Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Mak Cik


__ADS_3

“Di mana Mira? Sudah berapa hari ini dia tidak ada di apartemen, di hubungi juga susah.” Joko yang sejak pagi tadi mondar mandir sambil berceloteh tentang Mira tidak lagi peduli meski istrinya sudah memintanya segera berangkat bekerja.


“Kau pusing mencari jalangmu Joko?” Ucapnya yang membuat Joko sempurna membulatkan matanya.


“Dia pacarku bukan ******.”


“Pacar dari suami orang lain itu namanya ****** Joko, jangan bodoh.”


“Kau istri gadungan Astuti.”


“Tapi kau punya keturunan dari rahim ku Joko, bagaimana bisa kau sebut itu gadungan?”


“Sudahlah Astuti, aku sedang pusing ini, jangan kau tambah lagi.”


“Kau tidak bertanya padaku, padahal aku tahu di mana ****** itu.” Ucap Astuti sambil berjalan meninggalkan Joko di kamar.


Joko mengejarnya untuk menjawab pertanyaan yang dipancing Astuti tadi hingga ke dapur. Istrinya, meskipun tidak secantik Mira, tapi otaknya tidak bisa dianggap remeh. Ia bisa memecahkan masalah kecil hingga besar, membuat mertuanya betah menjadikannya anak kesayangan meski hanya seorang mantu.


“Astuti jangan mempermainkan ku!”


“Baiklah, kau hanya perlu menjemput Riska dari sekolah hari ini. Aku sangat jenuh mendengarnya bertanya tentangmu, saat ia tiba di rumah aku akan kirim lokasinya padamu.”


“Bisa-bisanya kau menjadikan anakku sebagai alat Astuti?”


“Itulah sebabnya aku pertaruhkan nyawaku untuk membiarkannya hidup.”


“Bangsat! Kau bahkan tidak merasakan melahirkan. Riska itu operasi dan tidak butuh tarikan nafasmu untuk membuatnya keluar.”


“Tetap saja ia lahir dari rahimku.”


“Dia bukan lahir, tapi diambil.”


“Semakin lama kau berceloteh, semakin lama ****** itu menunggumu sayang.”


“Biadab!”


Joko tidak lagi memperdebatkan apakah operasi sesar itu tetap bukti melahirkan atau tidak. Ia segera melaju mobilnya untuk menjemput anak semata wayangnya itu. Anak itu sudah pindah sekolah karena umurnya yang sudah cukup tua untuk tetap menjadi anak TK.


Selain gedung yang berubah, sifatnya juga kian berubah, ia mulai banyak menuntut dari Joko, akhir-akhir ini ia minta dibelikan adik. Joko yakin itu pasti ulah istrinya yang suka mencekoki anaknya dengan hal-hal aneh. Joko merasa Astuti tidak pandai mengurus anak, meski ia sadar bahwa ia sendiri tidak pernah mengurusnya, hanya berkomentar dan menyalahkan.


Joko kembali melihat jam tangannya, mempertanyakan dan mengutuk jam yang seperti enggan bergerak lebih cepat. Ia sudah merindukan Mira, mungkin lebih tepatnya ia sudah tidak kuat menahan nafsunya yang tidak tersalurkan selama seminggu itu.

__ADS_1


“Papa, kok papa sih yang jemput?”


“Kamu gak senang?”


“Ditanya kok malah tanya balik.”


Joko mengeryitkan dahinya, anak ini masih 7 tahun tapi sudah bicara seperti orang dewasa, tidak lain pasti tersangkanya adalah sang istri.


“Kata mama kamu minta papa yang jemput?”


“Tidak, Riska tidak pernah bilang gitu.”


“Mungkin kamu lupa nak.”


“Entahlah. Ayo kita beli es krim pa.”


Astaga, anak ini membuat Joko harus menunda waktu lebih lama untuk menemui Mira. Tapi Riska tidak pernah menerima penolakan dan Joko juga tidak menginginkan hal itu terjadi.


Usai mengantar anaknya, Joko segera meluncur ke alamat yang sudah dikirim Astuti, ia tahu alasan kenapa simpanannya itu tidak bisa dihubungi sekarang, tempat yang ia tuju adalah alasannya.


“Saya ingin bertemu seseorang.”


“Saya tidak peduli.”


“Jangan terburu-buru pak, kalau belum pukul 10 malam tempat ini hanya kafe biasa yang menyediakan jus dan makanan ringan.”


