
Matahari pagi telah menjemput mata Herman untuk terbuka, terlebih suara kokokan ayam yang sangat mengganggu, lebih berisik daripada alarm yang biasanya ia dengar sepertinya tuan rumah punya puluhan ayam yang akan mengganggu para rebahan untuk bangun telat.
“Eh sudah bangun nang? Sini sarapan dulu. Ibu udah masak nasi goreng ini masih hangat loh.”
“Eh buk malah merepotkan.”
“Oalah mana ada repot toh, biasanya juga masak. Malah sekarang senang ada kawannya makan, biasanya ibu cuma makan berdua sama bapak.”
“Iya buk, terimakasih.” Arman tersenyum sopan menghargai ajakan tuan rumah.
Tanpa berpanjang lebar, Herman menarik kursi untuk didudukinya bersamaan dengan suami istri yang tampak romantis ini.
Ibu mengambilkan nasi goreng yang masih menyembulkan asap hangatnya di atas piring bapak dan Herman. Wanita tua itu sangat telaten melayani, tangannya lihai dan cekatan, meskipun tengah mengambil piring atau sendok, Herman tidak mendengar sedikitpun suara gesekannya, ibu ini memang menghabiskan hidupnya untuk melayani. Saat masih beliau ia harus melayani ayah dan keluarga lainnya terutama yang laki-laki saat sudah bersuami melayani suami dan anak-anak, ketika tua melayani cucu, sungguh hidupnya hanya untuk pelayanan, seperti para suster di gereja.
“Nang, kamu masih mau nyariin Arman?”
“Iya Pak, siap makan ini mohon maaf saya harus melanjutkan perjalanan pak buk.”
“Ke mana?” kali ini ibu yang bertanya.
“Ikut perasaan saja buk, membuatkan langkah kaki saya mengayun menjumpai Arman, anak bapak.”
“Laki-laki sepertimu mau mengikuti kata hati?”
Susah payah Herman mencari kalimat yang pas malah tersebut juga dua kata yang sering melekat pada perempuan. Herman mengangguk sebagai jawaban.
“Kita tidak bisa percaya begitu sama sama hati. Apalagi hati yang seperti kamu sangat sulit dipercaya.”
“Memangnya kenapa pak?”
“Wajah khawatirmu, saya rasa itu akan membuatmu tidak objektif dalam memilih keputusan.”
“Lalu menurut bapak saya harus bagaimana untuk menemui Arman?”
“Saya tahu tempatnya, sangat jauh dari sini karena kamu melakukan perjalanan yang berbeda arah dengan Arman. Saya akan tuliskan alamatnya. Buk ambilkan kertas sama pena setelah makan ya buk.”
“Iya pak.”
__ADS_1
“Wah terimakasih banyak pak.”
“Tidak apa-apa nak, saya lihat kamu orang baik, pasti ada maksud baik juga, semoga. Anak saya itu memang sedikit nakal tapi tetap banyak tampannya.”
Herman terkejut dengan kepercayaan diri bapaknya Arman, ia meyakini bahwa daripada Arman, Herman lebih punya pesona dan daya jual, namun tidak ia utarakan pada kedua orang tua yang sedang asik memasukkan nasi ke dalam lambungnya itu. Karena pembelaan paling kuat di dunia adalah pembelaan dari ibu kepada anaknya, apalagi masalah fisik seburuk apapun akan dikatakan bahwa anaknya adalah yang paling cakep sedunia.
Selesai makan dan mendapatkan alamat yang dibutuhkan, Herman langsung memberitahu Joko untuk segera menyusul ke alamat yang dikirimnya, supaya lebih mempersingkat waktu takut terjadi apa-apa kepada Mira.
Perjalanan terasa sangat singkat karena semangat yang menggebu-gebu di dalam jiwa dua pria.
Joko dan Herman akhirnya menemukan titik terang pencaharian selama berhari-hari. Mira kekasih hati Joko akan bisa segera ia temui untuk diselamatkan awalnya.
Joko sampai lebih dulu, kemudian menunggu Herman yang lima belas menit kemudian menunjukkan batang hidungnya, mereka tidak ingin gegabah dan menjadikan Mira jauh lagi bersama pelukan laki-laki baru yang dianggap tidak tahu diri.
“Kita harus segera melihat Mira di dalam Herman.”
