
"Kau bawa apa Mira?”
“Keripik mawar.” Seminggu setelah pertemuan pertama, mereka bertemu kembali di hotel yang sama.
“Apakah ini rahasia aroma tubuhmu Mira?”
Mira mengangguk.
“Kau serius? Boleh aku bawakan untuk istriku?”
“Eh, aku menawarinya untuk kau makan bersama sambil mengobrol. Aku kan jual jasa bukan barang.”
“Eh, maaf maksudku supaya istriku juga wangi Mira, akhir-akhir ini dia jarang mandi.”
“Mungkin dia malas.”
“Dia juga memotong rambutnya Mira.”
“Lalu?”
“Aku tidak suka, bagaimana bisa dia potong rambut tapi tidak memberitahuku?”
“Kalian saling izin untuk hal sederhana seperti itu?” Mira mencomot lagi keripik mawar yang ia bawa.
“Tidak, aku tidak suka gaya rambutnya sekarang.”
“Laki-laki kalau sudah menikah, seperti punya dua tubuh, sebagai laki-laki dan perempuan.”
“Sudah seharusnya begitu Mira.”
“Dan perempuan kehilangan tubuhnya.”
“Laki-laki pemimpin Mira.”
“Pemimpin yang mempermasalahkan potongan rambut? Tidaklah ada yang lebih gawat untuk dipermasalahkan.”
“Dia jadi terlihat seperti laki-laki Mira.”
“Tapi kau kan sudah melihat lubangnya, berarti dia perempuan.”
“Bukan begitu Mira, ah sudahlah.” Herman menyerah.
“Perempuan sebelum menikah punya tubuhnya sendiri Herman, walaupun beberapa masih jadi kepemilikan orang tuanya, setelah menikah tubuhnya kembali dimiliki suaminya. Perempuan hanya menggunakan tubuh untuk mengikat dirinya sendiri.”
“Seharusnya ia bicara.”
“Seharusnya kau mengerti keinginannya terhadap tubuhnya sendiri.”
“Ia wanita Jawa Mira.”
“Lalu?”
“Jarang sekali yang membangkang.”
“Ah itu hanya kau saja yang kurang pengalaman dengan wanita.”
“Sudahlah tidak perlu dibahas lagi.” Akhirnya Herman mengambil sepotong keripik mawar yang dibawa Mira.
“Ini enak Mira, aku suka. Apakah setelah ini kentut ku baunya enak juga Mira?”
“Biasanya seperti itu.”
“Kau buat sendiri Mira? Buatlah lebih banyak untuk kurasakan saat di kantor.”
“Sudah kubilang aku jual tubuhku untuk melayani, bukan jual makanan.”
“Baiklah ibu lacur.” Herman memamerkan deretan giginya yang putih, ingin bercanda tapi salah tempat.
__ADS_1
“Bangsat kau Herman.”
“Eh Mira, kau tidak punya mami?”
“Mami kandung?”
“Bukan maksudku mami yang satunya lagi.”
“Aku bekerja sendiri untuk diriku sendiri Herman.”
“Oh wanita sepertimu sangat jarang ditemui, beberapa kali aku berkencan dengan lacur, mereka selalu meminta tip, katanya potongan yang diberikan mami selalu lebih sedikit dengan yang diterima mami, Apakah itu alasanmu sendiri Mira?”
“Tidak juga, aku memilih sendiri pelanggan ku.”
“Berarti aku memang tampan untuk bisa datang kedua kalinya.”
“Dompetmu tebal.”
“Kau materialistis Mira.”
“Lebih tepatnya realistis.”
“Sama saja.”
“Beda.”
Herman menatap wajah Mira menuntut penjelasan seperti biasanya.
“Kalau realistis itu lebih memikirkan masa depan, sedangkan materialistis seringnya di luar kemampuan laki-lakinya.”
“Beri aku contoh Mira.”
“Kalau aku minta padamu 20 juta, menurutmu wajar?”
“Ya, aku bisa memberikannya padamu.”
“Kalau materialistis?”
“Aku memintamu 100 juta padahal gaji mu hanya 35 juta.”
“Aku mengerti, tapi untuk wanita pemikir dan merdeka sepertimu, kau bisa menaikkan harganya Mira.”
“Menurutmu aku terlalu murah?”
“Bukan, aroma mu tidak ditemui pada wanita lain.”
“Memangnya sudah berapa wanita kau tiduri?”
“Belum banyak.”
“Eh apa kau meniduri wanita yang lain?”
“Beberapa ya.”
“Lalu kenapa denganku hanya bicara?”
“Entahlah, akhir-akhir ini aku merindukan isteriku, tapi ia sering marah-marah tidak jelas, makanya aku panggil kau untuk berbincang.”
“Namanya juga sedang hamil.”
“Sudahlah tukang marah, berat badannya naik 10 Kg, perutnya banyak sekali garis-garis menjijikan Mira.”
“Tapi kau mau punya anak.”
“Tubuhnya mengurangi nafsuku.”
