
Tok tok tok
Suara pintu diketok itu sudah terdengar berulang kali, mungkin penghuni rumah sudah lelap dari mimpinya yang indah sampai tak mendengar kedatangan tamu yang tidak diundang itu.
Tok tok tok
“Ayolah cepat buka pintunya sebelum orang lain kira aku sedang ingin mencuri.”
Tok tok tok
Dan akhirnya pintupun di buka oleh seorang pria tua yang menatap Herman aneh, mengingat-ngingat siapakah lelaki yang datang hampir subuh ini?
“Siapa ya?” tanyanya penasaran.
“Boleh saya masuk dulu pak?”
“Oh ya silahkan.”
“Terimakasih pak.”
“Sudah tidak perlu berbasa-basi lagi ya, anda ini siapa? Kenapa dinu hari bertamu ke rumah saya? Apakah kita pernah kenal?”
“Pak, saya Herman temannya Arman si kembar.”
__ADS_1
Bapak tua itu mengerjapkan matanya, berusaha mengingat nama yang disandingkan dengan nama putranya.
“Kamu temannya Arman? Maaf saya tidak ingat, barangkali karena sudah tua.”
“Oh tidak apa pak, saya datang kesini ingin mencari Arman, dia di sini kan pak?”
“Arman kan di Jakarta, belum ada pulang sudah hampir setahun.”
Herman terkejut dengan apa yang barusan ia dengar, Arman tidak di rumah bapaknya? Lalu ke mana dia? Bukankah ia lari ke sini? Lalu ke mana di bawanya Mira?
“Nak?”
“Eh iya Pak.”
“Ada apa dengan Arman kenapa mencarinya hingga pukul segini? Apakah dia hilang? Punya hutang sama kamu? Bapak baru saja pulang dari rumah sakit, jadi kalau kamu ke sini untuk minta hutangnya Arman saya tidak bisa bantu. Kami juga habis-habisan untuk berobat nak.”
“Iya nak, entah ada apa dengan dia, saya bapak sama ibunya pun tidak bisa mengubungi nya, mungkin kami ada salah yang tidak kami sadari jadi Arman marah. Sejak dulu anak itu kalau marah selalu menghilang.”
“Pak, ini masih pagi loh, ada baiknya disambung besok saja bincang-bincangnya.”
“Owalah bapak sampe lupa, kamu tidur di sini saja ya, tidur di kamar si kembar.”
“Baik Pak, terimakasih banyak sebelumnya.”
__ADS_1
Pagi itu Arman tidak bisa tidur mengingat perjalanan yang jauh telah ditempuhnya secara percuma, perempuan yang dicarinya ternyata tidak pergi ke sini ke kampung halaman Arman.
Herman lalu mengirim pesan pada Joko untuk tidak menyusul nya karena ia akan kembali ke Jakarta siang nanti.
Di rumah, Joko uring-uringan mendapatkan anak semata wayangnya yang ternyata sudah tidur lelap seperti biasa, tidak merengek apalagi sedang sakit, Joko menampar Astuti setelah tahu bahwa ia dibohongi istrinya sendiri.
Astuti tidak mengelak, menjawab ataupun menangis, ia hanya menatap dendam suaminya yang sejak tadi tidak berhenti mengoceh perihal kegagalannya menjemput Mira, kekasih yang sudah sangat dirindukannya.
Tuti senang Joko tidak menemui perempuannya dan kembali pulang demi anaknya, artinya Riska ada gunanya juga dilahirkan ke dunia ini pikirnya. Ia merasa menang dari Mira karena Joko lebih memihak anak mereka walaupun sedari awal ia hanya bertanding sendirian, namun senyum yang hanya menarik ujung kanan bibirnya itu menandakan ia punya rencana lain untuk membuat suaminya kembali bertekuk lutut di hadapannya. Meskipun malam ini tidak ada pelukan dari Joko, tapi Tuti tetap yakin bahwa tidak akan lama lagi semua harapannya yang baru muncul minggu lalu akan segera terwujudkan.
