
"Ini kamar tidur kalian, sedikit berantakan memang," ucap seorang wanita dengan atasan cukup terbuka serta celana cargo.
"Terima kasih, Liva," ucap Hudge dengan sedikit membungkuk.
"Ahh, kamu benar-benar imut!" ucap Liva histeris mencubit pipi Hudge.
"Dan kamu, si Anak Tampan. Seandainya rambutmu dirapikan akan banyak wanita yang jatuh hati padamu, loh," ucap Liva yang melihat ke Arvus dengan tangan yang masih mencubit Hudge.
"Y-ya ... terima kasih ... (?)" jawab Arvus dengan mimik muka tersenyum risih.
Liva keluar dari kamar, meninggalkan Arvus dan Hudge sendirian.
Daripada disebut sebagai "kamar", mungkin lebih pantas disebut sebagai rumah. Sebuah rumah yang terhitung kecil, memiliki lantai kayu yang agak keropos, langit-langit yang bocor, kasur tingkat yang sudah jikalau dinaiki berbunyi, sebuah kamar mandi yang kotor, dapur yang berantakan dengan peralatan dapur yang hanya sedikit (dan juga kotor tentunya), serta cat dinding yang sebagian besar sudah terkelupas.
Beberapa saat yang lalu ....
Iguana yang sudah tak sadarkan diri, langsung dieksekusi di tempat oleh kawanan orang yang menaiki perahu. Tali dilempar dari satu sisi ke sisi yang lain, menjerat lalu ditarik dengan kuat.
"Terima kasih, Pak Tua. Oho ... siapa anak-anak manis ini?" tanya Liva turun dari perahu menenteng tombak ikan di pundak dengan satu tangan.
"Biar kuperkenalkan padamu. Ekhem, mereka adalah anak didik baruku, a ..." ucap Hastam yang tiba-tiba terhenti di tengah-tengah. "Nama kalian berdua siapa?" tanyanya dengan berbisik.
"Arvus dan Hudge," jawab Hudge dengan berbisik.
"Arvus!" ucap Hastam menepuk pundak Hudge. "Dan Hudge!" sambungya dengan menepuk pundak Hudge.
Wuush ... suasana hening penuh kecanggungan tercipta. Bola tanaman kering yang entah datang dari mana melintas. Arvus, Hudge, dan Liva memasang wajah datar.
"Okhom. Arvus dan Hud-!" ucap Hastam yang dipotong dengan dipentalkan oleh Liva. Liva langsung merangkul Arvus dan Hudge.
"Namaku Liva! Kalau ada apa-apa, silakan tanya sama kakak," ucap Liva. Tunggu ... apa aku tadi bilang 'Kakak'? Ahhh! Aku ... kakak? batin Liva terlalu senang hingga ekspresinya berubah seperti Hastam di chapter sebelumnya.
"Ah ... Liva, antarkan mereka ke tempat tinggal mereka," ucap Hastam yang pinggangnya encok.
"Baik, Pak Tua! Ayo, ikuti aku!" ucap Liva yang masih merangkul, terhitung menggeret Arvus dan Hudge.
Kembali ke waktu sekarang ....
"Yah ... mari kita coba survive di tempat ini ..." ucap Arvus menghela nafas.
"Mungkin maksudmu, dunia ini," jawab Hudge dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Keduanya tertawa kecil.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah mengeluarkan semua barang yang tidak mereka butuhkan serta membuat ruangan semakin sempit. Hal itu mereka lakukan karena telah mendapat pesan dari Hastam sebelumnya melalui Liva tatkala Liva menunjukkan rumah kepada Arvus dan Hudge.
" 'Lakukanlah sesukamu terhadap tempat ini!', begitulah kata si pak tua," ucap Liva menyampaikan pesan Hastam.
Pekerjaan mengeluarkan barang tidaklah mudah, apalagi untuk mereka yang baru melakukan perjalanan yang cukup jauh. Mengeluarkan barang-barang saja membutuhkan waktu lebih dari satu jam, belum lagi merapikan sisanya.
Sementara Arvus merapikan barang, Hudge yang memiliki sedikit pengalaman dalam dekor-mendekor, membuka Verada-nya dan mengeklik aplikasi belanja bernama "Komers". Dengan hanya 100G, Hudge diwajibkan untuk memilih barang yang benar-benar mereka butuhkan. Mereka juga harus menyimpan sedikit uang, untuk keadaan darurat. Oleh karena itu, Hudge hanya akan menggunakan maksimal 85G.
Setelah selesai memilih barang-barang yang dibutuhkan, Hudge membantu Arvus untuk merapikan barang-barang. Tak lama, hanya sekitar lima menit, terdengar suara kotak di depan rumah mereka.
