Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Ch. 2 - Pesan Developer


__ADS_3

Ceting! Suara kecil tanda masuknya pesan terdengar. Di bagian sub-menu yang bertuliskan "Kotak Pesan" terdapat tanda bahwa ada satu pesan yang masuk. Monat dan Arvus mengeklik Kotak Pesan dan mereka melihat satu pesan dengan judul "Selamat Datang di Dunia Baru Kalian!".


Monat yang sudah memliki prasangka dan feeling tak enak, mengeklik pesan tersebut dengan deg-degan. Arvus yang masih belum begitu paham, mengeklik pesan tersebut dengan tanpa keraguan. Begitu pesan tersebut diklik, terdapat pesan yang cukup panjang, tetapi padat makna. Ketika surat tersebut diklik, maka hologram berwarna putih-krim akan muncul.


[Senang bertemu dengan kalian, Para Pemain. Kami dari developer ingin menyampaikan satu pesan singkat. Kalian, mulai sekarang akan hidup di dunia ini. Makan, minum, membuat keturunan, hingga mati di dunia ini. Kalian dibebaskan untuk melakukan apa saja di dunia ini. Sekian dan selamat bermain. -Hortus Company]


Tenang ... suasana kota yang semula ramai tiba-tiba menjadi sangat hening. Tak ada satu pun yang bersuara, tak ada bunyi sedikitpun yang terdengar. Dan setelah beberapa saat suasana hening, tiba-tiba dari kejauhan nampak dinding semi-transparan berwarna merah mendekat. Dinding tersebut sangat panjang dan tinggi hingga tidak terlihat ujungnya.


Dinding tersebut tembus melewati para pemain, dan lewat begitu saja. Para pemain yang masih dalam keadaan syok dan bingung tidak ada yang menyadari dinding tersebut, kecuali Arvus. Arvus yang baru pertama kali bermain, berpikir bahwa apa yang sedang terjadi adalah fitur yang dihadirkan oleh gim Wier Pibimitu 2100. Ia yang sudah membaca pesan tersebut, menutupnya dan berniat mengajak bicara Monat.


"Monat, apa kamu sudah memba ..." ucap Arvus yang terhenti tatkala melihat tubuh Monat mulai bersinar. Tubuh Monat mulai memancarkan cahaya berwarna perpaduan merah dan putih yang menyala. Arvus melihat ke sekitar dan semua orang juga mengalami hal yang sama. Arvus kemudian merasakan adanya keanehan karena merasakan sinar yang cukup menyilaukan mata dari dadanya. Dan ternyata, ia juga mengalami hal yang sama.


Tubuh Arvus mulai menghilang sepenuhnya. Tangannya mencoba meraih Monat karena hanya itu yang dapat dipikirkannya kala itu. "Monat! Monat!" teriak Arvus mencoba meraih dan memanggil Monat. Monat tak mengindahkannya, seakan pikirannya sedang hilang entah ke mana.


"MONAAT!" teriak Arvus dengan tangan yang hampir meraih Monat. Tepat sesaat sebelum tangannya meraih Monat, cahaya putih terang tiba-tiba muncul di pandangannya dan membuat semuanya hanya terlihat berwarna putih. Arvus menutup kedua matanya, dan beberapa saat kemudian, ia mendengar suara bising dari atas-kanan.

__ADS_1


Teng! Teng! Teng! Teng! Suara keras semacam besi tipis yang dipukul terdengar memekakkan telinga. Arvus perlahan mulai membuka kedua matanya dan ia langsung terkejut tatkala melihat apa yang ada di hadapannya. Belasan orang dan robot sedang berdiri di hadapannya, seakan sedang melihat sebuah barang yang akan dijual. Arvus mencoba untuk bergerak, tetapi ia tidak bisa. Ia kemudian menyadari bahwa ada yang mengikat kedua pergelangan tangan dan kedua pergelangan kakinya.


