
“Boleh aku cicip rasa rokok mu Mira? Terlihat enak.”
“Hanya terlihatnya saja.”
“Aku ingin mencobanya.”
“Jangan, kasihan janinmu.”
“Dia harus tahu dunia yang kejam dengan diajari sejak dini.”
“Gila kamu Lastri.”
Mira tetap memberikan sebatang rokoknya pada Lastri, ia sudah menghalanginya, itu sudah cukup sebagai teman, tidak perlu ikut campur terlalu dalam. Perut Lastri sekarang benar-benar ingin meledak, sudah tujuh bulan kurang seminggu.
“Janin itu sungguh kasihan, ia tidak menerima sentuhan bapaknya sama sekali.”
“Lebih baik begini, daripada begitu.”
Mira melirik wanita gila disebelahnya, tudungnya masih panjang, tapi ia ingin mencoba rokok, entah apa jadinya dua teman yang berbeda secara penampilan itu setelah sebulan tinggal bersama, apakah Mira akan bertaubat? Ataukah Lastri yang akan menjadi bejat? Entahlah sepertinya pilihan kedua lebih banyak memiliki kemungkinan.
“Malam ini pergilah ke manapun kau mau Lastri.”
“Kau ingin bercinta Mira?”
“Aku ingin kerja.”
“Bersama Joko?”
“Bukan urusanmu.”
Perempuan tudung panjang itu masih suka bertanya, menurutnya lebih baik bertanya daripada tidak tahu, padahal masih ada pilihan untuk diam supaya tidak menyinggung orang.
Lastri selalu pergi saat Joko datang, Joko bilang tidak mau melihat wanita gila itu lagi, tapi Mira tidak bisa mengusirnya, ia selalu mengungkit masa lalu Mira.
Mira beli beberapa mawar, yang lama sudah tidak mengeluarkan aroma lagi, sudah waktunya diganti. Seperti manusia, jika sudah tidak memberikan manfaat, ia akan dibuang, diganti orang lain yang lebih berkompeten katanya. Padahal, masih ada sisa, sedikit lagi manfaat yang belum habis, tapi tampaknya keluarga sepupu lebih butuh uang daripada orang lain, begitulah cara dunia bekerja, tidak dekat api tentunya tidak akan merasakan panas.
Sprei kembali diganti, dengan warna coklat yang hangat, Mira tidak suka sprei bermotif. Hiduplah menjadi sprei yang polos, supaya bisa mendapatkan lebih banyak darah yang terlihat lapar, katanya suatu malam pada Joko. Joko menggeleng, tidak mengerti maksudnya, bukannya tidak ada lagi darah bagi seorang wanita yang telah lama tidak perawan? Atau ada juga perawan yang tidak berdarah? Kadang kala darah dijadikan sebagai simbol penaklukan seorang pria pada wanitanya.
Mira sudah mandi hampir sejaman, seperti seorang pengidap OCD yang memikirkan ibunya jatuh dari pesawat, padahal sudah lama mati. Memikirkan kenapa air bisa membasahi tubuhnya? Kenapa tubuh yang basah terlihat sangat gagah?
Selain seperti pengidap OCD yang suka jalan mundur berulang kali, Mira juga menyusun lemari pakaiannya sesuai warna, mulai dari merah yang mendominasi isinya hingga warna hitam yang suram.
Tapi hitam tidak selamanya suram, ada kalanya hitam juga menggoda seperti rambut yang teruai panjang menutupi buah dada yang tak berkain.
“Aku suka warna hitam,” ucap Joko yang entah sejak kapan ada di belakang Mira.
__ADS_1
“Aku tidak suka kau datang terlalu cepat, apalagi sebelum aku mengenakan pakaian.”
“Kenapa harus dipakai? Nanti juga dilepas”
“Pernah kau lihat perempuan berbikini?”
“Kau meremehkan ku Mira.”
“Aku hanya bertanya.”
“Tentu saja aku pernah.”
“Mana lebih menggugah selera mu dengan wanita yang telanjang?”
“Tergantung buah dadanya Mira.”
“Ya, bayangkan saja buah dadanya sama besar. Pasti kau akan lebih tertarik dengan yang berbikini.”
“Sepertinya iya, apa alasanmu Mira?”
“Wanita telanjang itu hanya menampilkan daging Joko, sedangkan yang berbikini menyembunyikan nafsu. Laki-laki sepertimu tentu saja ingin lebih, mencari tahu hingga tandas.”
“Menarik.”
