Wier Pibimitu 2100

Wier Pibimitu 2100
Chapter 20 - Nelayan


__ADS_3

Setelah berjalan kurang lebih dua jam, sebuah gapura bertuliskan "Nelayan" terlihat. Memiliki huruf yang menyala biru halus, tapi tetap bisa terlihat walau di siang hari. Seperti sebuah komplek yang sudah lama ditinggalkan, bangunan-bangunan tua dengan debu yang tak pernah dibersihkan membuat kesan komplek tersebut seperti "kota mati". Atau mungkin lebih tepatnya, seperti kota di zaman wild-west dengan koboinya.


Taksi berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua yang memiliki bentuk seperti Fishing Dock dengan bangunan yang terbuat dari kayu. Teras kayu yang bererdi tepi jalan dengan tangga kecil menyambut Arvus dan Hudge yang sudah keluar dari taksi.


"Apa kalian butuh untuk ditemani?" tanya Wilhem dengan setengah badan keluar dari taksi.


"Apa kau mau membantu kami lebih dari ini?" tanya balik Arvus.


"Tentu tidak, hahaha!" balas Wilhem dengan tertawa sembari melambaikan tangannya.


Arvus dan Hudge tersenyum. Keduanya membalas lambaian tangan dari Wilhem. Mereka sadar bahwa mereka sudah banyak merepotkan Wilhem, dan mereka juga sadar bahwa ini saatnya bagi mereka untuk memulai "langkah" mandiri mereka.


Taksi berjalan meninggalkan Arvus dan Hudge sendirian di tengah tempat yang antah-berantah.


"Jadi, inikah tempatnya?" tanya Arvus.


"Ada beberapa bangunan, sih ... tapi taksi itu berhenti di depan rumah ini," jawab Hudge.


Arvus berjalan naiki tangga kecil diikuti Hudge tepat di belakang sampingnya. Suara kayu yang sudah tua terdengar, membuat suasana menjadi sedikit mencekam hingga membuat Arvus dan Hudge sempat terhenti sejenak. Menarik nafas sesaat, mencoba menenangkan diri. Arvus kembali berjalan dengan Hudge yang tetap berada di dekatnya.


Secara tiba-tiba, sebuah tombak ikan melayang tepat ke kepala Hudge. Arvus dengan sigap langsung menepis tombak tersebut, mementalkan tombak tersebut hingga tertancap ke langit-langit teras dengan menggunakan Dagger-nya.


Arvus dan Hudge langsung melompat ke belakang, mengambil kuda-kuda, bersiap untuk bertarung.


"Siapa pun itu, keluarlah!" teriak Arvus.


Hudge mengeker pintu masuk yang sudah berlubang, telah siap untuk langsung menarik pelatuk tatkala ada sesuatu yang tidak diinginkannya muncul.


Bush! Dari bawah tanah yang tertutupi debu, sebuah jeruji besi berbentuk kubus muncul dan langsung mengurung mereka.


Arvus mencoba memotong jeruji, namun usahanya nampak sia-sia. Hudge tidak bisa berbuat banyak karena peluru yang ia miliki dikhususkan untuk membunuh/berburu/memangsa, bukan menghancurkan suatu hal dengna dimensi yang besar.


"Siapa kalian?"


Terdengar suara misterius yang datangnya entah dari mana. Seolah-olah bergema di suatu ruangan yang kosong. Arvus hendak membalas dengan bentakan, tapi langsung disela oleh Hudge.


"Kami adalah pelamar kerja."


Jawaban Hudge membuat Arvus sedikit terkejut dan tidak percaya. Di tengah tempat yang jikalau mereka mati, maka tidak ada yang tahu ini, Hudge bisa menjawab dengan tenang dan percaya diri.


Sebuah tempat yang jauh dari kota terdekat, sebuah tempat yang dikelilingi tanah tandus, sebuah tempat yang panas matahari akan sangat terasa walau hanya seujung kelingking.


"Oh, kalian rupanya."

__ADS_1


Heh? batin Arvus dan Hudge dengan wajah datar tak percaya.


"Sebentar-sebentar, aku lupa cara membukanya ... Barrel! Bagaimana cara membuka ini?" teriak suara misterius itu.


Jangan bilang ... orang ini yang bakal jadi bos kami. Tolong, batin Arvus dan Hudge dengan ekspresi wajah yang masih sama.


"Ohohoh, maklumlah namanya juga usia!" ucap suara misterius tersebut setelah mendengar jawaban dari sosok yang disebut sebagai "Barrel".


Jeruji terbuka sebagaimana awalnya tertutup. Satu per satu sisi terjatuh ke arah sesuai tempatnya, seperti yang sisi utara jatuh ke sisi utara, yang selatan jatuh ke sisi selatan. Arvus memasukkan kembali kedua Dagger ke dalam sarungnya, begitu pula dengan Hudge.


Arvus dan Hudge saling melihat, pikiran mereka seolah-olah sudah terhubung.


"Beneran ini?" tanya Arvus melalui telepatinya.


"Jangan tanya aku ...." jawab Hudge dengan telepatinya.


Tek ... tek ... tek ... suara langkah kaki terdengar dari arah pintu yang sudah bolong. Arvus dan Hudge memasang wajah serius. Keyakinan dalam diri mereka mengatakan bahwa sosok yang akan muncul, akan menjadi sosok penting dalam perjalanan mereka menjadi seorang nelayan.


Menelan ludah, jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Apakah sosok sebaik Wilhem walau sedikit aneh, atau malah sosok yang biasa ditemukan di jalan dengan sifat yang bajing*n yang menanti mereka?


