Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 11 - Lima Hari Bagian 3


__ADS_3

. . .


Suasana menjadi sangat hening hingga angin malam yang berhembus pelan pun dapat terdengar. Zarvi membeku dengan wajah terkejut, begitu pula dengan Auctrix yang kedua matanya terbuka secara cepat dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Tuan Auctrix!" ucap Zarvi dengan nada panik. "Aku tahu, cepat naik ke mobil!" balas Auctrix yang langsung beranjak dari duduknya. Arvus yang kebingungan melihat ke Zarvi dan Auctrix, berniat untuk bertanya tentang siapa itu Zon. Belum sempat ia bertanya, Auctrix sudah menyela terlebih dahulu dengan berkata, "Arvus, Hudge, cepatlah!" Auctrix berniat beranjak dari duduknya, tapi baru dalam posisi setengah berdiri, tiba-tiba Hudge memukul lantai kayu yang sudah tua.


"Kenapa?! Kenapa kau masih peduli padaku?!" ucap Hudge dengan nada depresi. Menatap ke lantai kayu dengan air gigi yang digemeratakkan. "Kau sudah tahu bahwa aku adalah adik dari Zon. Lalu kenapa kau masih bisa bersikap pura-pura pedu--" ucap Hudge yang kemudian digetak kepalanya oleh Auctrix. "Dramanya nanti saja, kita tak punya banyak waktu!" bentak Auctrix.


Auctrix langsung menarik kerah belakang baju Hudge, menyeretnya dan melemparnya ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Zarvi. "Arvus!" panggil Zarvi yang melihat Arvus hanya memandang dari jauh. Arvus sedikit terkejut mendengar teriakan Zarvi. Ia langsung memfokuskan kembali pandangannya dan berlari menaiki mobil. Arvus dan Hudge duduk di kursi belakang, sementara Zarvi di kursi kemudi, dan Auctrix di samping Zarvi.


"Jalanlah dengan kecepatan maksimal!" ucap Auctrix dengan menutup pintu. "Baik, Tuan," balas Zarvi yang langsung menancap gas dengan kuat. Mobil melaju dengan sangat cepat, membuat Arvus dan Hudge sampai tersentak ke belakang. Kepulan debu tebal serta garis agak gosong membelah jalanan yang cukup berdebu dan berpasir.


Kencangnya mobil tersebut membuat perjalanan kembali ke kediaman lima kali lebih cepat daripada saat berangkat. Namun, semua itu sia-sia karena mereka, sudah terlambat. Kobaran api besar terlihat dari kejauhan. Asap hitam mengepul dengan kencang menuju ke angkasa. Zarvi yang sempat mulai pupus harapan mengendurkan kaki yang menancap pedal gas.


"Zarvi!" bentak Auctrix. Zarvi melirik ke tuannya dan ia melihat tak ada sedikit pun keraguan di pancaran mata tuannya. Melihat tuannya yang masih belum putus asa, membuat dirinya merasa malu karena sebagai bawahan sudah mau menyerah. "Maaf, Tuan!" jawab Zarvi yang kemudian memantapkan lagi pijakan gasnya.


BUSH! Sebuah bola energi seukuran bola tenis berwarna merah menyala melesat ke arah mobil yang dikendarai oleh Zarvi dan yang lainnya. Zarvi mengetuk salah satu tombol yang ada di mobilnya dan sebuah perisai biru transparan muncul dari bagian bumper mobilnya dan meluas hingga dapat menutupi bagian depan mobil. Bola energi yang melesat langsung terurai tatkala menyentuh perisai mobil. Membuat cipratan cahaya yang cukup menyilaukan pandangan.


Bola energi terus ditembakkan. Tembakan yang bertubi-tubi membuat perisai mobil makin lama makin tidak sanggup untuk menahannya lagi. Auctrix naik ke atas kursinya, setengah badannya keluar dari rooftop mobil. Dengan tangan robotnya, ia menembakkan bola energi berwarna biru menyala dan langsung membuat ledakan yang besar. Ledakan tersebut sama besarnya dengan ledakan yang tercipta dari mobil yang meledak.

__ADS_1


Kepulan debu kembali bermunculan. Menjadi lebih tebal dari sebelumnya, membuat mata telanjang tidak dapat melihat apa-apa. Menembus kepulan debu, mobil Zarvi melesat menabrak beberapa orang dengan pakaian berwarna krim. Zarvi terkejut melihat apa yang ada di hadapannya dan langsung membanting setirnya ke kanan, membuat Arvus, Hudge, dan Auctrix sedikit terhempas.


Auctrix sempat mau memarahi Zarvi karena berhenti mendadak. Namun, ia batalkan tatkala melihat ekspresi wajah Zarvi. Ia melihat ke mana arah wajah tersebut memandang. Dan ia melihat ...


Prok! Prok! Prok! Prok! Tepuk tangan pelan, tapi statis terdengar. Seseorang dengan pakaian atas berwarna putih yang memanjang sampai ke lutut terlihat dari kejauhan secara perlahan berjalan mendekat.


"Keylora ...," ucap Auctrix dan Zarvi secara bersamaan dengan sorot mata seakan mengatakan "siap membunuh". Auctrix dan Zarvi turun dari mobil. Namun, sebelum turun sepenuhnya, Auctrix berpesan kepada Hudge. "Keylora ... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zarvi yang sudah berhadapan dengan Keylora dengan jarak kurang lebih 20 meter.


