Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Chapter 22 - Pelayaran


__ADS_3

Fajar telah tiba. Matahari masih berselimut, tapi para nelayan telah siap untuk berlayar. Keributan yang tercipta dari persiapan tersebut membangunkan Arvus dan Hudge yang tertidur di teras rumah mereka, berdampingan dengan nampan yang terdiri dari piring bekas santapan mereka semalam.


Dengan menguap, Hudge terbangun. Meregangkan tubuhnya perlahan, melihat ke arah suara yang berisik.


"Arvus, bangunlah," ucap Hudge yang masih mengantuk, menggoyang-goyangkan tubuh Arvus dengan satu tangannya.


"Lima menit lagi ..." jawab Arvus.


"Anak ini ..." celetuk Hudge dengan wajah datar melihat ke Arvus.


Hudge yang tahu bahwa Arvus akan sulit untuk dibangunkan, menyerah dan pergi mengecek suara berisik tersebut timbul disebabkan oleh apa.


"Oh, Hudge. Selamat pagi," ucap seorang wanita bertubuh kecil dengan rambut twintail.


"A-ah, iya ... selamat pagi," ucap Hudge yang terkejut hingga sedikit tersentak ke belakang. Hudge kemudian terdiam kaku, mencoba memikirkan siapa sosok di hadapannya.


"Aku adik dari Cherrima, namaku Eida," ucap sang wanita dengan tersenyum ramah.


Peri cinta telah menembakkan busur panahnya, menembus tepat di hati Hudge. Wajah merah baik air mendidih tak bisa disembunyikannya. Gugup, membuat Hudge nampak seperti anak kecil yang malu di atas panggung. Eida tertawa melihat salah tingkah si Hudge.


"Oi, Hudge! Kalau sudah bermesraan kemarilah!" teriak Liva dengan melambaikan tangannya.


"BE-BERMESRAAN?! SI-SIAPA YANG BERMESRAAN? YA, KAN?" teriak Hudge dengan wajah yang semakin memerah sembari menggoyang-goyangkan tangannya ke kanan dan kiri, memberi tanda ia tidak sedang bermesraan.


Eida tersipu malu, membuat jawaban yang diharapkan Hudge berubah menjadi sebuah harapan.


"A-a ... PERMISI!" teriak Hudge izin pamit kepada Eida yang kemudian langsung lari ke tempat Liva.


Eida tertawa kecil. Ia sangat senang karena berhasil menggoda Hudge.


"Kau ... jangan sampai membuat hatinya patah, ya ..." terdengar suara seseorang yang sangat dingin. Siapa pun yang mendengarnya langsung tahu bahwa suara santai tersebut memiliki aura yang seolah-olah berkata "Kau sakiti dia, maka jangan harap kau bisa hidup tenang".


"A-ah, kau pasti sahabatnya Hudge, Arvus!" ucap Eida yang berbalik badan dan mencoba tersenyum ramah hingga seperti menutup kedua matanya.


"Kau tahu, senyummu mengingatkanku pada seseorang. Aku tak tahu kau siapa, tapi kuperingatkan kau akan satu hal ..." ucap Arvus yang membuat kedua mata Eida terbuka. "Jikalau senyummu itu palsu, maka akan kubuat senyuman permanen di wajahmu."


Tang!


"Arvus! Tak boleh berkata seperti itu kepada seorang gadis cantik!" ucap Liva memukul kepala Arvus menggunakan tongkat baseball.


"Y-ya ..." jawab Arvus dengan mengelus-elus kepalanya. Eida tertawa kecil gugup. "Jadi, kalian sedang apa?" tanya Arvus.


"Ah, kami sedang melakukan dua persiapan," jawab Liva.


"Dua?"


"Ya, yang pertama adalah persiapan untuk pergi berlayar. Dan persiapan kedua adalah persiapan distribusi hasil tangkapan!" jawab Liva yang senantiasa bernada ceria.


"Oh ... jadi, aku dan Hudge akan ikut yang mana?"


"Kalau itu, tergantung si pak tua, sih ... coba saja kau tanya padanya," jawab Liva dengan menunjuk Hastam. Arvus melihat ke arah Hastam dan berjalan menuju ke Hastam.


Setelah Arvus berada cukup jauh, Liva berbisik kepada Eida. "Meskipun kalian sesama Player, jangan samakan dirimu dengannya." Perkataan Liva membuat Eida sedikit terkejut.


"Ma-maksudnya?"


"Aku tak tahu dengan Hudge, tapi 'dia' ... berbeda. Aku belum bisa mengonfirmasi apa itu, tapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya." Liva memasang wajah serius yang bahkan belum pernah Eida lihat semenjak ia datang ke kampung nelayan.


"Ba-baik ... akan kuingat nasihatmu ...."

