Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 10 - Lima Hari Bagian 2


__ADS_3

Hari keempat, Hudge yang sejak pertama kali datang selalu terdiam, mulai berani berbicara walau hanya dengan Arvus. Sedangkan Aria, sering mencari perhatian terhadap Arvus. Sejak kedatangan Aria dan Hudge, Zarvi serta Rodri dan Chipper sering melihat wajah segar penuh senyuman dari Arvus yang sebelumnya tak pernah mereka lihat.


Sementarai tu, Auctrix dari kejauhan sering mengawasi gerak-gerik dari Aria dan Hudge.


Ketika matahari telah sampai ke puncaknya, di teras rumah Aria mengajak Arvus untuk saling menambahkan teman. Arvus yang sejak awal bermain gim berniat untuk mencari teman, tentu tanpa basa-basi langsung menerima tawaran tersebut. Hudge nampak sedikit gugup, wajah serta tangannya ragu-ragu melihat ke layar Verada miliknya. Arvus yang mengetahui keragu-raguan dari Hudge, inisiatif menawarkan untuk saling menambahkan pertemanan.


Hudge sempat menunjukkan sedikit wajah senang, tapi langsung memudar. Bahkan cenderung ke sedih dan seperti sedang menahan sesuatu. Aria sedikit menyipitkan matanya. "Sudah kutambahkan, ya, Hudge!" ucap Arvus dengan senang melihat layar Veradanya. Hudge sedikit terkejut dan langsung melihat Veradanya. Ia memeriksa Veradanya dan sudah ada permintaan pertemanan dari Arvus.


Tangannya ragu-ragu dan secara perlahan, ia mengetuk tanda menerima pertemanan dari Arvus. Aria menyeringai dan langsung menunjukkan wajah bahagia dengan berkata, "Wah, sekarang kita semua sudah benar-benar berteman!" dan menepuk tangannya satu kali. Hudge sedikit gemetar. Arvus yang sedikit bingung dengan tingkah Hudge, bertanya, "Ada apa? Apa kau tidak enak badan?"


Hudge tidak menjawab, ia kemudian melirik ke arah Aria dan langsung membanting wajahnya ke bawah. "Tak apa, dia memang seperti itu, kan," ucap Aria. Bremm ... suara kendaraan terdengar dari kejauhan. "Mereka sudah kembali!" ucap Arvus yang bersemangat dan langsung beranjak dari duduknya. Ia berdiri dan berlari ke pinggir jalan lalu melambai-lambaikan tangan kanannya.


Truk berhenti tepat di samping Arvus. "Bahahahaha! Apa kau merindukanku?" ucap Chipper dengan tertawa turun dari bak truk. "Berhentilah bergurau, bisa-bisanya kau turun tanpa membawa ini!" ucap Rodri dengan menjitak Chipper. Auctrix turun dari truk, dan ia kembali memasang tatapan cukup sinis dan agak curiga ke arah Aria dan Hudge. "Aria, Hudge, ada apa?" tanya Auctrix yang langsung membuat Aria sedikit gugup dan Hudge gugup.


"Tak ada apa-apa, Tuan Auctrix. Aku hanya menasihati Hudge untuk lebih terbuka dengan kalian." Aria tersenyum manis. "Hm ... kalau kau memang masih takut, itu tak apa. Lagipula, orang ini (Zarvi) memang menyeramkan!" Rodri menunjuk Chipper dengan jempolnya dan sedikit bercanda. Hudge tidak merespons, hanya terdiam dan menelan ludah. "Hudge ... ada yang sedang berbicara denganmu," ucap Aria. Hudge sedikit mengepalkan kuat tangannya. Ia lalu menganggukkan kepala.


"Ohho! Ini pertama kalinya dia mau berinteraksi denganku! Tuan Auctrix, ayo kita mengadakan pesta!" ucap Rodri yang terlalu bersemangat. Bakk! Zarvi melempar sebuah robot besar dan menabrak Rodri. Rodri berdiri dan langsung berbalik. "Oi, Zarvi! Kau pasti sengaja, kan!" teriak Rodri dengan kesal. "Nah, Arvus ... kamu tolong bawa ini, ya." Zarvi memberikan sebuah tangan robot. "Di-ka-ca-ngin? Bahahahahaha!" tawa ejek Chipper melihat Rodri yang kembali dikacangi oleh Zarvi.

__ADS_1


***


Malam hari telah tiba. Mereka telah selesai makan malam. Rodri sedang duduk di depan televisi menonton pertandingan olahraga tinju robot, Chipper membersihkan piring dan gelas sehabis makan, Aria bermain-main dengan Verada miliknya, dan Hudge sedang mengobrol dengan Arvus. "Ooo ... kalian berasal dari Belanda .... Apakah itu artinya gim ini sudah mendunia?" tanya Arvus. Hudge menganggukkan kepalanya dengan sedikit bersemangat.


