Wanita Beraroma Mawar

Wanita Beraroma Mawar
Lanjutan


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya telah tiba, Herman dan Joko sudah berada di tempat, melakukan hal yang sudah direncanakan dan beraksi.


Herman kembali ke mobil lagi seperti kemarin, dengan waktu yang cepat tanpa membawa Mira bersamanya.


“Apa lagi masalahnya Herman?”


“Mira sakit tidak bisa melayani katanya.”


“Kurang ajar, pasti mereka sudah melakukan hal yang membahayakan Mira sampai Mira sakit!” Joko marah dan ingin menerobos masuk pintu yang dijaga dua lelaki bertubuh tinggi besar di kanan kirinya.


Herman menarik tangan Joko dengan kasar “Jangan gila kau, kita bisa celaka dan rencana kita bisa hancur!”


“Masa bodo, Mira sudah sekarat di dalam, tidak mungkin aku hanya diam dan menunggu seperti orang bodoh di sini.”


“Joko, jangan seperti ini, kita akan semakin membahayakan Mira.”


“Aku tidak peduli bahkan jika nyawaku taruhannya.” Joko berlari menuju pintu masuk, Herman tidak bisa mencegah dan segera pergi meninggalkan Joko, tidak menghalanginya karena ia masih sadar ia tidak bisa berkelahi melawan dua penjaga di kanan kiri pintu masuk itu.


“Saya mau masuk!”


“Maaf tuan anda dilarang masuk.”


“Kenapa saya tidak boleh masuk?”


“Maaf tuan kami hanya menjalankan tugas.”


Joko mengamuk, memaksa masuk ke dalam dengan cara memukul para penjaga pintu.


Buuk, satu pukulan telak mengenai perut penjaga sebelah kiri yang kini tengah memegangi perutnya yang terkejut akan pukulan dari Joko.


Buuk, satu pukulan lagi mengenai ujung bibir penjaga kiri, mengenai sasaran tapi tidak berdarah, penjaga kanan sudah bersiap dengan kuda-kudanya setelah melihat perlakuan Joko pada rekan kerjanya. Tidak tinggal diam, dua penjaga yang sudah berlatih bela diri bertahun-tahun itu kemudian menyerang Joko secara bersamaan dari arah yang berbeda namun tidak mengganggu pergerakan satu sama lain.

__ADS_1


Buuk, satu pukulan mengenai pelipis Joko dan mengeluarkan sedikit darah, itu berkat pukulan dari penjaga kiri yang balas dendam, namun Joko tetap bisa mengelak pukulan dari penjaga kanan.


Tiga lelaki itu saling jual beli pukulan dan tendangan, dua pukulan dari para penjaga dibalas dengan satu tendangan belakang oleh Joko, tendangannya memang tidak begitu kuat, namun mengenai kedua lawannya. Para penjaga tersungkur dua langkah ke belakang.


Joko yang juga memiliki kemampuan bela diri sudah mempersiapkan gerakannya sejak kemarin sambil menunggu malam ini, ia mengulang kembali apa yang sudah pernah dipelajarinya saat di gunung Salak beberapa tahun lalu bersama seorang temannya yang kini sudah menjadi seorang atlit silat dengan lawan mancanegara.


Joko kembali mencoba masuk ke dalam ruangan, namun dua penjaga itu belum benar-benar kalah, hanya tersungkur sedikit saja. Kini mereka tidak lagi menyerang bersamaan namun bergantian, jika ada yang mundur maka yang satunya lagi akan cepat segera menggantikannya untuk membuat tenaga Joko segera berkurang.


Joko kembali memasang kuda-kudanya yang mulai goyah akibat pukulan bertubi-tubi dari penjaga kiri yang badannya lebih besar daripada Joko. Kanan kiri kepalan tangannya terus mengenai bagian tubuh Joko yang tidak bisa ia tutupi. Pukulan dari depan, atas, kanan kiri terus bertubi-tubi hingga satu pukulan telak mengenai ujung bibirnya yang kian banyak mengeluarkan darah.


Joko mundur tiga langkah dan menarik nafasnya yang mulai terputus-putus. Ia memperhatikan lawannya, tampaknya dua penjaga ini hanya menguasai pukulan atau tinju, sedari tadi Joko tidak melihat kakinya naik untuk menendang tubuhnya.


Joko berlari dengan kencang menuju dua penjaga yang sudah siap dengan serangan Joko, ia membalikkan tubuhnya yang setengah melayang dengan kaki kanan mengarah ke depan memberikan tendangan belakang pada kedua lawannya yang terlihat kaget akan serangan yang diberikan Joko. Pasalnya Joko tadi sempat mengepalkan tangannya seperti ingin meninju, namun dari jarak yang tidak diperkirakan kedua penjaga itu, Joko telah mengangkat kakinya ke arah muka mereka.


