangannya, dan punya harapan serta masa depan bersama, sedangkan kita? Hanya melakukan simbiosis mutualisme saja,” ucap Astuti.


“Astuti benar Mira, pasangan yang disebut selingkuh jika salah satunya memang percaya dan mencintai, sedangkan aku dan Astuti hanya bersama untuk mempertahankan posisi dan keuntungan saja, sedangkan kau? Hanya melakukan pekerjaanmu saja.”


“Tapi kau bilang mencintaiku Joko?” tanya Mira menggoda Joko.


“Memangnya kau tidak?” Mira menggeleng dan membuat kesal Joko yang berakhir dengan tawa Astuti yang tidak sanggup melihat ekspresi wajah suaminya.


“Astuti kau jangan marah denganku ya.”


“Aku bahkan tidak peduli selagi rekening ku gendut Mira, toh aku hanya belum memperkenalkan punyaku saja.”


“Memangnya kau punya?” tanya Joko seperti mengejek.


“Belum.”


“Sudah kuduga.”


“Aku akan meminta Mira mencarikannya nanti, tunggu saja.”


“Baiklah aku akan menunggunya.”


Setalah makan, mereka memutuskan untuk pulang, Astuti menawarkan tumpangan untuk Mira tapi ia menolaknya, ingin jalan sendirian katanya.


Mira memilih naik bus, sudah lama ia ingin merasakan keramaian di tengah kota tanpa bicara dengan seorang pun. Ia ingin merasakan kebisingan kota, menghayati suara klakson dan pengamen yang menjajakan suaranya untuk disumpal dengan uang receh.


Mira duduk di bangku ketiga di belakang supir, setelahnya ada seorang tua yang tertidur pulas sambil memegang erat tasnya, takut diambil karena terlihat sangat berharga bagi dirinya sendiri.


Nenek itu terbangun setelah bus k


embali jalan setelah menaikkan para penumpang, melihat ke arah Mira sebelum akhirnya tersenyum dan bertanya.


“Baru pulang kerja dek?”


“Eh enggak nek, baru pulang belanja.” Mira menunjukkan paperbag yang berisikan lingiere berwarna mint yang tidak diketahui orang lain.


“Anak muda jaman sekarang suka sekali menghamburkan uang, kalau saya dulu selalu saya tabung untuk masa depan.”


“Saya juga menabung nek.” Ucap Mira tidak mau kalah.

__ADS_1


“Menabung di lemari kan? Mengoleksi banyak pakaian yang hanya dipakai beberapa kali saja, tindakan bodoh.”


__ADS_2