Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Chapter 17 - Ingsventory


__ADS_3

Bangunan tua dengan dinding yang berdebu; terhimpit oleh dua bangunan tinggi sehingga cahaya matahari kesulitan untuk masuk. Papan nama di bagian atas pintu dengan jalan setapak yang sedikit tertutupi debu membuat Arvus sedikit meragukan tempat yang ada di hadapannya.


"Aku tahu tentang 'jangan menilai sesuatu dari covernya', tapi ..." ucap Arvus.


"Ya ... aku tahu keraguanmu ..." sambung Hudge.


Arvus dan Hudge saling melihat, menganggukkan kepala, lalu berjalan memasuki Ingsventory.


Boom! Suara keras tiba-tiba terdengar sesaat setelah Arvus membuka pintu. Terkejut, Arvus dan Hudge sempat sedikit tersentak ke belakang.


Keduanya nampak syok sejenak.


"Lanjut?" tanya Hudge.


"Oke ..." jawab Arvus.


Keduanya kembali berjalan memasuki Ingsventory. Kepulan asap menyambut kedatangan mereka. Mengibas-ngibaskan pelan tangan, mencoba menyingkirkan kepulan asap yang mengganggu pandangan dan membuat sedikit tersedak.


Dari balik kepulan asap, terlihat bayangan seseorang berdiri dengan memegang kunci inggris di masing-masing tangannya yang terangkat ke atas.


"Ohok!"


Terdengar suara keras batuk dari arah bayangan. Tanpa sengaja, Hudge menyenggol salah satu barang yang ada. Ting! Suara besi keras yang terjatuh membuat sosok di balik bayangan tersadar ada yang datang.


"Oh, ada pelanggan rupanya!"


Kepulan asap yang menghilang membuat sosok yang ada di hadapan Arvus dan Hudge menjadi jelas. Seorang wanita dengan rambut hitam kuncir kuda dengan baju tank top, kacamata tukang bangunan di dahi, serta jaket yang diikat pinggang tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang di Ingsventory! Maaf atas ketidaknyamanannya!"


Hudge tersenyum kaku sedangkan Arvus terpaku dengan salah satu barang yang ada di toko tersebut.


"Ini apa, Nyonya?" tanya Arvus dengan menunjuk.


"Oh-oh! Kaupunya mata yang jeli, Anak Muda! Itu bukanlah rantai sembarangan, itu adalah rantai yang disambungkan ke sebuah Dagger!" jawab si Wanita.


Sementara Arvus sedang fokus memilah dan memilih rantai yang ada di hadapannya, Hudge berjalan mendekati meja kasir tempat si Wanita berada.


"Anu ... perkenalkan, nama saya Hudge dan dia Arvus. Kami ke sini karena saran dari Dokter Wilhem," ucap Hudge.


"Oh! Kalian kenalan Wilhem rupanya! Pantas saja ada pelanggan. Ah, namaku Astrid, Astrid sang Pengrajin!" ucap Astrid dengan menepuk dada kiri membanggakan diri.


"Ahahaha ...." lagi-lagi orang aneh, ya ...? batin Hudge dengan tersenyum kaku.


"Jadi, apa yang kalian butuhkan?" tanya Astrid.


"Oh, kami baru saja mau memulai perjalan di dunia ini. Ah, lebih tepatnya memulai hidup di dunia ini. Dan besok, aku dan Arvus akan mulai bekerja," ucap Hudge.

__ADS_1


"Oh-oh-oh! Baiklah ... pekerjaan apa yang kalian pilih?" tanya Astrid.


"Nelayan ...."


. . .


"Ne-nelayan ...?" tanya Astrid dengan wajah sedikit ragu. Hudge menganggukkan kepala.


"Nelayan itu yang kerjanya di laut, kan ...?" tanya Astrid yang masih ragu. Hudge menganggukkan kepala.


"Laut itu penuh air, kan ...?" tanya Astrid masih ragu dan mencoba meyakinkan dirinya, lagi. Hudge menganggukan kepalanya, lagi.


Senyuman lebar di wajah Astrid perlahan memudar. Skujur tubuhnya seolah-olah berubah menjadi putih, bahkan sampai sekitar tempat ia berdiri juga seakan-akan memutih. Datar, tatapan kosong dengan wajah datar.


Hudge tertawa kaku kecil karena ia tahu mengapa Astrid sampai seterkejut itu.


Astrid menggelengkan kepalanya, menepuk kedua pipinya. "Jadi, Rolemu apa?" tanya Astrid dan dijawab oleh Hudge "Skopertis."


Astrid kembali menunjukkan senyum percaya dirinya. Ia dengan lantang berkata, "Senjata apa yang menjadi andalanmu?"


Hudge tersenyum dan tertawa kecil. Senyuman dan tawa kecil tersebut langsung membuat feeling Astrid tidak enak.


"H-Hudge ... jangan bilang, kamu belum tahu senjata yang cocok buatmu?" tanya Astrid dengan mencoba tetap tersenyum.


"Mohon bantuannya," ucap Hudge sembari membungkuk khas orang Jepang.


***


Dengan cepat, Arvus langsung berlari keluar toko.


"Wahahaha! Bagaimana? Keren, kan?!" ucap Astrid dengan tertawa lepas.


Kepulan asap kecil keluar dari moncong senjata yang sedang dipegang oleh Hudge. Api berkobar kecil di sekitar objek yang baru saja ditembak oleh Hudge.


