Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Lanjutan


__ADS_3

Matahari ada pada titik lurus kepala penghuni bumi bagian Jakarta, banyak yang belum keluar dari kerjaannya, belum waktunya makan, tapi beberapa sudah tambah nasi dua kali. Kaum hawa enggan keluar saat-saat seperti ini, katanya cahaya matahari itu tidak menyehatkan kulit mereka, takut warnanya berubah lebih gelap, padahal aslinya memang gelap. Mereka memungkiri kebenaran itu untuk diakui sebagai perempuan yang cantik.


Mira pulang dari kerjaannya, lelah melayani satu pelanggan yang tidak pernah puas. Rumahnya terlihat lebih rapi, seperti ada pembantu di dalamnya.


“Kau sudah pulang Mira?”


“Belum.”


Basa basi yang selalu diucapkan penduduk Indonesia, kalau belum pulang bukannya ia tidak akan masuk rumah dan membuka kunci dari luar?


“Bagaimana kerjamu?” tanyanya lagi.


“Baik.”


“Kau memang bekerja di malam hari? Sift malam ya?”


“Tergantung pelanggan.”


“Apakah pekerjaan itu tidak memberatkanmu? Kapanpun dan di manapun kau harus tetap sedia melayani?”


“Aku menyukainya.”


Mira tanya pada Lastri akan sampai kapan ia menumpang? Karena biaya hotel itu mengurangi jatah bulanannya. Joko semakin pelit akhir-akhir ini, entah pekerjaannya yang mulai mengalami penurunan atau istrinya yang sudah mengalami peningkatan. Mira tidak banyak tanya ia hanya menikmati.


“Belum tahu, apakah di tempatmu bekerja tidak ada lowongan?”


Tidak ada, Lastri tidak mungkin mau menjadi pelayan seperti Mira, baginya agamanya adalah harga mati, begitu dulu Mira mengenalnya.


“Kau tidak sholat Lastri?”


“Sebentar lagi.”


“Sejak kapan kau menunda sholatmu?”


“Sejak kau pergi bekerja.”


“Kau kabur dari rumah kan?”


“Bagaimana kau tahu?”


“Orang kampung tidak pandai menjaga rahasia Lastri, malam pertama tetangganya saja ia bisa tahu.”


“Itu saja yang kau tahu Mira?”


“Aku tidak suka ikut campur urusan orang lain, jadi jangan bawa aku dalam urusanmu.”


Mira tidak hanya tahu soal kepergian Lastri, bahkan Mira tahu apa yang disembunyikannya dalam tudung kepala yang menjulur hampir ke lutut itu, tapi ia diam, malas berurusan dengan air mata dan kebohongan lainnya.


“Mira, tadi aku membuka kulkasmu, aku lapar, jadi aku masak.”

__ADS_1


Mira mengangguk, itu bukan masalah besar.


“Sore ini aku akan berjalan keluar untuk melihat-lihat apakah ada pekerjaan untukku.”


“Sore masih tiga jam lagi, kau membuangnya percuma.”


Lastri paham maksudnya, mungkin kehadirannya tidak pernah diinginkan Mira, seperti yang ia rasakan sendiri. Dirinya selalu merepotkan orang lain dan juga dirinya sendiri.


Jalanan panas, debu Jakarta sangat menyesakkan dadanya, belum lagi gedung-gedung tinggi yang membuatnya pusing. Kendaraan ramai, tapi seperti terparkir di tengah jalan.


Lastri masuk ke dalam sebuah restoran, bertanya apakah pemiliknya membutuhkan tukang cuci piring atau tidak, berjalan lagi bertemu penjaga toko pakaian dan keluar membawa penolakan.


Terus begitu hingga pukul tujuh malam, ia lapar, masakan yang ia masak tidak sempat disantap untuk makan siang, segan dengan Mira yang raut wajahnya tidak menyenangkan.


Ia memandangi jalanan ibukota yang mulai memperlihatkan kerlap kerlipnya yang indah dari atas penyebrangan jalan. Wajahnya layu, kecewa dengan kenyataan, ia tidak mendapatkan pekerjaan sore itu. Perempuan yang belum menikah itu meratapi nasibnya, merasa paling menderita sedunia.


Hampir tiga minggu berlalu Lastri tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Mira sudah mengajarinya cara membuat CV yang baik, tidak ada panggilan. Lastri masih menumpang tempat tinggal dan makan, sesekali ia bertanya lagi perusahaan apa tempat Mira bekerja.


“Aku akan hitung utang ku Mira, selama hidup dan makan di sini.”


Mira tidak peduli dengan itu semua, uangnya banyak. Tapi ia jadi harus keluar untuk bekerja, tidak lagi menerima tamu di dalam kamar pribadinya, karena ada tamu tak diundang yang tidak pulang-pulang.


Jumat siang, Jakarta panas sekali, Mira membeli rujak lewat aplikasi online, tidak lama dipesan sekitar 15 menit pesanannya sampai.


“Kau membelinya dua Mira? Aku juga akan menghitung ini sebagai utang.”


“Kau tahu berapa harganya?”


“Boleh ku minta mangga mu Mira?”


“Ambil saja, aku tidak suka mangga muda.”


