Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Lanjutan


__ADS_3

Meja dari kayu jati yang kokoh itu terlihat bersih, aroma sekitar membuat setiap pengunjung lapar, sepertinya tukang masak di sini sudah berpengalaman dalam mempermainkan selera dan lambung pengunjung.


Seorang wanita mengangkat tangannya ingin memesan makanan atau juga minuman, wajahnya terlihat lapar tapi penampilannya bilang cukup jus jeruk saja.


Perempuan dengan tudung penutup kepala duduk sendirian dipojok ruangan, sepertinya ia sedang menunggu seseorang, barangkali teman, karena dari penampilannya ia tidak mungkin berpacaran. Itu jelas haram.


“Sudah lama menunggu?” Perempuan yang menggunakan kemeja flanel hijau yang sengaja tidak dikancing, memperlihatkan tengtop barunya, atau yang berada di dalamnya, bertanya dan duduk di sebelahnya.


“Belum.”


“Jus jerukmu sudah hampir tandas.” Merasa tidak percaya dengan wanita yang bertudung ternyata bisa juga berdusta “Kenapa tidak pesan makanan? Memangnya tidak lapar?”


Tidak ada balasan, perempuan itu hanya tersenyum, seolah merasa sedang dipuji. Entah apa makna senyumnya, mungkin uang dikantongnya tidak lagi cukup meski hanya untuk memesan satu porsi ayam pop.


Mira memesan makanan untuk teman SMA nya yang datang jauh dari Pontianak, bukan ayam pop, makanan yang sepertinya memiliki harga paling mahal di resto itu.


“Aku yang traktir, aku juga lapar, sudah lama nggak makan makanan seperti ini. Jangan sungkan makanlah yang banyak, kamu perlu tenaga untuk mengangkat koper besarmu itu.”


Suasana ramai, ada pertengkaran sendok dan piring di atas meja, sesekali pengunjung di sebelah tertawa keras, mungkin begitulah cara menyenangkan mentalnya. Katanya orang Jakarta banyak yang punya penyakit, entah apa namanya, mereka bilang itu tidak ditangani oleh dokter yang biasanya menyuntikkan obat cacing saat SD. Pengobatan awal hanya dengan bercerita. Orang desa baru tahu ternyata bercerita bisa jadi obat jika sampai di kota.


“Kenapa tiba-tiba ke Jakarta?”


“Aku mau kerja.”


“Di mana?”


“Kalau bisa di tempatmu bekerja.”


“Terus tinggal di mana?”


“Kalau bisa menumpang dulu di rumahmu.”


“Kalau tidak bisa?”


“Kita tidak perlu lagi berteman.” Perempuan dengan kaos kaki hitam itu sepertinya tidak suka basa basi.


Perempuan itu tidak punya tujuan, tapi setidaknya ia punya nama. Ibunya memberi nama Sulastri, nama yang banyak orang desa pakai untuk putrinya, setidaknya ada tiga pemilik nama itu dalam satu kampung. Ada yang memanggilnya Sulas, Lastri atau Sulas atas, menunjukkan rumahnya yang berada lebih tinggi daripada Sulas satunya lagi.


“Kamu kerja apa di Jakarta?”


“Pelayan.”


“Di restoran?”


Mira menggeleng, bukan itu jawabannya.


“Di kantor?”


Mira kembali menggeleng.


“Di hotel?”


Mira masih menggeleng.


“Di mana?”

__ADS_1


“Di mana-mana, tergantung pesanan pelanggan.”


Sepanjang jalan Lastri memikirkan di mana sebenarnya Mira bekerja, dari penampilannya jelas ia tahu bahwa pekerjaannya sangat bergengsi. Dari cincin berlian yang dipakainya, Lastri tahu bukan kain pel yang jadi teman bekerja Mira, atau juga pengantar makanan, karena heels nya terlihat begitu mewah jika gajinya hanya rata-rata UMR Jakarta.


“Jadi orang Jakarta tinggal di sini? Apa ini namanya rusun?”


“Apartemen, itu nama yang seharusnya kau sebut Lastri.”


Lastri memandangi furnitur mewah di sekitarnya, tidak menyangka teman SMA nya bisa merasakan hidup mewah di ibukota. Pikirnya dulu, anak brokenhome tidak jauh-jauh dari kesepian, narkoba dan hidup luntang lantung, padahal memang tidak jauh.


“Mira, kemana arah kiblat?”


“Aku tidak tahu.”


“Kau tidak pernah sholat?”


“Agamaku tidak ada ibadah.”


“Kau sudah pindah agama?”


“Kau tidak jadi sholat? Cari saja di ponselmu, password wifi nya MAWARMERAH.”


Ditanya arah kiblat malah dikasih tahu password wifi, kalau Lastri tanya rukun iman, apa Mira mau memberikannya sandi ATM? Entahlah, orang Jakarta sangat sulit ditebak orang kampung.