"Senjata ini nampaknya yang paling cocok, Kak Astrid," ucap Hudge menurunkan senjatanya.


Sebuah senjata berbentuk seperti Sniper Karabiner 98k, tapi dengan warna putih bercorak garis biru menyala sedang dipegang oleh Hudge.


Melihat mata Hudge yang seperti berbinar-binar memandang kagum senjata yang baru saja ia gunakan, hati Astrid menjadi luluh. Dalam benak Astrid, tiba-tiba terlintas satu hal.


Astrid menepuk tangannya. "Kalau kau mau ambil saja, anggap saja itu sebagai hadiah perkenalan kita," ucap Astrid. "Benarkah?!" tanya Hudge yang terkejut dengan pancaran cahaya dari sekelilingnya.


"Y-ya!" tolong jangan pandang aku dengan tatapan itu ... itu ... benar-benar terlalu imut! ucap Astrid seolah-olah kesilauan oleh tatapan penuh terima kasih dari Hudge.


Arvus yang sempat panik merasa malu setelah melihat sikap dari kedua orang yang ada di hadapannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba bersikap tenang, baru menghampiri Hudge dan Astrid.


"Oi, Hudge! Apa yang sedang kaulakukan?" panggil Arvus.

__ADS_1


Melihat Arvus yang datang, Hudge menjadi lebih antusias. Ia dengan semangat menjelaskan tentang apa yang baru terjadi. Ia juga tak lupa memperkenalkan Astrid kepada Arvus.


"Hehh? Kau dapat itu gratis?" ucap santai Arvus dengan menaikkan kedua alisnya. Arvus menyeringai, terpikirkan sesuatu. Arvus melirik ke arah Astrid dan berkata, "Jadi ... sebagai perkenalan kita pula, apakah artinya rantai ini gratis?"


"Ternyata kau anak muda yang bisa mencari kesempatan dalam kesempitan, ya ..." ucap Astrid.


"Ahahaha, aku anggap itu sebagai pujian," balas Arvus dengan tertawa kecil.


***


Setelah selesai membeli barang-barang yang dibutuhkan, Arvus dan Hudge bersiap untuk kembali ke rumah sakit. Sniper yang hampir seukuran tubuhnya ia selempangkan miring pada pundak kanannya. Rantai yang baru didapatkan oleh Arvus telah ia hubungkan antara ikat pinggang dengan ujung kedua Daggernya.


Astrid bersiul. "Kalian nampak cocok juga dengan senjata-senjata itu."


"Ahahaha, benarkah?" jawab Hudge dengan sedikit malu.


Setelah Arvus merasa cukup nyaman dan mulai terbiasa, ia dan Hudge izin pamit dan berterima kasih kepada Astrid. Astrid membalas dengan senyuman ramah sembari melambaikan tangannya.


"Silakan datang lagi!" teriak Astrid.


"Tentu! Kalau ada diskon atau gratisan!" balas Arvus yang bersiap menutup pintu dari luar.


Balasan Arvus membuat Astrid sedikit kesal. Namun, tawa kecil tak bisa ia sembunyikan. Astrid sedikit mendesah dan berkata, "Anak-anak yang unik ...."


Sembari berjalan pulang, Arvus dan Hudge saling bersenda gurau. Ketika mereka sudah sampai di tempat penyebrangan jalan dan sedang bersiap menyebrang, tiba-tiba terdengar suara sirine polisi dari kejauhan. Tiga mobil polisi sedang mengejar sebuah mobil yang cukup tertutupi debu dengan atap yang terbuka, mirip seperti sebuah GR Supra.


Keempat mobil melintas dengan sangat cepat, menerobos lampu yang seharusnya sudah merah. Seandainya tadi ada yang menyebrang, maka sudah dipastikan orang tersebut akan terhempas hingga tewas seketika atau minimal, ikut Arvus dan Hudge ke rumah sakit.


Tawa di wajah Arvus dan Hudge seketika menghilang. Berubah menjadi kaku dengan keringat mengalir dari dahi mereka. Keduanya menelan ludah, saling melihat satu sama lain, dan menghela nafas berat.


Namun, tak seperti Arvus dan Hudge, orang-orang yang ada di sekitar justru terlihat santai bahkan ada beberapa yang bersorak kegirangan.


"Wuhuu! Hajar mereka, Lambert!" teriak orang-orang yang kegirangan.


Supir yang mengendarai GR Supra, Lambert, langsung membanting setir, menghadapkan mobilnya ke belakang, melakukan Burnout, dan mengeluarkan dua buah sayap dengan tepi terdapat warna merah menyala di bagian samping. Ketika ketiga mobil polisi sudah akan mendekat, Lambert menancap gasnya dengan sangat kencang, melewati celah yang ada dan membuat dua mobil polisi terbelah.


Satu mobil polisi yang tersisa langsung membanting setir ke kiri, berniat untuk memutar balik mengejar Lambert. Namun, seakan-akan sudah terbiasa, Lambert dengan mudah mengatasi satu mobil yang tersisa. Ia keluar dari jendela supir dengan Rocket Launcher di pundaknya. Lambert menyeringai, dan kemudian menarik pelatuk Rocket Launchernya.


DAM!!


Mobil polisi yang tersisa meledak bak kembang api yang dinyalakan.


---------=======-----------


AUTHOR:


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!

__ADS_1


Terima kasih!


----------=======-----------


__ADS_2