
“Saya ingin bertemu Mira.”
“Nona Mira sedang ada tamu Tuan, silahkan pilih pelayan yang lain.”
“Saya hanya mau Mira.”
“Kalau begitu silahkan Tuan tunggu, barangkali 5 jam dari sekarang, karena nona Mira baru saja menerima tamu, anda telat 5 menit.”
“Apakah tidak bisa kalau Mira ditarik saja untuk saya? Akan saya bayar 3 kali lipat.”
“Maaf Tuan, bahkan pengunjung barusan membayarnya dengan cukup mahal.”
“Bangsat!”
Wajahnya memerah, menampilkan kemarahan yang dirasakannya, Joko akan menunggu meski sampai pagi, ia tahu Mira sedang tidak ingin berada di sana.
Dua batang rokok telah habis terbakar, tapi Mira tak kunjung bisa ditemui, Joko mulai kesal tapi ia tidak bisa meninggalkan Mira begitu saja.
Bayangan demi bayangan tentang Mira mulai menghantui Joko, bagaimana suara desahannya, rambutnya yang terurai indah dengan aroma khas Mira, keringat yang saling membasahi dahi satu sama lain membuat Joko semakin geram karena Mira tak kunjung selesai dengan lelaki yang entah datang dari mana.
Cemburu Joko membara, membakar hatinya yang merasa sudah tidak lagi berguna karena perempuannya kini sedang dicicipi pria lain dan ia hanya bisa menunggu seperti ibu-ibu menunggu bantuan PKH. Bolak balik Joko datang untuk memastikan Mira sudah selesai dengan pekerjaannya, dan hasilnya nihil, sepertinya mereka menghabiskan waktu yang diberikan dengan terus menambah ronde dan itu membuat Joko semakin tidak karuan.
Melihat tingkahnya yang aneh, wanita tua berambut hijau memutuskan menghampiri Joko untuk menawarkan anak buahnya yang lain, ia tidak mungkin membiarkan pelanggan nya kecewa.
“Masih banyak wanita muda yang menggoda di sini tuan, kenapa harus Mira?”
Joko tidak menyaut, ia memperhatikan rambut ikal yang tidak menarik sama sekali meski diberi warna hijau, seharusnya ia bisa menyesuaikan rambut dengan gaya pakaiannya saat ini, pikir Joko.
“Aku tau, Mira memang bukan wanita sembarangan, aromanya sudah tercium hingga ke seberang benua, aku yakin kau sudah pernah mencobanya.”
“Aku ingin membeli Mira.”
“Aku tidak menjualnya, hanya menyewa untuk beberapa jam saja.”
“Berapapun yang kau minta.”
__ADS_1
“Aku bahkan bisa mendapatkan lebih jika mempertahankannya.”
“Ya aku tahu itu. Mira memang mahal, lebih berharga dari seluruh harta benda mu bukan?”
Wanita bertubuh subur itu menatap Joko dengan penuh kebencian karena ucapannya sungguh menghina, meskipun pada dasarnya ia tidak pernah percaya harga dirinya lebih mahal dari tubuh Mira.
“Mak Cik Pok, bukankah itu namamu nyonya berambut hijau?”
Mak Cik Pok tidak membalas ucapan Joko dan masih terus menghisap rokoknya yang tinggal setengah.
“Dua tahun lalu kita pernah bertemu, mungkin kau lupa. Saat itu rambutmu masih kuning, dan aku menyebutnya seperti rambut tai yang mengambang di sungai.” Joko tertawa, ia tahu betul sedang berhadapan dengan siapa, tapi siapa peduli? Saat ini ia hanya menginginkan Mira.
“Oh kau rupanya, pantas seperti tidak asing. Maaf aku mudah melupakan sesuatu yang tidak penting seperti sampah.”
Mata mereka bertemu, sebelum Joko melayangkan tangannya pada wajah wanita tua itu, namun gagal karena pengawalnya lebih dulu menjatuhkannya.
“Dasar biadab! Kau iblis tidak tahu diri! Berani-beraninya kau memaksa Mira untuk sampai di sini?”
“Lalu? Kau bisa apa? Kau tidak lagi bisa menghinaku seperti dahulu, aku sekarang sudah kaya, bahkan lebih kaya dari aset yang dimiliki Mira, dan kau? Hah apalagi kau tidak ada apa-apanya denganku sekarang!”
“Lantas kalau kau lebih hebat saat ini kenapa masih memaksa Mira untuk mengumpulkan rupiah mu ha? Kau bahkan lebih hina daripada tai nya Mira.”
Cuih, ludah yang tepat mendarat di hidung Joko membuatnya merasa dibakar, aromanya benar-benar jauh lebih buruk dari kentut Mira.
“Jaga mulutmu jelata! Aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu kekasihmu lagi! Habisi dia!”