“Iya Joko aku tahu, kau yakin kan sudah memperhatikan rumah ini benar-benar? Jangan sampai Mira kabur lagi, aku sudah capek mencarinya.”
“Kalau kau tidak mau biar aku saja.”
Joko tidak lagi banyak membuang waktunya, ia segera mendekati pintu rumah yang menjadi tujuannya dan mengetuk cepat, melihat siapa dibalik pintu yang dibuka dengan terburu-buru.
Tanpa basa basi melihat yang keluar adalah laki-laki dan bukan Mira, Joko langsung menghajar wajah yang terlihat tidak berdosa itu, wajah tampan yang kini mengeluarkan darah.
“Brengsek kau ya, kau bilang mau bantu, ini malah bawa kabur kekasih orang, tidak tahu diri.”
Bugh bugh bugh
Tanpa ampun dan tidak mendengarkan penjelasan Arman, Herman dan Joko merasa berhak melakukan apapun terhadap lelaki yang niat awalnya mau membantu itu.
“Buat malu! Sudah bukan dokter beneran, sekarang malah jadi pembohong.”
Bugh bugh
“Kau yang minta aku menyamar Herman!”
“Ya hanya itu, bukan berarti kau berhak membawa Mira pergi dan meninggalkan semua jejak yang bisa kami ikuti. Kau akan mampus setelah ini, akan kuberi tahu semuanya pada orang tuamu.
__ADS_1
Bugh bugh bugh
Arman babak belur setelahnya, hampir mati kalau Mira tidak memberhentikan perkelahian itu. Mira memang penyelamat, meskipun hidupnya berkali-kali mendekati mati.
“Mira aku sangat merindukanmu.” Joko berucap berharap ungkapan yang sama dilontarkan Mira padanya, namun nihil. Mira tak berucap sepatah katapun setelah tahu kedatangan Joko dan Herman.
Mira sepertinya mengharapkan sesuatu yang lebih dari kedua laki-laki di hadapannya itu. Barangkali ia ingin diselamatkan seperti putri raja dari cerita masa lalu yang mengesankan, atau diselamatkan dengan gara-gara di luar pikirannya, bukan hanya membuntuti dari belakang lalu menghabisi lawan saat lengah, sungguh itu benar-benar bukan tindakan Ksatria, menghantam satu orang dengan teman yang membantunya.
Mira kembali lengang saat Joko laki-laki itu mengungkapkan perasaannya yang tulus, menurutnya. Kini Joko dan Mira hanya saling tatap, berharap pandangan mereka menjelaskan apa sebenarnya yang hati mereka ingin katakan, sebelum akhirnya Mira beranjak meninggalkan Joko yang tengah bingung harus melakukan apa sekarang.
Hari terus berganti, matahari sudah berkali-kali tumbang dan bangkit lagi, pantang menyerah walau banyak yang menyalahkannya. Terlalu panas untuk para petani di kebun, tetapi terlalu dingin juga untuk mencari nafkah. Matahari yang teriknya jarang dipuji oleh para si pengeluh akut.
Di hari ketiga, saat petang, Joko mengungkapkan keinginannya untuk memperistri Mira, katanya supaya tidak ada lagi yang menyewanya atau memaksanya melayani pria yang entah datang dari mana. Singkatnya Joko ingin melindungi Mira dari dunia hitam yang bisa membutakan matanya dengan sungguhan.
“Kau gila ya Joko?”
“Aku gila karena kau Mira, kepalaku mau pecah beberapa minggu ini memikirkanmu!”
“Aku tidak menyuruh mu memikirkanku."
“Dan aku juga bukan pesuruh mu yang akan melakukan sesuatu hanya karena diteriaki.”
“Aku tidak mau menikah denganmu, aku tidak mau dipoligami.”
“Akan kuceraikan Astuti untukmu Mira.”
“Aku tidak mau menikah.”
“Meski denganku?”
“Ya.”
“Kau tidak mencintaiku Mira?”
“Aku hanya menyukai alat kelamin mu dan caramu bercinta denganku, itu saja aku tidak bisa mencintaimu Joko, sungguh maafkan aku.”
Malam itu, Joko tidak pulang bersama Herman dan juga tinggal bersama Mira, entah kemana perginya lelaki yang tengah patah hati itu meluapkan perasaannya, setelah semua yang dilakukannya sekarang ia di buang oleh perempuan yang kata masyarakat hanyalah virus yang harus dimusnahkan.
__ADS_1