“Bangsat. Kau yang buat dia bunting karena butuh anak untuk mewarisi hartamu yang kau bilang banyak, tapi tidak terima dengan perubahan fisiknya.”
__ADS_1
“Wanita lain makin sexy saat hamil Mira.”
“Tidak semua seperti itu. Kau bahkan orang lain terhadap tubuhnya dan merasa jijik, apa kau pernah bertanya bagaimana perasaannya sebagai pemilik tubuh yang dipenuhi garis-garis cacing, tumpukan lemak, wajah yang berjerawat tapi tidak boleh berias oleh dokter?”
“Aku tidak pernah bertanya.”
“Nanti setelah lahir, anak itu ditempelkan marga mu? Bentuk kepemilikan mu?”
“Tentu saja Mira, aku orang Batak istriku Jawa, tidak bawa marga.”
“Bangsat kudrat.”
“Jadi menurutmu aku harus menerima cacing menjijikan itu Mira?”
“Lalu? Kalau mau terima anaknya, ya terima induknya. Kau terlalu kejam pada istrimu Herman, sudah dibuat bunting malah berkencan dengan wanita lain.”
“Kami sebagai laki-laki harus melakukan itu Mira.”
“Ya seharusnya kau bisa sesabar istrimu Herman.”
“Entahlah, aku sepertinya ketagihan keripik mu Mira.”
Herman membalikkan toples berisi keripik yang sudah tandas, mereka tertawa dan pulang ke rumah masing-masing setelah itu. Saldo Mira bertambah dua kali lipat dari sebelumnya.
***
“Mau ikut aku makan malam?” Satu pesan dari Herman setelah lima hari mereka tidak bertemu di hotel biasanya.
“Di mana?”
“Nanti aku share lock.”
“Ok.”
“Mau aku kenalkan dengan seseorang.”
Mira tidak bertanya dengan siapa akan dipertemukan, bukan hal yang penting nanti ia juga akan mengetahui siapa yang akan diajak Herman.
Tidak ada gaun merah atau hitam yang dikenakan Mira, ini bukan pertemuan dengan pelanggan dan hanya berdua, untuk itu Mira memilih warna yang lebih santai dikenakan dan yang pasti tidak menggoda.
Dress sepanjang lutut bernuansa vintage berwarna krem dipilihnya untuk pertemuan itu, rambutnya diurai setelah diberikan gelombang pada ujungnya, Mira memakai jepitan rambut kecil dengan mutiara di tengahnya, menambah kesan anggun dan menawan.
Tidak lupa lipstik berwarna merah merona memperindah riasan make up Mira. Herman sudah mengirimkan alamat yang harus dituju dan Mira segera meninggalkan apartemennya.
Mira datang terlambat, Jakarta sangat macet sore itu, banyak yang pulang bekerja dan juga para peminta-minta yang memaksa supir taksi yang dinaiki Mira harus mendadak menginjak rem karena mereka menyebrang tidak pada tempatnya.
“Maaf buk, mereka sepertinya sengaja melakukannya. Trik tipuan untuk memeras orang lain sekarang makin banyak,” ucap supir taksi itu.
“Tidak apa pak.” Mira melemparkan senyum ramah bak bangsawan yang rendah hati.
Mira melihat kanan kirinya, memang benar banyak sekali peminta-minta yang usianya masih sangat belia. Kenapa pemerintah selalu memberikan bantuan harus dengan syarat dan metode yang sulit? Batin Mira.
“Anak-anak seperti mereka pasti tidak tahu caranya mendaftarkan diri untuk dapat bantuan BPJS ya pak, tidak punya KTP juga untuk bisa ikut survey online supaya bisa dapat uang.”
“Bahkan HP saja tidak punya buk, mana sempat melakukan yang ibu bilang. Bagi mereka yang penting makan supaya tetap hidup.”
“Ya saya tahu, seharusnya pemerintah yang serius menangani kemiskinan harusnya membantu mereka, supaya berdaya. Bukan cuma bantu orang-orang yang sudah punya rumah lalu ditempekan kertas bertuliskan “masyarakat miskin” bukankah yang lebih miskin itu yang tidur di bawah kolong jembatan seperti mereka?”
“Yang punya atap untuk berlindung kadang hanya menumpang atau menyewa buk.”
“Ya tetap saja, orang yang benar-benar miskin bahkan tidak bisa hanya sekedar fotocopy kartu keluarga untuk buat KTP, ya karena mereka hidup tidak peduli administrasi, ujung-ujungnya tidak dapat bantuan.”
“Kita sudah sampai buk.”
“Eh, sudah sampai saja, terima kasih banyak ya pak sudah mau mendengarkan saya bercerita,” Mira memberikan sejumlah uang dan menolak kembaliannya, kembali menunjukkan bahwa ia memang berhati mulia meski orang bilang ia wanita panggilan.
Untung saja supir itu tidak tahu, lalu ia menerimanya. Kalau supir itu tahu dari hasil bekerja apa uang itu didapatkan ia mungkin akan menolak uangnya, katanya haram takut anak istri jadi makan api neraka.
__ADS_1