“Anjing! Kau lebih hina dari Babi!”
“Di agamaku anjing dan Babi mulia Tuan jelata.” Wanita tua itu menarik ujung bibirnya sebelah menghina Joko.
Selesai kalimat itu terucap habislah sudah tubuh Joko menjadi babak belur dan luka lebam kebiru-biruan. Tulang rusuknya seperti patah, bibirnya membesar dan matanya menyipit. Joko lupa bahwa saat berada di kandang buaya seharusnya ia tidak banyak bicara.
Darah berkucuran di lantai, membuatnya tidak lagi putih. Tertatih-tatih Joko keluar dari gedung neraka itu untuk sampai ke rumahnya, menyusun strategi bijak untuk membawa wanitanya keluar dari sana sebelum banyak buaya liar menjamahnya.
Mak Cik Pok sengaja tidak membunuhnya, supaya Joko lebih paham artinya melarat dan akibat dari menghina orang kaya baru sepertinya.
__ADS_1
Ia belum puas membalaskan dendamnya pada Joko yang banyak bicara itu, ini hanya permulaan sebuah cerita baru.
***
Astuti menjerit ketika mendapatkan suaminya seperti monster yang menakutkan, bajunya compang camping seperti pemulung di pinggiran kota Jakarta, aroma amis tercium pekat dari tubuh Joko dan mata bengkak membuatnya sedikit mirip dengan orang berkulit kuning.
“Kamu ketahuan berzina? Lalu dikeroyok warga?”
Joko tidak menjawab ataupun melotot, ia hanya mengumpat dalam hati, bisa-bisanya suami pulang dengan kondisi tragis seperti ini malah difitnah, pikirnya. Ia tidak melawan bukan karena sayang pada istrinya, tapi apalah daya Joko memang tidak mampu melakukannya.
“Kamu pasti sedang merebut kembali pacarmu kan Joko?”
Kembali Joko tidak bisa menjawab karena bibirnya masih dalam keadaan sekarat.
“Sebegitu cintanya? Atau merasa harga diri dijatuhkan? Ah kamu terlalu banyak ingin dihargai Joko.”
Astuti telaten membersihkan darah pada kulit Joko yang terlihat mengkhawatirkan.
“Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama jika itu aku?”
Pertanyaan apa yang baru saja ia dengar? Astuti seperti sedikit aneh hari ini.
“Ya bukannya apa-apa aku kan istri SAH mu.” Yang tentunya kalimat “bukan apa-apa” merupakan penjelasan bahwa memang ada apa-apa, seperti kalimat sindiran lainnya.
“Entahlah, meskipun aku tahu kamu datang padaku karena tidak bisa menemukan nya, aku mulai merasakan perbedaan di antara kita.” Joko semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan yang dibawa Astuti.
“Jangan lagi diteruskan, Riska masih butuh kamu. Maksudku jangan dipaksakan aku tidak tahu harus menjawab apa kalau ia bertanya apa yang dilakukan papanya.”
Tanpa sengaja mata keduanya saling bertemu dan Joko melihat sesuatu yang berbeda dari milik Astuti yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, tapi ia belum bisa menyimpulkannya.
Setelah tatapan itu selesai, Astuti tidak menyelesaikan pekerjaan melayani suaminya, ia beranjak pergi meninggalkan Joko dengan kesakitan dan kebingungan nya.
Astuti, entah apa yang membuatnya berubah, seperti kerasukan malaikat ridwan, tangannya yang lembut tadi masih bisa dirasakan Joko, tutur bahasanya yang seperti menuntut sesuatu jarang sekali dirasakan Joko, apakah ia sudah bukan Astuti yang dulu lagi? Ah biarkan ia yang tahu bersama Tuhannya.
Joko membersihkan tubuhnya sendiri, ia tidak sehancur itu untuk bergantung pada orang lain supaya menyembuhkan lukanya. Ia masih bisa berpura-pura lemah tadi untuk bisa membuat para bodyguard itu berhenti menyiksanya. Mereka pikir Joko sudah sangat babak belur saat itu, meskipun benar tapi tidak sepenuhnya.
__ADS_1
Joko bingung dengan dirinya yang sangat cepat kehabisan tenaga tadi, padahal ia dulunya adalah atlit silat yang pernah memenangkan pertandingan tingkat nasional, memboyong medali perak dan sangat membanggakan keluarganya dan tetangga sekitar. Mungkin karena usia, tenaganya tidak lagi sehebat dulu.
Tiba-tiba tangannya mengepal, pandangannya lurus penuh dendam, kalimat Astuti beberapa menit lalu menguap begitu saja. Joko sudah memikirkan cara untuk menghancurkan nenek tua berambut hijau itu. Membunuhnya perlahan dan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah bisa dilupakan sepanjang hidupnya.