“Jangan ke sini, kita ketemuan saja di hotel.”


“Kenapa?”


“Ada temanku dari kampung.”


“Sejak kau berak tadi.”


Lastri bertanya siapa yang ditelfon Mira, bukan urusannya. Lastri lupa kalau tuan rumah bukan lagi yang ia kenal beberapa tahun lalu, jangan terlalu akrab, mereka bukan lagi sahabat.


Pukul 10 malam, Lastri belum tidur, Mira juga belum berangkat. Ruangan terasa lengang, tidak ada pembahasan menarik, seperti malam pertama pengantin yang dijodohkan.


Tiba-tiba Lastri berlarian menuju kamar mandi, mengagetkan Mira yang sedang merias wajah di depan cermin. Terdengar Lastri memuntahkan isi perutnya, percuma sekali diberi makanan mewah tapi tidak jadi tai, pikir Mira.


“Kau baik-baik saja Lastri? Kau masuk angin?”


Lastri mengangguk, kembali berbohong.


Mungkin berbohong sekarang sudah jadi halal, ia sudah melepas tudungnya dan memperlihatkan mahkota hitamnya yang panjang.


“Istirahat lah dulu di sini, aku akan pergi mungkin besok pagi atau siang baru pulang. Anggap punya sendiri asal jangan kau jual untuk pulang kampung.” Lastri tertawa pelan, lelucon sederhana itu menenangkan mualnya.


“Kau akan pergi dengan pakaian seperti itu Mira?”


“Aku naik taksi, tidak akan masuk angin sepertimu.”


Lastri kembali tersenyum, ia tahu maksudnya. Mungkin kalimat dalam otaknya yang tidak jadi keluar adalah penampilanku berbeda darimu jadi jangan ikut campur.


Lastri tidur dengan ribuan pertanyaan di dalam kepalanya.


“Pergi malam dan pulang pagi? Apa Mira bekerja sebagai... ah tidak mungkin, bapaknya kan kaya, apalagi semenjak merantau, mungkin ia harus menginap di rumah temannya.”

__ADS_1


Perempuan 27 tahun itu berusaha berfikir positif, walaupun sebenarnya sangat sulit dilakukannya. Melihat asbak dan putung rokok yang tidak habis dihisap di dalam kamarnya membuatnya bingung.


“Apa ada laki-laki yang merokok di kamar ini? Tapi katanya ia belum kawin, masa sih perempuan feminim seperti Mira merokok?”


Untuk memuaskan rasa pensarannya, ia membuka isi lemari Mira, tidak untuk mencuri, hanya melihat lihat saja.


Pakaiannya banyak sekali, seperti penjual baju di pasar minggu, bedanya di sana bajunya lengkap semua, tidak bolong-bolong atau mereng sebelah seperti milik Mira ini. Tidak lama membuka lemari, Lastri menutupnya kembali.


“Astaghfirullah, aku kenapa seperti ini sih? Ya Allah maafkan hambamu yang lancang ini.”


Manusia yang sendiri akan lebih terlihat aslinya, dosa-dosa yang tidak banyak orang tahu bisa dilakukan sendiri, biasanya masturbasi sambil nonton video porno atau memaki orang yang jika bertemu bisa ramah seperti pelayan hotel.


Lastri kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, memikirkan nasibnya sambil mengelus perutnya yang kian membuncit. Tanpa terasa tertidur pulas dan mengorok, padahal ia tidak lagi punya uang.


Di ruangan yang berbeda, Joko mengelus perut Mira, awalnya. Bertanya beberapa hal, biasanya disebut dengan pillowtalk.


“Siapa temanmu yang datang?”


“Lastri”


“Sulastri?”


“Dari mana kau tau?”


“Nama-nama orang kampung, bapak atau kakeknya transmigran dari Jawa, mencoba bertahan hidup dari tanah orang lain, mereka menyebutnya persatuan, padahal hanya memikirkan perut anak cucunya.”


“Bagaimana dengan namaku?”


“Namamu cantik.” Menyentuh dagunya, kebiasaan laki-laki saat menggoda perempuan.


“Tidakkah kau bisa mengucapkan kalimat yang lain?”


“Namamu sexy.”


Mira melotot melihat laki-laki tanpa sehelai benang di hadapannya.


“Mira tidak ada unsur sexynya sedikit pun, kau mengarang untuk membuatku senang.”


“Aku memang ingin membuatmu senang Mira sayang.”


“Yang lain dong.”


“Mira cle.”


“Maksudmu apa?”


“Namamu itu ajaib.”


Mira masih bingung


“Miracle.” Joko mengeluarkan aksen British nya.


“Baiklah aku menerima yang itu.”


Malam itu setelah lelah dengan elusan pada perutnya, mereka melanjutkan pada ronde berikutnya, entah sampai berapa kali, mereka enggan menghitungnya lebih baik menikmatinya.

__ADS_1


__ADS_2