“Saya bilang saya tidak peduli!” Tepat setelah gretakan meja yang Joko lakukan, ia sudah dipegang penjaga kafe yang bertubuh lebih besar dan kekar yang akan membawanya keluar untuk menghindari keributan.


“Kocok sendiri saja pak, ini masih siang.” Ucap seorang satpam pada Joko sambil tertawa dan lekas meninggalkannya sendiri.


“Bangsat!”


Mau tidak mau Joko harus menunggu hingga malam. Rasanya percuma membawa Riska pulang dengan hampir tertabrak pengendara berjaket hijau jika sampai sini rencananya juga tidak bisa dilakukan.


Astuti bilang ia melihat Mira dibawa paksa oleh dua orang lelaki bertubuh kekar yang pasti Astuti juga tahu siapa ia sebenernya.


“Seharusnya kau ganti saja jalangmu yang bisa melayani siang dan malam.” Satu pesan dari Astuti menertawakan Joko yang saat ini sedang frustasi.


“Berarti itu kau.” Setelah pesan itu terkirim, Joko langsung pulang berharap bisa melahap istri sahnya di sana.


Entah apa yang membuatnya sangat mudah berubah pikiran, Joko yang lapar dengan Mira saat ini malah menyantap Astuti.

__ADS_1


Astuti yang tahu ucapannya telah membawa suaminya pulang segera mempersiapkan diri dengan pakaian baru yang ia beli karena melihat Mira memakainya minggu lalu.


Dunia yang berputar sepertinya tidak hanya soal perekonomian dan keberuntungan, sifat manusia juga seperti layaknya roda, bisa berubah kapan tahu waktunya.


Entah karena kebutuhan biologis atau perasaannya sudah berubah, Astuti seperti ingin memiliki tubuh Joko.


“Kenapa di luar?”


“Kau kan tidak KB.”


“Kau melakukannya bersama istrimu Joko, kenapa seperti ABG yang ingin bersenang-senang tapi tidak punya modal?”


“Aku tidak mau punya anak lagi.”


“Tapi aku mau Joko,” sambil mengelus dada Joko yang sudah berkeringat lumayan banyak akibat aktivitas dadakan mereka.


“Riska juga mau punya adik,” ucapnya yang terus berusaha merayu Joko dengan memainkan jemarinya di atas ****** Joko yang mungil.


“Aku hanya akan melakukannya jika kau Mira.”


“Bisa-bisanya kau sebut nama jalangmu di depanku Joko, saat kita sedang telanjang lagi.”


“Nanti kita akan buat kalau payudaramu sudah bulat seperti milik Mira.”


“Aku tidak ingin disamakan dengan ****** itu.”


“Tapi kau membeli piyama yang sama seperti yang ia kenakan.”


“Aku hanya ingin kau memelukku Joko.”


“Kau bisa menyewa laki-laki lain Astuti, gunakan saja uang pemberian ku kalau tabungan mu kurang.”


Joko mengambil bajunya yang berserakan, masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap menemui kekasihnya yang dirindukan.


Menyuruh istri untuk menggunakan uangnya supaya bisa bersenang-senang dengan pria lain? Suami yang sangat baik hati. Suami seperti Joko akan lebih didambakan daripada suami yang datang meminta izin untuk menikah lagi.


Bagi Joki memang tidak ada yang lebih penting dari statusnya bersama Astuti, ia hanya ingin menyelamatkan tahta dan hartanya dengan statusnya, bukan perasaan apalagi keturunan.


Berbeda dengan Joko yang baru selesai bercinta, Mira merasa hidupnya sangat menakutkan saat ini. Perempuan yang tidak pernah ingin ia temui memaksanya untuk masuk ke dalam sangkar neraka yang akan membusukkan tubuhnya. Perempuan yang tidak pernah kenyang dan selalu tamak dengan apa yang dimiliki oleh perempuan lain, perempuan dengan rambut berwarna hijau cerah itu menyebut dirinya dengan sebutan Mak Cik Pok. Nama yang cukup aneh dan menjijikan seperti tingkah lakunya.


Nama aslinya adalah Siti Pokemah, orang-orang memanggilnya dengan Mak Cik, hingga seorang pelayan memanggil namanya dengan sangat lantang, dan sejak itu ia menyebut bahwa ia adalah ratu ***** yang akan ******* semua mulut lelaki yang banyak janji tapi tidak pernah ditepati. Habislah Joko yang sering ingkar janji dengan bibir tebalnya yang sudah sembilan kali dioperasi.

__ADS_1


__ADS_2