Ngieek~ Suara pintu terbuka. Sesosok pria dengan panjang janggut mencapai pita suara serta menyambung dengan kumisnya muncul di hadapan mereka. Warna rambut selang-seling hitam dan putih, pakaian sedikit compang-camping, namun sobekan lengan baju membuat otot kekarnya nampak dengan sangat jelas.


Kedua tangan penuh darah, bahakn tangan kanannya memegang sebuah golok. Cipratan darah di baju serta sebuah codet dari dahi kiri hingga pipi, kedua bola mata yang berwarna putih menambah kesan tidak menyenangkan dari sosok yang ada di hadapan Arvus dan Hudge.


"Tak ada orang lain di sini ..." balas Hudge dengan berbisik setelah melihat sekitarnya.


Ketika keduanya sedang berbisik, tiba-tiba suara menggelegar terdengar.


"Berani-beraninya kalian berbisik di hadapanku?!"


Suara keras yang bahkan membuat teras rumah sedikit retak. Suara tersebut sangat keras hingga telinga yang sudah ditutup oleh Arvus dan Hudge, seolah-olah melambaikan tangan ke kamera.


"Oi, Pak Tua! Jangan berisik bisa tidak?! Kau akan membangunkan target buruan kita!" teriak suara misterius, tapi terdengar lebih muda.


"Kalau begitu langsung habisi target buruannya!" bentak balik si pria tua.


"Agh!" balas suara misterius.


Tuuunggg~ Suara mikropon berdengung mengganggu.


"Anak itu! Kenapa dia tidak mematikannya, sih?! Sudah tahu pendengaranku sedikit bermasalah, malah ditambahi!" gerutu si pria tua dengan melanjutkan langkahnya mendekati Arvus dan Hudge.


"Kalian, mood-ku sedang tidak baik. Langsung ke perkenalannya saja," ucap ketus si pria tua dengan menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


Kalau begitu jangan salahkan kamilah ... batin Arvus dengan sedikit menyipitkan matanya kesal.


"Namaku Hastam, Hastam Piscis. Mulai sekarang aku adalah bos kalian, panggil aku Bos Besar," ucap Hastam yang kemudian mengelus-elus janggutnya. Tersenyum dengan sedikit mendesah mesum, terlalu bahagia karena akan ada orang yang memanggilnya bos.


"B-Bos Besar?" ucap Arvus dan Hudge bersamaan.


"Ya! Benar sekali! Panggil aku dengan sebutan itu! Benar-benar! Sekali lagi coba!" ucap Hastam dengan mata yang terbuka lebih lebar serta senyuman yang semakin melebar pula.


"B-Bos ... Besar ..." ucap Arvus dan Hudge yang sedikit risih. Bahkan wajah risih mereka tidak dapat mereka sembunyikan.


"Wohohohohoh! Bagus-bagus! Kalian aku terima! Resmi-resmi!" ucap Hastam dengan mengelus-elus janggutnya semakin dengan semakin kencang.


Arvus dan Hudge saling melirik satu sama lain dengan wajah sedikit risih cenderung jijik. Dan ketika mereka sedang saling memberi kode, tiba-tiba terdengar gemuruh dari barat. Kepulan debu menutupi apa yang terjadi di bagian barat tempat tersebut.


Jalan utama yang lebar membuat makhluk besar di balik bayang kepulan debu tersebut dapat berlari tanpa mengurangi sedikitpun kecepatannya. Sebuah slash muncul dan membelah kepulan debu tersebut, memperlihatkan sosok iguana dengan tinggi lebih dari delapan meter sedang diburu oleh sekelompok orang yang menaiki sebuah perahu motor.


Satu orang memegang kemudi bagian mesin belakang, satu orang terus menyerang iguana dengan senjata jarak jauh, dan yang satu lagi bersiap dengan sebuah gulungan tali.


"Oi, Pak Tua! Bantu kami!" teriak seorang pemuda dengan rambut pirang yang terlihat kesulitan untuk menjatuhkan si iguana.


"Bocah-bocah itu ..." ucap Hastam dengan menghela nafas. Hastam berjalan mengambil tombak ikan yang dipentalkan Arvus, menuruni tangga dengan meregangkan kedua tangannya. "Kalian, lihatlah bagaimana para nelayan bekerja, anggap saja ini sebagai presentasi dari pekerjaan ini."


Hastam berjalan ke samping (barat) Arvus dan Hudge, menyambut secara terbuka kedatangan iguana raksasa. Setelah berdiri tepat di depan Arvus dan Hudge, Hastam memutar tombaknya. Perlahan-lahan, tombak tersebut berputar semakin kencang dan semakin kencang hingga cukup kencang untuk membuat Arvus dan Hudge tertarik paksa.


Dengan menyeringai, Hastam menghentikan perputaran tombaknya dan langsung menancapkan tombaknya ke depannya, membuat gemuruh yang sangat kuat hingga Arvus dan Hudge sedikit terguncang.


Ketika iguana sudah tinggal satu langkah lagi akan menabrak Hastam, gundukan tanah berbentuk gunung muncul dari hadapan Hastam. Membuat si iguana terkena serangan telak di bagian perut tengahnya bahkan terangkat setinggi gundukan gunung tersebut mencuat lalu terlempar beberapa meter.


"Jadi ... apa pendapat kalian tentang pekerjaan ini?" tanya Hastam melihat ke arah Arvus dan Hudge sembari mengangkat tombaknya yang tertancap.


Iguana terjatuh menghancurkan gundukan gunung dan membuat shockwave yang cukup kencang dengan debu yang ikut beterbangan. Iguana sudah tak sadarkan diri.


Arvus dan Hudge hanya bisa melongo.


 


---------=======-----------


AUTHOR:


Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!


Terima kasih!

__ADS_1


----------=======-----------


__ADS_2