“Lagian kau juga tidak akan suka melihat buah dada tanpa belahan karena tidak ada penyangganya. Itulah alasan kenapa kita berpakaian Joko.”
Malam itu, ruangan dipenuhi *******, dominan suara Joko, Mira selalu bermain elegan, tidak tergesa-gesa tapi merangsang lawan mainnya, berkali-kali keringat jatuh di dahi Mira, Joko benar-benar lapar.
***
“Kau mengganti lagi spreimu Mira? Kau punya berapa sprei sebenarnya?”
“Banyak.”
“Mana banyakan dengan uang yang diberikan Joko padamu semalam?”
“Cukuplah untuk makanmu sebulan.”
Lastri terdiam, ia memang lebih hina dari Mira, pikirnya saat itu. Bertudung besar untuk menutupi bunting. Tapi apa salahnya? Ia hanya memilih dosa yang berbeda dari kebanyakan orang.
Pintu apartemen diketuk kuat dari luar, entah siapa yang berkunjung pagi begini, paginya pekerja malam sekitar pukul 11.00.
Mira membuka pintu, tentunya sudah dengan pakaian rumah yang terlihat santai dan tidak menggoda.
“Mana Lastri?”
__ADS_1
“Ini rumah saya, tidakkah anda bisa sopan sedikit?”
Lelaki bertubuh kekar itu tertawa “Sopan? Di rumah pelacur? Kau sedang mabuk atau bagaimana?”
Memangnya saat kecil, ibunya mengajari sopan santun hanya pada orang yang sudah tua saja dan para bos saja? Pikir Mira saat itu. Ia hanya diam mempersilahkan dua laki-laki itu masuk menemui Lastri.
“Keluar kau Lastri!”
Rumah digeledah, mencari kesegala sudut hingga menemukan Lastri meringkuk di dalam lemari dengan tumpukan pakaian berwarna merah muda.
Pria itu menarik kasar lengan Lastri yang ketakutan, entah apa masalahnya, mungkin perihal utang piutang.
“Kau menemukan temanmu di sini ya lacur?”
“Jaga ucapanmu! Aku ini istri tuanmu,” ucap Lastri sambil menunjuk lelaki itu.
“Kau simpanan bukan istri!”
“Aku sudah menikah!”
“Lalu kenapa kau kabur dari suamimu?”
Lastri terdiam, menyusun kalimat yang tak kunjung selesai di kepalanya. Ia takut dibawa pulang, minta Mira membantunya, tapi Mira diam saja, seperti saat Lastri datang dan menumpang, Mira hanya diam dan membiarkan semuanya terjadi.
Siang itu tidak ada lagi Lastri yang sibuk bertanya ini itu, apartemen terasa sunyi namun lebih bahagia, tidak ada kemunafikan di dalamnya.
Lelaki kekar itu bilang pada Mira kalau Lastri adalah simpanan bosnya yang kabur karena ketahuan bunting dengan satpam penjaga di rumah yang sudah dipecat. Sudah dapat bos kok malah minta sama penjaga, memang cinta bikin goblok, pikir Mira.
Mendengar cerita Mira, Joko menyusul, bermalam di sana selama beberapa hari sebelum ibunya menelfon karena istrinya mengadu.
“Nikahkan sajalah dia Mas,”
Joko menoleh, “Siapa?”
“Simpananmu itu loh, nikahin aja Mas, aku diceraikan saja tidak apa.”
“Kamu kenapa?”
“Kita bagi saja harta yang kita punya, urusan selesai. Kamu tidak mencintaiku, dan aku hanya mencintai hartamu.”
“Aku kehilangan semua harta dan tahta kalau cerai denganmu.”
“Seharusnya kau tidak perlu selingkuh dariku, sudah keberapa perempuan bunting itu? Aku sebenarnya tidak ingin marah seperti kemarin, tapi teman-temanku seperti meremehkan ku Joko.”
“Aku benci kau Astuti.”
__ADS_1
“Aku juga.”
Di tempat yang berbeda, Mira menikmati waktunya dengan laki-laki baru yang menyewanya karena pertemuan dalam sebuah klub malam. Tidak, mereka tidak bercinta di sana, hanya bertukar nomor telepon dan membahas mesum di sana. Lagi-lagi lelaki ini tertarik karena belahan yang terlihat menggiurkan, Mira punya buah dada yang membulat sempurna, tidak terlalu besar seperti dipaksa masuk benda yang kenyal, tidak juga hanya sekedar berisi seperti bantal tepos.