"Arvus, Hudge ... bisakah kalian ikut denganku sebentar?" tanya Zarvi yang berbisik dan tiba-tiba menghampiri dan menyentuh pundak Arvus dan Hudge. Hudge sedikit gemetar sementara Arvus menjawab dengan santai dan polos, "Kalau aku tak apa, bagaimana denganmu, Hudge?" Hudge melirik ke Aira yang sedang bermain Verada. Dengan menelan ludah, ia menganggukkan kepalanya.


Ketiganya berjalan keluar dari ruang tengah, meninggalkan Aria yang sedang duduk sendirian dengan Veradanya. Aria melihat Arvus, Zarvi, dan Hudge dengan sorot mata curiga. Ia berniat untuk beranjak dari tempat duduknya, tapi Chipper terdengar memanggilnya. "Baiklah! Aku datang!" jawab Aria dengan sorot mata yang masih curiga.


Arvus, Zarvi, dan Hudge sudah berada di dalam mobil milik Zarvi. Berkendara tidak melewati jalur utama, membuat Arvus dan Hudge saling melihat satu sama lain dengan sedikit kebingungan. Mobil terhenti di depan sebuah gudang kecil tua dengan kayu yang sudah rapuh. "Turunlah," ucap Zarvi dengan mengerem mobilnya.. Ketiganya turun dari mobil, Arvus dan Hudge mengikuti Zarvi berjalan dari belakang.


"Tuan Auctrix?" ucap Arvus dengan lirih dan sedikit bingung melihat Auctrix yang sedang berdiri bersandar di kusen pintu. Arvus melihat Hudge dan ia melihat wajah Hudge yang ketakutan dan penuh keringat.


Keempatnya telah berada di dalam, Zarvi berdiri di dekat pintu dengan penuh kesiagaan sedangkan Arvus, Hudge, dan Auctrix duduk bersila di lantai.


"Aku tak mau membuang waktu, kita langsung ke poin utamanya saja. Hudge," ucap Auctrix dengan mata yang ditutup. Mendengar namanya disebut, Hudge sedikit tersentak. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?" tanya Auctrix dengan membuka matanya dan menatap tajam Hudge. Arvus yang mendengar hal tersebut, melihat ke arah Hudge dan Hudge terlihat panik dan takut. Mulutnya tergagap tak sanggup berbicara,


Arvus memalingkan wajahnya melihat ke Auctrix lalu ke Zarvi. Keduanya sama-sama memasang wajah serius walau Zarvi hanya sedikit melirik ke arah Hudge. "Tak usah takut, aku sudah menduganya. Aku hanya butuh kejujuranmu," ucap Auctrix. Hudge menggemeratakkan giginya dengan kuat. Hudge menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "A-akan aku ceritakan ... tentang dari mana aku dan kakakku berasal," jawab Hudge yang nampak mulai tenang.

__ADS_1


"Aku dan kakakku (Aria) memainkan gim ini karena ajakan dari kakak tertuaku. Kata kakak tertua, gim ini sangat bagus bahkan dia sampai kecanduan. Dan benar, ketika aku memainkan gim ini pertama kali, sesuai dengan yang dikatakannya. Gim ini sangat bagus.


"Aku terus memainkan gim ini bersama kedua kakakku, membuat guild bersama-sama dan bertualang bersama-sama. Meningkatkan level, dan lainnya ... benar-benar ... benar-benar menyenangkan!" ucap Hudge yang mulai menitikkan air mata. Ia mencoba menguatkan dirinya dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat di atas pahanya.


"Lalu 'itu' terjadi ... bencana yang membuat semua kegilaan ini menjadi nyata. Bencana ... yang membuat kedua kakakku berubah!" ucap Hudge yang tak kuasa menahan tangisnya. Hudge menanigs dengan keras seakan-akan sudah menampungnya sangat lama. Auctrix menepuk pundak Hudge dan tangis Hudge menjadi semakin keras.


***


Setelah menangis cukup lama, Hudge akhirnya mulai bisa tenang. Bukan karena sudah melampiaskan semuanya, tapi karena sudah tak memiliki cukup air mata lagi.


"Hudge," ucap Auctrix dengan tangan yang disilangkan. Hudge mengangkat kepalanya. "Siapa nama kakakmu itu?" tanya Auctrix yang memejamkan matanya. Dengan tersengal-sengal, Hudge menjawab, "Di-di dunia ini ... dia bernama ... Zon."


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!

__ADS_1


Terima kasih!


----------=======-----------


__ADS_2