"Ah, Zarvi ... kau masih mengingatku rupanya. Apa aku ... seseorang yang tak bisa kau lupakan?" balas manja Keylora. Rambut berwarna merah kuncir kuda, mata yang juga berwarna merah, postur tubuh ramping dengan tinggi 1,7 meter, serta katana di pinggang kanan dan pistol di pinggang kiri. "Pedang itu ...," ucap Zarvi dengan nada kesal. "Ah, benar. Aku masih menyimpannya ... bukankah ini tanda bahwa aku masih memikirkanmu ...?" balas Keylora dengan mengeluarkan katana dari sarungnya.


Auctrix telah sampai di samping Zarvi, berdiri tegap dengan fokus yang siap bertempur. Sriing ... katana dengan nyaring keluar dari sarungnya. Memiliki bilah pedang berwarna merah yang membuat Zarvi sangat terkejut. "Ke-Keylora ...," ucap Zarvi dengan terbatah. "Iya, Sayangku?" balas Keylora dengan tersenyum lebar. "Siapa ... yang baru saja kau tebas ...?" tanya Zarvi yang secara perlahan suaranya mulai menghilang putus asa.


Gredak ... dua orang tiba-tiba terjatuh. Sudah tak bernyawa, berkulit putih pucat. Zarvi dan Auctrix secara kompak melihat ke arah dua mayat tersebut.


"Kenapa hari ini kau tidak langsung menyelesaikan semuanya seperti biasanya, Keylora?" tanya seorang Pria dengan tinggi lebih dari dua meter bertubuh besar berzirah besi putih. "Ah ... aku ingin menyapa teman-teman lamaku, Gross," jawab Keylora dengan memberi kecupan jarak jauh kepada Zarvi.


. . .


Auctrix dan Zarvi terdiam seribu bahasa. Mereka menatap dua mayat yang dibawa oleh Gross. Dari dalam mobil, air mata Arvus mulai mengalir. Mulutnya terbuka dengan mata yang terbuka lebar. Hudge menggemaratakkan giginya menatap ke bawah dan menjedukkan kepalanya ke bagian belakang kursi depan.

__ADS_1


"Chipper ... Rodri ... kalian sudah bekerja dengan baik>" Auctrix dan Zarvi langsung menodongkan senjata ke arah Keylora dan menembakkannya. Auctrix menembakkan bola energi sedangkan Zarvi menembakkan sebuah pistol dengan kecepatan peluru yang setara dengan sebuah sniper dan mempunyai daya ledak yang besar. Dep! Dengan cepat Gross melesat ke depan Keylora.


DAMM! Ledakan yang dua kali lebih besar dari sebelumnya terjadi. Dengan satu tebasan, Keylora membelah kobaran api yang tercipta di hadapannya akibat ledakan. Gross dapat berdiri dengan tegap walau terdorong beberapa meter hingga membuat dua garis di tanah. "Ahahaha! Inilah ... inilah ekspresi yang aku tunggu-tunggu!" teriak Keylora bak seorang psikopat. Auctrix dan Zarvi langsung melesat dengan sangat cepat ke depan.


Dengan tak kalah cepatnya, Keylora juga melesat ke arah Auctrix dan Zarvi dengan pedang yang sudah siap diayunkan. Cetang! Katana Keylora bertemu dengan pedang milik Auctrix dan Zarvi.


Di dalam mobil, Arvus berniat untuk keluar, tapi tak bisa. Pintu telah dikunci. Ia terus berteriak-teriak mencoba untuk keluar. Ia ingin langsung lari dan menghampiri Chipper dan Rodri yang baginya ... masih hidup. "Kalian ... kalian hanya main-main saja, kan?! Ini hanya candaan seperti biasanya, kan?! Oi! Chipper! Rodri! Bangunlah! Tuan Auctrix dan Zarvi sedang melawan musuh yang sangat kuat!" teriak Arvus dengan memukul-mukul kaca. Hudge mencoba menahan Arvus dengan perasaan sangat bersalah.


"Aku mohon ... bangunlah!" teriak Arvus yang kemudian sebuah pemukul diayunkan keras ke kaca mobil. Arvus yang terkejut terpental ke belakang dan menimpa Hudge. Arvus mengangkat kepalanya. Ia terus mendengar suara pukulan ke mobil dari segala arah. Ia kemudian melihat ke sela-sela para pria yang berpakaian krim yang sedang memukul-mukul mobilnya.


"A ... ria? Aria! Apa yang dia lakukan di situ?! Di situ sangat berbahaya! Kita harus menolongnya!" teriak Arvus yang mencoba keluar, tapi terus ditahan oleh Hudge. "Hudge! Lepaskan aku! Apa kau tidak lihat situasi--!" bentak Arvus yang disela oleh Hudge dengan bentakan juga. "Aku tahu! Aku tahu semua ini ulah siapa! Aku tahu kenapa Kak Aria berada di luar sana! Aku tahu siapa orang yang sedang dilawan oleh Tuan Auctrix dan Zarvi! Aku tahu ... aku tahu karena aku adalah bagian dari mereka!"


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!

__ADS_1


----------=======-----------


__ADS_2