
Joko yang patah hati merasa dipermainkan oleh Mira duduk di pinggir pantai sambil meratapi nasibnya. Ia pikir cinta itu butuh pengorbanan, setelahnya ia akan mampu mendapatkan apa yang ia harapkan, yakni cinta Mira. Namun semua ternyata hanyalah sebuah kata-kata kosong.
Mulai dari uang bulanan yang ia berikan lebih besar daripada istrinya, beradu tinju dengan banyak pria kekar untuk menyelamatkan kekasihnya itu dan ribut dengan istrinya bahkan ia memilih untuk menceraikannya demi Mira, tapi Mira ternyata hanya menyukai penisejantanannya saja. Dunia memang kejam untuk pria bucin seperti Joko.
Entah apa yang akan dilakukannya sekarang, hanya menatap jauh ke ujung laut yang tak terlihat tepiannya, seperti hidupnya yang tak lagi terlihat kejelasannya. Ternyata memang benar apa kata orang bahwa cinta dan bercinta memang beda. Siapapun bisa bercinta tetapi tidak bisa jatuh cinta dengan sembarang orang. Joko sudah jatuh cinta dan menikmati bercinta sebagai bentuk perasaan cintanya pada Mira, tapi bagi Mira semua nya hanyalah transaksional saja.
Ombak semakin kuat menyapu pantai yang diduduki Joko, tubuhnya mulai basah, menutupi air matanya yang sudah jatuh sejak matahari belum lagi menghilang, ia putus asa, patah hati untuk kesekian kalinya, Menenggelamkan dirinya dalam ombak yang datang menggulung kesedihan hatinya.
“Bawa saja aku laut, mungkin putri berbaju hijau itu mau jatuh hati denganku, bercinta denganku dan menjadikanku satu-satunya.”
“Dewi laut berbaju hijau itu tidak suka laki-laki lemah sepertimu Joko.” Astuti yang entah sejak kapan berada di belakang Joko ikut menyambung lamunannya yang tidak jelas.
“Aku tidak lemah, kau bisa lihat luka lebam ku ini.”
“Hatimu Joko, hatimu yang lemah, lihat dirimu sekarang, seperti 10 tahun lalu saat Irna meninggalmu sendirian di bumi ini.”
“Aku benci cinta Tuti, mereka membuatku merasakan jantungku seperti digenggam dengan kuat, aku tidak suka Tuti.”
“Tapi aku suka, aku suka kamu Joko, aku mencintaimu seperti cintamu pada Irna dulu Joko.”
__ADS_1
“Kau baru mencintaiku dua minggu Tuti, tidak perlu banyak membual.”
“Besar kecilnya cinta tidak diukur dari waktu Joko, kalau dari waktu seharusnya cintamu sama besar dengan cinta Mira, tapi lihatlah sekarang? Ia meninggalkanmu karena kau minta ia jadi istrinya bukan?”
Joko diam melihat Astuti yang ikut duduk disebelahnya menatapnya dengan penuh kasih, tapi Joko benci kehadirannya.
“Ia tidak punya cinta Joko, masa lalunya sudah mengambil semua cinta dari hatinya, ia hanya punya rasa untuk bercinta, rasa nikmat tidak lebih dari itu. Dan seharusnya kau tahu perempuan macam apa dia itu.”
“Kau pikir kau sendiri macam apa? Kau juga pernah berselingkuh dengan pria muda kan?”
“Tapi aku tidak pernah membuka bajuku di depannya, aku hanya berusaha melakukan apa yang kau lakukan Joko.”
“Lalu perempuan macam apa kau ini Tuti?”
Mereka saling tatap, Astuti meyakinkan Joko bahwa hidupnya tidak pantas untuk berhenti di sini, hanya karena perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk mencari kenikmatan bercinta.
Tangan Joko di genggamnya, menatap nya lebih dalam, lalu memegang dagunya mengatakan bahwa ia sangat menginginkan pria di depannya menjadi miliknya dengan utuh tanpa bayangan nama Mira di antara mereka.
Setelah kalimat itu selesai terucap, bibir mereka saling mencecap, menjelajahi setiap ruangan yang hangat, penuh giarah untuk membuat suasana yang dingin di tepi pantai itu segera tergantikan.
__ADS_1
Malam itu di pinggir pantai yang indah, Joko dan Astuti melepaskan rindu sebagai sepasang suami istri sebelum warga sekitar memintanya kembali pulang dan bermain di kasur.
Di sisi lain, Mira sedang memasukkan semua pakaiannya yang ia suka ke dalam sebuah koper, ia akan pergi ke tempat di mana ia tidak lagi harus mendengar Joko yang terus memohon ikatan padanya, tidak juga Herman atau Arman, tidak ada yang dipamiti, padahal saat itu Mira sadar bahwa nyawa dan hidupnya sudah diselamatkan oleh tiga lelaki gagah itu, namun tekadnya sudah bulat, ia tak kan membuat semua orang mencari kacau karena mencarinya.