Ia juga baru menyadari bahwa ia sedang berada di dalam sebuah balok kardus. Pengap, hampir tak bisa bernafas. Tertutupi oleh plastik yang semi-kaca, ia bisa melihat apa yang terjadi di luar bahkan mendengarnya.


"Produk baru kita! Kita buka mulai dari harga 100 Genia (mata uang di dunia Wier Pibimitu)." ucap Pria Bertangan Kiri dan Bermata Kanan Besi yang sedang berdiri di atas podium dengan tangan kanan yang memegang palu. Tak lama setelah itu, tiba-tiba salah seorang yang ada di antara kerumunan para robot dan orang mengangkat tangannya.


"150!" teriak Pria Berambut Cepak Bertangan Kanan Besi. "150!" ucap Pria Bertangan Kiri dan Bermata Kanan Besi dengan mengacungkan palunya ke arah Pria Berambut Cepak Bertangan Kanan Besi. Tak lama setelah itu, terdengar suara seseorang yang berkata, "200!" dan membuat Pria Bertangan Kiri dan Bermata Kanan Besi mengacungkan palunya ke arah Orang yang Berkata 200.


Satu per satu orang mulai saling sahut-menyahut. Membuat Arvus menyadari bahwa saat ini ia sedang berada di tempat lelang. Posisinya yang berhadapan langsung, di dalam sebuah kardus, dan badan yang terikat membuatnya sadar bahwa ia ... adalah yang sedang dilelang. Keringat dingin mulai mengalir. Pemikiran yang mulai kosong, kepanikan yang mulai menggebu.


Apa ... apa yang sedang terjadi ...? Bukankah ... aku sedang bermain gim? batin Arvus dengan ekspresi ketakutan. Ia mencoba untuk bergerak, tapi ia batalkan karena ia terlalu takut. Ia tidak tahu apa yang ada di luar, ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ia memancing keributan, ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ia ketahuan, ia ... tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Apa yang harus aku lakukan?! Aku ... aku dijual?! batin Arvus dengan semakin panik. Ketika Arvus sedang sangat panik dan ketakutan, ia tiba-tiba mendengar ada yang sedang berbicara.


"Harganya tinggi juga, ya. Untuk barang seperti itu ... 7500G hitungannya sangat tinggi, kan?" ucap Pria A dengan mendekati Arvus. "Ya, aku tidak menyangka akan ada yang beli dengan harga lebih dari 400G." jawab Pria B yang kemudian bersiap mengangkat Arvus bersama dengan Pria A. Keduanya bertinggung dan mengangkat Arvus (kardusnya). Keduanya berjalan dan menaikkan kardus yang berisikan Arvus ke sebuah bak kendaraan.

__ADS_1


"Ah, ya. Terima kasih sudah berbelanja dengan kami." ucap Pria A yang berjabat tangan dengan Tuan Berjubah. Tuan Berjubah memperi uang tip kepada Pria A dan Pria B. Keduanya menerima uang tip tersebut dengan senang hati. Tuan Berjubah menaiki kendaraan yang terdapat Arvus di bak kendaraannya. Ia menancap gas dan meninggalkan tempat pelelangan.


Dari dalam kotak kardus yang pengap, Arvus melihat indahnya kerlap-kerlip dan warna-warni kota di malam hari. Malam ... ini sudah malam? Bukankah tadi ... matahari masih nampak jelas? batin Arvus yang terkejut melihat hari sudah berganti malam. Garis neon berwarna biru muda yang memutari bangunan berbentuk silinder, mobil modern berwarna hitam dengan neon merah, serta banyaknya robot yang tak terhitung jumlahnya.


Di langit malam, terlihat pesawat-pesawat seukuran mobil berterbangan. Tak hanya itu, ada juga kereta modern yang seperti melayang di udara. Pemandangan yang sungguh "wah" itu dapat membuat Arvus melupakan kekhawatirannya sesaat. Membuat ia sempat terlupa akan bahaya yang sedang menantinya.


---------=======-----------


AUTHOR :


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!


----------=======-----------

__ADS_1


 


 


__ADS_2