__ADS_1


***


Ketika waktu telah menunjukkan pukul tujuh, sebuah kapal besasr telah siap untuk berlayar. Sebuah kapal modern yang bisa mengapung di atas tanah bahkan terbang hingga ketinggian 1200 meter. Kapal tersebut memiliki sebuah kaca berbentuk setengah bola yang menutupi setengah dari bagian atas kapal. setengah sisanya terdiri dari sebuah geladak kecil (mengelilingi kapal) yang cukup untuk dua orang lewat secara bersamaan, haluan, dan sebuah anjungan kapal dengan bentuk prisma segilima yang menempel langsung dengan kaca setengah bola. Kapal tersebut memiliki panjang 500 meter, lebar 65 meter, dan tinggi puncak mencapai 55.


Kapal tersebut sudah modern sehingga tidak butuh lagi yang namanya cerobong asap. Di kapal tersebut pula terdapat tiga pintu besar di sisi kanan, kiri, dan belakanag kapal.


Arvus dan Hudge yang baru pertama kali lihat, terkagum-kagum. Dan muncul satu pertanyaan di benak mereka. Ini munculnya dari mana ...?


"Ekhem, kepada Arvus dan Hudge. Sekali lagi, Arvus dan Hudge silakan menemui ketua yang bijaksana di anjungan kapal. Sekali lagi ..." ucap Hastam melalui pengeras suara yang muncul entah dari mana.


Arvus dan Hudge berjalan memasuki kapal melalui pintu besar sisi kapal yang terbuka. Luas, adalah kata pertama yang muncul di benak mereka ketika melihat seberapa besarnya kapal tersebut dari dalam. Benar-benar luas hingga serasa terjatuh ke dalam sebuah jurang yang tanpa dasar.


"Arvus dan Hudge, kan? Naiklah," ucap seorang pria dengan bandana hitam bercorak tengkorak putih di kepalanya. Pria tersebut menaiki sebuah forklift berwarna putih-biru yang dBapat menyala di dalam gelap.


Arvus dan Hudge menganggukkan kepala dan naik ke atas forklift yang dapat dinaiki hingga empat orang.


"Kenalkan, namaku Ordigo. Seorang Pugnator," ucap ramah pria berbandana hitam dengan tetap fokus menyetir.


"Namaku Hudge, dan ini sahabatku, Arvus," ucap Hudge dengan ramah.


Sahabat, ya ... batin Arvus tersenyum tipis.


"Ohoho ... jadi kalian merupakan dua Player yang sudah berteman lama ..." ucap Ordigo.


"Tidak, kami baru kenal sekitar dua minggu," jawab Hudge.


Ordigo sedikit terkejut mendengar jawaban Hudge. "Baru kenal dua minggu? Perjalanan macam apa yang telah kalian lalui sampai membuat dirimu memanggilnya 'sahabat'?"


"Ah ..." ucap Hudge yang kemudian termenung. Arvus memicingkan matanya dengan sudut bibir yang menurun, melihat ke para nelayan yang sibuk menata dan bersiap di dalam kapal.


Sial, sial, sial! Bodoh, benar-benar bodoh! Kau benar-benar bodoh, Ordigo! Pertanyaan macam apa yang telah kau tanyakan?! batin Ordigo yang mulai berkeringat dingin. Tangannya sedikit gemetaran, fokusnya mulai memudar.


Forklift berhenti di depan sebuah tangga.


"Ya, terima kasih, Tuan Ordigo," jawab Hudge dengan membungkukkan badan.


"Tak perlu pakai 'tuan', cukup Ordigo saja," ucap Ordigo malu.


"Baiklah, sekali lagi kami ucapkan terima kasih," ucap Hudge.


Hudge membalikkan badan dan berjalan menuju ke tangga. Sementara itu, Arvus melirik kembali ke arah Ordigo. Ordigo menelan ludah, terpikir kembali tentang pertanyaannya tadi.


"A-apa ada yang ketinggalan?" tanya Ordigo.


"Ya."


Jawaban dingin Arvus membuat Ordigo gemetaran. Namun, ia tetap mencoba tersenyum untuk menyembunyikannya. "A-apa yang ketinggalan? Biar aku ambilkan."


"Ucapan terima kasih dariku." Arvus membungkukkan badan. Ia langsung menegakkan tubuhnya lagi dan berbalik menyusul Hudge.


Ordigo sedikit terkejut melihat sikap Arvus dan Hudge. Ia tidak menyangka bahwa masih ada 'tata krama' dari seorang Player, apalagi yang masih muda.


"Seandainya semua Player seperti mereka ..." ucap Ordigo lirih dengan tersenyum lembut memandang Arvus dan Hudge dari kejauhan. "Oh, ya! Aku masih harus bekerja!"


Arvus dan Hudge sudah sampai di depan pintu ruang nahkoda. Hudge mengetuk pintu tersebut dan terdengar jawaban "Masuklah". Pintu dibuka dan sebuah pemandangan menakjubkan kembali membekukan pandangan Arvus dan Hudge.