Benar-benar cepat ... batin Arvus dan Hudge yang takjub dengan kecepatan pengantaran barang.
Di Wier Pibimitu, barang yang dibeli langsung dari sistemnya, akan diantarkan dalam waktu yang sangat singkat. Entah seberapa banyak yang dibeli. Barang yang diantarkan akan dibungkus dalam sebuah kota, semakin banyak dan besar barang yang dibeli, maka semakin besar pula kotaknya. Biasanya dalam satu kotak sudah termasuk semua barang yang dibeli, kecuali memang tak cukup dalam satu kotak.
Arvus dan Hudge mengeluarkan barang-barang yang baru mereka beli. Sebuah lampu, pembersih makanan otomatis, pembersih pakaian otomatis, pembersih badan otomatis, dan sebuah plastik pelapis seukuran atap mereka yang dapat merekat sangat kuat serta anti air.
Arvus dan Hudge keluar rumah, memandang ke atap mereka.
"Jadi ... kita naiknya pake apa?" tanya Arvus.
Swoosh ... suasana hening di tengah malam tercipta. Wajah keduanya datar memandang ke atap rumah mereka.
***
"Dikit lagi!" teriak Hudge.
"Cepatlah!" teriak Arvus.
Hudge berdiri di atas sebuah pilar kayu yang sudah tak terpakai. Ia dapat berdiri karena Arvus menahan pilar yang berat tersebut hingga mukanya memerah. Uratnya memberontak seolah-olah sedang mencoba menembus dinding yang disebut kulit.
"Oke sampai!" teriak Hudge yang separuh badan dan kaki kanannya sudah di atas atap.
Mendengar itu, Arvus langsung lemas dan membiarkan pilar terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras hingga membuat Hastam, Liva, dan para nelayan lain yang sedang makan malam diiringi tawa serta pesta, terhenti dan terdiam sejenak.
"Oh, ya ... sekarang ada dua orang baru, ya ..." ucap salah seorang nelayan.
"Apa kita perlu memanggil mereka, Pak Tua?" tanya seorang nelayan lainnya.
"Tak perlu, salah satu antarkan saja makanan ke mereka. Mereka pasti sedang sibuk berbenah tempat tinggal baru mereka," jawab Hastam.
__ADS_1
Seorang wanita berambut putih hitam dengan mata biru yang seolah-olah menyala di kegelapan malam, membawa nampan yang di atasnya terdapat makanan serta minuman untuk Arvus dan Hudge. Berbeda dengan mayoritas orang yang ada di tempat tersebut, sang wanita memiliki pakaian yang tertutup (walau lekuk tubuhnya masih cukup jelas).
Mengenakan pakaian seragam (bawahan rok) berwarna hijau lumut dengan rompi (hijau lumut) di pinggang yang terbelah di bagian depan serta mengenakan stocking hitam dan sepatu combat boots.
"Permisi, apa kalian sudah makan?" tanya sang wanita ramah kepada Arvus dan Hudge yang terkapar lemas berbaring di tanah menghadap ke langit dengan mata terpejam.
Mendengar suara tersebut, Hudge langsung terbangun.
"A-ah, terima kasih ... ahm ..." ucap Hudge yang kebingungan dalam menyelesaikan kalimatnya.
"Cherrima," ucap sang wanita tersenyum ramah.
"A-ah, Cherrima. Terima kasih, Cherrima," ucap Hudge menggoyang-goyangkan Arvus mencoba membangunkannya.
Arvus terbangun dengan wajah yang masih mengantuk.
"Ya, terima kasih ... siapa tadi?" tanya Arvus.
"Cherrima!" bisik Hudge.
"Cherrima," sambung Arvus.
Cherrima menaruh nampan di teras kecil rumah Arvus dan Hudge. Ia kemudian berpesan, "Kalau sudah selesai, kalian langsung cuci sendiri, ya. Dan barang-barang itu, mulai hari ini jadi milik kalian."
"Baik, terima kasih," ucap Arvus dan Hudge dengan nada yang berbeda. Hudge dengan mencoba tetap ramah walau mengantuk, sedangkan Arvus bodoamat dengan keramahan.
Cherrima berjalan pergi, meninggalkan Arvus dan Hudge yang kembali tepar.
"Kapan kita makan?" tanya Hudge.
"Apa di toko tidak ada alat pentransfer makanan langsung ke perut?" tanya Arvus.
"Pertanyaan macam apa itu ...?" jawab Hudge.
---------=======-----------
AUTHOR:
Terima kasih telah membaca sampai chapter ini. Semoga betah dan terus membaca hingga chapter terakhir. Mohon dukungan dari teman-teman ya! Dan untuk kritik serta saran, bisa dicantumkan di kolom komentar!
Terima kasih!
__ADS_1
----------=======-----------