Mira lebih suka pepaya, aroma tai nya sungguh menggugah selera.


Semua orang punya pemikiran yang sama tentang gadis berperut buncit, sering mual dan suka mangga muda. Mira sudah menerka itu sebagai alasannya kabur dari rumah.


“Siapa bapaknya?”


Lastri tersedak mendapat pertanyaan dadakan, ia tidak sedang ikut acara tanya jawab dengan hadiah milyaran.


“Siapa bapaknya?” Mira bertanya lagi.


“Apa maksudmu Mira?”


“Kau tahu maksudku, siapa bapaknya?”


Tidak ada jawaban, Lastri berhenti mengunyah mangga muda dan berusaha menahan air matanya.


“Jika tidak ingin bicara, kemasi barangmu. Aku tidak ingin berbagi atap dengan yang tidak ingin berbagi kisah.”

__ADS_1


“Jangan Mira, aku mohon.” Lastri tersentak dan langsung bersujud pada Mira berharap tidak diusir.


Mira membawanya kembali duduk di sebelahnya, mengusap air matanya dan memberikan pandangan yang aman untuknya bercerita.


“Aku tidak tahu akan mengira seperti ini Mira,” Lastri mulai bercerita.


“Ia selalu meminta padaku Mira, aku menolak terus hingga saat ia menyodorkan ponselnya padaku aku tidak lagi mampu menolaknya Mira.”


“Apa yang ia tunjukkan padamu?”


“Ia merekam saat aku sedang mandi Mira, aku tidak tahu itu akan terjadi dan juga tidak tahu bagaimana caranya ia melakukan itu Mira. Aku selalu mandi telanjang, itu membuatku malu Mira.” Lastri menangis, berharap ceritanya bisa dipercaya dan membuatnya tidak di usir, tetapi Lastri terlalu dini menyimpulkan.


Malam itu Mira lebih ramah dari biasanya, berusaha menajamkan bakat actingnya. Lastri dengan percaya diri merasa ia telah berhasil mengambil hati Mira.


Berbagai sajian ala orang kampung berjejer di atas meja makan, Lastri sudah resmi jadi pembantu Mira, bayarannya adalah makan tiga kali sehari dan tempat tidur bersama tuan rumah. Tapi tiada yang menyangka pagi itu ada tamu yang membuka pintu seolah ialah tuan rumah sebenarnya.


“Mas, kenapa ke sini? Aku bilang kita ketemuan di hotel.” Joko tidak menggubris ucapan Mira, masuk dengan gagah dan percaya diri. Entah apa rencananya saat ini, sepertinya ia mulai rindu dengan suasana apartemen yang memiliki aroma mawar khas dari Mira.


“Selamat pagi.”


“Eh selamat pagi tuan.” Lastri berdiri dan tidak jadi makan, ia ingin pergi membiarkan pemilik rumah dan tamu tetap menganggapnya pembantu.


“Mari sarapan bersama, saya juga lapar.” Joko menarik kursi dan ikut makan dengan lahap, ternyata masakan kampung masih cukup lezat untuk pria botak sepertinya.


Mereka makan pagi bersama, seperti laki-laki mempoligami istrinya, terlihat bahagia menurut pandangan dan khayalan Joko.


“Kupikir Mira menyembunyikan laki-laki lain di apartemen ini, rupanya seorang perempuan.”


“Hidungku tidak belang sepertimu.”


“Apakah kau melihat hidungku belang Lastri?”


Lastri menggeleng, masih berusaha terlihat kalem di depan Joko. Pandangan lapar Joko mulai terlihat, ia sudah habis dua piring tapi belum juga seranjang dengan Mira ataupun Astuti di rumah.


Selesai makan, Joko menyuruh Lastri belanja ke pasar atau minimarket, terserahlah mau ke mana intinya jangan pulang sebelum uang tiga juta pemberiannya habis.


“Kenapa kau datang ke sini?”


“Tentu saja aku merindukanmu sayang.” Joko membuka kemejanya, tidak sabaran.


“Aku sedang tidak ingin.”


“Ada apa denganmu? Hampir dua minggu kita tidak bercinta, kau seperti bukan Mira yang kukenal.”


Mira tidak menjawab.


“Baiklah kalau itu maumu, terserah.” Joko mengambil lagi kemejanya dan pergi begitu saja, padahal Lastri masih menghabiskan seperempat uang pemberiannya.


Mira tidak berselera karena tanggal bulanannya sudah tiba, ia suka bercinta sama seperti Joko, ia juga merasakan ingin dimasuki seperti perempuan subur lainnya, tapi ia benci jika bercinta dengan darah yang kata orang alim adalah darah kotor. Mira tidak beragama dengan kuat, tidak juga menjaga kesehatan seperti para dokter kebanyakan, ia hanya merasa jijik jika spreinya yang selalu diganti tiga kali seminggu saat bersama Joko itu bernoda darah yang banyak.

__ADS_1


Joko tidak pulang ke rumah untuk melanjutkannya dengan istri sah, ataupun mencari pekerja lain karena ini masih sangat pagi. Joko berhenti di sebuah minimarket, ingin mencari beberapa soda, ia tidak suka mabuk walaupun suka mencari perempuan yang mabuk.


__ADS_2