Ratusan tombol berjejer dengan sangat rumit, enam buah kokpit tersusun rapi dengan dua di depan; dua di kiri; dan dua di kanan. Terdapat pula sebuah kursi utama yang menjadi dudukan dari Hastam.


"Ohoho, apa kalian terkagum-kagum?" ucap Hastam dengan sedikit menyombongkan diri dan menggoda Arvus serta Hudge. "Kemarilah, aku ingin memberi sesuatu kepada kalian."

__ADS_1


Arvus dan Hudge berjalan perlahan menuju ke Hastam sembari mencuri pandang ke kanan dan kiri. Pemandangan yang biasanya mereka bisa lihat di anime bertemakan robot, sekarang secara "nyata" ada di hadapan mereka.


"Pakai ini di dada kiri kalian, ini adalah tanda bahwa kalian adalah seorang nelayan." Hastam menyodorkan dua buah nametag bertuliskan "Arvus" dan "Hudge".


Hudge menerimanya dan memberikan yang bertuliskan "Arvus" kepada Arvus. Keduanya mengenakan nametag tersebut dengan hanya menempelkannya saja. Nametag tersebut seperti sebuah magnet yang menempel kuat pada besi. Ketika nametag sudah terpasang, Verada milik Arvus dan Hudge seketika bergetar. Keduanya langsung mengecek Verada milik mereka masing-masing.


Sebuah notifikasi menyebutkan bahwa mereka sudah resmi menjadi seorang nelayan. Hal tersebut dibuktikan tatkala mereka mengecek status mereka. DI bagian Job, sudah tertulis "Nelayan".


"Baiklah, izinkan aku sebagai bos dari mereka untuk menyambut kedatangan kalian." Hastam berdiri dan terlihat wajah serius yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya kepada Arvus dan Hudge.


"Selamat datang para nelayan baru. Aku berikan satu peringatan. Menjadi seorang nelayan ... bukanlah pekerjaan yang mudah. Risiko yang akan kalian tanggung, kesulitan yang akan kalian hadapi, akan jauh di luar ekspetasi kalian. Dengan menggunakan nametag tersebut, artinya kalian sudah bersedia menerima semua risiko di masa mendatang.


"Dan karena keberanian kalian tersebutlah, aku mengucapkan SELAMAT DATANG."


Arvus dan Hudge terdiam. Keduanya terkejut, hanya bisa memasang ekspresi tidak percaya dengan apa yang baru mereka lihat.


"A-ah, iya ... terima kasih, Bos ..." ucap Hudge.


Hastam kesemsem mendengar panggilan dari Hudge. Bos, ya ... akhirnya ... akhirnya ada yang mau memanggilku dengan sebutan 'bos'! batinnya.


"Tuan, sudah waktunya," ucap seorang wanita berkacamata dan berpakaian rapi yang berdiri di dekat salah satu kursi kokpit.


"Baiklah, bunyikan tanda keberangkatan!"


Alarm keras tanda keberangakatan berbunyi, menggema di seluruh penjuru kapal. Para pekerja dan nelayan langsung mempercepat pekerjaan mereka.


"Arvus, Hudge ... sebagai anggota baru, kuberi kehormatan untuk mengucapkannya," ucap Hastam.


Mengucapkan apa ...? batin Arvus dan Hudge. Ketika mereka sedang bingung melihat tingkah penuh kebanggan diri dari seorang Hastam, wanita berkacamata yang sudah duduk melambai-lambaikan tangannya ke arah Arvus dan Hudge. Ia kemudian menunjukkan sebuah tablet bertuliskan "Lift the Anchor!"


Arvus melirik ke Hudge, begitu pula sebaliknya. Mereka merasa malu jikalau harus mengatakan hal tersebut. Namun, wajah penuh kebanggan diri Hastam membuat mereka tidak enak hati untuk tidak mengatakannya.


"L-Lift ..." ucap Hudge dan Arvus. "L-Lift the Anchor ...."


"Lift the Anchor accepted!" jawab lima orang yang duduk di kokpit secara tegas dan kompak.


Jangkar diangkat, membuat kapal sedikit bergoyang.


Tulisan di tablet berubah menjadi "Start the Engine!"


Arvus dan Hudge menjadi lebih murung serta malu. "S-Start the E-Engine ...."


"Start the Engine accepted!"


Mesin kapal dinyalakan, cukup membindengi telinga di awalnya. Namun, suara tersebut perlahan menjadi senyap.


Tulisan kembali berubah menjadi "And Let the Ocean See!"


Tulisan terakhir cukup membuat bingung serta terkejut Arvus dan Hudge. "And Let the Ocean See." Keduanya mengucapkan hal tersebut tanpa terbatah dan malu sedikit pun.


"Berlayar tanpa batas, mencari ujung dari lautan, dan menemukan yang hilang! Para nelayan ... kita berangkat!" ucap Hastam dengan bersemangat dan merangkul Arvus serta Hudge.


 


---------=======-----------


AUTHOR:


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!

__ADS_1


Terima kasih!


----------=======-----------


__ADS_2