Penjaga yang kekar itu tidak jatuh hanya mundur satu langkah, dan mencoba kembali menyerang Joko, namun belum lagi sampai pada jarak yang diperkirakan untuk memukul Joko, tendangan Joko sudah kembali mendarat di salah satu perut penjaga, lima kali tendangan bertubi-tubi itu mampu membuat penjaga kanan terjatuh dari tubuhnya yang berdiri.


Melihat Joko yang dekat dengannya, penjaga kiri yang tanpa basa basi lagi melayangkan pukulan dari tangan kanannya, namun sayang Joko sudah mengira hal itu akan terjadi, ia berhasil menahannya dengan tangan kanannya. Tak butuh waktu lama pukulan dari tangan kiri penjaga yang sudah mengepal sejak tadi akhirnya berhasil sampai pada perut Joko, membuatnya dua senti melayang ke udara.


“Kau selalu saja buat masalah Joko Tingkir! Rasakan ini.” Setelah kalimat itu selesai diucapkan, puluhan pukulan mendarat di seluruh tubuh Joko tanpa terkecuali.


“Untuk terakhir kalinya supaya kau tidak anggap remeh kami ya, kau akan selalu mengingatnya,” Buuk satu tendangan yang cukup keras mengenai **** ***** Joko, ia akhirnya mengeluarkan air mata karena rasa sakit yang tidak terkira, membuatnya ingin pingsan di tempat.


Aaaaaa “Bangsat!” ucap Joko sebelum ia benar-benar pingsan dan di buang di tempat sampah tak jauh dari tempat mereka berkelahi.


Malam itu Mira tidak berhasil diselamatkan, pun dengan Joko ia tidak sadarkan diri dan tidak ada yang menolongnya untuk membuka mata karena Herman sudah tidur nyenyak bersama anak istrinya di rumah.


Hidup memang penuh resiko, namun sebesar apapun resiko yang diambil tergantung pilihan masing-masing manusia. Herman memilih resiko yang rendah, karena memang cintanya pada Mira hanya sebatas teman bukan perasaan seperti yang dimiliki Joko, itu mengapa ia sedikit lebih waras daripada Joko yang gila karena cintanya pada wanita beraroma mawar itu.


Kabar perkelahian itu akhirnya sampai ke telinga Mak Cik, ia menyayangkan pilihan penjaganya untuk membuang Joko begitu saja. Padahal ia bisa disiksa lebih kejam, atau setidaknya diambil dulu barang-barang berharganya seperti jam mewah yang ia kenakan, dan tentunya dompet tebal yang mengisi kantongnya.


“Aku tidak tahu seberapa besar cintanya pada Mira dan aku tidak peduli, tapi wanita yang ia cari memang tidak boleh secepat itu pergi dari tempat ini. Ia sudah menghasilkan banyak sekali uang untukku, pemasukannya seminggu seperti pemasukan sebulan bagi pelacur yang lain.”

__ADS_1


Para penjaga dan pelayan yang sejak tadi memijat tubuh gemuk Mak Cik hanya menganggukkan kepalanya tanpa bertanya ataupun menjawab omongan Mak Cik.


“Perketat ruangan Mira, akhir pekan ini ada bos besar dari luar negri yang akan datang untuk berkunjung ke tempat kita, pastikan Mira tidak lagi menerima tamu minggu ini. Aku ingin ia sembuh dan bugar untuk pelayanan terbaiknya.”


“Baik Mak Cik.”


“Lalu kenapa masih di situ? Ingin melihatku telanjang? Kembali berjaga dan bersihkan luka kalian.”


Para penjaga keluar dengan terburu-buru dari ruangan itu dan hanya menyisakan Mak Cik dengan tukang pijat nya.


“Aku ingin sekali mengganti warna rambutku, kira-kira warna apa yang belum pernah ku coba ya Rika?”


“Tapi Mak Cik baru mengganti warna rambut sebulan yang lalu.”


“Lalu? Kau ingin mengaturku? Atau ingin dipecat?”


“Warna oranye belum pernah Mak Cik," sambat pelayan Mak Cik itu dengan perasaan takut di pecat.


“Selain itu?”


“Putih juga belum pernah.”


“Mana yang lebih cocok?”


“Keduanya cocok untukmu Mak Cik.”


“Aku bilang yang lebih.”


“Putih.”


“Baiklah, besok kau persiapkan semuanya, pukul 12 siang sebelum makan siang.”

__ADS_1


“Baik Mak Cik.”


__ADS_2