Cinta dan berhubungan *** barangkali dua hal yang berbeda, namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa setelah bercinta mungkin akan timbul perasaan cinta, biasanya hal ini dirasakan oleh kaum hawa, merasa bahwa ketika ia sudah memberikan mahkotanya (kata sebagian besar masyarakat) ia juga harus menerima pertanggungjawaban seperti pernikahan, pengakuan, balasan perasaan cinta yang bagi laki-laki mungkin sebaliknya. Laki-laki seringnya saat sudah bercinta, merasa sudah cukup rasa penasarannya pada wanita, biasanya akan di buang atau bahkan di anggap tidak pernah merasakan apapun lagi. Itulah fenomena yang paling banyak ditemui dalam masyarakat Indonesia.
Pun demikian dengan apa yang dirasakan Tuti, ia benar-benar merasa obsesi dengan suaminya meski sudah bersama 5 tahun, percintaan terakhir mereka benar-benar membuatnya gila dengan tubuh dan kehadiran suaminya yang biasanya bercinta dengan banyak wanita pun ia tidak pernah merasa perlu memusingkan hal itu apalagi harus cemburu, ya barangkali bercinta dengan gaya yang berbeda akan membuat ikatan pernikahan semakin kuat, ya ternyata tidak hanya anak seperti kebanyakan omongan orang.
Tuti mengingat ulang bagaimana percintaannya dengan Joko malam itu benar-benar menggairahkan, padahal ia baru saja ditampar dan diacuhkan, namun ia entah mengapa menjadi orang gila yang dalam selimutnya masih saja senyum-senyum sambil memainkan jari jemarinya di atas keintimannya membuat dirinya semakin terangsang atas perbuatannya sendiri.
Tuti sebenarnya punya alat untuk bermain sendiri, namun ia enggan menggunakannya karena saat ini ia sedang mengingat bagaimana Joko dalam percintaannya dengan Tuti melakukan hal yang saat ini sedang dilakukannya, memijit pelan di bawah sana, mengelilinginya dengan wajah lapar seperti dalam bayangan Tuti, kemudian dimasukkannya satu jarinya sendiri seperti yang dilakukan Joko dulu padanya, kemudian dua jari, tiga jari dan ia mendesah dengan sangat kuat, membayangkan Joko yang kemudian menyusul ikut mendesah, memperlihatkan wajah keduanya yang sama-sama menuntut untuk dipuaskan.
Malam itu Tuti yang candu dengan tubuh suaminya hanya mampu melakukan nya dalam alam mimpi yang ia ciptakan sendiri hingga pagi. Joko masih marah padanya dan jika ia tahu kelakuan istrinya seperti itu sekarang, tamatlah riwayat Astuti sebagai ibu Joko.
Karena pada malam itu, Joko melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan istrinya tapi dengan wajah Mira sebagai pemeran wanita yang sangat sempurna baginya.
Bercinta yang bertepuk sebelah tangan tengah terjadi dalam keluarga ini, keluarga yang dibicarakan para tetangga sebagai keluarga idaman semua kalangan, laki-laki nya yang tampan baik dari wajah dan tubuhnya bersanding dengan wanita cantik yang penurut, menghabiskan banyak waktu di rumah menjaga anaknya yang tumbuh dengan sehat dan pintar, keluarga yang sangat diidam-idamkan para tetangganya kini sedang menjadi keluarga paling biadab se komplek perumahan mereka.
__ADS_1
Dunia yang lucu kadang memang sengaja diciptakan Tuhan untuk membuatnya terhibur dari kesendirian-Nya. Ya karena Tuhan itu satu tidak beranak dan tidak diperanakkan, barangkali demikian yang diinginkan yang Maha Kuasa. Manusia hanya menebak-nebak dan membiarkan apa yang diinginkan Nya, karena mau menuntut, mau marah, tidak terima pun mereka tidak bisa, mereka kecil, lemah dan tidak berkuasa layaknya Tuhan pemilik pemilik semesta alam.
Barangkali kalau manusia diperkenankan untuk mengetahui isi hati dan perasaan seseorang, tidak ada air mata yang merasa dikhianati dan juga lebih sadar diri dalam mencintai, namun Tuhan punya rencana, entah apa pun tujuannya ia bilang bahwa apa yang Dia lakukan adalah yang terbaik. Meskipun menciptakan keluarga Joko yang biadab, kelakuan Arman yang tidak tahu balas budi, maupun pilihan Mira untuk tetap melacur setelah semua yang ia rasakan saat ini, semua yang telah ia lewati selama ini.