Mira meletakkan sebuah surat di atas rangkaian bunga mawar yang menghiasi ruang tamunya yang lumayan berantakan, pikirnya nanti pasti akan tetap dicari, makanya ia tulis surat itu untuk menghentikan siapapun yang hendak mencarinya.
Dini hari, Mira meninggalkan semua kenangan pahit dan nestapanya dalam sebuah apartemen dan juga secarik kertas pudar.
“Jakarta, terimakasih atas lukanya, aku suka aromamu dan suasana polusi yang kau berikan, aku pamit Jakarta.” Ucapnya pada pintu yang tak kunjung menjawab meski ditatap dengan genangan air mata.
Menyembuhkan luka dengan pergi bukanlah hal yang tepat, sejatinya semua rasa bersalah akan selalu membuntuti dan terus menghantui sebelum kata maaf benar-benar tuntas di selesaikan. Pun begitu dengan perasaan lainnya yang demikian sama tergantung dalam harapan semu, rasa cinta yang tak terungkap, rasa kasih yang tak tersalurkan dan ego yang terus menguasai seluruh kendali manusia atas tindakan nyata.
Hasrat yang terus ingin dipuaskan kini hanya termenung menunggu sang pemilik menunaikan keinginannya. Logika yang terus menghantui setiap detik untuk menyingkirkan ***** dan dosa-dosa penghuni bumi. Berkelana memaksa si empunya percaya bahwa ialah yang paling benar dari segala yang benar. Logika, mereka menyebutnya dengan sebutan raja kebenaran, perasaan tunduk pada logika yang katanya adalah raja, cinta juga tidak ada apa-apa nya tanpa logika, pun dengan ******, ia harus rela kesepian dan teraniaya karena bagi logika sebelum janur kuning melengkung i tak seharusnya terbuka, harus tertutup rapat seraoat-rapatnya. Mereka menyebut semua itu dengan logika, padahal itu hanyalah konsep-konsep keegoisan manusia untuk mengatur dan membuat semuanya sama dengan apa yang ada dalam pikirannya, semuanya tanpa terkecuali atau yang tidak mengikuti akan dikecualikan.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Mira telah sampai pada tujuan awalnya, Bandara yang mulai ramai dengan penumpang pagi tengah repot dengan tas-tas besar dan beberapa koper dengan merk ternama, warna warni bandara di pagi hari itu membuat kepala Mira terasa pusing, semua warna itu seolah ingin mengganggunya supaya tidak meninggalkan Jakarta sebagai ibukota.
Tiba-tiba mata Mira tertuju dengan sebuah warna, warna hijau yang mencolok. Hijau itu terus mendekat seperti membuka mulutnya untuk menelan Mira bulat-bulat, tapi Biru berusaha menghalanginya dengan aura positif yang tampaknya ingin Mira melaksanakan niatnya. Dua warna yang menyatu membentuk warna lain yang terlihat seperti warna yang lebih besar dan kejam, membuat Mira tak lagi sanggup membuka matanya, namun saat menutup hitam terasa lebih menyeramkan, Mira berteriak sebisanya dan meminta siapapun yang bisa untuk membantunya keluar dari warna-warna aneh yang menyebalkan itu.
Nafasnya terengah-engah seperti peserta maraton yang sudah menjajaki sepuluh kilometer perjalanan menuju garis akhir. Keringatnya keluar dengan sangat deras, seperti sumber air di padang pasir yang ingin memberikan kehidupan yang lebih layak di sana, matanya masih terpejam dan Mira terlihat lebih takut saat membuka mata, tubuhnya memberontak, ia meminta tolong bukan untuk dipegang menurutnya, tapi untuk dijauhkan dari warna-warna pemakan dosa itu.
__ADS_1
Dosa meninggalkan tampaknya akan lebih besar dari yang ditinggalkan, karenanya lah semua orang harus mengeluarkan air mata dan kesedihan, tak membuat siapapun bahagia, karena dosa yang dibuat Mira dinikmati semua orang yang menginginkannya. Mira melupakan semuanya yang baru saja mengganggunya setelah seorang medis menyuntikkan cairan pada lengannya supaya ia tetap tenang dan tertidur.
Dalam tidurnya yang panjang, semua mata yang menatapnya seperti ingin melahap terutama para heteroseksual yang terkesima dengan aura Mira, aroma mawarnya pun tak kalah memikat, meski dengan pakaian yang tidak terbuka tapi semua mata berusaha menelanjangi Mira dalam khayalannya masing-masing, berharap bisa disentuh dan masuk ke dalam tubuh Mira yang sensual itu.